Aku mencintai suami sahabatku
Nur bertekad menjadi noda dalam pernikahan Reza dan Tanti. Reza adalah mantan kekasihnya, sedangkan Tanti adalah sahabatnya.
Nur rela menceraikan suaminya atas perintah Reza. Namun, Reza mengingkari janjinya. Ia tak mau melepaskan Tanti dan tak ingin kehilangan Nur dua kali.
Apakah Nur akan tetap menjadi noda dalam perkawinan Reza dan Tanti? Atau justru menyerah dan melepaskan cinta pertamanya bersama wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang Putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
“Lepaskan, Tanti. Karena kacamata itu tidak pantas kamu pakai.”
“Tanti cuma ingin menutupi mata bengkak Tanti, Pak. Kebetulan Tanti melihat kacamata Bapak ada di atas lemari milik Tanti. Jadi Tanti pakai saja.”
“Tapi itu kacamata las milik Bapak!”
Mendengar jawaban Pak Hadi, aku pun baru menyadari jika kacamata hitam yang dipakai Tanti memanglah kacamata las. Pantas saja ketika aku melihat wanita itu keluar dari kamar, aku merasa ada yang aneh dari wajahnya. Aku kira cantik yang berbeda, ternyata karena kacamata yang digunakannya adalah kacamata las milik Pak Hadi.
“Kenapa Bapak naruh di kamar Tanti kalau ini kacamata kerja milik bapak?” tanya Tanti yang masih belum mau melepas kacamata itu.
“Karena kamar kamu sering kosong. Biasanya kalau siang Bapak tidur di situ dan Bapak lupa menaruh kacamata di lemarimu.”
“Sudahlah, Tanti. Kamu tidak perlu memakai kacamata itu. Ayo cepat! Bukankah kau yang bilang akan melayat dengan Fadli?” tanya ibuku.
“Iya, Bu. Tanti jadi nggak sadar Ibu dan Fadli sudah datang di sini gara-gara kacamata ini,” balas Tanti
“Ya sudah, Tan. Ayo lebih baik kita melayat sekarang saja. Tidak perlu menunggu malam,” kataku seraya berdiri dari tempat duduk.
“Fadli benar. Lebih cepat lebih baik. Bapak hanya takut kamu akan membuat keributan di sana saat kamu melayat. Makanya Bapak tadi meminta agar melayat saat malam saja karena mungkin sudah sepi. Tapi kalau kalian mau pergi sekarang juga tidak apa-apa,” sahut Pak Hadi.
Lantas Tanti melangkahkan kakakinya. Kemudian ia melepaskan kacamata hitam itu dan menaruhnya di atas meja. Rambutnya yang terurai, tergerai menutupi sebagian wajahnya. Tanganku hampir saja ingin menyibak rambut itu dan merapikannya. Untung saja aku bisa menahan perasaan itu. Aku tidak mungkin berbuat yang aneh-aneh di depan kedua orang tua Tanti. Sedangkan putri mereka masih berstatus sebagai istri orang.
“Ayo, Fadli,” ucap Tanti seraya berdiri tegak tepat di hadapanku.
“Astaghfirullahaladzim.” Aku kembali terjatuh duduk di atas kursi ketika melihat wajah Tanti yang menyeramkan. Kedua netranya yang sipit ditambah sembab karena seharian menangis membuat matanya benar-benar terbuka sangat kecil.
“Kenapa kau takut melihatku seperti itu? Apa aku ini menakutkan?” kata Tanti dengan memanyunkan bibirnya. Sungguh menggemaskan. Kenapa Tanti terlihat begitu cantik ketika bertingkah seperti itu?
“Sepertinya kamu memang harus pakai kacamata, Tan. Coba kamu menghadap kedua orang tuamu,” kataku seraya mencoba kembali berdiri.
Tanti menurut apa kataku. Ia pun menghadap ke arah Bapak dan Ibunya yang justru dua pasangan paruh baya itu tertawa melihat wajah putrinya yang seperti orang baru saja tersengat lebah.
“Astaga, kenapa putriju jadi tidak ada cantik-cantiknya begini. Apa sebaiknya Tanti pakai kacamata Bapak saja?” usul Bu Siti kepada suaminya.
“Janganlah, Bu. Nanti akan bikin malu. Coba kalian cari penjual kacamata di pinggir jalan. Mungkin saja kalian menemukan sebelum sampai di rumah Nur,” kata Pak Hadi kepadaku dan Tanti.
“Iya, Pak. Nanti kamu akan mencari kacamata hitam untuk Tanti. Ayo, Tan!” ajakku kepada wanita itu.
Aku berjalan dan menunggu Tanti di depan pintu. Wanita itu terlihat menuju sebuah rak sepatu dan mengambil sepatu hitam berhak tinggi dan ia menggunakannya.
“Kau yakin akan mengenakan sepatu ibu, Tanti?” tanya Bu Siti kepada putrinya.
“Iya, Bu. Tanti sudah cantikkan pakai dress hitam, kacamata hitam nanti, dan juga sepatu berhak tinggi hitam? Aku yakin pasti Mas Reza akan menyesal sudah memilih Nur daripada aku. Mas Reza tidak menyadari sudah membuang bunga mawar demi memungut bunga bangkai.”
