" Aku selalu mencintaimu.. Tidak ada rasa ini berkurang sedikit pun untukmu.. Selena ku. " Arjuna.
" Mencintai mu tidak harus memiliki ragamu.. hati ini selalu terisi penuh dengan nama mu, Arjuna ku. " Selena.
" Apa Daddy tidak mencintai mommy ku lagi? Daddy sudah melupakan mommy ku? Selena mu? Jadi benar, aku di lahirkan ke dunia karena suatu kesalahan? lalu kenapa Daddy mempunyai anak lainnya? aku membenci mu dad! sangat membenci mu! sebelum aku mencintaimu! " Renard.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum sadarkan diri
Pagi menjelang siang, kantor tempat Surya dinas kedatangan tamu penting. Surya menyambut kedatangan tamu kehormatan nya yang datang tiba-tiba tanpa di undang, tetapi sangat di segani.
" Siang tuan Mario. " Surya menjulurkan tangannya untuk menyapa kedatangan Mario. Mario tersenyum tipis, tidak berminat untuk menyambut uluran tangan dari Surya. Tidak mendapat sambutan, Surya segera menurunkan tangan nya dengan perasan malu, karena di abaikan orang Mario.
Kedua tangan Mario di letakan di saku celana kanan dan kirinya, berjalan menuju kaca jendela. " Tidak perlu basa-basi, aku datang ke sini hanya untuk memperingatkan mu! " ucapnya begitu dingin.
Kening Surya berkerut mendengar suara Mario yang tidak bersahabat, biasanya pria itu akan sangat ramah jika bertemu dengannya, tetapi kenapa sekarang ia berbeda? ada apa sebenarnya?
" Mari kita bicarakan dengan duduk santai. " Surya mengajak Mario untuk duduk di sofa terlebih dahulu. " Obrolan kita pasti akan berlangsung panjang, silahkan duduk tuan. " ucapnya.
" Kau tau? pria remaja yang kau aniaya semalam? " tanya Mario tanpa menghiraukan ajakan dari Surya.
Surya semakin tersentak, terkejut, kenapa Mario bisa mengetahui perbuatan nya semalam? menghajar habis pria remaja yang berani mengusik putrinya.
" Kenapa tuan bisa tahu? " Surya bertanya. " Itu hanya tikus kecil yang memang harus di bantai. " ucap Surya.
" Tikus kecil? " Mario berbalik, menatap tajam Surya yang berani mengatai putranya. " Harus di bantai? " Mario semakin maju mendekat pria paruh baya itu.
" Iya, dia hanya remaja gelandangan yang memanfaatkan putriku! " Surya pikir, Arjuna mendekati putrinya hanya untuk memanfaatkan kepolosan Selena dan kekayaannya. Arjuna di anggap Surya hanya siswa yang beruntung mendapatkan beasiswa sehingga bisa masuk ke sekolahan elit. Karena penampilan Arjuna yang begitu buruk di matanya.
" Tikus kecil yang kau bantai itu adalah putra ku! kau sudah berani bermain-main dengan ku! " seru Mario dengan nada tegas, meski amarah menyelimutinya, Mario berusaha untuk tenang.
Surya terkejut bukan main, " putra Mario? Maksudnya dia adalah putra anda? " tanyanya bergetar.
" Iya! dan sekarang tengah berbaring di rumah sakit! itu semua karena ulah mu! "
Surya lemas seketika. Ratusan Milyar melayang sudah. Mario adalah salah satu pengusaha di bidang elektronik terbesar di Indonesia, bahkan sebentar lagi akan menduduki perusahaan elektronik terbesar nomor satu se-Asia. Mario mencabut semua fasilitas elektronik canggih yang di donasikan secara percuma di beberapa sekolahan milik Surya, kecuali sekolah milik pemerintahan. Bukan itu saja, Mario membatalkan kerjasama yang beberapa bulan lagi akan di resmikan dengan menandatangani sebuah kontrak.
Mario tetap dalam keputusannya, meski Surya memohon agar mempertimbangkan keputusan yang sangat merugikan nya. Tidak lupa Surya juga meminta maaf atas perlakuannya terhadap Arjuna. Jika Surya tahu, remaja itu adalah putra dari tuan Mario, Surya akan berfikir seribu kali untuk mengusiknya.
