Hanya karna melihat dari penampilan saja mereka sepakat untuk menikah karna perjodohan dari orang tua mereka.
Tanpa ada pendahuluan, awalan, pendekatan ataupun suatu ikatan cinta sebelumnya, tapi mereka dengan mantapnya menyetujui perjodohan itu.
Tata adalah seorang gadis yang sangat hyperaktif di segala kondisi dan cuaca serta kehidupannya yang sangat beruntung.
Sedangkan Bara, banyak hal yang dia rahasiakan tentang dirinya.
Mereka hanya melihat apa yang Bara perlihatkan sedangkan jauh disana, sebuah rahasia yang terjaga dengan baik sedang berada di ujung tanduk.
Akankah Bara mulai luluh kepada Tata? atau mungkin Bara yang mulai menceritakan tentang kebenaran dirinya kepada Tata? Apakah Tata bisa menerima semua ini setelah apa yang sudah terjadi?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.
SAAT INI.
Hari ini Gege sudah keluar dari rumah sakit naungan Catalo itu, yang menyesakkan mereka.
Kenapa tidak pindah saja? Tentu saja Bara juga menginginkan hal itu, tapi semuanya tidak berjalan semudah yang di ucapkan.
"Aku merindukan makanan yang lezat" keluh Gege saat mereka baru saja memasuki mobil milik Bara.
"Baiklah, apa yang kau inginkan? Aku akan membelikannya untukmu"
"Aku akan memakan apapun yang kau belikan dan memakannya bersamamu"
"Baiklah, aku akan membelikanmu bunga dan kau harus memakannya"
"Baiklah jika itu maumu" Gege tertawa kecil diikuti dengan Bara.
"Apa kau tau bahwa Devan adalah ketua dari Catalo?" tanya Bara.
"Tidak"
"Apa jangan-jangan si ****** itu tau tentang hal ini" Dari kemarin Bara memikirkan akan hal itu, dia akan menanyakannya tapi saat berada di hadapannya yang ada dia malah mengucapkan hal lain dan melupakan hal itu.
"Kau tidak boleh memperlakukan Tata seperti itu, dia adalah istrimu"
"Cih. Kau tidak tau saja betapa busuknya dia, kepalaku bahkan seperti akan meledak setiap kali melihat wajahnya".
"Kau ini" Gege terkekeh mendengar penuturan Bara.
Memang bukan rahasia lagi bagi Gege tentang keduanya, bahkan di depan Gege saja mereka seperti anjing dan kucing yang tidak bisa akur, pasti ada saja hal-hal yang mereka permasalahkan.
Gege menatap kearah Bara yang fokus mengemudi, Sudah lama dia tidak melihat Bara mengemudi karna biasanya Gege yang selalu mengemudi untuk Bara.
"Sepertinya kau sangat suka menatapku" ucap Bara tanpa menoleh.
"Kau selalu percaya diri"
"Tentu saja, itu karna aku sangat tampan"
"Sebaiknya kita menghentikan pembicaraan ini sebelum kau memuji dirimu sendiri lebih banyak lagi"
"Sialan"
Bara dan Gege tertawa bersama, setelahnya mereka membahas tentang semua yang telah terjadi semenjak Gege tidak ada di tempat dan lagi Bara yang lebay tujuh turunan menceritakan betapa kesusahannya dia tanpa bantuan Gege setiap harinya dan lagi dia harus melakukan banyak pertemuan tanpa Gege di sisinya, itu sangat melelahkan.
"Aku akan menjagamu" ucap Gege saat suasana hening menyelimuti di antara keduanya, hanya suara riuh nya jalanan yang mereka rasakan.
Bara menatap kearah Gege, begitu pula dengan Gege yang kini menatap kearah Bara.
"Baiklah" Bara tersenyum pelan.
"Tapi aku mau gajiku naik dua kali lipat" seru Gege yang membuat Bara tertawa dan mencubit Gege dengan kencang.
"Sialan, ternyata kau mata duitan sekali rupanya ya"
"Tidak, aku hanya bercanda" Gege tertawa sembari memegangi perutnya yang masih nyeri karna luka jaitan di perutnya, dia mengusap matanya yang terasa berair karna tertawa.
"Aku serius, aku akan menjagamu"
"Ya terserah apapun itu, tapi aku sedang miskin jadi jangan meminta gaji tinggi padaku" canda Bara.
Gege hanya terkekeh pelan, padahal ucapannya yang barusan adalah sebuah keseriusan, tapi melihat Bara yang tersenyum itu menghangatkan hatinya, walaupun Bara itu ceroboh tapi jika bersama dengannya akan Gege luangkan semua waktu dan tenaga untuk menjaga Bara, hanya untuknya.
Berbeda lagi dengan Tata yang saat ini tengah mengernyitkan kedua alisnya di waktu siang bolong seperti ini.
