NovelToon NovelToon
Queen Is [Cruel] To King [Cold]

Queen Is [Cruel] To King [Cold]

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Balas Dendam / Reinkarnasi / Chicklit
Popularitas:97.7k
Nilai: 5
Nama Author: Penulis Lepas

Kisah yang banyak mengandung misteri dan kekerasan, berusaha mempertahankan milik dan merebut milik yang lain.

"Aku memang terlatih menjadi senjata, jadi tidak salah bukan jika aku kejam dan beringas. Dulunya aku adalah seorang Wakil Pemimpin anggota mafia, tapi sekarang ... aku adalah Ratu kejam untuk Raja Dingin." ~ Freya.

"Dia memang kejam, keras kepala namun cerdas. Semua sikapnya membuatku semakin tertarik padanya, dia Lebah Kecilku, dia Ratuku." ~ Sean.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Lepas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Pekerjaan Yang Cocok

Aku menopang wajahku tatkala aku menatap enam bocah yang telah siap menunggu perintah dariku, tidak hanya bocah itu tapi juga beberapa pelayan dan prajurit yang memang ku minta untuk ikut membantuku hari ini.

"Hanya segini?" tanyaku pelan tanpa mengalihkan pandanganku dari para orang yang rela bekerja hari ini untukku, tidak terlalu banyak tapi aku merasa sedikit lega meski aku sendiri juga merasa aneh seorang penjahat sepertiku masih ada pelayan dan prajurit yang mau bekerja suka rela untukku. Tidak, aku tidak akan membuat apa yang mereka lakukan untukku menjadi sia-sia, mereka juga akan merasakan apa hasil dari bantuan mereka.

"Maaf, Nona, saya hanya bisa menemukan sebanyak ini untuk Nona, selebihnya mereka tidak mau bekerja suka rela untuk anda," jawab Elis lemah, tampaknya dia juga merasa bersalah karena hanya mampu mengumpulkan 3 prajurit serta dan 4 pelayan yang kemarin membantuku membuat kue, selebihnya pelayan kerajaan ini benar-benar kacang lupa kulit.

Aku mengibaskan tangan kepada Elis, "Tidak apa-apa, mereka saja sudah cukup baik. Dan untuk mereka yang tidak mau, biarkan mereka merasakan penyesalan," balasku menimpali ucapan Elis.

Ya, biarkan mereka merasakan penyesalan, itu adalah balasan bagus untuk orang-orang seperti mereka yang tidak ingin membantuku meningkatkan kemajuan kerajaan Felix dalam dunia perdagangan.

"Baiklah, tidak perlu basa-basi lagi, aku akan membagi tugas kalian." Aku tidak ingin berlama-lama dengan basa-basi yang hanya akan membuang waktu berhargaku hari ini. Kalian harus tahu, hari ini adalah hari yang tidak boleh aku lengahi sedikit pun.

Aku beranjak berdiri dari kursi yang ku duduki, Elis dan Caroline juga bersiap menerima perintah dariku. Sedangkan untuk Kepala Alison, aku meliburkannya beberapa jam, karena aku memiliki tugas yang lebih penting dari ini untuknya.

"Caroline, karena kau pelayan yang cukup mahir terlatih aku rasa kau akan cukup kuat membantu tiga prajurit ini mengangkat air laut dengan tong-tong kayu yang ada." Aku beralih menatap Caroline yang juga berpindah tempat berdiri bersampingan dengan para prajurit. Aku melihat tiga prajurit yang mau bekerja suka rela untukku tidak merespon apapun, ku pikir mereka akan merasa terhina sebab aku menjadikan Caroline sebagai pemimpin mereka dalam tugas yang aku berikan.

"Kumpulkan sebanyak yang kalian bisa, dan aku ingin air lautnya adalah air laut yang berkualitas, tidak tercemar kotoran sedikit pun," jelasku lagi kepada Caroline dan tiga prajurit.

"Baik, Nona!" jawaban serempak dari 4 orang yang ku bentuk dalam satu tim.

"Oh, ya ... kau, jika tidak salah ingat namamu adalah Aidyn bukan?" Aku bertanya pada Aidyn ingin memastikan bahwa apa yang aku katakan tidak salah.

