Flavia Gu, adalah anak dari selir kesayangan Tuan Gu. Dibawa olehnya masuk ke dalam keluarga Gu. Ketika ibunya meninggal .
Namun, tidak pernah dianggap sebagia anggota keluarga Gu. Bahkan dia harus menghidupi dirinya sendiri dari keahlian yang dia miliki. Keahlian yang dia sembunyikan dengan baik.
Tidak hanya itu saja, bahkan Flavia dijadikan tumbal malam pertama untuk menggantikan peran Olivia Gu yang ingin menjadi menantu utama keluarga Lin .
Siapa sangka Flavia yang selama ini diam akan menyerang balik mereka semua, yang pernah mencelakainya. sampai pada akhirnya takdir membawa Flavia ke pangkuan Eryk Lin, seorang Mysophobia yang sengaja memilih menjadi dokter Forensik demi mengatasi rasa takutnya yang berlebihan.
Akankah ketika konflik bersemi, justru malah akan membuat keduanya saling jatuh cinta dan menginginkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STATUS
Eryk tiba di rumah, dirinya tiba-tiba saja kehilangan gairah semangat. Separuh jiwanya terasa telah hilang pergi.
Eryk melewatkan makan malamnya dan malah sudah berganti baju dengan piyama tidurnya. Merebahkan diri di ranjang besarnya itu. Meletakan satu tangan di kening, satu tangan di dadanya sambil berpikir tentang dirinya dan Flavia.
Selama ini Eryk lebih sering berinteraksi dengan mayat-mayat karena tugasnya sebagai Dokter Forensik yang mengharuskannya seperti itu. Jadi sedikit merasa berbeda ketika berdekatan dengan Flavia seperti tadi, menggendongnya. Sementara itu Flavia sudan ada di Mansion Mo.
Flavia langsung merebahkan dirinya di ranjang besar bergaya eropa itu, merasa hari ini begitu melelahkan. Dengan cepat dia pun tertidur di ranjangnya.
Asisten He melaporkan jika tadi ada sedikit insiden kecil kepada nona mudanya itu.
"Apa kata dokter?" tanya Tuan Mo.
"Hanya sedikit kelelahan," jawab asisten He.
Mendengar jawaban itu, Tuan Mo pun sedikit melega. Lalu asisten He berkata lagi, "Tuan, sepertinya Tuan Mida Lin salah mengira statusku."
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Mo.
"Tuan Muda Lin, mengira jika aku adalah suami Nona muda," jelas asisten He.
Tuan Mo, nampak berpikir sejenak lalu berkata, "Maka biarkanlah seperti itu."
"Baik Tuan," jawab asisten He sembari menundukan kepalanya.
Saat tidur raut wajah Flavia nampak terlihat aneh, seperti sedang mengalami mimpi buruk. Kejadian di malam Eryk merengkuhnya benar-benar membekas di hati dan pikirannya, seperti ada sebuah trauma yang mengikutinya. Dia terbangun ketika suara petir menggelegar datang.
"Ya Tuhan mimpi itu lagi," gumamnya sembari memegangi dadanya yang sedang naik turun itu.
Sejak saat itu Flavia sering sekali mengalami mimpi itu berulang kali, namun tidak pernah bisa menjelaskan mengapa begitu. Hatinya tiba-tiba merasa mengilu dan malah menangis meski tidak tahu alasan menangisnya, hatinya terasa begitu pilu sampai-sampai tidak bisa menahan air matanya untuk terjatuh.
Ada rasa rindu yang tidak pernah dia bisa terjemahkan dengan kata dan akal. Itu hanya bisa dirasakan dalam hati, seperti rasa rindu yang tak pernah usai. Tidak tahu siapa yang dirindukan tapi rindu itu selalu melekat di hati sekaligus seperti membunuh hati. Terasa seakaan ada bagian serpihan yang hilang.
Di kediaman Lin Hujan di luar masih turun dengan derasnya, petir pun masih menggelegar dengan gagah dan kerasnya. Tiba-tiba saja lampu di rumah itu mati. Eryk yang mendengar suara petir menggelegar kencang juga ikut terbangun.
Eryk mengambil gelas di atas nakas, lalu menuang air putih dan meminumnya hanya dalam beberapa teguk saja. Dia pun turun dari ranjang, lalu memandangi pekatnya langit malam yang sedang bermain dengan hujan dan petir.
Eryk memegangi dadanya, dan merasa nama Flavia seperti sebuah tato di hatinya. Tato yang tak akan pernah dia bisa hapus.
"Bahkan jika aku mencoba menghapusnya, itu tidak akan pernah bisa terhapus," gumam pelan Eryk seraya memegangi dadanya.
Eryk teringat lagi dengan wanita yang dia tiduri malam itu, lalu berkata dalam hati, 'Maafkan aku'
Berpikir jika ada dua wanita dalam hidupnya, maka ini tentu membuat resah hati. Dia berpikir satu adalah wanita yang menghabiskan saat-saat malam pertamanya, sementara satunya lagi adalah cinta dalam hidupnya.
