Kisah pilu dari seorang gadis yang mengalami korban pelecehan seksual dari pamannya sendiri. Laila ayyatul Husna 16 tahun kelas 1 SMA yang harus berhenti sekolah karena kejadian memilukan tersebut, dia di siksa agar di sebuah saung di tengah-tengah kebun oleh pamannya sendiri, berhubungan dia bisa selamat dan kesucian nya masih selamat berkat seorang pria yaitu Yusuf Nur Syaikh 34 tahun yang sudah memiliki istri yaitu Siti Maryam
Akankah Laila bisa keluar dari rasa trauma dan syok atas kejadian tersebut, atau malah dia melakukan hal nekad karena malu. Yuk simak ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Mimpi buruk
Hari ini adalah hari pertama akan dilaksanakannya ibadah puasa untuk kaum muslimin dan muslimah. Laila sedih karena dia akan sahur sendirian, bukan jatahnya dengan Yusuf saat ini. Laila menjadi rindu dengan saat-saat sahur bersama orang tuanya, walaupun masih remaja Laila tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk beribadah dengan baik.
Tok tok tok ketukan pintu membuat Laila spontan mengusap air matanya.
” Assalamualaikum” suara Salamah yang terdengar.
” Waalaikumsalam” Laila bergegas untuk membuka pintu, dan ada urusan apa Salamah datang di waktu sahur seperti ini.
” Umi, ibu Nurjanah mengajak umi untuk sahur bersama” kata Salamah dan Laila mengernyit heran.
” Laila sudah masak nasi goreng, teh”
” Ya gak apa-apa, bawa aja” ajak Salamah lagi dan Laila terdiam mendengarkan suara suaminya yang sedang mengaji di masjid.
” Enggak apa-apa, bawa aja ayo"
” Enggak enak, Laila sahur sama santriwati aja.” Laila menundukkan wajahnya dan Salamah masuk ke dalam rumahnya lalu mengambil sepiring nasi goreng yang Laila maksud.
” Semua orang pasti ingin sahur bersama keluarganya, kami keluarga kamu Laila. Ayo, jangan sungkan-sungkan” Salamah berusaha meyakinkan Laila dan Laila semakin bingung.
” Ayo umi, waktu terus berjalan” ajak Salamah dan akhirnya Laila setuju, dia mengangguk dan meraba-raba kerudung dan cadarnya, takut nyengsol.
Di rumah Maryam, Laila membantu menyiapkan piring, gelas dan sendok. Zaenab juga bangun untuk sahur, walaupun dengan wajah yang terlihat begitu mengantuk.
” Assalamualaikum” suara Yusuf terdengar di susul suara pintu yang berdenyit.
” Waalaikumsalam” jawab semua orang.
Yusuf melangkah menuju dapur dan matanya langsung tertuju kepada Laila, Laila tidak menoleh sedikitpun membuat Yusuf memicingkan matanya sedikit kesal. Ya masa Laila mau manja kepada suaminya didepan banyak orang terlebih ada Maryam, untuk menatap dalam suaminya pun Laila tidak berani kalau ada Maryam. Cukup Allah, dia dan Yusuf yang tahu. Ketika dia manja seperti apa, sampai Yusuf harus selalu siap saat dia ingin duduk di pangkuannya.
” Aa” Zaenab kesal saat Yusuf mengusap wajahnya kasar.
” Mau sahur atau mau tidur?” Yusuf tersenyum dan Zaenab cemberut. Tapi Zaenab tiba-tiba memikirkan sesuatu.
” Aa, kalau aku buka puasa jam 7 pagi boleh?” Zaenab tersenyum dan Yusuf menggaruk keningnya.
” Memang Zaenab bisa berbuka sebelum Maghrib kalau gak kuat, Zeze masih kecil. Tapi jangan sengaja dibatalin, puasa gak bisa dijadiin mainan. Kuat lanjut kalau gak kuat buka aja” Yusuf mengelus rambut Zaenab dan Zaenab cemberut. Laila tersenyum begitu juga dengan Salamah.