"Benar, Nyonya! Namaku Aidyn," balas bocah itu tegas penuh semangat.

"Kau ikutlah bersama Caroline mengangkat tong air, tidak perlu banyak paling tidak sepuluh tong saja. Apa kau sanggup?" tanyaku padanya dengan seringai tipis menantang. Sedangkan yang lain terkejut mendengar ucapanku, mungkin mereka tidak menyangka aku akan memberikan perintah sebanyak itu kepada anak kecil.

Sejujurnya perintahku bukan sekadar perintah saja, ku lihat Aidyn memiliki potensi menjadi petarung dan aku ingin melatihnya menjadi pria kuat, dengan begitu dia tidak akan kesulitan menjaga teman-temannya di kemudian hari nanti. Selain itu, Aidyn juga bisa menjadi alat yang berguna di masa depan dengan kepatuhannya sekarang.

"Sanggup tidak sanggup sudah menjadi tugasku menyelesaikan perintah dari Nyonya," balas Aidyn tegas. Jawaban yang sungguh bertanggung jawab, jadi memang benar dia akan selalu patuh menjadi orangku seperti yang dia ucapkan.

Aku tersenyum tipis mendengar balasan Aidyn, kepatuhannya memang sangat bagus tapi kepatuhannya ini juga bisa mendatangkan nasib buruk kepadanya. Untunglah dia datang orang yang tepat.

"Bagus, sangat patuh, aku senang memiliki orang patuh sepertimu," pujiku yang sebenarnya termasuk sebuah penghinaan. Aku telah melihat kepatuhannya, sekarang aku ingin mengetes kesabarannya, jika dia benar-benar bisa melewati semua ujian yang aku berikan maka sudah pasti Aidyn pantas dilatih olehku.

"Terimakasih atas pujiannya, Nyonya."

Hah! Dia berterimakasih? Hem baiklah, kau lulus tahap awal Aidyn.

"Hem, baiklah." Aku melirik bocah laki-laki lainnya, berusia tidak jauh dari umur Aidyn, "Namamu?" tanyaku pada bocah itu.

"Clave." Ku dengar jawaban pelan darinya, tampaknya dia cukup pemalu mengenalkan dirinya sendiri.

"Ikutlah bersama Aidyn, lakukan pekerjaan yang sama," ucapku tegas padanya. Bocah bernama Clave sebenarnya juga cukup mendukung untuk dilatih, badannya tidak kurus tapi tidak juga sebugar Aidyn, tapi paling tidak aku yakin dia dapat diandalkan asal sering diasah. Bukankah ada pepatah mengatakan, pedang yang terus diasah akan menjadi tajam, begitulah dengan manusia, tanpa diasah meraka tidak akan bisa berkembang apalagi maju.

"Baik, Nyonya," jawabnya tanpa ada niatan menolak perintahku. Sikapnya tidak jauh berbeda dengan Aidyn, hanya saja dia lebih pendiam dan tidak sebersemangat Aidyn.

"Ya, kalian bisa pergi sekarang," ucapku pada Caroline dan lainnya setelah Aidyn dan Clave ikut berbaris di tim yang telah ku bentuk. Mereka semua pergi bersama tong-tong kayu setelah aku berbicara, tidak ada ucapan atau pertanyaan yang mereka ajukan.

Selepas tim pengambil air laut telah pergi, aku beralih kepada pekerja relawan yang tersisa. Aku telah menentukan bahan dapur seperti apa yang akan ku jual di pasar, untuk saat ini hanya garam dan gula, setelah dua bahan ini laris aku akan melanjutkan ke tahap berikutnya. Sengaja aku tidak mengeluarkan semua ideku juga untuk mengamankan posisiku, tidak baik mantan penjahat sepertiku tiba-tiba muncul di dunia perdagangan untuk kerajaan Felix. Lagi pula pekerjaan yang dilakukan tergesa-gesa jarang berakhir baik, begitulah istilah yang kudengar.

"Elis, aku menunjukmu sebagai pemimpin tim ke dua yang beranggotakan empat pelayan relawan dan dua bocah perempuan," jelasku pada mereka. Pandanganku beralih kepada bocah gadis paling kecil yang memiliki rambut merah.

