Bercerita tentang Dian cewek SMA yang di panggil Datar oleh cowok yang dia suka.
Bermula dari ,
*sabuk pengaman yang lepas,
*ledekan yang tiada habisnya,
*bantuan konyol,
*suka,
*cemburu,
*salah paham,
*Jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dionesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deal!
Sudah sebulan Nadin,April dan Juna berpatroli mencari sosok cewek yang bersama dengan Rifki hari itu. Namun ketiganya tak menemukan sosok itu disepenjuru kelas yang ada disekolah St Theresia.
"Aneh banget." ucap Nadin menggigit kukunya berjalan memasuki kelas. Ia kemudian terpaku pada Dian yang berjalan didepannya dengan ransel yang mirip dengan yang dimiliki cewek yang sedang mereka cari selama ini.
"Hei kamu!"panggil Nadin menarin ransel Dian dan membuat badanya berbalik menghadap Nadin.
"Datar." ucap Nadin yang melepas tangannya dari ransel Dian yang ia tarik.
"Mereka belum berhenti kah?" tanya Dian dalam hati menyadari bahwa Nadin dan yang lain masih belum menyerah mencari dirinya disekolah ini.
Sehari setelah kejadian tanpa disengaja Dian mendengar dari April bahwa dirinya sedang mencari seseorang dikelas 10.
"Kita ngapain sih diri disini?" tanya Dian yang ditarik April untuk menemaninya menengger di pintu kelas 10-1.
"Disini juga gak ada." jawab April menarik Dian untuk pergi ke kelas berikutnya.
"Kamu lagi nyari apaan sih?" tanya Dian lagi. Ia benar-benar tidak nyaman dengan keramaian yang mulai menatapnya seperti orang aneh.
"Cewek barunya Rifki." bisik April kekupingnya membuat Dian mengernyitkan keningnya.
"Siapa?" tanya Dian yang ikut mencari-cari kedalam ruangan penasaran. "Ciri-cirinya gimana?" tanya Dian yang malah ikut antusias mencari cewek baru Rifki yang dimaksud April.
"Dah mau bel. Kita balik dulu." jawab April menarik tangan Dian pergi.
"Emang cewek baru Rifki anak kelas 10 ya?" tanya Dian sesampai keduanya dikelas.
"Bisa iya. Bisa juga enggak." jawab April duduk.
"Kok gitu." jawab Dian menaikkan salah satu alisnya. "Ada-ada aja." gumam Dian dalam hati mengambil botol minumnya. Tenggorokannya dilanda musim kering balik dari pencarian cewek baru Rifki.
"Kemarin kami mergokin Rifki jalan bareng sama cewek itu." ucap April yang membuat dirinya kesembur air dari mulut Dian yang belum berhasil memadamkan musim kering di tenggorokannya.
"Datar!" ucap April dengan wajah basah dan lempem menatap Dian yang masih terbatuk-batuk meletakkan botol minumnya.
"Sorry Pril, Aku gak sengaja." ucap Dian mengambil tissue dalam ransel yang ia kenakan kemarin saat bersama dengan Rifki. "Aduh." gumam Dian melirik kecil pada April disebelahnya. "Ini tissue Pril." ucap Dian menyodorkan tissue pada April tanpa melihat kearahnya.
"Gerah banget ya!" ucap Dian melepas jaketnya dan menutupi ranselnya. "Aman." gumam Dian dalam hati berbalik badan sambil mengusap dadanya.
"Ada lap tangan gak?" tanya April yang melap meja yang mendapatkan sedikit percikan air dengan tissue.
"Gak ada Pril." jawab Dian. "Pakai tissue aja gak pa-pa kok." ucapnya lagi menambahkan sambil menyomot tissue dan membantu melap meja yang masih basah sambil melirik April yang tidak menyadari akan keberadaan ranselnya.
Keesokan harinya hingga seterusnya Dian memakai ransel yang lain untuk pergi ke sekolah. Sebulan lamanya ketiga orang itu masih saja mencari keberadaan Dian diantara siswi disekolah.
"Itu ransel kamu?" Tanya Nadin.
"Iya." jawab Dian mengakui. Dia mau lihat bagaimana reaksi Nadin dan juga ransel yang aku punya bukan satu didunia ini.
"Sepertinya memang begitu." balas Nadin yang beranggapan bagaimana mungkin cewek itu adalah Dian.
"Kenapa?" tanya Dian dengan nada datar memperhatikan Nadin yang mulai melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Gak ada." jawab Nadin menaikkan bahunya berjalan melewati Dian.
Dian terdiam sejenak sambil menghela nafas yang panjang lalu berbalik badan dan mendapati Rifki berdiri tepat didepannya.
"Kenapa?" tanya Dian menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara.
"Atap." jawab Rifki yang juga hanya menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara persis dengan yang dilakukan Dian.
"Oke." ucap Dian tanpa suara melewati Rifki meneruskan langkah kekursinya.
Hari dimana Dian mengetahui April dan Nadin kompak mencari tahu keberadaannya segera mencari Rifki.
