Demi menikahi cinta lamanya, Zein menceraikan istri sahnya.
Mungkinkah Zein akan menyesali keputusannya itu?
Sekuel dari Penjara Cinta Untuk Stella.
Semoga suka😍😍 Stay Tune😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama-sama Keras Kepala
Laskar menatap Zein dengan tatapan dingin. Sedangkan Zein menyambut kedatangan kedua orang tuanya dengan debaran jatung yang sulit untuk diartikan.
Bagaimana tidak? Kali ini, kesalahannya jauh lebih fatas dibanding dengan kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan.
"Maaf, Ma," ucap Zein, terdengar lirih.
"Bisa kita bicara berdua saja, papamu sedang dalam emosi yang tidak stabil," ucap Laila.
"Oke." Zein mengangguk. Lalu mengajak ibu sambungnya itu ke kamarnya. Sedangkan Laskar masih duduk di sofa dengan acuhnya.
Di dalam kamar yang lumayan mewah itu, Laila dan Zein duduk di sofa kamar tersebut. Lalu, Laila dengan sikap keibuannya pun bertanya pada Zein.
"Boleh Mama bertanya, tapi Mama harap Zein jawab pertanyaan Mama dengan jujur," pinta Laila.
"Tentu, Ma. Bertanyalah!" Zein menatap sang ibu.
"Kamu serius mau menikah dengan kekasihmu itu?" Laila membalas tatapan mata sang putra. Mencoba mencari jawaban yang jujur dari sinar mata indah itu.
"Zein udah janji, Ma. Zein nggak punya pilihan lain," jawab Zein, jujur. Sesuai dengan apa yang memang telah terjadi.
"Apakah kamu mencintainya?" tanya Laila lagi.
Zein diam sesaat. Terlihat jelas bahwa saat ini ada kebimbangan di dalam hatinya. Sebab ia tahu bahwa cintanya pada Vita hanyalah obsesi dari rasa penasaran yang tumbuh sesaat. Bukan seperti apa yang pernah ia rasakan untuk Zi, mantan istrinya.
Zein bisa merasakan penyesalan yang teramat sangat ketika melepaskan wanita itu. Zein bisa merasakan rindu yang menggebu ketika mengingat senyuman itu. Sungguh, saat ini Zein sudah bisa membedakan rasa yang ada di dalam hatinya.
Namun, sekali lagi ia telah terlambat. Zein telah melangkah lebih jauh.
"Zein terlambat memilih, Ma," jawab Zein, kali ini jawaban itu serasa seperti sebuah jeritan penyesalan. Laila bisa merasakan itu.
"Apakah kamu mencintai, Zi?" Laila menatap sang putra.
Zein menjawab pertanyaan itu dengan anggukan, lalu ia menutup mata rapat. Mengusap wajahnya dengan penyesalan. Sungguh, saat ini Zein merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya.
"Apakah kamu merindukannya?" pancing Laila lagi.
"Ya," jawab Zein lirih.
"Apakah kamu menyesal telah melepaskannya?"
Zein tidak menjawab, namun air mata yang tak sengaja menetes itu cukup memberi jawaban pada Laila bahwa sebenarnya putranya ini telah masuk ke dalam lubang penyesalan yang teramat sangat.
"Maafkan Zein, Ma," ucap Zein, lalu ia pun menghapus sisa-sisa air mata yang masih ada di pipinya.
"Entahlah Zein, kamu selalu mengulang kesalahan yang sama. Mama sendiri bingung, bagaimana mengembalikanmu pada jalur yang benar. Kamu terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Mama pikir kamu akan menunggu kami menyetujui pilihanmu. Mama pikir, kamu akan menunggu sampai mama bisa meluluhkan hati papamu. Masalahnu memang satu, Zein. Mudah mengambil keputusan. Tidak memikirkan baik buruknya untuk orang lain," ucap Laila. Sesuai dengan apa yang ia pelajari tentang Zein selama ini.
Zein menghela napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Ia tidak menjawab ucapan ibu sambungnya itu. Tetapi juga tidak menolak.
"Mama tidak ingin terlalu jahat sama kamu, namun Mama juga nggak bisa menghianati, Zi. Mama sama papa udah kasih kamu kesempatan untuk berpikir. Menimbang lagi keputusan yang kamu ambil. Sampai pada akhirnya kami berdua, mama dan papa... menemukan Zi." Laila kembali menatap Zein. Berharap ada getaran di dalam hati pria muda di depannya ini.
Zein mengangkat wajahnya. Lalu ia pun menatap sang ibu dan bertanya. "Apakah dia baik-baik saja, Ma?"
Laila mengehela napas panjang, lalu ia pun menjawab, "Dia baik, baru keluar dari rumah sakit."
Zein menatap wajah sang ibu, menunjukkan kekhawatiran yang ia rasakan. "Memangnya Zi sakit apa, Ma? Di mana mama sama papa ketemu Zi?" Zein terlihat antusias ketika tahu bahwa kedua orang tuanya mengetahui kabar mantan istrinya itu.
"Ada, kami memang sengaja mencari Zi. Tentu saja kami ingin minta maaf atas apa yang telah terjadi. Mau bagaimanapun kami wajib meminta maaf atas apa yang terjadi," jawab Laila lembut.
"Yang salah kan Zein, Ma. Harusnya Zein yang minta maaf, Ma," ucap Zein.
"Siapa bilang yang salah cuma kamu. Kami juga salah Zein, karena nggak mampu mendidik kamu dengan baik. Nggak mampu mengontrol kamu dengan baik. Mau sampai kapanpun kamu adalah anak kami, kesalahanmu adalah kesalahan kami. Kami tetap wajib mendidikmu sampai nyawa ini sudah tak lagi ada di dalam raga ini. Zein paham kan maksud, Mama," ucap Laila lagi.
Sungguh, ucapan ibu sambungnya ini bagai tamparan keras untuk Zein. Segitu berharganya dirinya untuk kedua orang tuanya. Tetapi Zein begitu tega menyepelekan mereka. Tidak pernah melibatkan setiap keputusan terpenting yang ia ambil dalam kehidupannya.
Harusnya Zein tidak seperti itu!
"Maafkan Zein yang tidak berpikir sampai sana, Ma. Maaf!" ucap Zein, terdengar menyesal.
"Lain kali berpikirlah yang matang sebelum mengambil keputusan, Zein. Sebelum kamu benar-benar menyesal," ucap Laila lagi.
"Iya Ma, sekali lagi, maafkan Zein, Ma!" Zein kembali meneteskan air matanya. Karena dia menyadari bahwa dia memang keterlaluan terhadap kedua orang tuanya.
"Apakah Zein ingat ketika Zein sakit di rumah sakit?"
"Ya!"
"Sebenarnya saat itu Mama dan papa ingin kasih tahu sesuatu tentang Zi. Berhubung kami melihat Vita dan mendengar jawaban atas apa yang kamu rasakan terhadap mereka berdua, papamu marah. Papamu mengurungkan niatnya untuk memberi tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Zi," ucap Laila.
Zein mengangkat wajahnya, menatap wanita yang telah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.
"Memangnya apa yang terjadi pada Zi, Ma?" tanya Zein.
Sayangnya sebelum Laila menjawab pertanyaan itu, Laskar masuk ke dalam kamar Zein dan menatap tajam ke arah sang istri.
Bersambung...