"Dan untuk bocah paling kecil itu, dia akan tinggal bersamaku," jelasku lagi.

"Baik, Nona. Tugas apa yang akan anda berikan pada kami?" tanya Elis setelah para anggotanya berkumpul membentuk barisan.

"Kumpulan beberapa potong bambu, masing-masing panjangnya tiga puluh lima sentimeter, atau kalian bisa mengukurnya sepanjang dari siku hingga ujung jari tengah untuk tangan orang dewasa seperti Elis dan pelayan lainnya," jelasku pada mereka sembari aku memberi contoh panjang bambu yang kuinginkan dengan menggunakan siku milikku, "Dan jangan lupa buat masing-masing bambu seperti gelas, apa kalian paham?" Ku lihat mereka semua mengangguk, mengiyakan perkataanku, berarti mereka sudah mengerti dengan apa yang aku jelaskan. Penjelasanku cukup sederhana mana mungkin mereka tidak mengerti apa yang ku jelaskan.

"Cukup seratus gelas saja dulu, jika hasilnya sangat memuaskan kita bisa memperbesar industri ini. Sekarang kalian boleh pergi," jelasku lagi pada mereka.

Mereka semua mulai pergi, ku lihat dua bocah yang ikut bersama Elis memeluk bocah paling kecil yang tidak pergi bersama mereka, selepas memeluk bocah kecil itu ku dengar mereka berdua mengatakan beberapa kata peringatan untuk tidak membuat kekacauan selama mereka berdua pergi. Setelah itu, barulah dua bocah itu berjalan mengikuti Elis dan pelayan lainnya.

Hah!

Sekarang tinggal aku dan dua bocah yang belum mendapat tugas dariku. Aku sengaja menyisakan dua bocah ini, karena aku memiliki tugas lain untuk mereka.

"Kalian berdua ikutlah denganku," ujarku pada dua bocah itu lalu berbalik berjalan meninggalkan mereka. Namun baru beberapa langkah aku jalan meninggalkan mereka, ku rasakan sebuah tangan kecil menggenggam tanganku, sontak saja aku menengok ke kanan dan melihat bocah gadis kecil itu sedang memegang tanganku sambil tersenyum.

"Nyonya, apa aku boleh memegang tanganmu? Aku sudah biasa memegang tangan Kakak jika berjalan agar tidak tersesat saat berjalan, tapi karena Kakak pergi aku tidak memiliki tangan untuk dipegang."

Apa itu alasan masuk akal? Aku tidak paham tentang dunia anak kecil. Hampir seumur hidupku aku dikucilkan di pulau dan tidak sama mengenal lebih jauh dunia luar selain pengetahuan yang diberikan dari Tuan Geralt, lagi pula selama aku dilatih mana ada pelatihan mengasuh anak kecil.

"Ah, silakan asalkan kau tidak menangis. Aku tidak tahu cara mendiamkan anak kecil yang menangis," balasku padanya, tidak tahu juga apa bocah ini akan tersinggung karena ucapanku atau tidak.

Bocah itu melebarkan senyumannya, memperlihatkan deretan giginya yang ada beberapa bagian kosong. Jujur senyumannya ingin membuatku tertawa karena gigi-giginya.

"Aku tidak akan menangis, Kakak mengajarkanku untuk tidak menangis."

Arg, sial, jawabannya terlalu lugu dan polos, tapi aku juga tidak bisa menyalahkan anak kecil sepertinya.

"Ya, terserah kau saja," balasku jutek sambil aku kembali fokus berjalan.

***

"Kenapa hanya aku yang tinggal di sini? Kenapa aku tidak ikut bersama mereka?"

Ku dengar suara keluhan untuk ke sekian kalinya, bocah bernama Alden yang tinggal bersamaku terus mengeluh karena aku memberikannya tugas pekerjaan wanita, tentunya dia sebagai seorang pria tidak terima dengan tugas yang ku berikan.