Semuanya menikmati sahur bersama, Laila menundukkan kepalanya melihat kemesraan Maryam dan Yusuf di hadapannya langsung. Laila terus beristighfar dalam hati, padahal Yusuf tidak melakukan apapun dia diam dan menerima apapun yang diberikan Maryam padanya. Hanya itu, tapi tetap saja membuat Laila cemburu, istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, dan Laila sadar dia harus sadar diri.
****
Matahari semakin tinggi, udara semakin panas terasa. Membuat rasa lapar dan dahaga terasa nyata, Laila tidak keluar dari rumah setelah mencuci pakaian. Saat ini dia sedang mengaji di rumahnya.
” Assalamualaikum, neng” suara Yusuf terdengar, sembari menunggu Laila membukakan pintu. Yusuf khawatir karena Laila sama sekali tidak keluar dari rumah.
” Neng?” panggil Yusuf kembali lalu mengintip dari balik kaca jendela.
” Waalaikumsalam, sebentar bi" sahut Laila seraya melangkah untuk membuka pintu. Pintu pun terbuka Yusuf tersenyum dan merasa lega melihat Laila baik-baik saja.
” Umi kenapa tidak keluar?”
” Laila gak kuat, panas banget. Mending di rumah ngaji” kata Laila lalu duduk dan Yusuf juga duduk.
” Jangan ngeluh, istighfar, dzikir. Jangan sampai ganjaran pahala nya gak ada. Umi cuma dapat haus sama lapar nanti"
" Siapa yang ngeluh, Laila cuma jawab pertanyaan Abi" Laila cemberut.
” Iya iya iya” Yusuf tersenyum. Laila diam dan mengipasi wajahnya dengan mukenanya. Yusuf melepas pecinya dan mengipasi istrinya perlahan, Laila tersenyum tipis dan tersenyum.
****
Keesokan harinya, malam hari. Setelah sholat tarawih berjamaah di masjid yang imamnya adalah Yusuf sendiri. Laila keluar dari musholla beriringan dengan santriwati yang lain, Laila mencari sandalnya tapi tidak bisa dia temukan.
” Nih” seru Ainun dan memberikan sandal Laila. Yang dia simpan dengan sandalnya, supaya tidak bercampur dengan santriwati lain dan susah di carinya.
” Nuhun teh, gak usah repot-repot padahal mah" Laila tersenyum dan Ainun mendelik sebal.
” Kebetulan aja aku lihat, gak sengaja aku simpan. Umi jangan geer” Ainun ketus dan Laila hanya tersenyum.
” Assalamualaikum” ucap Ainun lalu melangkah pergi.
” Waalaikumsalam" jawab Laila dan dia memakai sandalnya lalu melangkah pergi.
Fatma berlari mendekati Laila, Laila yang sadar hanya menoleh dengan ekor matanya. Sekilas.
” Assalamualaikum umi, umi mau kemana?” Fatma bertanya dan Laila menoleh, keduanya tidak terlalu dekat. Entahlah, Laila tidak bisa nyaman dengan Fatma sekalipun Fatma pernah mengajaknya bermain, duduk bersama dan makan bersamanya. Laila tidak bisa nyaman, entah juga kalau dia terlalu cemburu dengan Fatma yang selalu menatap suaminya dengan tatapan mesum.
” Waalaikumsalam, aku mau pulang” jawab Laila.
” Emmm, umi mau ikut ke kamar aku? teman sekamar aku mau bikin seblak” ajak Fatma begitu antusias.
” Aku lagi gak enak perutnya, mungkin keseringan makan pedas" Laila menolak karena memang dia sedang tidak mau memakan makanan pedas. Fatma terus melangkah begitu juga dengan Laila. Fatma terus memperhatikan kedua mata Laila, dia penasaran seperti apa wajah Laila istri muda ustadz Yusuf itu.
” Umi apa aku boleh bertanya?”
” Iya sok aja”
Fatma tersenyum tipis.
” Bagaimana rasanya menjadi istri aa? istri muda ustadz Yusuf?" tanya Fatma dan Laila berhenti melangkah, lalu menatap Fatma.
” Sebaiknya buang rasa penasaran teteh ya" pinta Laila dengan sopan.
