NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 4

Kemudian, ketika Nyonya besar Laras baru saja pulang dan memanggil anak kesayanganya, ia berjalan dengan angkuh menghampiri sofa mewah panjangnya. Menyilangkan satu kaki dan terus asik bermain ponsel di genggamannya sambil tertawa kecil.

Bianca yang mendengar suara ibunya dari lantai bawah, segera beranjak dari singgasana ranjangnya. Dengan perasaan yang tidak sabar ingin segera bertemu karena senang.

"Ibu! ... Dia sudah pulang!" kata Bianca, dengan penuh antusias loncat dari kasur sambil tersenyum. Ponsel yang tadi sempat Bianca mainkan juga masih terus di genggamnya.

Bianca langsung cepat-cepat membuka pintu kamarnya dan berjalan cepat menuruni beberapa anak tangga.

Tap ... Tap ... Tap ...

Ketika ia sudah berada di anak tangga paling bawah, pandangannya teralihkan kepada sosok wanita muda yang sedang membuka pintu kulkas.

Terlihat sekarang Bianca tersenyum sambil sekali menganggukan kepala. Seperti di dalam pikirannya telah merencanakan sesuatu yang akan ia buat.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Bianca sengaja mengeraskan suaranya agar wanita itu mendengar.

"Anya! ... Woy, pembantu baru!" ucap Bianca, dengan nada yang sedikit keras dan berhasil membuat Anya yang sedang bekerja merasa kaget.

Anya yang baru saja kaget dan mendengar ada suara yang memanggilnya dari belakang, langsung bergegas berlari menghampiri Bianca yang sengaja berdiri menunggunya.

"Iyaa, Non ... Non Bianca memanggil saya ...?" tanya Anya, dengan sopan dan sikap yang sangat patuh kepada Bianca.

"Iyaalah ... Masa kucing!" bentak Bianca, bola matanya memutar ke atas sebelum kembali menatap Anya. Bianca sama sekali tidak perduli Anya sedang sibuk melakukan pekerjaan apa.

"Bikinin gue jus! ... Dua, langsung bawain ke depan. Buat gue sama ... My moms~" sambungnya, langsung pergi begitu saja meninggalkan Anya seraya mengibaskan rambutnya ke belakang.

Anya yang masih tertunduk patuh, hanya bisa mengangguk menerima perintah langsung dari anak majikannya itu. Anya hanya takut jika kali ini melakukan kesalahan lagi.

"Baik Non ..." jawab Anya, dengan suara yang pelan dan bahkan, suara itu sudah tidak terdengar lagi oleh Bianca yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya.

Setelah kepergian Bianca, Anya baru bisa bernafas dengan lega. "Huh ..." suara Anya saat membuang nafasnya dengan pelan. Anya kembali berjalan kekulkas untuk mengambil beberapa buah yang akan ia gunakan untuk membuat jus.

"Ibu~ ..." teriak Bianca dengan nada lebay dan sikap manja, berlari pelan ketika melihat ibunya yang sedang duduk bersantai di sofa mewah.

Bianca langsung memeluk ibunya segera. Menumpahkan sikap rindunya dan menunjukan kemanjaannya sebagai anak semata wayang dari Nyonya Laras.

"Hey, sayang ..." jawab Laras, langsung membalas pelukan hangat dan lebay dari anaknya. Laras langsung menunjukan sebuah video yang membuat ia tadi tertawa sendiri ketika menunggu.

"Nih ... Liat dah, ada video lucu!" ucap Laras pelan, menatap wajah anak kesayangannya yang manja.

"Mana-mana!" sambung Bianca, dengan antusias dan menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Laras.

Ketika melihat video di ponsel Laras, mereka berdua tertawa bahagia. Saling menatap dan menertawakan apa yang ada di video itu.

"Hahaha..." tawa mereka berbarengan, mengisi kekosongan ruangan besar yang berada di rumah mewah dari keluarga Adiwijaya.

