Kamu pernah bermimpi atau memiliki impian? Rasanya semua orang begitu. Kecuali satu lelaki bernama Leo ini. Dengan segala kehebatan dan kekayaan yang dia punya, ada satu hal yang tidak dia miliki. Mimpi. Ya, itu yang tidak dia miliki. Buatnya, mimpi atau impian hanyalah tujuan yang akan berakhir luka. Tetapi kemudian, seorang wanita membawanya ke jalan lain. Sejak saat itu, Leo menyadari mimpi dia sesungguhnya. Mimpi yang pertama dan terakhir...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firira Zivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Tentangnya
Shasa sudah sampai di kantor. Seperti biasa, dia begitu ramah menyapa orang-orang sekitarnya dengan memberi senyum hangat. Shasa memasuki ruangannya bekerja.
"Shaaaaa" Tira sudah teriak memanggil Shasa dari tempat duduknya. Dia menghampiri Shasa dan memeluknya.
"Turut berduka cita ya, Sha. Kok bisa mendadak gitu sih sakitnya?"
"Makasih, Ti. Ayah memang sudah ada sakit jantung sejak lama. Dan beberapa hari sebelum meninggal, kondisinya memang drop."
"Ibu sama Abil, baik-baik aja kan?" Tira bertanya lagi.
"Mereka baik kok." Shasa tersenyum tipis.
Teman-teman sekelilingnya ikut menghampiri Shasa dan menyampaikan salam dukanya. Shasa mendapat dukungan yang berharga dari teman-teman kantornya.
Sementara itu, Leo baru saja sampai di kantor bersama asisten Haris. Dia langsung menuju lantai VIP. Begitu banyak pekerjaan yang dia tinggalkan sehingga pagi ini dia langsung tenggelam dalam kesibukannya.
*****
Ponsel Shasa berdering karena ada pesan masuk.
Leo: Aku akan pulang agak malam hari ini. Aku tidak bisa menemanimu makan malam.
'Huh, siapa juga yang mau ditemani makan malam dengannya.' dengus Shasa dalam hati.
Shasa kembali memikirkan begitu banyak hal yang tidak diketahuinya tentang Leo. Shasa berencana pulang tepat waktu dan menanyakan perihal Leo ke Pak Yo.
Ketika jam pulang tiba, Shasa pun langsung bergegas pulang bersama skuternya. Karena tak punya pilihan, Shasa memarkirkan skuternya di slot VIP sebelumnya. Ketika Shasa berjalan menuju lift, ada seorang petugas jaga di dekat pintu.
"Selamat sore, nona." Petugas itu memberikan hormat pada Shasa.
"Sore, Pak. Oh iya, apakah disini tidak ada parkiran untuk kendaraan roda dua?" Shasa bertanya.
"Tidak ada, nona. Hanya ada parkiran khusus pegawai disini. Tapi kami tidak sarankan untuk penghuni parkir disana."
"Rasanya aneh skuterku diparkir disana kan?" Shasa menunjuk-nunjuk skuternya yang terparkir.
"Jangan khawatir, nona. Slot VIP itu sudah direservasi khusus untuk skuter anda. Tuan Leo sendiri yang mereservasi slot itu untuk anda."
'Tapi kan tetap saja memalukan!' batin Shasa kesal.
"Baiklah, Pak. Terima kasih atas penjelasannya." Shasa pun menaiki lift menuju rumahnya.
Pelayan-pelayan di rumah itu kaget melihat Shasa yang sudah kembali, sedangkan mereka masih mengerjakan beberapa hal di rumah itu padahal Shasa sendiri merasa biasa-biasa saja. Pak Yo menghampiri Shasa.
"Sore nona. Anda sudah kembali? Kenapa anda tidak mengabari kalau akan pulang secepat ini?" Sapa Pak Yo.
"Memangnya aku harus mengabari kalau sudah ingin pulang?" Tanya Shasa balik.
"Ah, maaf nona. Biasanya kami akan meninggalkan rumah ini sebelum Tuan Leo pulang. Tadi asisten Haris memang mengabari kalau Tuan akan pulang malam dan meminta kami menyiapkan makan malam untuk anda. Kalau nona mengabari akan pulang duluan, kami akan bergegas pulang."
"Hahahaha... Tenang saja Pak Yo. Aku tidak seperti Tuan yang tidak suka banyak orang di rumah ini. Santai saja, malah aku senang banyak yang menemaniku disini."
"Baiklah, nona. Silahkan berisitirahat. Kami akan siapkan makan malam anda." Pak Yo memberi hormat. Shasa pun masuk ke dalam kamarnya lalu mandi.
