[Disarankan untuk membaca hingga chapter 7]
[BACA BAGIAN BLURB INI SAMPAI BAWAH BIAR GA BINGUNG SAMA CERITANYA!]
[Press Like,Vote,Comment]
[Hati-hati kesel sama ceritanya]
Genre : Action, Adventure, Dark fantasy, Drama, Mystery, Magic, Psychological, Supernatural
Sub-Genre : Romance, Comedy, Mature
Season 1 : Chapter 1-213(END)
Season 2 : Chapter 214-260(END)
Season 3 : Chapter 261 - 348 (END)
Dunia dimana ada ras selain manusia, seperti Elf, malaikat dan lain-lain. Ada sebuah legenda yang ditakuti oleh seluruh ras mengenai malapetaka yang akan dibawa oleh sebuah makhluk, yaitu Soul Reaper.
Legenda yang menghilang untuk menghilangkan keresahan seluruh ras di muka bumi, telah tergerak secara perlahan.
Note :
ini cerita pertamaku, kalau ada kesalahan seperti typo, sulit dimengerti langsung aja komentar aja ya.
Untuk kalian yang bingung, didalam cerita ini tidak akan hanya terbatas di tokoh utama saja. Tetapi saya akan menyorot beberapa tokoh lainnya juga karena mereka mempunyai peran penting(tentu saja seperti beberapa chapter yg MC nya tidak ada).
[Sangat disarankan untuk tidak berharap kepada MC di awal-awal cerita. Karena MC saya dibuat lemah layaknya seekor burung baru lahir dan belum bisa terbang]
Update 23:00 WIB
[/Chapter : 1300-2000 kata]
#WF
*Source Pict : Pinterest
Yang mau follow author boleh lewat :
IG : Irisia_loui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShenJun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Khawatir
Keesokan harinya, Raven masih tak kunjung bangun. Dia masih tertidur pulas dan bahkan tidak bergerak sedikitpun. Kriss pun datang ke kamar Raven sedang istirahat. Melihat temannya yang terluka dan dirasuki makhluk tidak jelas, membuatnya sangat khawatir.
Beberapa lama kemudian, ada Luna dan Julius yang masuk kedalam ruangan tersebut. Luna melihat ada Kriss yang sedang duduk di kursi sambil melihati Raven.
“Nah ketemu juga!” ucap Luna
Mendengar suara tersebut, Kriss langsung menengok dan melihat ada Luna dan Julius di pintu masuk ruangan itu. Luna pun berjalan mendekati dengan Julius dibelakang yang mengikutinya.
“kamu sepertinya khawatir sekali dengannya” ucap Luna
“Aku sudah mengenalnya cukup lama. Jadi ya begitu….” Ucap Kriss
“Ja-jangan-jangan?!” ucap Luna
“Eh? kenapa?” tanya Kriss
“A-apa jangan-jangan! Kamu dan dia ini-?” ucap Luna
Sebelum sempat selesai, Kriss langsung mengetahui apa yang ingin diucapkan Luna. Dia tahu Luna ingin mengucapkan bahwa dirinya mempunyai perasaan atau hubungan khusus dengan Raven. Melihat Kriss yang sangat peduli, bahkan mengunjungi laki-laki yang sedang sakit, membuat kesalahpahaman padanya.
“Tu-tunggu dulu! Aku ini normal!” ucap Kriss
“Lalu mengapa kamu begitu peduli dengannya?!” ucap Luna
“Kan sudah kubilang aku kenal dengannya! Aku ini bukan laki-laki aneh tahu!” ucap Kriss
“Benarkah?” ucap Luna dengan mata yang serius menatap Kriss
“Be-benar kok!” ucap Kriss
“Syukurah kalau begitu” ucap Luna sambil menghela nafas
“Sebenarnya apa pandanganmu ke diriku ini” ucap Kriss sambil menepuk dahinya
“Lagipula, dibandingkan oleh siapapun, aku masih lebih suka pada ka-“
Ucapan Kriss berhenti tiba-tiba. Wajahnya langsung memerah dan memalingkan pandangannya dari Luna. Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Kriss merasa sangat bodoh karena hampir keceplosan. Dia hampir berkata bahwa dia menyukai Luna. Dimata seluruh pria, begitu mereka melihat Luna, yang ada dipikiran mereka hanyalah bagaikan seorang dewi kecantikan turun dari langit.
