NovelToon NovelToon
Mantan Terindah

Mantan Terindah

Status: tamat
Genre:Patahhati / Cintamanis / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:5.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: rini sya

Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.

Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?

Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.

Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sama-sama Keras Kepala

Laskar menatap Zein dengan tatapan dingin. Sedangkan Zein menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan debaran jatung yang sulit untuk diartikan.

Bagaimana tidak? Kali ini, kesalahannya jauh lebih fatas dibanding dengan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan.

"Maaf, Ma," ucap Zein, terdengar lirih.

"Bisa kita bicara berdua saja, papamu sedang dalam emosi yang tidak stabil," ucap Laila.

"Oke." Zein mengangguk. Lalu mengajak ibu sambungnya itu ke kamarnya. Sedangkan Laskar masih duduk di sofa dengan acuhnya.

Di dalam kamar yang lumayan mewah itu, Laila dan Zein duduk di sofa kamar tersebut. Lalu, Laila dengan sikap keibuannya pun bertanya pada Zein.

"Boleh Mama bertanya, tapi Mama harap Zein jawab pertanyaan Mama dengan jujur," pinta Laila.

"Tentu, Ma. Bertanyalah!" Zein menatap sang ibu.

"Kamu serius mau menikah dengan kekasihmu itu?" Laila membalas tatapan mata sang putra. Mencoba mencari jawaban yang jujur dari sinar mata indah itu.

"Zein udah janji, Ma. Zein nggak punya pilihan lain," jawab Zein, jujur. Sesuai dengan apa yang memang telah terjadi.

"Apakah kamu mencintainya?" tanya Laila lagi.

Zein diam sesaat. Terlihat jelas bahwa saat ini ada kebimbangan di dalam hatinya. Sebab ia tahu bahwa cintanya pada Vita hanyalah obsesi dari rasa penasaran yang tumbuh sesaat. Bukan seperti apa yang pernah ia rasakan untuk Zi, mantan istrinya.

Zein bisa merasakan penyesalan yang teramat sangat ketika melepaskan wanita itu. Zein bisa merasakan rindu yang menggebu ketika mengingat senyuman itu. Sungguh, saat ini Zein sudah bisa membedakan rasa yang ada di dalam hatinya.

Namun, sekali lagi ia telah terlambat. Zein telah melangkah lebih jauh.

"Zein terlambat memilih, Ma," jawab Zein, kali ini jawaban itu serasa seperti sebuah jeritan penyesalan. Laila bisa merasakan itu.

"Apakah kamu mencintai, Zi?" Laila menatap sang putra.

Zein menjawab pertanyaan itu dengan anggukan, lalu ia menutup mata rapat. Mengusap wajahnya dengan penyesalan. Sungguh, saat ini Zein merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya.

"Apakah kamu merindukannya?" pancing Laila lagi.

"Ya," jawab Zein lirih.

"Apakah kamu menyesal telah melepaskannya?"

Zein tidak menjawab, namun air mata yang tak sengaja menetes itu cukup memberi jawaban pada Laila bahwa sebenarnya putranya ini telah masuk ke dalam lubang penyesalan yang teramat sangat.

"Maafkan Zein, Ma," ucap Zein, lalu ia pun menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada di pipinya.

"Entahlah Zein, kamu selalu mengulang kesalahan yang sama. Mama sendiri bingung, bagaimana mengembalikanmu pada jalur yang benar. Kamu terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Mama pikir kamu akan menunggu kami menyetujui pilihanmu. Mama pikir, kamu akan menunggu sampai mama bisa meluluhkan hati papamu. Masalahnu memang satu, Zein. Mudah mengambil keputusan. Tidak memikirkan baik buruknya untuk orang lain," ucap Laila. Sesuai dengan apa yang ia pelajari tentang Zein selama ini.

Zein menghela napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak menjawab ucapan ibu sambungnya itu. Tetapi juga tidak menolak.

"Mama tidak ingin terlalu jahat sama kamu, namun Mama juga nggak bisa menghianati, Zi. Mama sama papa udah kasih kamu kesempatan untuk berpikir. Menimbang lagi keputusan yang kamu ambil. Sampai pada akhirnya kami berdua, mama dan papa... menemukan Zi." Laila kembali menatap Zein. Berharap ada getaran di dalam hati pria muda di depannya ini.

Zein mengangkat wajahnya. Lalu ia pun menatap sang ibu dan bertanya. "Apakah dia baik-baik saja, Ma?"

