Hai...
salam kenal dari saya, penghuni baru Noveltoon.
Saya coba up karya saya, semoga bisa menghibur.
Cerita tentang dua pria yang bersahabat dan mencintai satu gadis yang sama, namun akhirnya salah satu dari mereka harus mengalah demi sahabatnya.
Wanita itu adalah Azizah yang dari pertama sudah menyukai Gibran namun cinta mereka gagal bersemi, dan kedua lelaki tampan itu adalah Gibran dan Gery, mereka telah bersahabat sedari kecil karena ayah mereka bekerja pada satu bidang yang sama yaitu pejabat pemerintahan dikotanya.
Gibranpun harus merelakan Azizah untuk Gery, namun ternyata sifat Gery yang playboy masih saja melekat padanya meskipun ia sudah memperistri Azizah yang pernah Gibran cintai.
Lalu bagaimana cerita selanjutnya?
check it out gaesss....
happy reading....😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srie Moelyanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rumah kost untuk Azizah
Gery yang sedang berada didalam rumah tak mengetahui Azizah yang baru saja keluar dari rumah Gibran dengan memboncengi motor bersama Gibran. Mereka mulai mengarungi jalanan dengan si hijau kesayangan Gibran.
Tibalah di sebuah rumah besar dekat dengan tempat Azizah bekerja.
" Kak, ini dimana?"
Azizah yang baru saja turun dan melepas helmnya bertanya pada Gibran yang masih diatas motor maskulinnya.
" ini kost-an teman aku."
Gibran turun dari motor dan melepaskan helm.
Tak lama kemudian ada seseorang yang mulai mendekat ketika ia melihat ada sebuah motor yang memasuki pelataran rumah kost-nya.
" Hei, bro pa kabar?"
Adit langsung menyapa Gibran yang baru saja turun dari motor dan mereka bersalaman ala para pria jantan pada umumnya.
" Gua denger ada kamar kost yang kosong ya? "
Gibran langsung to the point pada Adit.
" Masuk dulu yuk, gak enak ngobrol sambil berdiri diluar gini."
Adit mengajak Gibran dan Azizah memasuki rumah kost, dan mereka mempersilahkan Gibran juga Azizah untuk duduk diruang tamu. Kemudian Adit mengambil minuman dingin dari dalam lemari es yang ada didapur.
" Maksud Lo nanyain kost-an kosong emang buat apa Bam?"
Adit yang duduk disofa single bertanya pada Gibran.
" Oia gini Dit, temen Gua ini lagi nyari kost-an yang deket sama tempat kerjanya, kebetulan kost-an Lu emang paling deket dari tempat kerjanya."
" oo,, emang kamu kerja dimana? sorry Gua belum kenal nama Lo, Gua Adit."
Adit mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Azizah.
" Saya, Azizah."
Azizah membalas uluran tangan Adit untuk berjabat tangan.
" Emang kamu kerja dimana Azizah?"
Tanya Adit pada Azizah.
" Di Restoran Padesaan, Kak."
Jawab Azizah singkat.
" oo... Restoran yang bernuansa alam terbuka itu ya? yang jaraknya kurang lebih cuma satu setengah kilo dari sini."
Jelas Adit.
" iya, Kak."
Azizah mengangguk dan senyum.
" Za, untuk sementara waktu kamu tinggal disini gak apa-apa kan?"
" iya, Kak."
Azizah mengangguk.
" aku udah bayar biaya kost untuk satu bulan, terserah kamu besok atau kapanpun kamu mau pulang gak masalah. oia kamu udah bawa beberapa pakaian ganti kan? seragam kerja juga?"
" udah Kak,"
Azizah menepuk-nepuk tas ransel yang ia bawa terlihat sangat gembung terisi oleh barang-barang Azizah.
" kita keluar Yuk, makan malam dulu."
Azizah mengangguk dan kemudian ia keluar dari kamar tidur dan mengunci pintu kamar kostnya.
" oia lupa, Zizah mau nge-charge Hp dulu."
