IG : Isthiizty
Disarankan untuk membaca novel PERNIKAHAN RAHASIA SEPASANG ANAK SMA dan SHE'S MINE terlebih dahulu.
Apapun yang sudah di takdirkan menjadi milikmu, tidak akan meleset sedikitpun meski semua orang menghalanginya.
Begitupula jika memang tidak di takdirkan untuk menjadi milikmu, mau seluruh makhluk di dunia ini mendukungmu, sampai kapanpun tak akan pernah menjadi milikmu.
Jadi jangan pernah menyalahkan keadaan. Karena jika dia memang ditakdirkan untukmu, pasti akan ada jalan untuk kalian bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naumi
Gladis tersenyum manis pada gadis kecil berusia hampir tiga tahun yang tengah berjalan ke arahnya.
"Naumi...." sapa Gladis sembari duduk jongkok dan merentangkan kedua tangannya, berharap gadis kecil bernama Naumi itu memeluknya.
Namun harapan hanya tinggal harapan, karena Naumi justru melewati dirinya begitu saja dan justru langsung memeluk kaki Floryn dengan posesif.
"Onty temana aja? Napa Onty dak pelnah maen te lumah Nomi ladi?" tanya Naumi dengan wajah sendunya.
Floryn tersenyum kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh gadis berusia hampir tiga tahun itu.
"Onty sibuk sayang," jawab Floryn memberi alasan. "Apa Naumi merindukan Onty?" Floryn balik bertanya dengan suara lembutnya. Bahkan terlihat jelas jika dia begitu menyayangi gadis kecil di hadapannya itu.
"Ya Onty, Nomi lindu cetali cama Onty," jawab Naumi cepat.
"Oh ya?" Floryn pura-pura terkejut. "Kalau gitu peluk Onty. Karena Onty juga sangat merindukan Naumi."
Floryn merentangkan tangannya. Dan saat itu juga Naumi langsung berhamburan ke pelukannya. Bahkan dua gadis berbeda generasi itu langsung tertawa cekikikan saat tubuh mereka saling bertautan.
"Naumi, ngapain kamu peluk-peluk orang asing itu." Gladis menarik paksa tubuh Naumi agar terlepas dari pelukan Floryn.
"Dak mau ante. Nomi mau cama Onty Plolin." Naumi yang masih merindukan Floryn tetap tak mau melepaskan pelukannya. Hingga Gladis yang kesal kembali menarik tubuh kecil gadis itu dengan sedikit kasar.
"Atit ante...."
"Gladis. Lo apa-apaan sih," bentak Jordy. "Sayang sini sama Uncle aja."
Jordy mengangkat gadis kecil yang tak lain adalah putri semata wayang kakak perempuannya. Bahkan saat ini gadis kecil itu adalah pemegang tahta tertinggi di keluarganya. Bagaimana tidak? Naumi adalah anak pertama, cucu pertama, juga keponakan pertama di keluarganya maupun keluarga kakak iparnya.
"Uncle, tenapa Uncle nitah cama ante itu." Naumi melirik Gladis yang juga tengah menatapnya. "Butannya duyu Uncle biyang batayan nitah cama Onty Plolin?"
Jordy terdiam. Dia nampak bingung harus menjawab apa. Tak mungkinkan dia berkata jika menikahi Gladis karena wanita itu tengah mengandung anaknya.
Floryn yang menyadari kebingungan Jordy kini langsung menyela. "Itu karena Uncle Jordy dan tante Gladis berjodoh sayang."
"Beljodoh?" Naumi mengerutkan dahinya. Gadis kecil itu nampaknya tak mengerti dengan maksud perkataan Floryn. "Beljodoh itu apa Onty?"
Floryn tersenyum. "Nanti kamu akan mengerti saat sudah besar. Mangkanya Naumi harus makan yang banyak biar cepat besar."
"Tapi tata mommy, talau Uncle menitah cama ante Gladis, Onty Plolin butan Onty Nomi ladi," ucap Naumi dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
"Nomi mauna Uncle nitah cama Onty Plolin butan cama ante dalak itu. Nomi ndak mau unya ante yang dalak," ujar Naumi merajuk.
"Naumi sayang, tante Gladis gak galak kok. Tante Gladis baik. Tante Gladis juga sayang sama Naumi. Jadi Naumi gak boleh lagi bilang kalau tante Gladis galak. Oke?"
Naumi menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju dengan ucapan Uncle-nya. "Ante itu dalak cama Nomi, Uncle. Tadi Nomi di talik-talik. Tanan Nomi atit." Gadis kecil itu berkata sembari menunjukan pergelangan tangannya yang sempat di tarik paksa oleh Gladis.