Laila mengehela napas panjang, lalu ia pun menjawab, "Dia baik, baru keluar dari rumah sakit."

Zein menatap wajah sang ibu, menunjukkan kekhawatiran yang ia rasakan. "Memangnya Zi sakit apa, Ma? Di mana mama sama papa ketemu Zi?" Zein terlihat antusias ketika tahu bahwa kedua orang tuanya mengetahui kabar mantan istrinya itu.

"Ada, kami memang sengaja mencari Zi. Tentu saja kami ingin minta maaf atas apa yang telah terjadi. Mau bagaimanapun kami wajib meminta maaf atas apa yang terjadi," jawab Laila lembut.

"Yang salah kan Zein, Ma. Harusnya Zein yang minta maaf, Ma," ucap Zein.

"Siapa bilang yang salah cuma kamu. Kami juga salah Zein, karena nggak mampu mendidik kamu dengan baik. Nggak mampu mengontrol kamu dengan baik. Mau sampai kapanpun kamu adalah anak kami, kesalahanmu adalah kesalahan kami. Kami tetap wajib mendidikmu sampai nyawa ini sudah tak lagi ada di dalam raga ini. Zein paham kan maksud, Mama," ucap Laila lagi.

Sungguh, ucapan ibu sambungnya ini bagai tamparan keras untuk Zein. Segitu berharganya dirinya untuk kedua orang tuanya. Tetapi Zein begitu tega menyepelekan mereka. Tidak pernah melibatkan setiap keputusan terpenting yang ia ambil dalam kehidupannya.

Harusnya Zein tidak seperti itu!

"Maafkan Zein yang tidak berpikir sampai sana, Ma. Maaf!" ucap Zein, terdengar menyesal.

"Lain kali berpikirlah yang matang sebelum mengambil keputusan, Zein. Sebelum kamu benar-benar menyesal," ucap Laila lagi.

"Iya Ma, sekali lagi, maafkan Zein, Ma!" Zein kembali meneteskan air matanya. Karena dia menyadari bahwa dia memang keterlaluan terhadap kedua orang tuanya.

"Apakah Zein ingat ketika Zein sakit di rumah sakit?"

"Ya!"

"Sebenarnya saat itu Mama dan papa ingin kasih tahu sesuatu tentang Zi. Berhubung kami melihat Vita dan mendengar jawaban atas apa yang kamu rasakan terhadap mereka berdua, papamu marah. Papamu mengurungkan niatnya untuk memberi tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Zi," ucap Laila.

Zein mengangkat wajahnya, menatap wanita yang telah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

"Memangnya apa yang terjadi pada Zi, Ma?" tanya Zein.

Sayangnya sebelum Laila menjawab pertanyaan itu, Laskar masuk ke dalam kamar Zein dan menatap tajam ke arah sang istri.

Bersambung...

1
Les Tari
bagus
Leo girl
cannot brain cerita ini,kecewa tapi bagi restu,sepatutnya beritahu perkara sebenar,terserah mahu terima atau tidak,ingatkan cerita Stella je bodoh,cerita juga,aku unsubscribe,bai
Leo girl
bodoh ya cerita ini,sudah tahu abangnya sama zi(belum tahu cerai)tapi berlagak biasa saja,zein plk menyesal Dan mengakui cinta sama zi tapi biarkn vita sentuh sesuka hati,makanya disini bukan Salah vita kerana tidak tahu apa²
Dini Mulyati
bima sama Nadia aja .
cleo_aay
Aduuuuuhhhh sekarang vita yg pengen di tampoll
cleo_aay
Si zein beneran minta di tampolll
cleo_aay
sini zein sleding dikit palanya,,
Zulfa LInda
Luar biasa
R yuyun Saribanon
ni anak emang idiot
R yuyun Saribanon
laila lu juga pake otak..jangan semua keinginan anaknya di iyahin aja..nanti jadi laki2 egois, tolol dan ga bertanggung jawab
Haerul Anwar
KONY(T)OL GOBLOK
Noorjamilah Sulaiman
biarkn aja C zein tu,jgn biarkn mereka ketemu zi
Asiana Tyas
terlambat....😔😔
Asiana Tyas
Luar biasa
sintesa destania
kayaknya nadia salah satu utusan mertua
Ismalinda
Luar biasa
Nartadi Yana
hore kejutan , bima datang
Nartadi Yana
kapok Lo Mariska hamil ditinggal nggak ada yang tanggung jawab kasihan deh kamu
Nartadi Yana
Oalah begono critane Thor
Nartadi Yana
wah jangan ³ Nadia ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!