NovelToon NovelToon
Anak Genius: CEO Tampan Ayah Si Kembar

Anak Genius: CEO Tampan Ayah Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Badboy / Pembunuhan
Popularitas:524.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Nani Anny

Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.

Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Manis Faustine

"Lepaskan saya! Lepaskan saya!" Faustine masih mencoba memberontak. Kakinya yang terikat lamban menendang-nendang di atas pundak pria bertubuh kekar yang berjalan masuk ke dalam rumah Noah.

"Berhentilah memberontak Fau! Kau hanya membuang-buang tenagamu saja." ketus Fer yang berada dalam posisi yang sama dengan Faustine.

Sementara Ben yang mengikuti mereka dari belakang lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis.

"Bawa mereka ke atas!" pinta Ben.

"Baik." Mereka menyusuri anak tangga menuju ruang pribadi Noah. Sementara Ben menuju ke tempat lain untuk menemui Noah.

Kedua pria itu meletakkan Fau dan Fer di atas sofa.

"Sekarang lepaskan kita!" Kata Ferdinan, "kau pikir tangan dan kaki kita tidak sakit apa?"

Dua pengawal yang berdiri di sisi kiri dan kanan mereka hanya bergeming, menoleh pun tidak.

"Mereka ini tuli." kesal Faustine.

"Mereka tidak tuli," kata Ferdinan, "kau tidak lihat tadi dia mendengar perintah bosnya."

"Mungkin saja mereka bisu," sanggah Faustine lagi.

"Tadi mereka mengatakan 'baik' pada atasannya."

"Mungkin saja hanya kata itu yang bisa mereka katakan." kesal Faustine.

"Mungkin." Ferdinan mengedikkan bahunya.

Sementara dua pengawal itu hanya melirik mereka melalui ujung matanya saja.

Tidak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka. Noah muncul dari sana bersama dengan Ben yang berjalan di belakangnya.

"Kita bertemu lagi, Boys." Noah mengambil duduk di depan anak-anaknya, "apa kabar kalian?"

"Berhenti bertanya seolah kita dekat," ketus Faustine, "katakan apa maumu?"

Noah terkekeh, "kau terlalu terburu-buru."

"Kita tidak ada waktu. Bunda kita sendirian di rumah." Ferdinan menimpali.

"Dia tidak sendiri. Orang-orangku ada disana."

Faustine berdecih, "kau kira kami akan mempercayai mereka."

Noah juga berdecih, "Dan kau pikir kau juga bisa menjaga bundamu dari mereka. Berkat mereka kau berada disini."

Faustine mendengus kesal. Melayangkan tatapan permusuhan pada Noah. Sementara Noah menikmati tatapan itu.

Manik abu-abu mereka beradu tatap, seolah mengantarkan listrik permusuhan.

Suasana mencekam menyelimuti keduanya sebelum Ferdinan berdehem singkat.

"Kenapa kalian berdua berdebat." Fer berdecih, "seperti anak kecil saja."

Fau dan Noah kompak melayangkan tatapan tajam pada Ferdinan. Dan anak itu hanya mencebikkan bibirnya.

Lagi-lagi Ben tersenyum lucu. Astaga drama ayah dan anak ini sangat menggemaskan.

"Sekarang langsung saja. Kita tidak punya waktu disini." ketus Ferdinan.

Noah berdecih, "seperti kalian punya kesibukan saja."

"Setelah ini... mungkin kami akan sibuk merusak sistem perusahaanmu." Ferdinan menyeringai.

Noah terbelalak mendengar ancaman Ferdinan. "Baiklah."

"Ben!" Seru Noah pada asistennya yang berdiri di belakangnya.

Seolah mengerti pria itu melangkah maju dan meletakkan dokumen di atas meja.

"Apa itu?" Fau memicingkan matanya.

"Surat kesepakatan," jawab Noah.

"Kesepakatan?" Ferdinan berkerut heran, "kesepakatan apa?"

"Lihat saja." Noah menunjuk dokumen itu.

"Langsung saja. Kau tak lihat." Faustine mengangkat tangannya yang terikat lakban ke arah Noah.

Noah berdehem singkat, "jelaskan secara singkat kepada mereka, Ben!"

"Baik," jawabnya. "Di dalam kertas kesepakatan itu terdapat sebuah perjanjian kerja sama dan tawaran. Jika kalian bekerja sama dengan Tuan Noah maka tawarannya adalah, kalian akan hidup dengan damai. Tuan Noah akan bertanggung jawab untuk melindungi kalian dan menemukan adik kalian."

"Melindungi dari apa?"

"Dari musuh-musuhku." Noah mencondongkan tubuhnya ke arah mereka, "Kalian pasti sudah tahu tentang status kalian adalah anak-anakku. Di dalam darah kalian mengalir darahku. Saat ini banyak yang ingin menyingkirkanku. Begitu juga dengan kalian. Kalian mengerti maksudku kan?"

Noah menarik tubuhnya. Menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa serta menyilangkan kakinya.

Sementara wajah si kembar tampak bimbang sekarang. Apakah dia harus menerima tawaran itu atau tidak!

ʕ•ﻌ•ʔ

Kaila mengangkat wajahnya yang sejak tadi tenggelam di bantal. Wanita itu mencoba menarik napas dalam-dalam, mencari oksigen yang sangat sulit menembus masuk paru-parunya karena hidungnya sangat mampet sekarang. Entah sudah berapa lama wanita itu menangis sesegukan di bawah bantal tersebut. Entahlah, dia tidak sempat memeriksa jam. Namun saat melihat wajahnya yang sudah sangat sembab serta bola mata yang sudah sebesar bola pimpong itu, menandakan jika dia sudah menangis berjam-jam lamanya. Bahkan kepalanya pun sudah sangat pusing.

Sudah pukul berapa sekarang? Apakah anak-anaknya sudah kembali? Wanita itu pun beringsut dari kasur dalam kebingungan. Dengan gontai dia berjalan keluar dari kamarnya sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.

Kaila bersandar di pintu saat kini dia berdiri di depan kamarnya. Tatapannya tertuju pada jam dinding. Astaga, sudah sangat larut malam ternyata. Lalu dimana anak-anaknya?

Dengan pandangan yang sedikit berputar dia kembali mencoba melangkah ke arah kamar anak-anaknya, namun pandangannya langsung tertuju pada pintu utama. Dua pria botak itu masih berdiri disana dengan tubuh yang tegak.

Melihat mereka membuat Kaila urung ke kamar anak-anaknya. Dia pun mengalihkan langkah pelannya ke arah sofa. Bertumpu pada tangan sofa lalu terduduk dengan lemahnya. Anak-anaknya pasti belum kembali, terbukti saat pria itu masih berada di rumahnya.

Kaila semakin menekan pelipisnya kuat, air mata kembali menetes, dia sangat frustrasi sekarang. Dia harus memikirkan cara agar bisa melarikan diri dari pria itu. Tapi bagaimana caranya? Pria itu memiliki kekuasaan yang tidak ada batasnya. Dia tidak akan mampu melarikan diri.

Di tengah kebingungannya dia hanya mampu mengeram frustrasi lalu mengusap wajahnya dengan kesal.

"Bunda!"

Dengan cepat Kaila menatap ke sumber suara. Astaga kedua anaknya Fau dan Fer tengah berdiri di ambang pintu lalu berlari ke arahnya dan langsung menghambur padanya. Dengan sigap pula dia menarik anak-anaknya ke dalam pelukannya.

"Kalian tidak pa-pa, Nak." Wanita itu mengusap lembut kepala anak-anaknya lalu mengecupnya berulang kali.

"Kita baik-baik saja, Bunda," jawab Faustine semakin mengeratkan pelukannya.

"Syukurlah...." Sekali lagi dia mengecup kepala anak-anaknya.

"Bunda." Fer melepaskan diri dari pelukan bundanya. Menatap lekat wajah bundanya yang sangat pucat. Bola matanya yang bengkak memancarkan aura kepedihan yang sangat. Fer sangat paham bagaimana perasaan bundanya saat ini, cobaan yang menimpa keluarganya memanglah sangatlah berat sekarang.

Lalu dia harus bagaimana sekarang? Jujur saja, Fer sangat membenci saat bundanya seperti ini. Hatinya sangat tersiksa. Dua malam berturut-turut hanya suara tangisan dan wajah suram yang dia lihat dari bundanya, tidak ada senyum sama sekali, tidak ada pancaran cahaya lagi dari bola mata indah itu, yang ada hanya kesedihan dan kesedihan. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang, agar cahaya itu kembali lagi pada wanita itu?

Apakah dia harus menerima tawaran Noah? Tapi bagaimana jika bunda dan Faustine tidak setuju? Astaga semuanya sangat rumit sekarang.

Memikirkan hal rumit itu membuat air mata anak itu lolos begitu saja membasahi pipinya.

"Bunda!" Ferdinan kembali memeluk bundanya dengan menangis sesegukan.

"Ada apa sayang? Kenapa kau menangis, hm? Apa pria itu menyakiti kalian?" Kaila mengelus wajah kecil Ferdinan mengusap pelan air matanya.

Ferdinan menggeleng pelan, "kita minta maaf. Karena kita bunda tersakiti seperti ini." Fer sesegukan kini.

Sementara Faustine yang juga tengah menangis pun ikut memeluk bundanya. Gelombang kesedihan menggoncang jiwanya yang lemah.

"Ini bukan salah kalian, hm. Berhenti menyalahkan diri kalian." Kaila semakin mengeratkan dekapan tangannya pada Fau dan Fer yang tengah meringkuk di sisi kiri dan kanannya.

"Ini salah bunda." Kaila terisak, "bunda tidak bisa menjaga kalian dengan baik. Bunda tidak pernah mengira bahwa pria itu akan menemukan bunda lagi dan mengetahui keberadaan kalian. Maafkan bunda."

"Bunda tidak bersalah." Faustine berucap dengan sesegukan, "ini semua salah kita Bun. Karena kehadiran kita, bunda menderita. Harusnya kita tidak pernah hadir di dalam hidup bunda, bukan?"

Kaila terkesiap mendengar penuturan anaknya itu. Kenapa mereka berucap seperti itu? Wanita itu merengkuh wajah sedih anak-anaknya satu persatu. Menatap jauh mata polos mereka.

"Kenap Fau berkata seperti itu? Apakah pria itu yang mengatakan seperti itu pada kalian?"

Faustine menggeleng lemah.

"Lalu kenapa kalian berkata seperti itu." Kaila semakin menangis, "Apakah kalian tahu, bahwa perkataan itu sangat menyakiti hati bunda."

"Maaf bun." Lirih Faustine menatap sendu bundanya.

Kaila kembali menarik anaknya ke dalam dekapannya, "Jangan berkata seperti itu lagi Kalian tidak tahu, betapa bunda sangat bersyukur dengan hadirnya kalian. Justru pria itulah yang salah, dia datang saat kita berbahagia dan dia mengacaukan semuanya. Bagaimanapun juga bunda akan mencari cara untuk melindungi kalian. Bunda janji." Wanita itu mengecup pucuk kepala anaknya.

Ferdinan mendongak menatap bundanya, "bagaimana caranya bun?"

"Bunda masih belum tahu." Kaila meggeleng bingung, "besok bunda akan meminta bantuan pada uncle Niko. Semoga saja dia memiliki solusi untuk kita, hm."

Raut wajah Ferdinan berubah datar saat Kaila mengatakan akan meminta bantuan pada Niko. Anak itu melepaskan diri dari pelukan bundanya, membuat wanita itu berkerut heran begitpula dengan Faustine yang masih bersandar di perut bundanya.

"Ada apa Nak?" tanya Kaila Bingung.

"Tidak bisakah bunda berhenti meminta bantuan pada pria itu?" Tatapan Ferdinan berubah tajam.

"Apa maksudmu, nak? Hanya dialah satu-satunya pria yang bisa membantu kita. Dia sangat—"

"Stop!" Ferdinan menyela ucapan bundanya. "Berhenti memuji pria itu dan berhenti bergantung padanya."

Anak itupun beranjak meninggalkan bunda dan kakaknya yang sangat bingung. Dengan langkah penuh amarah anak itu masuk ke dalam kamarnya. Emosinya benar-benar memuncak saat ini.

"Ada apa dengan dia?" Kaila bergumam bingung.

"Bunda...." Faustine melepaskan diri dari bundanya. Kedua tangan kecilnya terulur menghapus sisa-sisa air mata di pipi bundanya lalu merengkuhnya dengan lembut.

Faustine tersenyum manis pada wanita itu, "Tidak usah memikirkan Fer. Saat ini dia sedang marah sesaat."

"Tapi kenapa dia marah pada uncle Niko?" Kening Kaila berkerut heran.

Faustine menghela napas pelan lalu kembali tersenyum manis. Senyuman itu sangat menyejukkan hati dan penglihatan Kaila.

"Kita berdua pernah membuat kesepakatan. Kami akan waspada pada pria-pria yang berusaha mendekati bunda."

"Tapi kenapa uncle Niko juga termasuk di dalam kewaspadaan kalian? Bukankah kalian sudah sangat mengenal bagaimana dia? Dia pria yang baik."

Kaila masih sangat bingung.

Faistine kembali menghela napas pelan, "bukannya kita tidak percaya lagi pada uncle Niko. Hanya saja, kejadian ini membuat aku dan Fer sangat terpukul. Mungkin karena itulah piikirannya kacau sekarang, hingga menyalahkan semua pria, termasuk uncle Niko," jelas Fau dengan lembut.

Kaila menghela napas lalu menundukkan pandangannya.

"Bun," seru Fau lagi masih merengkuh kedua pipi bundanya, "Aku yang akan bicara padanya. Jadi bunda tidak perlu khawatir lagi."

Kaila mengangkat lagi pandangannya, menatap manik lekat manik abu-abu Fau yang memancarkan ketulusan membuat wanita itu tak mampu menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lalu mengangguk.

"Bunda harus istirahat yang cukup malam ini. Sudah dua hari ini bunda kurang istirahat. Wajah bunda juga sangat jelek sekarang. Fau tidak menyukainya." Faustine mengerucutkan bibirnya dengan gemas. "Jadi, bunda tidak boleh nangis lagi, ok."

Kaila mengangguk patuh.

Fau tersenyum lembut lalu mengecup bibir bundanya sekilas. "Jangan pikirkan tentang Farika. Fau yakin dia pasti akan baik-baik saja."

Air mata Kaila kembali menetes. Bagaimana mungkin dia tidak memikirkan anaknya yang entah dimana keberadaannya saat ini. Kaila juga sangat berharap anaknya itu baik-baik saja. Tapi tetap saja, naluri keibuannya sangat takut sekarang.

"Bunda...," lirih Fau. "Berhenti menangis." Faustine menghapus lagi air mata yang membasahi pipi sang bunda.

"Bunda harus kuat, agar kita bisa sama-sama mencari Farika, Ok?"

Sekali lagi Kaila hanya mengangguk.

"Sekarang tersenyum!"

Kening Kaila berkerut heran.

"Senyum bun, seperti ini." Faustine menarik kedua pipi bundanya hingga membentuk sebuah senyum.Wanita itu pun tersenyum.

"Gitu dong. Kan cantik," ucapnya.

Lalu anak itu pun turun dari sofa, menggenggam tangan bundanya dan menariknya.

Dengan patuh Kaila hanya menurut saja, saat kini anak itu tengah menuntunnya ke kamar. Memintanya untuk berbaring dan menarik selimut untuknya.

"Selamat malam bun." Fau mengecup lembut kening bundanya.

"Malam sayang." Kaila pun mengecup lembut kening anaknya itu.

Astaga, anak tujuh tahun itu sangat romantis dan bersikap manis pada bundanya. Bahkan dia baru meninggalkan kamar itu saat bundanya sudah terlelap.