Azizah berbalik badan dan memasuki kamar kostnya untuk menCharge ponsel yang sedari kemarin mati, kemudian peegi bersama Gibran untuk makan malam.
" aku pulang dulu, kamu istirahat ya.!"
Gibran mengusap ujung kepala Azizah singkat dan mendapat anggukan dari wanita cantik yang ada didepannya, Azizah menunggu Gibran berlalu bersama motornya.
Azizah mulai memasuki kamar dan meraih ponsel yang masih terhubung dengan pengisi daya diatas nakas sebelah tempat tidurnya. Ia mulai mengaktifkan ponselnya dan beberapa saat setelah ponsel ready untuk beroperasi Azizah melihat banyak notif dari layar berandanya, ia mulai membuka aplikasi hijau pada ponselnya dan ternyata ada beberapa panggilan masuk dari Gery dan juga pesan singkat yang dikirimnya.
Gery
[ Za, maafkan aku.] pukul 17.00
[ Za, kamu dimana?] pukul 17.30
[ Za, angkat telepon dariku.] pukul 19.00
Azizah hanya menghela napas dalam-dalam setelah membaca pesan dari suaminya tersebut, ia tak merespon pesan dari Gery ataupun berusaha menelpon balik pada Gery, ia hanya melepaskan catutan daya dari ponselnya dan mencabut chargernya dari satation aliran listrik kemudian ia mulai menghempaskan tubuhnya keatas ranjang yang berlapis kasur busa yang empuk, sejenak Azizah menelentangkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar yang bercat putih gading, tatapannya kosong, angannya kini melayang pada apapun dimasa lalunya. Sungguh ia tak menyangka pernikahannya akan seperti ini.
Drttt...drtt...
Getaran ponsel Azizah membuat lamunannya pecah seketika, ia meraih ponsel yang da disampingnya, Gibran mengirimkan pesan.
Gibran
[ Udah tidur? ]
^^^Azizah^^^
^^^[ 👁👁 ]^^^
Gibran
[ kok belum tidur? ]
^^^Azizah^^^
^^^[ belum ngantuk.]^^^
Gibran
[ cepat tidur, kamu baru sembuh.]
^^^Azizah^^^
^^^[ siap bozz ]^^^
Gibran
[ besok kerja? ]
^^^Azizah^^^
^^^[ Ya.]^^^
Entah mengapa saat ini Azizah sangat merasa nyaman berada dekat dengan Gibran, rasa ini seolah sama ketika Azizah dekat dengan Gery di awal-awal pernikahannya.
Ayam berkokok menandakan pagi akan segera menyapa, sebelum fajar menyingsing di ufuk timur, Gibran sudah bangun dan bersiap dengan seragam kerjanya, ia langsung menyambar ponsel yang ada diatas nakas samping tempat tidurnya.
Entah dari kapan pria tampan ini sangat lengket dengan ponselnya, karena sebelumnya ia bahkan tidak perduli dengan keberadaan ponselnya sekalipun.
Gibran mulai membuka aplikasi hijau pada ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk seseorang nan jauh dimata tapi dekat dihati.
**Gibran**
\[*udah bangun*?\]
Tak butuh lama untuk Gibran mendapatkan balasan dari Azizah.
^^^**Azizah**^^^
^^^\[ *udah*.\]^^^
**Gibran**
\[ *mau berangkat bareng*?\]
^^^**Azizah**^^^
^^^\[ *boleh, tunggu didepan kost*.\]^^^
Gibran segera menyambar jaketnya dan mengenakan helm lalu meluncur bersama si hijau kesayangannya menuju kostan Azizah.
Hari ini adalah hari jumat tanggal 19 Februari dan besok hari sabtu tanggal 20 February adalah tanggal kelahiran buah hati Azizah dan Gery yang ke-2 tahun.
Azizah berpikir keras untuk bisa menengok Satria dan memberikan kado ulang tahun buat putra semata wayangnya, namun keadaan dompet Azizah pada akhir bulan, ditambah ia tak memiliki simpanan uang membuat Azizah kebingungan.
" Haduh mana belum gajian lagi."
