Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Mati?
Ruangan itu berubah menjadi kacau dalam hitungan detik. Norma berlutut di samping tubuh Maya dengan tangan gemetar. Darah tipis di pelipis gadis itu membuat jantungnya terasa seperti diremas.
"Maya! Maya, bangun!"
Tidak ada jawaban.
Ziva ikut panik. Gadis itu menepuk-nepuk pipi Maya pelan. "Maya! Jangan bercanda!"
Tetap tidak ada respons. Sementara itu, Jamie masih berdiri membeku beberapa langkah dari mereka. Wajahnya pucat. Napasnya memburu.
"Aku... aku nggak sengaja..."
Norma langsung menoleh. "Kamu dorong dia!"
"Aku nggak bermaksud sejauh itu!"
"Dia nggak bergerak!"
Kalimat itu membuat Jamie menelan ludah.
Mira yang masih berdiri di dekat pintu tampak ketakutan. Situasi ini jauh di luar bayangannya saat datang ke rumah tersebut. "A-apa kita harus panggil ambulans?" tanyanya pelan.
Norma seperti baru tersadar. "Iya! Cepat—"
"Tunggu!"
Semua orang menoleh ke arah Jamie. Pemuda itu terlihat berpikir cepat. Tatapan panik di matanya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sesuatu yang membuat Norma merasa tidak nyaman.
"Kalau ambulans datang..." ujar Jamie.
Norma mengernyit. "Terus?"
Jamie menatap Maya yang tidak sadarkan diri. "Lalu polisi akan datang."
Ruangan mendadak sunyi.
Mira langsung menggeleng. "Itu bukan hal yang penting sekarang!"
"Tentu penting!"
Jamie mulai berjalan mondar-mandir. "Dia sudah mau melaporkan aku."
"Jamie!" bentak Norma.
Namun Jamie seperti tidak mendengar. Pikirannya sedang bekerja dalam arah yang berbahaya.
"Kalau polisi tahu aku mendorongnya..."
"Karena memang kamu yang mendorongnya!" seru Ziva.
Jamie menatap adiknya. "Dan kalau aku masuk penjara, habis semuanya."
Norma membeku. Untuk sesaat, ketakutan yang selama ini mereka rasakan kembali muncul. Semuanya bercampur menjadi satu. Jamie mengusap wajahnya kasar.
"Lihat!" Ia menunjuk Maya. "Dia nggak sadar."
"Makanya harus dibawa ke rumah sakit!" kata Mira.
"Tapi kalau dia bangun nanti?" Norma mulai memahami arah pikiran putranya. Dia membencinya. Namun di saat yang sama, sebagian dirinya takut.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Norma pelan.
Jamie terdiam beberapa detik. Lalu berkata, "Kita sembunyikan dulu dia."
Deg.
Mira langsung mundur satu langkah. "Kalian gila!"
"Tutup mulutmu!" bentak Jamie.
Mira langsung terdiam.
"Aku akan bertanggung jawab sama kamu nanti," lanjut Jamie lebih pelan.
"Tapi urusan ini tidak boleh diketahui siapapun!"
Norma memejamkan mata. Ia tahu ini salah. Namun rasa takut kehilangan semuanya membuat pikirannya kacau.
"Jamie..."
"Percayalah, Ma."
"Aku nggak yakin..."
"Kita cuma butuh waktu."
Keheningan memenuhi ruangan. Akhirnya Jamie dan Norma membawa Maya ke sebuah gudang penyimpanan lama di bagian belakang rumah. Tempat itu jarang digunakan dan hampir tidak pernah didatangi siapa pun.
Mereka meletakkan Maya di atas sofa tua yang masih ada di sana. Norma terus terlihat gelisah. Sedangkan Jamie berkali-kali meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya sementara.
Mira dipaksa tetap diam. Sedangkan Ziva mulai merasa takut kepada kakaknya sendiri. Tapi mereka tidak tahu satu hal.
...***...
Maya tidak benar-benar mati. Bahkan tidak mendekati. Saat kesadaran kembali muncul, Maya mengira dirinya akan melihat langit-langit gudang. Atau mungkin rumah sakit. Atau bahkan ruang gelap.
Namun yang dilihatnya justru sesuatu yang sama sekali berbeda. Hamparan bunga.
Sejauh mata memandang. Kelopak-kelopak berwarna putih, biru, merah muda, dan ungu bergoyang lembut diterpa angin. Langit tampak cerah. Udara terasa hangat. Burung-burung bernyanyi di kejauhan.
Maya mengerjap bingung. "Apa..."
Ia menunduk. Lalu membeku. Tubuhnya berbeda. Bukan tubuh Maya. Melainkan tubuh yang sangat dikenalnya. Tubuh miliknya sendiri. Tubuh Priska. Rambut hitam panjang. Tangan yang lebih dewasa. Wajah yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya.
Priska langsung berdiri. Jantungnya berdebar.
"Tunggu..."
Ia melihat kedua tangannya. Lalu melihat sekeliling. "Apa gue mati?"
Tidak ada jawaban. Priska mulai berjalan cepat.
"Apa ini surga?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Karena tempat ini terlalu indah untuk terasa nyata. Saat itulah suara seseorang terdengar dari belakang.
"Menurutmu?"
Priska langsung berbalik dan membeku. Beberapa meter di belakangnya berdiri seorang gadis. Gadis yang sangat dikenalnya. Karena wajah itu selama ini selalu dilihatnya di cermin.
Maya! Maya yang asli.
Gadis itu mengenakan gaun putih sederhana. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibanding foto-foto lama yang pernah dilihat Priska. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kesedihan. Hanya ketenangan.
"Maya..." panggil Priska.
Maya tersenyum kecil. "Halo."
Priska menatapnya lama. Lalu menunjuk sekeliling.
"Oke. Gue punya banyak pertanyaan."
Maya tertawa kecil. "Aku tahu."
"Apa gue mati?"
"Belum."
"Ini surga?"
"Bukan."
"Alam gaib?"
"Tidak juga."
Priska memegangi kepalanya. "Jadi ini apa?"
Maya melangkah mendekat. "Tempat pertemuan."
"Pertemuan siapa?"
"Kita."
Priska menatapnya beberapa saat. Lalu menghela napas. "Tentu saja. Hidup gue memang nggak pernah normal."
Maya kembali tertawa. Kali ini sedikit lebih lepas.
"Ayo!"
"Kemana?"
"Jalan-jalan."
"Hah?"
Maya menunjuk jalan kecil di antara hamparan bunga. "Aku ingin menunjukkan sesuatu."
Priska masih penuh kebingungan. Namun akhirnya ia mengikuti gadis itu. Mereka berjalan berdampingan melewati taman yang seolah tidak memiliki ujung.
Angin berhembus lembut. Bunga-bunga bergoyang perlahan. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Sampai akhirnya Priska tidak tahan. "Serius."
"Hm?"
"Gue belum mati?"
"Belum."
"Yakin?"
"Yakin."
"Sayang sekali."
Maya menoleh heran.
Priska mengangkat bahu. "Kalau mati berarti gue nggak perlu ngurus keluarga sinting itu lagi."