"Jika saja kalian adalah satu orang yang sama," gumam pelan Eryk lagi sambil sedikit tersenyum.
Di pagi harinya, di Mansion Mo. Tuan Mo mengundang seorang tabib untuk memeriksa keadaan Flavia. Meski asisten He sudah mengatakan jika semua baik-baik saja. Tetap saja Tuan Mo merasa sangat khawatir.
Selesai memeriksa keadaan Flavia tabib berkata, "sangat sehat" ujarnya.
"Lalu kenapa kemarin dia merasa sakit?" tanya Tuan Mo.
"Terkadang si bayi, memiliki cara sendiri untuk berkomunikasi dengan kita," jawab tabib itu.
'Degh' hati Flavia langsung saja seperti berdenyut-denyut. Teringat karena kemarin bertemu dengan Eryk.
'Apa kau rindu dengan Papamu' pikir Flavia seraya mengelus lembut perutnya itu.
"Terima kasih tuan," ujar Flavia.
Setelah diperiksa, Flavia sedikit berjalan-jalan di taman Mansion Mo. Menikmati sinar matahari pagi. Sementara itu, di kediaman keluarga Gu, terlihat ibu dan anak saling berdebat dalam kemarahan.
"Jika bukan karena kebodohanmu, maka kita tidak perlu berkakhir seperti ini," ujar Nyonya Gu.
Merasa kesal setiap hari selalu dimarahi dengan kata-kata kasar, maka Olivia pun menjawab dengan nada tinggi, "Ini bukan salah aku. Ini pasti pembalasan Flavia. Bukankah aku sudah bilang jika waktu itu aku melihatnya. Tapi, malah tidak percaya."
Nyonya Gu pun terdiam, berpikir bisa jadi perkataan dan penglihatan Olivia waktu itu benar. Flavia memang sudah menghilang. Namun, tidak pernah ada petugas yang mengetuk kediaman keluarga Gu, untuk menyampaikan kabar berita kematian Flavia.
'Aku akan menyelidikinya' pikir Nyonya Gu.
Di rumah sakit, Eryk mengambil ponselnya dan menghubungi asisten He, "Bagaimana tentang Flavia Gu?"
"Jejaknya benar-benar bersih, seperti tersapu menghilang entah kemana," jawab Asisten He.
"Pakai cara lain!" perintah Eryk.
"Baik Tuan," jawab asisten He.
Jika kemarin dan hari ini dia mencari melalui jalur legal, maka kali dia akan menggunakan jalur Ilegal. Satu hal yang Nyonya Gu dan Asisten He tidak ketahui adalah, jika akses ilegal itu ada di bawah kaki Flavia.
Eryk sebentar-sebentar melirik ponselnya, lalu membuka daftar kontaknya. Dia berkali-kali memandang nomor ponsel Flavia, lalu mencoba memberanikan diri untuk menghubunginya.
Flavia melihat ponselnya yang berdering, dan melihat nama Eryk yang tertera di layar ponselnya. Terdiam sejenak, berpikir jika bayinya sedang merindukan papanya, maka Flavia pun memutuskan mengangkat panggilan telpon itu.
Baru saja ingin menjawabnya. Namun, panggilan itu terhenti. Flavia berpikir sejenak lalu berganti dia yang menjadi menghubungi Eryk.
Di ruang kerjanya, ketika melihat nama Flavia yang tertera di layar ponselnya, hati Eryk senang tak terkira. Dia berdiri dari kursinya, mengambil napas beberapa kali dan menghembuskannya.
Lalu menjawab dengan suara mangnetisnya, "Halo."
"Apa tadi menelponku?" tanya Flavia membuka pembicaraan.
"Emm ... iya. Bagaimana keadaanmu apakah sehat, baik-baik saja?" tanya Eryk.
"Sangat baik, kami baik-baik saja," jawab ramah Flavia.
"Apakah mau jika kita makan siang bersama!" tanya Eryk yang dengan tiba-tiba mengeluarkan perkataan itu begitu saja.
Flavia memegang perutnya lagi, berpikir sejenak lalu berkata, "Ok"
"Apa suamimu tidak akan marah?" tanya Eryk.
"Apa?" kata Flavia karena bingung.
"Suamimu yang kemarin menemani ke rumah sakit," jelas Eryk lagi
'Asisten He' pikir Flavia.
"Ah itu ..." jawab Flavia dengan sedikit tertawa.
"Tidak, dia tidak akan marah," jawab Flavia dengan masih tertawa.
"Jika begitu kita langsung bertemu di restoran," ujar Eryk lagi.
beda dari yang lain disini juga banyk ilmu yang dijelaskan...
Love bangett Karya Nita
Yaa, emang sih klo gda adegan itu, kasusnya g muncul ya? 🤭