"Saat ini aku sedang mengandung anak, Zian. Dan aku tidak ingin menikah denganmu!!"
"Gugurkan anak itu, atau ku bunuh kau?!"
"Memang lebih baik aku mati daripada harus menikah dengan orang sepertimu!!'
-
Sherly Garcia Davis adalah putri tunggal dalam keluarga Davis. Dara cantik keturunan Korea-Amerika ini di paksa oleh kedua orang tuanya untuk menikah dengan putra sulung keluarga Lu.
Sherly yang tidak ingin mempermalukan keluarga dan nama baik ayahnya terpaksa menerima perjodohan itu. Sherly yakin jika cinta bisa tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Satu tahun mereka bertunangan, namun tidak ada cinta di hati Sherly untuk Marcell. Sherly tidak bisa melupakan pemuda itu, Sahabat yang merangkap menjadi cinta pertamanya. Pemuda yang tiba-tiba menghilang setelah mendengar ia akan bertunangan dengan orang lain.
Satu tahun kemudian mereka kembali di pertemukan. Dan siapa yang menduga jika brandalan tampan nan cantik yang telah mencuri hatinya adalah adik kandung dari pria yang menjadi tunangannya.
Mampukan Sherly mengendalikan perasaannya? Dan apakah kali ini takdir akan berpihak pada cinta mereka? Dan apakah Marcell akan melepaskan Sherly untuk adiknya dan merelakan mereka hidup bahagia??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Oh Ternyata
Menemukan pasangan hidup atau lebih familiar disebut mencari cinta sejati adalah masalah kompleks yang dialami semua manusia. Kadang ada yang beruntung dan bisa mendapatkan cintanya, menikah dan bahagia sampai akhir hayat.
Yang tidak beruntung pernikahannya kandas ditengah jalan, perjuangan menemukan cintanya yang panjang, dipenuhi rasa sakit dan dihiasi oleh air mata. Bahkan ada pula yang putus asa karena tak kunjung menemukan tambatan hatinya.
Hidup memang tak adil. Takdir kadang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada yang rela menjalani hidup dengan ketidak adilan dan takdir yang bertentangan dengan keinginannya. Ada pula yang menentangnya. Berusaha merubah takdirnya..l
Kisah ini pun tak seromantis kisah cinta Romeo dan Juliet. Tidak sedramatis kisah cinta Ratu Victoria.
Bukankah kadang kita juga harus berusaha menerima kenyataan? Meski kenyataan itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tuhan ,menciptakan manusia bukan untuk kecewa dan putus asa. Tapi mereka diciptakan untuk berjuang, mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.
-
Zian memarkirkan motornya dengan asal setelah tiba di kediaman keluarga Davis. Pikirannya hanya tertuju pada Sherly. Teriakan dan nada ketakutannya membuat Zian cemas dan panik setengah mati. Dia benar-benar takut jika hal buruk sampai menimpa kekasihnya itu.
Rumah itu terlihat kosong dan tak menunjukkan ada kehidupan sama sekali. Bahkan beberapa pelayan yang bekerja di sana pun tak menunjukkan batang hidungnya. Pikiran Zian pun semakin tidak karuan.
"KYYYAAAA!!"
"NONA....!"
"Sherly..."
Zian semakin mempercepat langkahnya dan mendobrak pintu bercat putih dan ber-pelitur elegan di depannya. Pintu terbuka lebar, dan Zian langsung speechless melihat pemandangan di hadapannya.
"Huaaa....!! Zian, tolong aku. Aku tidak bisa turun, hiks...Huaaa..."
Bukan hal mengerikan atau sesuatu yang berbahaya, melainkan hal yang sangat menggelikan. Di mana para pelayan bekerja keras menangkap seekor katak kecil yang masuk ke dalam kamar Sherly. Entah bagaimana katak itu bisa masuk ke dalam kamar Sherly yang jelas ada di lantai dua.
Sedangkan Sherly sendiri nangkring di atas lemari pakaiannya. Lucunya gadis itu bisa naik tapi gak bisa turun.
"Akhirrnyyyyaaaa..." Dan para pelayan bersorak lega setelah usaha panjang mereka membuahkan hasil. Katak itu berhasil di tangkap dan di buang ke luar. Dan masalahnya sekarang hanya ada pada Sherly yang masih betah nangkring di atas lemari.
"Zian, tolong. Aku tidak bisa turun." Rengek Sherly memohon. Gadis itu mengulurkan tangannya seperti anak kecil yang minta di gendong oleh ibunya.
Zian mendengus geli. "Cepat melompat dan aku akan menangkapmu."
Sherly menggeleng. "Tidak mau, aku takut. Bagaimana kalau aku sampai jatuh dan mengalami patah kaki? Aku tidak mau patah kaki lagi seperti dulu. Zian, bantu aku turun."
Tiba-tiba beberapa pelayan Sherly datang sambil membawa kasur yang kemudian di letakkan di depan lemari pakaian tempat Sherly berada.
"Sekarang lompat, aku akan menangkapmu." Ucap Zian yang sudah bersiap di bawah dan siap untuk menangkap Sherly.
"Tapi jangan sampai meleset menangkapnya."
"Ck, sudah jangan bawel lagi, lompat saja."
"Iya, iya, dasar rusa kutub tidak sabaran."
Sherly menutup matanya dan... 'Hup' Zian berhasil menangkapnya dengan mulus. Tubuh Sherly kini berada dalam gendongan Zian, dengan kedua tangannya yang mengalung pada leher pemuda itu. Ragu-ragu Sherly membuka matanya, dan dia bisa menghela nafas lega sekarang.
"Huft, aku pikir akan ada drama menggelikan lagi, di mana aku mengalami patah kaki seperti lima tahun yang lalu. Tapi syukurlah,"
"Bagaimana ceritanya kau bisa naik ke atas tapi tidak bisa turun?" tanya Zian meminta penjelasan.