"Tadi tante Gladis gak sengaja sayang," ujar Jordy mencoba membela istrinya. "Dis, buruan kamu minta maaf sama Naumi!" perintah Jordy pada istrinya.
"Minta maaf?" Gladis membelalakan matanya tak percaya. "Gak mau bee, orang aku gak salah," tolak Gladis.
"Tapi tadi kamu terlalu kasar narik tangan Naumi. Jadi lebih baik kamu minta maaf sama Naumi. Lagi pula apa salahnya sih minta maaf."
"Aku gak bakalan minta maaf sama keponakan kamu itu," ujar Gladis keukeh merasa tak bersalah. "Dia udah ngatain aku galak. Lagian ini semua salah mantan kamu ini, bukan salah aku."
"Kok kamu jadi nyalahin Floryn. Jelas-jelas yang narik paksa Naumi itu kamu."
"Tapi semua ini gara-gara wanita murahan ini. Aku gak bakalan narik Naumi kalau mantan kamu itu gak sok akrab sama Naumi," ujar Gladis. Dia tak suka saat Naumi justru lebih dekat dengan Floryn daripada dirinya yang jelas-jelas sudah resmi menjadi istri Uncle-nya.
"Sejak dulu Naumi memang dekat sama Floryn. Bahkan kamu tahu itu. Dan harusnya kamu belajar dari Floryn bagaimana cara mendekati Naumi. Bukan malah bersikap kasar seperti tadi," ujar Jordy nampak geram. Karena walau bagaimanapun Naumi adalah keponakan kesayanagannya.
"Terus aja bela mantan kamu. Lagian ngapain sih dia ada disini." Gladis menatap Floryn sinis. Nampak jelas jika dia tak menyukai keberadaan mantan sahabatnya itu.
"Apa kamu lupa kalau kamu yang mengundangnya," sahut Jordy kesal. Dia tak habis pikir. Bagaimana bisa menikahi gadis keras kepala seperti Gladis yang berbanding terbalik dengan Floryn.
"Iya. Tapi seharusnya dia tahu diri," ucap Gladis dengan suara mulai meninggi. "Apa sebegitu gak lakunya dia sampai masih ngejar-ngejar kamu."
"Floryn gak bakalan ngelirik suami lo. Apalagi ngejar dia. Karena dia udah bahagia sama gue," sahut Mike yang memang sejak tadi kesal saat melihat Floryn terus di pojokan.
"Cih, jangan sampai elo nangis darah saat tau kalau elo cuma jadi pelampiasan Flo...."
"Ada apa ini?" Gladis tak melanjutkan perkataannya saat kakak iparnya datang menghampiri mereka. "Apa kalain tak malu menjadi pusat perhatian semua tamu di sini?"
Mereka semua menatap ke sekitar pelaminan. Dan benar saja hampir sebagian besar tamu menatap kearah mereka dengan penuh tanda tanya. Apalagi Mike dan Floryn cukup lama berada di atas pelaminan dan bahkan berdebat dengan sepasang pengantin.
"Floryn, lebih baik kamu temui mama sama papa dulu. Setelah itu makan. Kamu baru datang bukan?" Kakak Jordy menatap kearah Floryn, gadis yang sebenarnya sangat dia harapkan bisa menjadi adik iparnya.
"Iya kak. Kalau gitu Floryn permisi dulu." Floryn menarik tangan Mike untuk turun dari pelaminan.
Dan seperti saran kakak Jordy, Floryn menemui mantan calon mertuanya sebelum akhirnya makan makanan yang di hidangkan di acara itu.
"Mereka sepertinya sangat menyukaimu," ujar Mike.
"Mereka?" Floryn menatap Mike penuh tanda tanya.
"Keluarga Jordy. Terutama kedua orang tuanya," ucap Mike. Entah kenapa dia tak suka saat Floryn begitu dekat dengan keluarga Jordy. Apalagi terlihat jelas jika kedua orang tua Jordy masih berharap Floryn bisa menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Mungkin karena dulu kita sering bertemu. Jadi mereka sudah menganggap aku seperti putri mereka sendiri," jawab Floryn sembari mengunyah cup cake rasa coklat kesukaannya. "Lagi pula aku juga udah menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri."
"Apa?" Mike membelalakan matanya tak percaya.
"Hanya menganggap mereka seperti kedua orang tuaku sendiri. Tapi tidak untuk menjadi bagian dari keluarga mereka," ujar Floryn dengan penuh keyakinan. Dan hal itu bisa membuat Mike bernafas lega untuk beberapa saat, karena beberapa menit selanjutnya dia di kagetkan dengan kedatangan seseorang yang sangat dia kenal.
"Mike kamu disini?"