” Kenapa? ibu Maryam yang sudah bertahun-tahun berumah tangga dengan aa bisa dimadu. Lalu kenapa umi Laila sepertinya tidak mau?" Fatma memancing gadis yang lebih muda dihadapannya itu, tapi dia panik saat Laila melangkah lebih dekat padanya.
” Seorang Fatimah Az-Zahra saja tidak mau diduakan oleh sayyidina Ali. Lalu bagaimana aku yang tidak semulia Siti Khadijah dan secerdas Aisyah Radhiyallahu Anha?” tegas Laila dan Fatma terdiam.
” Berarti ibu Maryam sangat mulia" puji Fatma dan Laila mengangguk.
” Iya, tapi tidak denganku. Aku memang istri kedua tapi aku yakin ustadz Yusuf tidak akan menduakan ku” tegas Laila dengan yakin dan Fatma terkekeh kecil mendengarnya.
” Kita lihat saja” Fatma tersenyum dan Laila menatapnya kesal.
” Buang rasa penasaran teteh, itu tidak baik. Assalamualaikum”
" Waalaikumsalam”
Laila melangkah pergi meninggalkan Fatma yang terus tersenyum, Laila terus beristighfar berusaha menahan amarahnya.
Sementara di rumah Maryam, Yusuf duduk dan Maryam memberikan semangkuk kolek yang belum di makan suaminya sama sekali. Yusuf merasa tidak tenang karena belum bertemu dengan Laila dari sore.
” Ibu, apa Laila ibu kasih kolek tadi?” Yusuf bertanya saat Maryam duduk di sebelahnya. Wajah Maryam terlihat panik mendengar pertanyaan suaminya. Dan Yusuf membuang nafas kasar, padahal dia sudah meminta Maryam untuk memberikan apapun yang dia makan saat berbuka puasa kepada Laila.
” Aku lupa” lirih Maryam.
” Tidak apa-apa”
” Abi gelisah sekali sepertinya" Maryam menatap suaminya lekat.
” Laila masih kecil, aku tidak bisa makan dan minum serta memakan takjil yang enak ini sendiri." Lirih Yusuf, dia hanya meminum teh hangat dan belum makan sedari tadi.
” Jangan menyiksa diri sendiri, kalau Abi sakit bagaimana?”
” Tidak akan tenang jika istriku yang lain entah makan apa di sana"
” Ya sudah temui Laila, belikan dia makanan yang enak" suara Maryam meninggi, dia kesal sekaligus marah.
” Duduk” pinta Yusuf karena Maryam sudah berdiri dengan tatapan tajam mengarah padanya. Maryam diam membisu.
” Duduk!" tegas Yusuf kesal dan Maryam duduk kembali.
Yusuf akhirnya menikmati kolak buatan Maryam tapi tetap saja dia tidak tega dengan Laila.
****
Flashback on:( Malam mencekam).
Malam yang memilukan terjadi, dimana kesucian Laila akan direnggut pamannya sendiri. Gadis itu terus berontak, sudah sekitar satu jam dia di siksa dan diminta untuk melayani paman gila nya. Sanusi.
” Mang, sakit. Ampun mang” hanya itu yang terus Laila katakan dia sudah ditendang, di pukul habis-habisan. Malam semakin larut, entah dimana dia berada.
” Nurut sama mamang, gak sakit kok. Mamang pelan-pelan aja mainnya. Neng harus nurut” mendesak gadis yang polos itu agar mau meladeninya.
Jika di bayar dengan seisi dunia pun Laila tidak akan mau melakukan hubungan terlarang dengan pria manapun. Kecuali suaminya nanti.
” Mang, jangan.. Hiks.. Mang.. Tolong” Laila terus menjerit dan berteriak saat bajunya di buka paksa. Laila berontak sekuat tenaga, semampu yang dia bisa dan ingin segera pergi dari saung bambu tersebut.
” Laila” geram Sanusi sambil mengeluarkan pisau dari sakunya, Laila sudah merapat ke dinding saung bambu. Hijabnya sudah terlepas, seragam sekolahnya sobek.
” Mang, istighfar. Ini Laila mang" Laila hanya berusaha menyadarkan pamannya, tapi pamannya sudah tertutup oleh hawa nafsu.
