Apa jadinya jika seorang pembunuh bayaran terlatih malah jatuh cinta pada targetnya ? Hal itu yang dialami Sofia yang jatuh cinta pada Biyan pria yang seharusnya ia lenyapkan. Namun sayang cinta itu tumbuh ketika Sofia menjadi Anna bukan Sofia yang sesungguhnya. Apakah Sofia akan tetap memutuskan menjadi gadis tunangan dokter muda itu atau sebutir peluru yang akan mengakhiri semua dendam masa lalunya ? Cinta adalah tragedi untuk keduanya yang terjebak dalam keluarga mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joya J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Anna Sekali Lagi
Mobil yang Biyan dan Sofia tumpangi melaju dengan kecepatan yang tinggi. Ada tiga orang anak buah Max yang menjaga mereka sementara sisanya bertugas membereskan kekacauan di club Violaa milik Mr. Chen itu. Biyan mendekap erat Sofia yang masih tak sadarkan diri. Wajah serta tubuh Sofia penuh darah, Biyan tak henti-hentinya berbisik meminta agar Sofia bertahan. Sesuai perintah Max mobil itu melaju ke sebuah rumah sakit yang juga salah satu aset milik keluarga Max. Setibanya mereka Biyan membantu menaikkan Sofia ke brankar menjelaskan kepada dokter emergency room tentang luka-luka yang dialami Sofia. Sekilas dokter itu menaikkan alis karena Biyan menjelaskannya dengan rinci dan menggunakan bahasa kedokteran pula. Biyan menunggu di depan ruang tindakan hingga Max dan Rasyidi tiba di rumah sakit itu tak lupa sahabat Biyan, sosok chubby Ardha ikut bersama kedua orang itu.
"Biyan… bagaimana kondisimu Nak?" Rasyidi mendekati Biyan dan mengamatinya dari ujung kepala hingga kaki putranya. Biyan menarik senyum kaku dan berusaha menenangkan ayah angkatnya itu.
"Aku baik-baik saja hanya memar di beberapa bagian."
Tatapannya beralih kepada Max ayah kandungnya.
"Aretta mencoba menembakku namun Sofia memberi punggungnya untuk melindungiku jika tidak mungkin syukur-syukur aku bisa sampai di ruangan dimana Sofia berada. Aku mohon kepada Anda jelaskan tentang kasus pembunuhan keluarganya itu." Mata Biyan berubah menjadi mendung ia sudah lolos dari peluru yang bisa saja bersarang tepat di jantungnya tadi. Namun ia merasa jantungnya tercerabut melihat Sofia jatuh karena menghalangi peluru itu. Max mengangguk pasti, ia mendekati Biyan dan menepuk bahunya. Diluar dugaan Max, Biyan memeluk ayahnya dengan erat dan hangat. Max membalas pelukan putranya ia merasa sangat bahagia Biyan membuka hatinya dengan menerimanya dengan terbuka. Rasyidi melepas kaca matanya dan mengusap matanya yang basah. Haru dan bahagia bercampur jadi satu dan sedih ikut membaur di dalamnya mungkin sudah tiba saatnya bagi Rasyidi untuk melepas Biyan kembali ke keluarganya.
Dua puluh empat jam sudah berlalu dari kejadian penyerangan itu dan butuh dua belas jam bagi Sofia untuk membuka matanya dan menghimpun kesadarannya. Rasa sakit masih begitu terasa di sekujur tubuhnya. Hal terakhir yang ia ingat adalah tembakan Aretta yang menyasar ke punggungnya juga sorot mata amarah Biyan kepada Aretta. Matanya berkeliling menyusuri tiap sudut ruangan. Ia berada di sebuah kamar mewah dengan fasilitas lengkap. Ia mencoba duduk karena ia tahu jika rompi anti peluru yang ia pakai tak akan menembus kulitnya malam itu namun tetap saja ia merasa jika bekas tembakan itu menyisakan luka pada ototnya atau pada tulangnya karena ia kesulitan untuk duduk.
Pintu tiba-tiba terbuka mata Sofia beradu dengan pemilik mata iris coklat muda itu. Biyan buru-buru mendekati Sofia dan membantunya untuk duduk. Biyan memberikan ganjalan pada punggung Sofia agar merasa nyaman. Bekas-bekas luka di wajah Sofia benar-benar membuat penampilan wajah Sofia kacau.
"Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku Bi." Ujar Sofia dengan suara lemah. Ia tentunya tak berada di dunia ini lagi jika Biyan tidak datang tepat waktu.