"Eh, iyaa ... Gimana kuliah kamu? Happy?" tanya Laras, memastikan kondisi Bianca apakah ia baik-baik saja selama baru pertama kali kuliah. Laras menatapnya dengan serius.

"Ish, si Momy ... Apansih? Yaa, happy dong! ... Itukan kuliah inceran Bian dari dulu. Tempatnya bagus, banyak cowok-cowok ganteng ... Dan, nyamanlah pokoknya." ujar Bianca, menunjukan eskpresinya yang senang dan bahagia karena telah di kuliahkan disana.

"Hmm ... Bagus dong! Momy happy dengernya kalo anak kesayangan yang manja ini, juga seneng!" balas Laras, langsung memeluk Bianca dan sedikit mengusap-usap rambutnya.

"Tapi ..." ucap Bianca yang langsung melepaskan pelukan Laras, memandangnya ketika kalimatnya terhenti.

"Tapi apa?" tanya Laras, dengan eskpresinya yang bingung dan penasaran. Bianca menunjukan ekspresi sedihnya, ketika kembali menatap ibunya sendiri.

"Yang tadi aku bilang di telepon Mom ... Bian masih kesel!" ujar Bianca, yang menunjukan ekspresi kekesalannya terhadap Anya. Yang bekerja sebagai pembantu baru di rumah keluarga Adiwijaya ini.

Laras langsung ikut merasakan kesedihan anaknya. Ia merasa tidak terima jika anaknya harus merasakan kekesalan seperti ini. Walaupun sebenernya ini masalah kecil, tapi Nyonya besar Laras tidak perduli tentang itu.

"Utuk ... Utuk ... Anak Momy~" ucap Laras dengan nada yang lebay. Langsung segera memeluk Bianca agar membuat hati kecil anak manja ini tenang kembali.

"Kamu jangan khawatir ... Momy akan urus hal itu!" sambung Laras, meyakinkan anaknya agar tidak perlu merasa kesal lagi dengan masalah sepele seperti ini. Karena Laras, pasti akan membalasnya.

"Bener yaa, mom?" tanya Bianca, ketika Laras memberikan perhatian manja yang lebih kepada dirinya. Bianca menunjukan ekspresi bahagianya kembali.

"Bener dong~" sahut Laras, langsung kembali memeluk anak manja kesayangan keluarga Adiwijaya ini.

Di dalam dapur. Ketika Anya yang sedang sibuk membuatkan pesanan jus dari anak majikannya di belakang Bi Inah yang masih sibuk memasak menyiapkan makan malam.

"Eh, Anya ... Kamu mau bikin jus?" tanya Bi Inah, ketika masih mengerjakan pekerjaannya memasak sambil menoleh kearah Anya.

"Iyaa, Bi ... Ini buat Non Bianca dan Nyonya Laras ..." jawab Anya, dengan sopan dan menghentikan perkerjaannya dahulu ketika berbicara.

"Kamu makan dulu Anya ... Apa kamu sudah makan?" tanya Bi Inah, yang merasa sangat perduli dengan kondisi Anya apakah sudah makan atau belum.

Karena sudah mendapat pertanyaan ini beberapa kali, Anya jadi merasa tidak enak. Dan ia terpaksa harus berbohong kepada Bi Inah soal ini.

"Sudah Bi ... Anya sudah makan," jawab Anya berbohong, karena merasa tidak enak membuat perasaan Bi Inah yang selalu khawatir kepadanya.

Meskipun, sebenarnya keadaan Anya sudah lapar sekarang. Karena ia belum memakan apapun semenjak kedatangannya hari ini. Tapi ia tetap ingin menunggu semua keluarga yang berada di sini makan dahulu sebelum dia.

"Oalah ... Kirain Bibi belum. Kamu kalau disini jangan malu-malu yaa Anya, kalau masih merasa laper, kamu boleh nambah ..." kata Bi Inah masih sibuk dengan pekerjaannya. Walaupun, sebenarnya Bi Inah juga merasa ragu dengan jawaban Anya barusan.