Dia merasa ada sesuatu yang aneh setelah kejadian hujan waktu itu, dia tidak menginginkan hal itu terjadi tapi semua itu hanyut begitu saja.
Saat ini Tata sedang makan bersama ketiga sahabatnya di sebuah restoran Jepang, seharian ini Tata di landa kebingungan yang menggebu.
Tata mendengus berkali-kali saat menatap layar ponselnya yang terus menampilkan sebuah pesan teks masuk dari seseorang, pesan itu tidak satu ataupun dua tapi banyak, sangat-sangat banyak.
"Apa kalian masih ingat dengan teman Devan yang bernama Ziden itu" ucap Tata membuat mereka yang tengah serius membicarakan tas keluaran terbaru itu tiba-tiba menoleh kearah Tata secara bersamaan.
"Tentu saja, wanita bodoh mana yang akan lupa dengan pria tampan"
"Ya ya kau benar" Sasa membetulkan ucapan Amber, setelahnya mereka tertawa secara bersamaan membuat Tata memutarkan bola matanya malas.
"Sialan, aku sedang serius"
"Hey..kenapa kau bertindak seperti bajingan bodoh hari ini, kau bertindak seakan orang idiot yang baru saja keluar dari gua" Amber menyadari sesuatu dari Tata, sedari tadi dia tidak terlalu banyak berbicara seperti biasanya.
"Apa kau memiliki masalah" tanya Sasa.
"Apa kau berkelahi lagi dengan Bara"
"Cih bajingan itu, kepalaku bahkan terlalu penuh hanya untuk memikirkan bajingan brengsek itu" Tata menimpali ucapan Pinkan, namun disertai dengan nada sewot.
"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu?"
Tata menghela nafas kasar dan menceritakan kejadiannya dengan Iden beberapa waktu terakhir ini, Tata menceritakan semuanya dari A sampai ke Z.
Setelah menceritakan hal itu, Tata menyodorkan pesan yang masih saja masuk ke ponselnya dari orang yang sama, Ziden.
"Hey..kenapa aku menjadi takut" rengut Sasa setelah tau.
"Apa dia menyukaimu" ucapan Pinkan mungkin ada benarnya, tapi sebagai pendekatan seperti ini tentu saja Tata merasa takut.
"Tapi.." Amber menjeda ucapannya sembari menunjuk ke salah satu tempat yang membuat mereka menoleh kearah yang di tunjuk Amber.
"Bukannya itu Iden?!" Tanya Amber.
"What!"
"Damn!.."
"Siapa wanita itu!" seru Pinkan saat melihat Ziden yang jalan bersama seorang wanita asing.
Tata melihat kearah mereka berdua yang tak jauh dari tempat mereka berada, memang benar itu Iden, tapi dilihat dari sini pun dia melihat Iden yang tengah memegangi ponselnya tanpa mengantonginya.
"Sial!" Desis mereka semua saat melihat Iden yang menatap ke arah mereka, sontak mereka langsung menyibukan diri mereka dengan hal-hal apapun yang membuat mereka tampak sibuk.
"Sialan, dia berjalan kearah sini" Desis Pinkan saat matanya menangkap sosok mereka berdua yang tengah berjalan kearah mereka berada.
Mereka semakin menyibukan aktivifitas mereka, seperti tak pernah melihat kedua orang itu sebelumnya.
"Kau ada disini" Sapa seseorang yang baru saja datang dan itu adalah Iden.
"Ah..ya" Amber tertawa hambar.
Tata hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Iden dan kembali menyibukan dirinya dengan melihat toko online di ponselnya dan membeli asal semua barang yang dia lihat.
"Kau terlihat sangat sibuk" ucap Iden yang jelas di tujukan kepada Tata membuat mereka sontak menatap kearah Tata dengan bingung.
"Ya, aku hanya sedang membeli beberapa barang"
"Baiklah, lanjutkan makan kalian aku akan pergi"
"Ayo" Ajak Iden kepada wanita bertubuh tinggi itu yang sedari tadi hanya diam menatap kearah mereka.
"Hey..kau lihat wanita itu tadi" bisik Amber saat Iden sudah menjauh.
"Cih, sangat sombong"
"Aku bahkan sudah tidak menyukainya tanpa harus tau tentangnya dahulu, bahkan sebelum mendengar dia berbicara saja rasanya aku sudah merasa kesal!"
"Beruntung juga Iden tidak memperkenalkannya"
"Tentu saja, palingan dia hanya teman sexnya saja tidak lebih, bukan kah begitu" Tanya Amber yang langsung di angguki.
Tata hanya tersenyum kecil, memang benar ini semua hanya sebuah permainan.
Semua pria jika tidak brengsek pasti seorang bajingan.
jangan lupa mampir di karya aku juga ya kk
🥰
My Little Prince dan VCPD
terimakasih 🙏