"Terima kasih juga karena kau sudah menyelamatkan nyawaku saat Aretta ingin menembakku." Biyan menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Sofia. Perlahan ia meraih jemari gadis itu dan menciumnya dengan lembut.
"Aretta sudah selesai Anna, tidak ada lagi camp Black Butterfly. Aku ingin kita melanjutkan prosesi pernikahan kita yang tertunda." Pandangan mata Biyan begitu teduh dan penuh pengharapan kekasihnya itu mau kembali kepada dirinya. Gadis di hadapannya itu hanya terdiam, menunduk dengan dalam dan menutup rapat matanya. Ada perasaan tertahan di dalam hatinya.
"Kau berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dari aku dokter Biyan. Bukan perempuan sebatang kara dengan masa lalu yang hitam." Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu Sofia ucapkan.
Aku mencintaimu Biyan… kau pria pertama dalam hidupku dan mungkin yang terakhir… desah Sofia dalam hatinya.
"Tempatku bukan di sisimu. Aku hanya perempuan yang menjadi magnet masalah bagimu. Mengancam nyawamu aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu lagi."
Setitik air mata Sofia akhirnya lolos juga dan mengalir pelan di pipinya yang ditutup perban.
"Semua sudah selesai Anna, tidak ada lagi masalah dan apa pun yang terjadi nanti aku hanya ingin bersamamu." Biyan masih mencoba meyakinkan Sofia ia tak rela jika gadis ini memilih pergi.
"Aku pernah berjanji padamu bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu bagaimana pun situasi yang kita hadapi. Kita akan mulai dari awal lagi, sebagai Anna atau Sofia atau dengan identitas lainnya. Ku mohon beri kesempatan sekali lagi untuk kita." Biyan meraih dagu Sofia mengangkat wajah gadis itu dan mencari cinta yang tersisa di mata Sofia.
"Lihat aku Anna… tidak akan pernah terjadi hal yang akan memisahkan kita lagi."
Sofia menatap jauh ke dalam mata Biyan yang mulai berembun, cinta yang sama besarnya itu masih ada dan tidak berubah sedikit pun. Sofia ingin melanjutkan ucapnnya namun ketukan di pintu membuat ia terdiam dan Biyan menurunkan tangannya. Mereka menunggu siapa yang akan masuk ke kamar itu. Mata Sofia membesar ketika melihat dua sosok pria paruh baya masuk menghampirinya.
"Pak dokter… Tuan Max…" ujar Sofia yang cepat mengenali sosok Max yang memang mirip dengan Biyan. Meski agak canggung Rasyidi tetap mendekati Sofia dan memberikan sebuah pelukan hangat. Rasyidi yang sudah terlanjur menyayangi Sofia hanya bisa memaklumi tindakan Sofia sejauh ini.
Setelah berbasa basi sejenak Max memberikan kode agar ia dan Sofia ditinggalkan sejenak. Ia hanya ingin bicara berdua saja dengan Sofia dan meluruskan kejadian belasan tahun silam. Biyan dan Rasyidi memilih menuju cafetaria untuk menikmati secangkir kopi.
Max dengan lemah lembut menceritakan semua kejadian dan tak lupa ia memperlihatkan beberapa kertas yang mulai usang yang isinya bukti-bukti kejahatan Aretta. Max dan klannya tidak terlibat atas terbunuhnya orang tua Sofia. Semua murni rekayasa dan fitnah yang dibuat Aretta. Bahu Sofia terguncang ia menangis dengan keras meluapkan semua perasaan tertahan sekian lama. Layaknya seorang ayah Max memeluk Sofia dalam pelukannya yang hangat. Pria itu paham jika Sofia juga korban dari Aretta dan menjalani hidup yang sulit. Ia juga menyerahkan keputusan hubungan putranya pada Sofia karena ia melihat cinta yang begitu besar di mata Biyan.
"Putraku sangat mencintaimu Nak… aku akan sangat bahagia jika bisa melihatnya bahagia hidup bersamamu. Soal anak-anak panti itu aku akan membantumu dengan sepenuh hati jika kau membutuhkanku."
Tangis Sofia mulai reda dan dengan lirih ia mengatakan kepada Max,
"Beri aku waktu Tuan… beri aku waktu…"
Sukses iya untuk karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku, yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam dari
RINDUKU DI UJUNG SURGA
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
bawa like&rate juga.
semangat trs ya buat nulisnya.
ceritanya seru, bacanya aku cicil ya.
salam dari time memory.
mampir juga ya ke karyaku.. "Mungkinkah?"