Disisi lain, Luna yang mendengar ucapan Kriss menjadi terbang seketika. Perasaan senang dan malu tercampur menjadi satu. Dia juga memalingkan wajahnya dari Kriss dan berteriak kebahagiaan dalam hatinya.
“(Di-dia ingin bilang suka padaku kan?! Iya kan?! Kyaaaa~!)” batin Luna
“(Astaga! Hampir saja aku keceplosan! Hatiku belum siap untuk ini jika langsung terbongkar!)” batin Kriss
Tepat saat itu, Julius yang berada disana, melihat sikap mereka berdua yang terlihat seperti orang bodoh dengan wajah memerahnya. Mereka berdua terlihat sedang menggeleng-geleng kepalanya. Yang laki-laki menggeleng-geleng karena panik, dan yang perempuan menggeleng-geleng karena bahagia.
“(Apa semua ksatria kebajikan memang seaneh ini ya?)” batin Julius dengan rasa kecewa
Tak lama setelah itu, terdengar suara pintu kamar terbuka. Semuanya spontan menengok kearah itu, dan melihat ada dua perempuan yang datang memasuki ruangan itu. Kedua perempuan itu adalah Elena dan Iris. Elena yang berlari langsung masuk kedalam ruangan dan menghampiri Raven yang sedang berada di ranjang.
“Raven!” teriak Elena
“Ah! Kak Elena, tunggu sebentar!” teriak Iris
Melihat kondisi Raven yang sedang tidak sadar, membuat Elena sangat sedih. Kriss yang melihat perempuan itu, langsung tahu bahwa dia adalah orang yang dibicarakan Raven. Orang yang memegang batu sihir dengan simbol ular, yang menyegel Leviathan.
Sebelumnya, Elena dipanggil oleh Iris atas perintah Luna. Luna menjelaskan kondisi Raven saat itu dan bagaimana dia bisa terluka pada Iris. Luna mengira bahwa Elena sangat dekat dengan Raven sehingga pasti akan khawatir jika Raven tidak kunjung kembali. Saat Iris menjemput Elena, dia pun menjelaskan beberapa hal yang dia ketahui dari Luna.
Mendengar cerita dari Iris, membuat Elena sangat terkejut dan sedih. Sejak pertama kali dia bertemu dengan Raven, dia sudah dua kali melihatnya hampir kehilangan nyawanya. Dia menjadi semakin khawatir akan kondisi Raven yang belum kunjung bangun.
Elena mengulurkan kedua tangannya dan memegang tangan Raven. Dia menggenggam tangannya dengan sangat erat seperti tidak rela kehilangannya.
“Nona Luna, apa dia akan baik-baik saja?!” ucap Elena
Bersamaan dengan ucapan Elena, tiba-tiba ada seorang perempuan lagi yang masuk kedalam ruangan tersebut. Seluruh isi ruangan itu menengok kearah pintu masuk dan melihat kearah perempuan yang baru masuk.
“Tenang saja! Dia sudah aku obati kok” ucap perempuan itu
“Celica!” ucap Luna
“Nona Celica?” ucap Elena
Celica berjalan menghampiri Elena. Melihat Elena yang sedang menahan tangisannya dan memegang erat tangan Raven, membuat Celica mengerti bahwa Elena menganggapnya sangat berharga.
“Dia ini sudah sembuh total sebenarnya. Dia hanya butuh waktu untuk beristirahat saja” ucap Celica
“Benarkah?” ucap Elena
“Benar kok. Kamu tidak perlu khawatir” ucap Celica sambil mengelus kepala Elena
“Jika Celica yang bilang seperti itu, maka tidak perlu khawatir”
“Lagipula, dia kan dokter terhebat di kerajaan ini” ucap Luna
Secara perlahan, Elena sudah mulai tenang kembali. Setelah mendengar ucapan Luna dan Celica, dia merasa bahwa Raven akan sadar secepatnya. Namun, didalam benaknya masih ada sedikit khawatir. Tentu saja, jika orang itu sangat berharga bagi kita, pasti akan selalu timbul rasa khawatir.