Pamannya yang sudah kesal melangkah mendekati Laila, Laila berusaha mempertahankan bajunya sampai pamannya murka dan tidak terkendali. Laila menjerit sangat keras, saat pisau merobek pipinya. Laila tersungkur kasar dan terus berteriak. Dia hanya meminta kepala Allah agar bisa selamat, dia tidak mau kesuciannya terenggut oleh pamannya.
Yusuf yang sedang mencangkul tanah supaya air bisa mengalir ke sawah yang lainnya terdiam saat mendengar suara teriakan Laila.
” A, itu suara siapa ya a?" tanya santri yang ikut bersama Yusuf untuk menemani Yusuf. Yusuf menyapu sekeliling, suara terdengar jauh tapi dia bisa mendengarnya jelas.
” Ayo" ajak Yusuf dan berlari untuk segera datang ke arah suara tangisan dan jeritan, santri yang ikut dengannya juga berlari seraya menghubungi Badrun untuk segera datang.
Yusuf mendobrak pintu saung bambu tersebut dan suara Laila terdengar sangat jelas.
” Tolong" lirih Laila, tubuhnya sudah terkulai lemas sampai pintu saung yang diikat dengan tambang oleh Sanusi terbuka.
” Astaghfirullah hal adzim, berhenti." Yusuf menarik bahu dan menahan Sanusi agar berhenti menyiksa seorang gadis yang sudah terkulai lemas berlumuran darah.
” lepas” Sanusi berusaha berontak dan santri yang tadi membantu Yusuf untuk mengikatnya, santri menahan laki-laki bejat itu dan Yusuf mendekati Laila.
” Neng?" panggil Yusuf tanpa menyentuh, lalu dia menyalakan senter dan memalingkan wajahnya saat melihat rok Laila terangkat sampai ke atas lutut dan baju Laila robek.
” Assalamualaikum” suara Badrun terdengar, dia juga ada di sawah tapi di tempat lain.
” Tolong ustadz, orang ini menyakiti neng itu" kata santri dan terus menahan Sanusi lalu Badrun membantunya.
” Neng, sadar neng” Yusuf terus berusaha menyadarkan Laila.
” Tolong saya” lirih Laila dan dia pingsan tidak sadarkan diri, Yusuf menarik Kai. sorbannya dan menyelimuti tubuh Laila lalu menggendongnya karena keadaan darurat.
” Ini harus segera dibawa ke rumah sakit" kata Badrun.
” Minta warga untuk membantu menahan orang itu, ustadz Badrun tolong siapkan mobil saya menunggu di pertigaan. Gak mungkin anak ini dibawa ke pesantren” kata Yusuf dan Badrun mengangguk.
Di rumah Laila, orang tuanya khawatir. Karena sudah malam Laila belum juga pulang. Suci di rumahnya juga sudah menangis mendengar kabar bahwa Laila hilang, Laila pulang sore karena ada kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Tapi sampai sekarang tidak tahu bagaimana dan kemana gadis itu.
” Bapak, ayo cariin si neng. Ibu udah gak bisa tenang lagi pak" seru Bu Jamilah sambil bercucuran air mata. Sangat khawatir kepada anak perawan nya yang tidak pernah hilang seperti ini.
” Bapak udah telepon teman-temannya, gurunya juga. Katanya si neng udah pulang dari jam 4, ini sudah jam berapa? Astagfirullah Laila. Kamana kamu teh neng" pak Abdul juga khawatir sekaligus takut.
Bu Jamilah dan pak Abdul akhirnya memutuskan untuk mencari Laila dibantu tetangga yang punya motor untuk memudahkan pencarian. Gadis yang tidak pernah main jauh-jauh menjadi korban pelecehan dari pamannya sendiri dan kesuciannya hampir terenggut, Alhamdulillah Allah masih menghendaki Laila selamat.
Flashback off
****
Laila berkeringat dingin, tubuhnya basah karena keringat. Mouza terus mengeong di sebelahnya, melihat majikannya gelisah dalam tidurnya. Kejadian itu sedang berusaha Laila lupakan, tapi sangat susah dan memang tidak mungkin bisa dia lupakan. Saat ini Laila bermimpi kejadian itu, kejadian buruk yang menimpanya. Kedua mata Laila terbuka dan dia langsung bangkit seraya terus beristighfar.