Sherly mengangkat bahunya. "Entah, aku tadi sangat takut dan panik. Dan saat aku sadar tiba-tiba aku sudah ada di atas sana." Jelas Sherly memaparkan.
Zian mendengus geli. Ada saja tingkah konyol gadis ini yang membuatnya merasa geli. Jujur saja Sherly bukanlah gadis pendiam yang tak banyak bicara. Dia adalah gadis terbar-bar yang pernah Zian kenal dalam hidupnya.
"Dasar kau ini," dengan gemas Zian menjitak kepala coklat Sherly. Alih-alih merasa kesal, Sherly malah terkekeh geli.
"Kalian keluarlah dan bawah kasur itu juga, siapkan makan siang untukku dan juga tuan muda Zhang. Setelah siap antarkan kemari, dan satu lagi, rahasiakan kedatangannya dari papi dan juga Marcell. Pindahkan motornya ke tempat yang tidak terjangkau oleh mata mereka."
"Baik, Nona."
Bukan karena Sherly takut jika Benny dan Marcell sampai melihat keberadaan Zian. Hanya saja, jika sampai mereka tahu bila Zian masih hidup maka akan berbeda ceritanya dan si kembar tidak akan bisa mengerjai Marcell lagi.
Dan selepas kepergian para pelayan. Di ruangan itu hanya menyisahkan Zian dan Sherly. Sherly tiba-tiba melompat ke pelukan Zian dengan kedua kaki melingkari pinggulnya dan kedua tangannya mengalung pada leher Zian. Gadis itu tersenyum lebar.
"Hanya ada kita berdua, apa tidak ada kiss untukku?"
Zian mendengus geli. Zian menakup wajah Sherly dan mencium singkat bibirnya. Tanpa melum** tanpa pagutan. Hanya ciuman singkat namun penuh perasaan.
"Kenapa cepat sekali ciumannya?" rengek Sherly yang tidak terima Zian mengakhiri ciumannya begitu cepat.
"Di sini tidak terlalu aman. Pelayan bisa masuk sewaktu-waktu. Nanti saja kita lanjutkan lagi." Sherly mendengus berat. Dengan terpaksa ia menyetujui Zian.
"Huft, baiklah."
-
Entah mimpi buruk apa lagi yang harus Marcell alami kali ini. Dia kalah tender dan perusahaannya harus mengalami kerugian yang sangat besar.
Beberapa investor menarik investasi mereka dari perusahaanya. Dan imbasnya pada para pegawai yang bekerja di perusahaannya.
Prak...
Setumpuk dokumen baru saja Marcell lempar ke tengah-tengah meja rapat. Tatapannya menyipit, mengabsen satu per satu dewan yang ikut rapat bersamanya. Marcell ingin memukul sesuatu untuk meluapkan semua kemarahannya.
Karena hanyq dengan marah-marah saja tidak cukup untuk meredakan letupan-letupan tak jelas di dalam dadanya saat ini.
Bahkan masalah sepele seperti keberadaan debu di atas meja kerjanya saja membuat pria itu mengamuk pada pihak office.
Sial! Bagaimana aku bisa kalah dalam tender kali ini? Pikir Marcell masam.
"Kalian benar-benar tidak berguna!! Bagaimana kalian bisa begitu bodoh dengan memberikan bahan tak berguna seperti itu padaku?! Dan apa kalian tau apa yang kalian akibatkan dari kebodohan kalian itu?! Kita kalah tender dan perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar!!"
Dan setelahnya Marcell melenggang pergi meninggalkan ruang rapat yang terlihat mencekam karena temperamen buruknya it.
Biar saja, memangnya mereka dibayar untuk apa? Makan gaji buta? Tentu saja bukan. Dan berbagai umpatan langsung keluar dari bibir mereka setelah kepergian Marcell.
Blam!
Bantingan pada pintu yang baru saja Marcell banting membuat karyawan lain yang tak jauh dari ruangannya berjengit kaget. Marcell tak sedikit pun merasa menyesal telah melakukan itu.
-
"Kerja bagus, Nak."
Tuan Lu menepuk bahu Devan sambil menatap putranya itu dengan bangga. Tuan Lu tidak menyangka jika putra yang baru ditemuinya itu ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa.
Belum genap satu Minggu dia bergabung di perusahaannya, tapi Devan sudah membuktikan kemampuannya. Dan Tuan Lu bangga untuk hal itu.
"Papa, terlalu berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Ucapnya sambil tersenyum.
Tuan Lu tersenyum tipis. "Mamamu pasti bangga di atas sana, Nak. Karena memiliki putra-putra yang sangat hebat seperti kalian."
"Pa, jika semuanya sudah selesai. Bisakah kita bertiga pergi ke makam mama sama-sama? Aku ingin mengenalnya dan aku juga ingin tau mamaku orang yang seperti apa,"
Tuan Lu mengangguk. "Pasti, Nak. Setelah pulang kerja nanti, Papa akan menunjukkan foto mama padamu." Devan tersenyum dan mengangguk. "Ya sudah, Papa keluar dulu."
Setelah kepergian Tuan Lu. Di dalam ruangan itu hanya menyisahkan Devan seorang. Devan menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah, rasanya Devan masih tidak percaya jika sekarang dia bisa bekerja di sebuah perusahaan besar dan menjabat sebagai Manager di sana.
Beruntung dia sudah banyak mempelajari tentang dunia bisnis sejak dia masih kecil. Siapa lagi yang mengajarinya jika bukan tuan Daniel, ayah kandung Sherly.
"Pa, aku pasti akan membuat Papa bangga padaku,"
Bersambung.