“Tapi tidak kusangka ternyata dia sudah ada pacar. Sayang sekali, padahal dia benar-benar tipeku” ucap Celica sambil tertawa kecil pada Elena
“Pa-pa-pa-pacar?! Bu-bu-bukan bukan bukan! Nona Celica salah paham! A-aku ini bukan pacar dia!!” ucap Elena dengan wajah memerah malu
“Eh, bukan ternyata? Tapi kamu terlihat sangat peduli dengannya” ucap Celica
“Ti-tidak kok! Aku dan dia hanya sedikit saling kenal saja! Itu saja! Tidak lain! Tidak lebih kok!” ucap Elena
“Celica, apa jangan-jangan kamu menyukainya?” tanya Luna
“Perempuan mana yang tidak jatuh hati saat melihat pangeran tampan yang sedang tertidur seperti ini” ucap Celica
“Kurasa, kamu hanya frustrasi karena belum menikah diumurmu yang-“
Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Celica mendekat kearah Kriss dan menatapnya penuh dengan ancaman. Dia memegang wajah Kriss penuh dengan aura jahat seakan bisa menghancurkan wajahnya dalam sekejap.
“Kamu bilang sesuatu?” ucap Celica
“Aku tidak bilang apapun! Tolong ampuni aku!” ucap Kriss
Semua yang melihat reaksi Celica terhadap ucapan Kriss, langsung berfikiran satu hal yang sama.
“(Ah sudah pasti gagal nikah)” batin Iris
“(Gagal nikah)” batin Julius
Luna pun berbalik dan melambaikan tangannya.
“Baiklah, aku ada beberapa urusan, jadi aku permisi dulu” ucap Luna
“Nona, tunggu kami! Kami permisi dulu…” ucap Iris dan Julius
“Ah iya, aku juga ada beberapa pasien lagi, aku juga harus pergi dulu” ucap Celica
Luna yang meninggalkan ruangan itu diikuti oleh Iris dan Julius. Celica juga secara bersamaan pergi meninggalkan ruangan itu. Disana, hanya ada Kriss dan Elena yang tersisa. Kriss yang melihat Elena memegang erat tangan Raven daritadi, membuatnya sadar bahwa dia sangat peduli terhadap Raven.
“Dia sepertinya berharga sekali bagimu ya….” ucap Kriss
“Eh? ah Tuan Kriss. Iya, jika aku tidak bertemu dengannya, mungkin aku akan menjalani hidup sendirian lagi. Tetapi, Raven berbeda. Meskipun dia baru kenal denganku, dia berusaha jujur dan tidak ingin melihat orang lain terluka karenanya. Karena perasaannya yang jujur itu, membuatku tersadar betapa baiknya dia ini” ucap Elena
“(Dia ini, sepertinya sudah tahu kalau Raven menjadi seorang pembunuh)” ucap Kriss
“Ah iya! Maafkan aku, namaku-“ ucap Elena
“Elena Rosalie. Aku sudah tahu. Kamu juga sudah bersama Raven akhir-akhir ini bukan?” ucap Kriss
“Ba-bagaimana tuan bisa tahu?” tanya Elena dengan terkejut
“Aku sudah ingin bertemu sejak Raven membicarakanmu” ucap Kriss
“Raven, bercerita tentangku?” tanya Elena
Kriss menjelaskan beberapa hal mengenai masa lalunya kepada Elena. Dari awal mula dia bertemu dengan Raven dan menjadi keluarga serta teman baik. Elena terkejut mendengar cerita Kriss. Elena mengira selama ini bahwa Raven selalu hidup kesepian dan tidak mempunyai teman untuk bisa dipercayai sama sekali.
“Jadi, anda sudah mengenal Raven dari kecil ya” ucap Elena
“Begitulah”
Elena menjadi bingung seketika. Situasi yang dia alami saat ini sangatlah aneh. Seorang buronan kerajaan dan ksatria terhormat kerajaan sedang berada di satu tempat. Elena menjadi keringat dingin seketika. Dia takut jika akan salah berbicara dan tidak sengaja menimbulkan kecurigaan terhadap Kriss.
“Kamu tidak perlu takut. Aku sudah tahu tentang dia yang menjadi dewa kematian” ucap Kriss
“Eh?! Tu-tuan sudah tahu?!” teriak Elena
“Jadi dia belum cerita padamu ya. Si bodoh ini” ucap Kriss
Elena terdiam untuk sebentar. Dia memikirkan beberapa hal yang ia ingin tanyakan kepada Kriss. Mulai dari penyebab hingga Raven menjalani hidup yang keji seperti ini.