“Yang dikatakan Tanti benar, Jeung. Biarkan Tanti tampil lebih menarik dari sebelumnya. Suaminya akan menyesal sudah membuangnya,” sambung Ibuku.
Aku memberikan helm kepada Tanti, kemudian bersiap mencari penjual kacamata di pinggir jalan sebelum aku mengantar Tanti menuju kediaman Nur.
“Tanti, sebenarnya aku tidak enak dengan tetanggamu. Pasti tetanggamu mengira yang tidak-tidak karena kamu pergi dengan laki-laki lain.” Aku memutar gas dan menjalankan sepeda motorku cukup kencang.
“Lambat laun mereka pun nanti akan tahu kebenarannya. Jika yang berbuat tidak-tidak itu suamiku. Bukan aku.”
Tidak ada percakapan yang berarti selama aku mengendarai sepeda motor. Yang ada di ada malah jantungku berdegup seperti genderang. Ini bukan kali pertama aku membawa Tanti dengan sepeda motorku. Tapi perasaan ini kadang muncul begitu saja. Lalu tiba-tiba nanti akan menjadi rasa yang biasa. Membuatku semakin bingung dengan perasaanku.
Bahkan untuk pertama kalinya aku rela izin tidak bekerja demi seorang wanita. Untuk pertama kalinya pula aku membawa seorang wanita dengan sepeda motorku selain ibuku. Aku tahu ketika aku jauh dari Tanti aku merasa merindukannya dan ingin dekat dengannya. Ingin bercakap dengannya meski hanya melalui telepon. Dan saat dekat seperti ini, justru aku gelisah. Tapi aku tidak tahu mengapa aku gelisah. Apa yang kau khawatirkan? Apakah aku takut Tanti akan menangis lagi di depanku karena laki-laki lain, atau aku takut waktu ini akan cepat berlalu dan aku kembali jauh dari Tanti?
“Ah, kenapa aku berpikir seperti ini? Memangnya hubunganku dengan Tanti itu apa? Hanya sebuah hubungan setingan, tapi aku mengharapkan hubungan ini akan menjadi kenyataan. Walau pun mungkin itu mustahil. Karena kata ibuku, tidak mudah melupakan seorang laki-laki yang sudah dicintai dan hidup bersama. Dan mungkin memang Tanti masih mencintai Reza meski dia berusaha tegar di depan pria itu dan juga sahabatnya yang sudah menjadi noda dalam pernikahan Tanti.
Akhirnya aku menemukan seorang penjual kacamata di pinggir jalan. Memang hanya kacamata murah, tetapi setidaknya itu bisa menutupi mata sembab Tanti.
“Ayo turun, Tanti!” pintaku.
Aku berjalan lebih dulu menghampiri penjual itu. Lantas aku menoleh ke arah Tanti dan melihatnya berjalan dengan sepatu hak tinggi dengan wajah yang menunduk dan rambut yang bergerak-gerak terkena sepoi angin. Cantik sekali wanita itu.
Aku meminta Tanti untuk memilih kacamata yang dia inginkan. Banyak model yang menurutku cukup elegan jika digunakan oleh Tanti.
Wanita itu mengambil sebuah kacamata hitam dan mencobanya.
“Bagaimana, Fadli? Apa aku terlihat cocok menggunakan kacamata ini?” tanyanya padaku.
“Iya, cocok sekali. Mata sembabmu tertutup menggunakan kacamata itu. Sebentar, aku akan membayarnya!” Aku merogoh dompet yang kusimpan di saku celana belakang. Kemudian aku membayar kacamata itu dan mengajak Tanti segera pergi.
Tetapi wanita itu justru berjalan sangat pelan dengan tangan yang bergerak-gerak ke arah depan seperti ingin meraih sesuatu.
“Apa yang kau lakukan, Tanti. Kenapa kau berjalan seperti itu?”
“Fadli, tolong pegangi aku! Sepertinya aku akan pingsan.”
Mendengar jawabannya, aku segera berlari menghampiri Tanti dan memegangi tangannya. “Apa kau tidak enak badan? Kau pusing?” tanyaku dengan khawatir.
“Aku takut jatuh. Pandanganku menjadi gelap. Kenapa gelap sekali? Apa ini mendung atau memang sudah petang?” tanya Tanti padaku.
Aku menghela napas panjang mendengar jawaban dari Tanti. Kekhawatiranku pun berubah menjadi tawa.
“Itu karena kacamata yang kau kenakan, Tanti. Berjalanlah seperti biasa. Jika tanganmu bergerak-gerak seperti itu nanti kau dikira orang buta.”
Tanti menepuk bahuku cukup keras. Ia kembali memanyunkan bibirnya dan seolah tidak suka jika aku menyamakan dengan orang buta.
“Kamu tidak pernah seserius. Ayo cepat! Aku sudah tidak sabar ingin berakting di depan Mas Reza dan Nur.”
Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kediaman Nur. Sesampainya di sana masih banyak pelayat. Ketika aku hampir menepikan sepeda motorku di halaman rumah Nur, Tiba-tiba saja Tanti melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.
Rasanya aku ingin menghentikan waktu. Aku ingin merasakannya lebih lama.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu