Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemenangan Semu
Aula utama kembali bergemuruh saat angka-angka di papan digital raksasa mulai bergerak liar. Di bawah kendali sabotase digital yang dipasang Davin, komputer kelompok Kenzo terus menyedot arus analisis data dari meja kelompok Gala tanpa hambatan. Setiap kali tim Gala mendeteksi pergerakan saham potensial, sistem curang itu langsung mendahului eksekusi dengan volume modal yang jauh lebih besar.
"Gala, grafik mereka melesat tajam! Portofolio kita sengaja dihambat oleh sistem pembajak mereka," ucap Reza dengan rahang mengeras, jemarinya siap menekan tombol interupsi untuk memutus paksa sambungan ilegal tersebut.
Aluna mencengkeram tepi meja dengan cemas, matanya membelalak menatap posisi tim mereka yang perlahan merosot ke peringkat dua. "Gala, kita harus lapor ke panitia sekarang! Ini sudah jelas kecurangan fisik!" seru Aluna dengan suara yang bergetar tegang.
Namun, Gala justru mengulurkan tangan kanannya, menepuk bahu Reza dengan sangat tenang sembari menggelengkan kepala. "Tahan, Re. Jangan diputus. Biarkan tikus-tikus itu menikmati umpan mereka hari ini," sahut Gala dengan suara rendah yang sarat akan wibawa tersembunyi.
Ia melirik ke arah Kenzo, lalu menyunggingkan senyum miring yang sangat dingin dari balik kacamata tebalnya.
Adit yang sudah siap berdiri langsung menatap Gala dengan pandangan tidak mengerti. "Maksud lo apa, Gal? Kalau hari ini mereka menang, harga diri kita diinjak-injak lagi!" protes Adit dengan urat leher yang menegang.
"Biar mereka terbang tinggi lagi hari ini, Dit," bisik Gala dengan ketegasan mutlak.
"Besok adalah hari ketiga, puncak penutupan bursa. Di situlah kita akan mematahkan kesombongan Kenzo sampai dia tidak akan bisa bangkit lagi selamanya. Hari ini, biarkan mereka berpesta."
Tepat saat lonceng akhir perdagangan hari kedua berdentang nyaring, layar LED raksasa mengunci posisi teratas. Kelompok Kenzo berhasil merebut kembali peringkat pertama dengan keuntungan berlipat ganda, menggeser kelompok Gala ke posisi kedua.
Seketika itu juga, gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai riuh langsung meledak di seluruh penjuru aula. Para mahasiswa fakultas bisnis berdiri, memberikan penghormatan kepada sang Putra Mahkota yang dianggap berhasil melakukan pembalasan spektakuler setelah kekalahan memalukan di hari pertama.
"Luar biasa! Kenzo memang jenius sejati keluarga Samudra! Skema investasinya hari ini benar-benar tidak terduga!" teriak seorang mahasiswa dari barisan tengah dengan penuh kekaguman.
Beberapa pengusaha dan investor asing yang hadir di barisan VVIP ikut berdiri, mengangguk-angguk kagum sembari mencatat nama Kenzo di buku evaluasi mereka. Di sisi lain kursi VVIP, Bramantyo langsung berdiri dengan tawa puas yang menggelegar, membetulkan letak jas mewahnya sembari bersalaman bersama para kolega. Tante Ratna pun tersenyum penuh kemenangan, melirik sinis ke arah Kakek Wijaya seolah ingin membuktikan bahwa anak kandungnya lah yang terbaik.
Kenzo melangkah maju ke depan mejanya, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk menyambut sorakan pujian yang menggema di aula. Wajahnya yang semula pucat kini kembali dipenuhi keangkuhan yang meluap-luap. Ia menoleh ke arah Gala, lalu mengacungkan jempolnya ke bawah dengan gerakan mengejek yang sangat kentara.
"Anak beasiswa tetaplah anak beasiswa! Keberuntungan lo cuma bertahan satu hari, Gala!" teriak Kenzo dari kejauhan dengan nada suara yang lantang dan penuh penghinaan, memicu tawa renyah dari Davin dan anggota gengnya.
Gala tidak membalas provokasi itu dengan kata-kata. Ia hanya mengemas barang-barangnya ke dalam tas dengan gerakan santai tanpa beban, seolah sorak-sorai kemenangan Kenzo hanyalah angin lalu yang tidak berarti. Namun, di balik ketenangannya, Gala tahu bahwa seluruh aliran dana curang Kenzo hari ini telah masuk ke dalam perangkap pelacakan miliknya, siap diledakkan pada hari penentu besok pagi.