“La-lalu, mengapa tuan Kriss membiarkannya?” ucap Elena
“Aku juga tidak ingin dia menjalani hidup seperti ini. Tapi sejak ayahnya dibunuh didepan mata, dia termakan oleh kebencian dan amarah”
“Jujur saja. Saat itu, aku merasa takut dan tidak bisa menyadarkannya sama sekali. Jika saja aku bisa menyadarkannya, mungkin dia tidak akan menjalani kehidupan seperti ini”
“Karena itu, meskipun jalan yang kami berdua ambil sangat berbeda. Aku tidak akan pernah mengkhianatinya” ucap Kriss
Elena terkejut mendengar ucapan Kriss saat itu, Dia pun hanya bisa terdiam dan tidak berkata-kata sama sekali. Mengetahui bahwa orang yang dia sayangi, masih mempunyai orang yang mempercayainya, membuat dia terasa sangat bersyukur untuk Raven.
Disisi lain, Kriss yang masih berdiri, melihat Elena yang terdiam dan terus tetap menggengam tangan Raven. Tanpa harus bertanya saja, Kriss sudah mengetahui seberapa berharganya Raven bagi Elena.
“Baiklah…. Aku akan pergi dulu. Kamu akan disini menjaganya?” tanya Kriss
“Iya. Aku akan bersamanya. Tidak perduli butuh berapa lama. Aku tidak akan meninggalkan sisinya” ucap Elena
“Kalau begitu, aku serahkan dia padamu. Mungkin besok aku akan kembali lagi” ucap Kriss
Kriss pun berjalan keluar kamar tersebut. Saat dia berada tepat di depan pintu, dia menoleh kebelakang dan melihat keduanya. Dalam benaknya, sebagai seorang teman yang mengetahui seberapa kelam hidupnya selama beberapa tahun ini, dia turut senang karena Raven mempunyai orang yang menyayangi serta peduli penuh terhadapnya.
“(Syukurlah, dia mempunyai seseorang disisinya)” batin Kriss
Kriss pun membuka pintu dan keluar dari kamar tersebut. Di dalam kamar, Elena masih duduk dikursinya sambil memegang erat tangan Raven. Tak lama kemudian, Elena mulai mengingat masa lalunya. Dari kebahagian bersama keluarga, kehilangan ibunya, bertemu dengan Raven, dan merasakan kehidupannya berdampingan dengan seseorang.
- Dua hari kemudian -
Elena masih berada di kamar Raven. Dia masih berada disisinya dan tidak pernah pergi meninggalkan dia. Dia hanya pergi untuk ke toilet saja. Karena untuk makanan, dia selalu diberikan oleh pelayan disana atas perintah Kriss untuk mengawasi keadaan mereka.
Tak lama kemudian, mata Raven yang sudah terpejam selama tiga harian, mulai terbuka secara perlahan. Dia merasa kebingungan setelah melihat sekelilingnya. Terbangun disebuah kamar, tepat diatas sebuah ranjang.
“(Ini… dimana?)” ucap Raven
Raven merasa bingung dengan kondisinya saat ini. Terakhir yang dia ingat, hanyalah merasa kesakitan seperti ditusuk seribu jarum sekaligus dan bertemu sebuah sosok raksasa dengan penuh aura kejahatan.
Saat Raven ingin beranjak keluar dari ranjangnya, dia merasakan adanya sebuah kepala disebelahnya. Ternyata, dia melihat Elena yang sedang tertidur pulas disisinya.
“Elena? Sedang apa dia disini?” gumam Raven
Tiba-tiba Elena mulai membuka matanya dan bangun secara perlahan. Dia mengusap kedua matanya layaknya orang yang baru bangun tidur. Tiba-tiba, dia melihat Raven yang sudah bangun dan duduk menatap kepadanya.
“Raven?!” ucap Elena
Secara perlahan Elena mulai mengulurkan kedua tangannya. Dia memegang wajah Raven yang sedang menatapnya dengan penuh kebingungan. Dia mendekat secara perlahan dengannya dan akhirnya memeluknya dengan erat.
Perlahan, air mata Elena pun mulai keluar. Melihat sosok yang dia tunggu akhirnya bangun juga. Meskipun hanya beberapa hari saja, jika orang itu sangat berharga, tentu saja akan membuatnya sangat rindu dan khawatir padanya.
“Raven! Akhirnya….. akhirnya kamu bangun juga!” ucap Elena