Sejenak Faustine menatap wajah bundanya yang terlihat sangat suram, lalu dia pun beranjak mematikan lampu kamar. Keluar dengan menutup pintu sangat pelan, agar bundanya tak terganggu.

Tatapannya berubah dingin saat kakinya melangkah menuju kamarnya. Di dalam sana, Fau melihat Ferdinan tengah duduk di meja belajar dengan menonton rekaman cctv di laptop. Yah, rekaman cctv itu adalah rekaman terakhir Farika yang direbut di pinggir jalan.

Fau melangkah masuk dengan bersedekap dada tepat di belakang Ferdinan, "Kenapa kau membentak bunda seperti itu, Fer? Melarangnya untuk berharap pada uncle Niko? Kenapa? Jelaskan alasanmu."

Ferdinan yang saat ini sedang tidak dalam kondisi baik, semakin kesal mendengar pertanyaan beruntun Faustine.

Ferdinan memutar tubuhnya menghadap Faustine kini, menatapnya dengan tajam. "Menurutmu? Kenapa aku melarang bunda untuk berharap pada pria itu?"

Faustine mendengus, "berhenti bersikap seperti ini, Fer. Aku tau kau sangat mengkhawatirkan bunda dekat dengan laki-laki lain."

Fer berdecih, "menurutmu seperti itu?"

"yes sure. Lalu apalagi?" Faustine mengedikkan bahunya.

Ferdinan meyeringai marah, "terserah kau saja, kalau begitu."

Anak itu pun beranjak meninggalkan Faustine dengan wajah bingungnya. Masuk ke dalam lemari dimana ruangan komputernya berada. Dia butuh ketenangan saat ini. Dia tidak menyangka ternyata kakaknya itu sangat polos. Bagaimana mungkin Faustine tidak mengerti dengan maksudnya melarang bundanya untuk berharap pada Niko? Atau jangan-jangan kakaknya itu belum mengetahui jika pria yang mirip dengan Niko itu adalah Niko. Astaga, sangat keterlaluan jika Faustine belum mengetahuinya. Bukankah dia memiliki kemampuan mengingat suara? Lalu kenapa?

Ferdinan menghela napas jengah sambil menghempaskan pantatnya ke kursi depan komputernya. Menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan agar merilekskan tubuhnya. Tangannya pun mulai terulur pada keyboard. Dia tidak ingin memikirkan kebodohan Faustine sekarang, dia harus fokus pada pekerjaannya yaitu menemukan adiknya.

"Dimana kau membawa adikku, brengsek." gumam Ferdinan dengan gerakan jari yang sangat lincah, selincah emosinya yang sudah sangat membara, siap membakar siapa saja terutama penculik adiknya.

...Happy Reading ❤...

Hanya mengingatkan, jangan lupa untuk bayar parkir. Hehehe

1
Lai Lai
update please
Nur Yanah
Sampai lupa cerita nya
Lai Lai
semangat semangat update nya
Rafanda 2018
aturan end aja udah thorr
Rafanda 2018
bikin mls baca,,isinya penculikan mulu..sory thor ,end.
Rafanda 2018
katanya jenius ko ga tahu kalau widia jagat ck ck ck
Heri Herawati Siregar
lanjut ka
Dini Badar
lanjut thor
Glastor Roy
7p
Cinta Abadi
lanjut
yonahaku
ini author nya kemana lagi sakit 😷 ya cepat sembuh ya terus berkarya lagi
Diana Hayani
apa artinya triple twins ?
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
Tha Ardiansyah
terusin dong ceritanya thorr
Zalva LP
Klo ngk di pake, ngapain bayar🤨🤨🤨
Sartika Arruan
udah 1 thn blom ada lanjutanx yh Thor😔
Bunga Kaktus
top markotop.. bagus bgt
Deisse Bunaen
next ka thor
Bilbina Shofie
ini lanjutannya kmn??
Fitri
😂😂😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣yakin gk kuat aku nahan ketawa
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂
Fitri
astaga naga yakin bab ini gk liat nahan ketawa anak mu tuh nurun tingkah kamu 😂😂😂😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!