Ketika Shasa keluar dari kamar mandi, dia mencari-cari dimana letak bajunya. Dia mencoba membuka lemari yang tidak terlalu besar tak jauh dari pintu kamar mandi, tetapi isinya hanya beberapa perlengkapan mandi. Kemudian dia mengitari pandangannya dan melihat sebuah pintu. Sejak kemarin, pintu itu terkunci , namun sekarang ada sebuah kunci menggantung di pintu itu. Shasa pun berusaha membukanya.
Dan... Ta-da! Ternyata ini dia lemari pakaian Shasa. Dia menganga takjub dengan lemarinya sendiri karena luasnya sudah seperti kamar di apartemen lamanya. Dia melihat deretan sepatu berjajar, tas-tas tersusun rapi di rak, baju-baju yang menggantung rapi dan beberapa aksesoris yang tertata indah di laci-laci meja.
'Apakah ini benar lemariku?' Shasa sendiri masih belum memercayainya. Dia melihat deretan baju kerja, baju santai, baju tidur, dan... Juga ada beberapa gaun cantik disana. Shasa terharu melihatnya lemarinya sendiri.
Setelah terkagum-kagum dengan lemarinya, dia keluar dari kamar dan mencari Pak Yo.
Shasa duduk di meja makan, membuat koki di dapur itu menghampirinya.
"Nona, maaf kami masih menyiapkan makan malam. Apakah anda ingin makan sesuatu dulu?" Tanya salah seorang koki.
"Tidak tidak. Aku hanya duduk. Lanjutkan saja pekerjaan kalian." Shasa tersenyum. "Ah, apa kau lihat Pak Yo?" Koki itu langsung bergegas mencari Pak Yo. Tidak lama, Pak Yo muncul.
"Nona, anda mencari saya?"
"Sini Pak, duduk." Shasa menepuk kursi di sebelahnya.
"Tidak apa-apa nona. Saya berdiri saja."
"Duduklah... Aku ingin menanyakan beberapa hal."
Karena menghormati yang diinginkan nonanya, Pak Yo pun duduk di hadapan Shasa.
"Pak, ceritakan padaku tentang keseharian Tuan Leo."
Pak Yo agak kaget mendengar pertanyaan dari Shasa, tetapi kemudian berusaha menjawab.
"Tidak banyak yang kami tahu tentang Tuan. Setiap pagi, Tuan akan berolahraga sebelum kami datang. Saat kami tiba, kami langsung menyiapkan sarapannya dan meninggalkan dapur saat Tuan akan sarapan. Tuan tidak suka banyak orang disekelilingnya. Setelah itu Tuan akan bersiap pergi ke kantor dan tentu saja asisten Haris pasti sudah sampai sebelum Tuan keluar dari kamar. Setelah Tuan pergi, kami akan membersihkan seisi rumah dan kamarnya. Kami akan pulang sebelum Tuan kembali. Asisten Haris akan memberitahu kami kapan Tuan pulang dan apakah kami perlu menyiapkan makan malam atau tidak."
"Kalau seperti itu, kalian memang tidak akan tahu banyak tentangnya." Shasa bergumam sendiri.
"Tapi asisten Haris memberitahu kami apa yang disukai dan tidak disukai Tuan."
"Apa itu, Pak?" Shasa penasaran.
"Salah satunya, Tuan tidak suka banyak orang disekelilingnya. Tuan punya standar tertentu dalam makanannya. Tuan menghindari makanan mentah ataupun setengah matang. Tuan ingin rumahnya selalu bersih dan memastikan tidak sembarangan orang bisa masuk."
Shasa mengerutkan dahinya. " Apakah Tuan pernah membawa seseorang ke rumah ini? Entah itu wanita ataupun pria?"
Pak Yo tersenyum. "Tidak pernah, nona. Hanya Tuan Leo, asisten Haris dan pelayan-pelayan rumah ini yang bisa masuk, tentu saja saat ini anda juga termasuk salah satunya."
"Orang tuanya, apakah tidak pernah datang kesini?"
"Tidak pernah nona."
"Apa bapak mengenal orang tuanya?"
"Tentu saja saya mengenal Komisaris Gusta dan istrinya. Tapi saya belum pernah melihat mereka secara langsung."
Shasa seperti memikirkan sesuatu. "Lalu, ada lagi?"
"Baru-baru ini, asisten Haris memberitaku kami satu hal lagi yang disukai Tuan."
"Apa itu Pak?" Shasa penasaran.
"Nona." Shasa tergelak heran mendengar Pak Yo menyebut dirinya. "Tuan meminta kami memastikan semua kebutuhan dan keperluan nona terpenuhi."
*****
bersambung...