"Ki gawat!" ucap Dian yang menyeret cowok itu sepulang sekolah dan membawanya ke atap tempat Rifki membawanya untuk membuat Nina cemburu.
"Gawat apanya?" tanya Rifki mencabut kacamata Dian.
"April dan Nadin nyariin aku." jawabnya.
"Yaudah temuin aja." sahut Rifki. "Kenapa kamu malah bawa aku kesini Datar?" tanyanya sambil menyentil kening Dian.
"AW!" ringis Dian menjauh dari hadapan Rifki sambil mengelus keningnya. "Kamu ih!" bentak Dian. "Aku lagi serius ini." ucapnya lagi.
"Iya ada apa?" tanya Rifki menarik pintu ke rooftop untuk menutupnya.
"Kamu bilang mereka gak bakal ngenalin aku." ucapnya. "Mereka bakal nyariin keberadaanku diantara kelas 10 tahu!" dumel Dian.
"Oh gitu." balas Rifki santai.
"Oh doang!" ucap Dian yang dibalas anggukan kepala oleh Rifki. "Ih!Bantuin kek!" ucapnya.
"Kamu minta bantuan apa?" tanya Rifki tersenyum nakal.
"Kamu harus bantu nyembunyikan kalau cewek yang bersama kamu kemarin bukan aku." jawab Dian.
"kalau aku bantu aku dapat apa?" tanya Rifki meminta imbalan.
"Aku bakal bantu kamu rebut Nina dari Denis gimana?" tanya Dian menawarkan untuk membantu Nina kembali padanya.
"Buat apa?" tanya Rifki.
"Bukannya kamu masih pengen balikan sama Kak Nina." jawab Dian. Ia tahu Rifki masih menginginkan mantan kekasihnya itu. Meskipun Dian sendiri sebenarnya menyukai Rifki tapi bukan dia yang diinginkan cowok itu.
"Gak usah." jawab Rifki berbalik badan melangkah ke dinding pembatas rooftop yang menghadap ke jalan besar dibelakang gedung sekolah.
"Kenapa?" Tanya Dian mengikuti Rifki."Bukannya kamu terganggu dengan Kak Denis yang bersama dengannya?" tanyanya lagi berdiri disampingnya.
"Kalau Nina gak bersama dengan Denis itu artinya kamu yang bakal dengannya." gumam Rifki dalam hati melihat ke Dian.
"Siapa bilang aku terganggu sama Denis?" tanya Rifki menyangkal.
"Bohong." balas Dian. "Yang kemarin siapa tuh yang bandingin kerenan mana dari Denis." ejek Dian.
"Gak tahu tuh!gak kenal." balas Rifki yang sebelumnya memang terganggu dengan Nina yang mendekati Denis lagi. Namun perasaan itu terganggu itu perlahan berpindah tempat. Tanpa ia sadari kini dirinya mulai terganggu dengan keberadaan Denis didekat Dian.
"Kalau gitu kamu maunya apa?" Tanya Dian yang menawarkan kembali imbalan yang diinginkan Rifki darinya.
"Temani aku bolos." jawab Rifki yang secara gak langsung dalam keadaan tidak sadar mengajak Dian ngedate.
"Gak mau ah!" tolak Dian mengalihkan pandangannya dari Rifki. "Papaku bakal marah kalau aku sampai bolos." ucapnya.
"Pulang sekolah gimana?" tanyanya.
"Dimana?" tanya Dian balik menyetujuinya.
"Disini." jawab Rifki masih posisi melihat Dian.
"Sehari ajakan?" tanya Dian melihat kembali ke Rifki yang mengerutkan keningnya tak terima.
"Seminggu?" tanya Dian lagi yang dibalas gelengan kepala oleh Rifki.
"Sebulan?" tanya Dian lagi.
"Selama aku menjaga rahasiamu dong datar." jawab Rifki memanfaatkan keadaan. "Gimana?" tanya Rifki mengulurkan tangannya pada Dian meminta persetujuan.
"Ada apa dengan cowok ini?" tanya Dian dalam hati. "Apa dia punya niat jahat samaku?" tanya Dian dalam hati.
"Gimana? Malah bengong." celetuk Rifki masih menyodorkan tangannya.
"Yaudahlah. iyain aja dulu. toh cuma nemanin doang." gumam Dian dalam hati menyambut tangan Rifki.
"Deal." ucap Rifki tersenyum penuh kemenangan.
cerita dian sama rifki ini benar-benar penyegaran bagi aku.
aku juga uda baca novel "Bukan suami pengganti" novel aksi yng bagus.... dan smpai sekarang nunggu up keduanya.
aku tunggu selalu lanjutan karya ini 😊😊 sehat sehat y author
knp blum hadir?? bukankah kita dh janjian... bwt ketemu lg secepatnya... di sini???
lm
lama nian tak jua kembali. ... rindu hadirmu...
knp sih kmu itu lola???
cepet lanjut yak,,,
ceritamu bikin mood booster bagiku,, like, like, like
yg bnyk dong thor upnya.... biar revisinya sekalian.... 😅😇
kangen tau sm mrk yg dh alpa bbrp hr... rasanya dh setahun gk jumpa... rindu berat... 😘😘😘😛😛