” Astaghfirullah hal adzim, kenapa mimpiin itu. Ya Allah, Astaghfirullah” Laila menangis sesenggukan, jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Laila benar-benar ketakutan dan langsung memeluk kucing kesayangannya. Laila turun dari ranjang untuk segera mandi, sholat tahajjud dan dia tidak mungkin bisa tidur lagi. Terlebih waktu sahur sebentar lagi.
****
Keesokan harinya di kebun, Laila dan teman-temannya sedang memetik kangkung dan sayuran yang lainnya. Wajah Laila begitu pucat dan tidak banyak bicara. Aam melangkah perlahan-lahan mendekati Laila, untuk mengejutkan Laila.
” Dor!"
” Aaa" Laila menjerit histeris dan membuat keranjang di tangannya terjatuh, semuanya menoleh dan melihat Laila ketakutan. Aam merasa bersalah dan panik.
” Umi maaf, umi kaget ya maaf umi" Aam menggoyangkan tangan Laila dan menatap kedua mata sayu dan letih Laila.
” Aam jangan begitu" tegur Husna.
” Kalau umi jantungan gimana? tanggung jawab siah" seru Wawat dan Aam semakin merasa bersalah.
” Umi maaf” Aam berjongkok dan memunguti tomat dan kangkung yang terjatuh, Laila juga berjongkok membantunya.
” Biar aku saja" kata Laila dan Aam menatapnya lekat.
” Umi maaf” kata Aam lagi karena melihat Laila sepertinya benar-benar marah padanya.
” Iya gak apa-apa" jawab Laila tapi tetap saja Aam tidak merasa tenang.
” Ayo sebaiknya kita pulang" ajak Husna dan semuanya mengangguk.
Laila yang melangkah paling depan dia ingin segera pulang dan istirahat, sudah sore juga dia harus menyiapkan makanan untuk buka puasa. Yusuf sudah pasti akan datang padanya, karena sudah waktunya Laila mendapatkan jatahnya.
” Punten” kata Laila saat Iqbal menghadang jalannya, Iqbal menyelipkan rokok di pinggangnya setelah melihat Laila dan santriwati. Iqbal tidak bergeser sedikitpun dan Laila sama sekali tidak mengangkat kepalanya.
” Kami mau lewat, punten” kata Laila kembali tapi Iqbal malah merentangkan kedua tangannya.
” Kang Iqbal awas ih" seru Wawat kesal.
” Kenapa umi judes sama saya?" Iqbal hanya ingin berbicara dengan Laila.
” Kang Iqbal sudah melakukan kesalahan sama saya, menggunakan foto saya. Kang Iqbal masih berani menghalangi jalan saya?" ketus Laila dan dia benar-benar marah saat ini. Iqbal tersenyum dan menatap kedua mata indah Laila.
” Jangan galak-galak nanti cantiknya hilang” Iqbal tersenyum simpul dan Laila menggeleng kepala, di sebut cantik membuat Laila semakin sadar diri dengan kondisi wajahnya.
” Dasar gelo, awas" Husna mengacungkan pisau dan Iqbal mundur menjauh.
” Kalau saya terluka gimana?" Iqbal menatap Husna kesal.
” Biarin" kata Husna dan Laila menarik lengannya supaya tidak meladeni Iqbal.
Laila dan teman-temannya pergi dan Iqbal memperhatikan Laila, dia melihat tatapan sayu Laila dan melihat dahi Laila terus berkeringat. Apa mungkin Laila sakit? Iqbal menjadi khawatir tidak jelas.
****
Malam hari tiba, Laila tidak datang ke masjid untuk sholat tarawih. Laila kecewa karena Yusuf tidak datang untuk berbuka puasa dengannya, karena Yusuf ada urusan di luar bersama Maryam. Laila merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan selimut tebal, tubuhnya panas dan demam tinggi. Laila tidak perduli mau suaminya datang atau tidak. Dia hanya berbuka puasa sedikit, hanya ditemani mouza.
” Assalamualaikum" suara Yusuf terdengar. Laila tidak menjawab dan hanya diam, pintu dia kunci dan malas untuk bertemu dengan suaminya.