Mario pun mengancam, jika Surya mengusik kembali keluarga, Mario berjanji akan memberikan pelajaran lebih dari ini.
***
" Bu, tolong cari tahu keadaan Arjuna sekarang? " pinta Selena. Masih terekam jelas di ingatannya, Arjuna di pukul habis-habisan oleh ajudan ayahnya. Selena mengkhawatirkan keadaan Arjuna saat ini, yang sudah pasti tidak akan baik-baik saja.
" Lupakan dia! " seru Wulan.
" Tapi bu, Selena sangat mencintai nya. "
" Kalau kau benar-benar mencintainya, menjauhlah darinya. Hanya dengan itu dia bisa selamat dari ayah mu. " Wulan merasa kasihan melihat putrinya yang murung semenjak kejadian itu. Sebenarnya tidak tega dan ingin membebaskan putrinya untuk memilih pasangan hidup. Tapi ia tidak bisa merubah keputusan yang sejak awal memang sudah mutlak, tidak dapat di hindari.
" Bu.. " lirih Selena yang meletakkan kepalanya dipangkuan Wulan. " Apa aku salah mencintai nya? kami saling mencintai bu. "
Wulan mengelus kepala putrinya dengan sayang. " Ayah mu memang benar, pria itu tidak cocok bersanding dengan mu. Tolong mengertilah.. ibu juga berharap agar kau mendapatkan pria yang memiliki masadepan yang baik. " ujar Wulan menasihati.
" Selena, menurut lah.. cinta tidak harus memiliki. Biarkan abadi di hati mu. " Ucap Wulan. " Lagi pula, perlahan cinta itu akan pudar seiring berjalannya waktu. Kau akan mencintai Nathan jika kalian sering bersama. Belajar lah mencintai Nathan. Karena hanya dia calon suami mu kelak. "
" Tapi.. "
" Stop Selena, jangan bahas hal ini lagi. " Selena pun terdiam.
" Lebih baik kau cepat makan. Badan mu sudah terlihat sangat kurus. Besok malam kau akan bertemu dengan Nathan dan keluarga nya. " Wulan.
" Aku tidak mau bu. " Selena.
" Ini perintah ayah mu. Jadi ibu mohon, jangan membantahnya. "
***
Di rumah sakit, sudah hampir dua hari Arjuna masih tak sadarkan diri. Berbagai alat medis melekat di tubuhnya. Arjuna mengalami patah tulang di bagian tulang rusuknya, mungkin karena tendangan para ajudan yang begitu kuat. Kepalanya pun mengalami cidera ringan.
Milly setia menemani putranya di rumah sakit. Air matanya tak henti keluar melihat kondisi putranya.
" Aunty... lebih baik Aunty makan siang dulu. Biar aku yang menemani Arjuna. " Cintya yang mendengar kabar tentang Arjuna segera datang ke rumah sakit dimana Arjuna di rawat. Cintya pernah satu kali bertemu dan berkenalan dengan Milly. Milly dan ibu dari Cintya berteman, satu grup sosialita arisan mereka.
" Iya mom, ayo Iko temani. Biar kak Cintya yang menjaga kak Arjuna. " Saciko.
" Mommy tidak lapar sayang. " Milly enggan beranjak dari duduknya.
" Tapi Iko lapar mom. Sangat lapar. " Saciko sengaja mengatakan jika ia sangat kelaparan, agar mommy nya mau menemaninya.
Milly menghela. " Yasudah, mommy temani kau makan. "
" Thanks mom. "
" Cintya.. tolong jaga Arjuna sebentar ya. Aunty temani Saciko dulu. " ucap Milly pada Cintya.
" Iya Aunty.. tenang saja, aku akan menjaga Arjuna. "
Milly tersenyum. Saciko dengan cepat menggandeng lengan mommynya, pergi dari ruangan Arjuna di rawat. Saciko tidak tega melihat Milly yang tidak mau makan sama sekali sejak kemarin, fokusnya hanya duduk di dekat Arjuna. Menanti kedua mata putranya terbuka.
" Arjuna.. bangunlah.. aku mohon. " Cintya.
Bersambung...
Nggak tau aja Arjuna anak siapa, holang kaya tau nggak