"Kau lemah, jika kau ikut hanya akan memperlambat mereka, apa kau paham?" balasku menimpali perkataannya datar, aku sibuk memilih lembaran daun sirih yang akan kugunakan membuat air kapur. Di sampingku bocah gadis kecil bernama Cate membantuku memilih daun sirih, ku ingat beberapa menit yang lalu dia tanpa sungkan mengenalkan namanya meski aku tidak menanyakannya.

Benar-benar anak yang polos.

"Aku tidak lemah!"

"Ya, aku sudah mendengar ucapan itu untuk ke lima kalinya," balasku cepat. Memang benar, setiap kali aku mengatakan dirinya tidak akan sanggup ikut membantu Aidyn dan lainnya dia pasti akan membalas dengan perkataan itu. Dan balasan itu sudah ke lima kalinya aku mendengarnya.

"Aku tidak mau melakukan pekerjaan ini! Ini pekerjaan wanita." Alden membanting sendok kayu yang dia pegang, dia sudah bosan duduk menjaga api agar tidak mati.

"Lalu apa kau mau mencuci pakaian yang belum diselesaikan pelayan?" balasku datar tanpa mengalihkan pandanganku dari pekerjaanku.

"Tidak! Aku ingin pekerjaan yang berat, aku ingin terlihat sebagai pria!"

Berat? Dengan tubuh lemah seperti itu? Jika Aidyn tidak memberitahukanku bahwa kau memiliki penyakit asma mana mungkin aku membiarkanmu tinggal di sini. Aku pasti juga akan memberikanmu pekerjaan yang berat.

Aku beranjak berdiri lalu berjalan menuju Alden yang masih merajuk karena pekerjaan yang kuberikan padanya, "Baiklah kalau kau tidak mau melalukan pekerjaan ini aku akan memberikanmu pekerjaan lain," ujarku padanya dan seketika saja dia berbalik menatapku penuh binar.

Ehh?

Sebenarnya siapa yang majikan dan siapa yang bawahan? Kenapa aku merasa sedang dipermainkan bocah ini, padahal aku adalah atasannya. Untung saja dia hanyalah bocah, jika bukan aku tidak akan segan mematahkan kaki atau tangannya. Padahal semalam dia bersikap paling dewasa dari teman-temannya, tapi tampaknya karena pemikiran dewasanya itu yang membuat tidak terima akan pekerjaan yang ku berikan.

"Benarkah?" tanyanya padaku dan ku balas anggukan pelan padanya.

"Ya, ikut bersamaku ke kediamanku, aku akan memberikan pekerjaan yang cocok untukmu."

Aku tahu kau lebih cocok di bidang tulis menulis, cukup dilihat dari sikapmu yang cukup dewasa saat berpikir. Dan jika kau masih belum pandai menulis, siap-siaplah menerima pengajaran keras dariku, Alden.

1
37421🥀✨
srru buanget dahh 🥰🥰🥰🥰
smngat thor upnyaa
jngan lam² thor..ditnggu ya thor kelanjutannya😉
Icye Anun
Lama sudah tidak update. Karya ini mungkin tidak ada sambungan lagi. Sayang sekali...
Sri Aisyah
maju mundur cantik kata syahrini 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Naaa
mampir kuy "Menikahi Sang Vampire"
cumi
😔😔 nunggu up ,Thor tolong kasih kejelasan lanjut gak nya 😔
cumi
Thor ceritanya bagus up yg banyak ya 🤗
kutus_ herbal
ko ga lanjut thor up ya lm bgt???
Alberta_ra
cepet up kak
yeoja
lanjut thor.......spirit, let's update again
kutus_ herbal
thor ko blm up ya dah mau sebulan
Lira Nur
Aku lupa kapan terakhir kali novel ini update-_
yeoja
Thor kpn up nie?
cejaa_★
lanjut thor
totoro
wah si ivy mencurigakan
Nuraini Aini Aza
ditunggu kelanjutannya
amni
up banyak" yuh thor hhe
kutus_ herbal
up yg sering dong thor....
kutus_ herbal
thor kmn?? lm ga up😱😱😱
anca
meskipun mgkn hanya mimpi tapu ga seharusnya nyerah gtu aja utk mati tenggelam dlm mimpi,,,ga peka banget sama tanda
🦆 Wega kwek kwek 🦆
cewek yg bar bar aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!