Gumam Azizah kemudian menggigit pelan bibirnya sendiri, ia tidak mungkin memberi tahu Gery, karena saat ini ia benar-benar tidak ingin melihat batang hidung pria tampan yang satu itu.
Tiiitt...tiiitt...
Nada pengingat pada ponsel Gery berbunyi, sebelumnya, Azizah memang sengaja meminta Gery untuk memasang alarm pengingat pada tanggal sehari sebelum ulang tahun putra mereka, hal itu dilakukan agar Gery tidak lupa pada ulang tahun Satria dan bisa mempersiapkan sebelumnya.
Gery yang baru saja duduk di kantin pabrik, membuka ponselnya sambil menyantap makan siangnya.
* besok ultah Satria * begitulah notif yang tertera pada layar ponsel Gery, membuatnya langsung membuka kontak bernama Azizah kemudian mengirimkan pesan pada istrinya karena kalau Gery menelepon sudah pasti Azizah tidak akan mau menerima panggilannya.
Sore mulai menyapa, Azizah bersiap untuk pulang setelah jam kerjanya selesai, ia memilih untuk berjalan kaki menuju kostannya yang berjarak hanya sekitar sati setengah kilometer dari restoran tempat ia bekerja, karena Gibran hari ini ada lembur sehingga ia tak bisa mengantarkan Azizah pulang.
Diperjalanan arah pulang, Azizah menyempatkan membeli nasi kotak untuk makan malamnya, ia mulai memasuki kamar kostnya dan meletakkan tas juga makanan yang tadi ia beli. Azizah bergegas ke toilet untuk membersihkan badannya dan bertukar pakaian. Ia sudah memasuki kamar kostnya dan merebahkan tubuh lelahnya keatas tempat tidur sambil mengaktifkan ponsel pintarnya yang sengaja ia matikan ketika bekerja.
**Cling**...
Nada pesan masuk pada ponselnya. Azizah langsung membuka chat dari Gery.
**Gery**
\[ *Besok ultah Satria. Mau beli kado apa*? \]
^^^**Azizah**^^^
^^^\[ *besok aku pulang*.\]^^^
Azizah langsung meletakkan ponselnya diatas nakas sebelah tempat tidurnya, kemudian ia bergegas untuk menyantap makan malam yang tadi ia beli, setelah itu ia langsung bersiap untuk menjemput mimpi indahnya dalam keheningan malam.
Sabtu, 20 Februari.
Hari ini Azizah memang sedang mendapat off dari tempat kerjanya, ia sengaja menukar hari off nya dengan rekan kerja yang lain untuk menengok Satria dihari ulang tahunnya.
Pagi yang menyapa dengan sinar mentari hangatnya, membuat para penduduk bumi merasakan hangatnya cahaya dari sang mentari pagi yang terpancar menerpa siapapun tanpa pandang bulu.
Azizah sudah bersiap untuk pulang kerumah Gery, kali ini tanpa dijemput oleh Gibran, karena ia khawatir Gery akan kalap lagi dan kembali berkelahi dengan Gibran, ia pun sengaja tak memberitahu tempat kostnya karena pasti Gery akan selalu mendatanginya jika ia mengetahuinya.
Taksi online yang dipesanpun sudah siap mengantarkan Azizah ke tempat tujuan yang membutuhkan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat.
Sesampainya Azizah didepan pagar rumahnya, ia melihat pintu pagar yang tak terkunci sehingga ia tak perlu memanggil penghuni yang ada didalam rumah untuk membuka kunci pagar yang tak lain adalah Gery, suaminya yang tampan itu, Gery yang sedang duduk diteras rumah langsung menghampiri Azizah yang mulai memasuki pagar rumahnya.
" Za..."
Gery dengan suaranya yang lirih segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Azizah yang baru saja menapakkan kakinya diteras rumah.
Azizah langsung duduk dikursi rotan teras rumah yang memang hanya ada dua kursi yang dipisahkan oleh sebuah meja kecil yang terbuat dari rotan juga, disusul oleh Gery yang duduk disebelahnya.