” Assalamualaikum, neng” Yusuf terus mengucapkan salam dan mengetuk pintu.
Laila diam dan menatap jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Shalat tarawih sudah bubar sepuluh menit yang lalu. Laila menatap pintu dan suara suaminya tidak terdengar lagi. Laila turun sofa untuk pindah ke kamar.
” Mouza aku ingin istirahat, diam mouza" pinta Laila karena kucingnya terus mengeong dan mengikutinya.
Sesampainya di kamar Laila melepas hijabnya, mengikat rambutnya dan merebahkan tubuhnya. Laila menarik selimut dan menutup mata untuk tidur.
Yusuf masuk lewat pintu belakang, dia bisa membuka kunci pintu belakang dan Laila membuka matanya saat mendengar suara langkah kaki.
” Assalamualaikum” Yusuf menarik tirai pintu kamar dan Laila menutupi wajahnya.
” Waalaikumsalam" jawab Laila dari balik selimut.
” Laila” panggil Yusuf.
” Hemm” Laila hanya berdehem tanpa mau membuka selimut dari wajahnya.
” Neng kenapa? sakit?" tanya Yusuf seraya duduk di tepi ranjang dan menarik selimut tapi Laila menahannya.
” Abi pergi aja, Abi emang gak pernah ingat sama Laila. Gak usah nanya-nanya" ketus Laila dan dia menangis saat ini.
” Abi salah? kalau begitu Abi minta maaf. Sini, ayo ngobrol sama Abi" ajak Yusuf dan Laila tidak mau. Dia menggeleng kepala.
” Abi pergi aja hiks...” Laila terus menangis. Yusuf naik ke atas ranjang tapi Laila mendorongnya, mendorong dada suaminya agar suaminya pergi.
” Umi gak boleh begini, gak boleh kasar-kasar sama suami. Abi salah sama Laila? Abi salah apa?” Yusuf masih berusaha menarik selimut tapi Laila tidak mau menunjukkan wajahnya.
” Laila gak mau tidur sama Abi, Abi pergi aja. Kenapa Abi masuk tanpa permisi, Abi gak sopan” Laila terus menangis dan suaranya terdengar begitu berat.
” Abi khawatir, Laila gak ada ke masjid. Abi khawatir”
” Abi gak pernah khawatir sama Laila, Abi pergi aja. Laila mau sendiri” Laila terus mendorong dan memukul dada suaminya, Yusuf memeluknya erat sampai gadis itu tidak bisa berontak lagi. Yusuf menarik selimut dan menempelkan pipinya di pipi Laila. Dia merasakan hawa panas dari tubuh istrinya, istrinya demam dan sedang kesal padanya.
” Abi lepasin hiks...”
” Umi jangan teriak-teriak, kalau ada yang denger gimana? nanti Abi disangka KDRT”
” Biarin, awas Abi. Laila gak bisa nafas” Laila merasa sesak dan Yusuf mengendurkan pelukannya.
” Abi lepasin" Laila berhenti menangis dan berusaha melepaskan diri tapi Yusuf tidak mau melepaskannya. Laila terkejut ketika melihat wajah suaminya sangat dekat dengannya, begitu dekat sampai Laila pun tidak bisa mundur menjauh.
” Abi salah?” Yusuf bertanya seraya menatap bibir istrinya. Laila menggeleng kepala dan berusaha mundur tapi Yusuf terus maju.
” Katanya Abi salah, Abi harus pergi. Abi minta maaf kalau punya salah, tapi apa? apa yang membuat umi kesal sama Abi seperti ini?" Yusuf terus menatap Laila dan Laila hanya menangis, Yusuf mengusap air mata istrinya lalu dia kecup kedua mata istrinya.
” Jangan nangis terus, Abi minta maaf” lirih Yusuf dan Laila mundur menjauh, belum sempat dia bangkit Yusuf menariknya ke dalam pelukannya.
Laila diam menatap dada bidang suaminya, dan Yusuf tidak berhenti menciumi rambutnya.
tp y di novel ini memang yg salah si karakter Maryam ini
padahal bacanya dah berkali-kali masih ajha 😘😘😘😘