Teror negeri Jawata, sosok Bocah Malapetaka yang mampu membasmi seluruh negeri dengan api. Seorang penguasa Sekte Kakilangit, Paduka Jayasinggih justru menginginkan kekuatan Bocah Malapetaka, yakni Dunia Bawah yang menyimpan kekuatan ribuan Pasukan Ular. Di bawah kendalinya, pasukan pembantai memburu Bocah Malapetaka untuk dibunuh.
Di sisi lain, sekumpulan praja dikirim ke Kakilangit untuk misi latih tanding. Namun sebenarnya mereka hendak dibantai dan diubah menjadi tentara zombie.
Satu kejahatan tersingkap. Bocah Malapetaka mematahkan ketangguhan Sekte Kakilangit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hidayanthi alifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sejatinya Dia Lelaki
Tidak lama dari kejadian di pemandian. Beralih ke Graha Pualam Hijau, tempat kediaman Ketua Janewa dan keluarganya. Terjadi perbincangan serius antara keluarga yang berkumpul.
Ketua Janewa, pemimpin kesatuan praja yang mengepalai empat divisi penting di Tanapura. Ia menyempatkan hadir dalam pertemuan mendadak itu. Sudah pasti keberadaannya yang bukan memiliki sembarangan pangkat sangat berpengaruh.
”Kau tidak bermain-main dengan ucapanmu, Seruni?” masih tak yakin ia setelah hampir satu jam membicarakan hal aneh dari kesaksian gadis cilik 15 tahun itu dalam pelukan ibunya.
”Benar ...,” jawabnya dengan mengangguk untuk ke sekian kali. Hampir setengah tubuhnya penuh bentol-bentol kemerahan mulai dari leher sampai pergelangan tangan, sebentar-sebentar mengerang dan menangis karena gatal luar biasa yang dirasakannya.
Di antara anggota keluarga yang berkumpul, tampak Rimpali, sepupu lelaki Seruni. Meskipun sejak awal ia mengikuti pembicaraan itu, namun menyimak saja.
”Seruni masih 15 tahun, tidak mungkin ia berbohong. Semua yang dikatakannya benar!” kata Ibu membela, ”Murid-murid itu mencelakai anak gadis sematawayangku, sungguh tidak bisa dimaafkan!” lanjutnya dan yang anggota keluarga yang lain pun membenarkan serupa.
"Itu sama saja mencoreng nama baik keluarga Janewa!" ujar ibu tegas dan menahan emosi.
”Harus ada perhitungan atas perlakuan mereka!” kali ini pihak laki-laki berbicara.
”Bagaimana mungkin? Area pemandian bukan kawasan yang seharusnya menjadi daerah perlindunganku. Apa kata orang nanti bila aku harus turun tangan hanya karena masalah yang terjadi di area pemandian!” kata Ketua Janewa, mengungkapkan keberatannya.
”Lihatlah Seruni! Ia menderita begini akibat ulah mereka! Butuh sebulan penuh untuk sembuh dan pulih akibat daun-daun gatal!” Ibunya menegaskan berulang kali, karena Ketua Janewa berberat hati, akhirnya ia nekad mengambil tindakan sendiri, ”Kalau kau tidak sanggup menangani masalah ini, maka aku sendiri yang akan menghadap Kepala Tabib!”
Semua melotot bersamaan, terutama Seruni. Tiba-tiba ia berteriak di sela-sela tangisannya.
"Jangan!”
”Mengapa, Seruni?” tanya yang lain.
”Aku takut ...,” rintih Seruni sebagai jawaban.
”Mengapa harus takut, Seruni? Ini pasti ulahmu sendiri!” tiba-tiba Rimpali sejak tadi diam saja, akhirnya angkat bicara.
”Apa maksudmu?” Seruni marah terhadap Rimpali sepupunya.
”Dia pasti telah membuat rencana dan gagal, Ayah! Jangan percaya padanya begitu saja apalagi berbuat sesuatu yang membahayakan jabatan ayah hanya karena ulah konyol Seruni!”
”Diam kau!” Seruni marah melihat Rimpali yang jarang sependapat dengannya.
”Kalian semuanya diam!” Ketua Janewa melerai sebelum adu mulut berlanjut.
”Begini saja, aku akan membicarakan masalah ini dulu pada Kepala Tabib. Tetapi bukan berarti pengaduan. Setelah jelas-jelas terbukti Kayaning yang melakukan semua ini, maka aku akan ambil tindakan untuk menghukumnya,” akhirnya Ketua Janewa mengambil keputusan.
”Lebih dari itu, Paman ...,” Seruni duduk tegak menghadap semua mata mengarah padanya.
”Apa maksudmu?” kata Ketua Janewa, ”Paling tidak, dia layak dihukum membersihkan 100 kakus umum!”
”Lebih dari itu!” kata Seruni lebih keras.
Ketua Janewa mengangkat alis, ”Jangan berharap hukuman pengusiran untuk murid kesayangan Kepala Sekolah Tabib!”
”Lebih dari itu!” gigi Seruni bergemeletuk menahan marah. Semua orang memandang ke arah Seruni terheran-heran.
”Memangnya ada apa dengan Kayaning?” tanya Ketua Janewa tak mengerti melihat air muka Seruni hendak mengutarakan sesuatu.
"Ternyata ... Kayaning bukan perempuan,” ujar Seruni disambut raut muka kaget semua keluarga yang berkumpul.
”Ternyata ... dia adalah laki-laki, menyamar sebagai murid pengobatan ...,” lanjut Seruni agak gemetaran.
"Apa?!" semua orang tercengang.
* * *
Salam dari NALA dan PENDEKAR TOPENG SERIBU 🙏🏻
sehat selalu dan sukses terus 🤲