"Iyaa, Bi ... Terimakasih, yaa ..." ucap Anya, dengan penuh senyum di wajah cantik alaminya sebagai perempuan. Pekerjaan Anya yang sedang membuat jus 'pun akhirnya selesai.

Anya langsung ingin segera memberikan jus buah ini kepada Nona Bianca dan Nyonya Laras, yang sudah menunggunya di sofa mewah ruangan besar utama rumah keluarga Adiwijaya.

Terlihat suasana kebahagiaan kecil antara ibu dan anak itu masih terjadi di sana. Mereka berdua meneruskan menonton video-video lucu yang coba Laras tunjukan untuk Bianca.

Namun tiba-tiba, suasana mereka berdua berhenti mendadak terdiam bersamaan. Ketika mereka berdua melihat Anya yang datang membawa nampan dengan dua buah jus yang siap di minum di atasnya.

Mereka berdua menatap Anya dengan sinis dan dengan penuh perasaan yang amat tidak menyenangkan. Anya yang merasakan tekanan itu berusaha tetap fokus. Tidak menghiraukan apapun dan hanya berusaha mengerjakan tugasnya dengan baik sebagai pembantu.

"Permisi ... Ini minumannya sudah jadi," ujar Anya sambil menunduk, yang sempat berdiri di hadapan mereka lalu berjongkok untuk meletakan minuman itu di atas meja di depan mereka yang sedang duduk bersama.

Anya sama sekali tidak berani menatap langsung wajah dari kedua orang yang menjadi majikannya ini. Perasaannya terlalu takut jika ia melakukan kesalahan lagi kali ini.

Tek ... Tek ...

Ketika suara minuman yang sudah di letakan itu terdengar, ibu dan anak itu saling pandang sekarang. Laras langsung membenarkan posisi duduknya sebagai seorang Nyonya besar di rumah ini.

"Siapa yang ingin meminum jus?" tanya Laras dengan heran. Karena sebenarnya, Laras sendiri merasa tidak menyuruh Anya untuk membuatkannya. Tapi Bianca lah yang tadi menyuruh Anya.

Deg!

Mendengar hal itu, jantung Anya berhenti beberapa detik. Ia secara tidak sadar menatap Nyonya Laras yang kini berada di hadapannya lalu berganti ke arah Bianca. Orang yang sebenarnya telah memberi perintah kepada Anya.

"Kamu menyuruh pembantu baru ini membuat jus, sayang?" tanya Laras, masih dengan nada bicara yang amat pelan untuk anaknya.

Dengan cepat, Bianca langsung menggeleng-geleng. Berpura-pura tidak tahu dan memaksa Anya berada di posisi yang salah.

"Nggak! ... Aku nggak nyuruh apa-apa ... Dia aja kali yang ingin menghabiskan stock bahan makanan di rumah ini ..." ujar Bianca, berbicara asal dan membuat Anya sekarang merasa terpojok atas pekerjaan yang baru saja ia lakukan.

Mendengar itu, membuat Anya semakin syok. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Dimana, ia harus terpaksa berada di posisi yang salah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Nggak Nyonya ... Tadi Non Bianca yang ..." ungkap Anya, yang mencoba memberi sedikit penjelasan lewat nada bicaranya yang pelan namun langsung di potong begitu saja oleh Laras yang tidak perduli.

"Apa?! ... Kamu mau bilang kalau anak saya berbohong?! ... Hah?!" bentak Laras, yang membuat Anya tidak lagi sanggup melanjutkan pembelaannya dan mengangkat bahunya karena merasa kaget.

Melihat Anya di perlakukan seperti ini, membuat Bianca tersenyum puas di samping ibunya yang sedang memarahi Anya karena sempat membuat Bianca merasa kesal hari ini.

Bersambung ...

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!