Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Kak.... mengapa lama sekali kakak menghilang? Aku, papa dan mama mencari kakak. Pulanglah kak, aku mohon. Mari kita mulai semuanya dari awal, menjadi keluarga yang bahagia. Mengapa kakak baru menampakkan diri sekarang?".
"Mengirim kalian semua yang berani bermain-main denganku, pada malaikat kematian.
Membantai kalian semua satu persatu, dengan caraku"
~part sebelumnya~
Jelita berubah menjadi wanita iblis, hanya dalam waktu sekejap.
Kilat matanya menyala-nyala bak seekor predator liar yang siap memangsa.
Dalam sekejap, suasana sekitar Dewi serasa dingin dan mencekam. Aura yang melekat pada seorang Jelita, benar-benar mampu membuat nyali Dewi menciut seketika.
"Kak... kak kau?", Dewi terbata. Dirinya seolah tertekan di bawah kuasa iblis paling kejam penghuni neraka terdahsyat.
"Terkejut? Jangan khawatir, Aku tak akan membantaimu secepat itu. Aku ingin kau merasakan apa yang mamaku rasakan. Mungkin, kau di takdirkan menerima karma atas keegoisan mama dan papamu.", Ungkap Lita dengan nada tenang.
"Kami.... kami sudah meminta maaf padamu. Sebesar itukah kebencianmu padaku dan mama Sukma, kak?".
"Kau bertanya? Kau tidak tau rasanya menjadi Ambar Sayu, bukan? Baiklah......
Karna kau putri seorang simpanan papaku, maka kau juga harus merasakan penderitaan mamaku dua puluh tahun lamanya.
Kehilangan suami dan hidup menderita.
Akan ku tunjukkan padamu, bagaimana rasanya luka. Adil, bukan?".
Lanjut jelita, kemudian berlalu pergi meninggalkan Dewi seorang Dewi.
Jelita pergi menghampiri Radhi dan berpura-pura melewatinya. Saat tepat ia melangkah di depan Radhi, ia bertanya pelan.
'Kearah mana Chandra?'
'Di ujung lorong dekat toilet'
Kemudian Jelita berlalu pergi.
Jelita dan Radhi, suaminya......
Mereka bersandiwara layaknya orang asing yang tak saling mengenal hanya demi mencapai misi mereka. Semua haruslah sempurna mengingat bahwa musuh mereka saat ini adalah Yusman Nugraha dan Adi Prama.
Mereka bukan orang sembarangan.
Radhi tak boleh gagabah dalam bertindak apalagi menginstruksi istrinya.
Jika berhasil, mereka beruntung. Namun jika gagal, nyawa lah taruhannya. Chandra tak akan mengampuninya dan bisa membantainya dengan sangat kejam.
"Lita, kau disini?".
Suara Chandra tiba-tiba muncul mengejutkan Lita. Jelita sengaja berdiri di sudut ruangan yang menghubungkan antara lorong menuju toilet dan aula tempat berlangsungnya pesta.
Senyum tipis itu kembali ter-ulas di bibir merah menyala milik Jelita.
Chandra sangat tak tau diri karena sudah menginginkan Jelita kembali ke pelukannya.
"Ya...."
"Mari kesana!", Ajak Chandra yang berjalan menuju keberadaan istrinya. Jelita tersenyum mengangguk dan mengekor di belakang Chandra.
Hanya Radhi yang tau, sebesar apa tekad Lita dalam menghancurkan musuh-musuhnya. Hanya Radhi yang tau seringai Jelita yang nampak kejam.
Hingga mereka sampai di tempat keberadaan Dewi yang mematung. Wajahnya pucat pasi serta kaki dan tangannya bergetar hebat, seperti tengah mengalami tekanan hebat. Chandra pun khawatir.
"Sayang.... Kau baik-baik saja?".
Chandra menampakkan ke khawatirannya.
"A... aaaku.....", Bibir Dewi nampak bergetar. ia ingin menangis dan menumpahkan segala kegundahan hatinya. Namun itu tak mungkin. Ia tak mau mempermalukan dirinya di depan khalayak ramai. Terlebih lagi, saat ini ia menyandang status sebagai nyonya Chandra Adi Prama.
"Ada yang melukaimu?", Tanya Chandra lagi.
"Aa aku ingin pulang, mas Chandra".
"Kita baru sampai. Tunggu lah sebentar lagi".
Jawab Chandra menenangkan. Tangan kekarnya, merangkul istrinya penuh mesra mengalirkan serta berbagi kekuatan.
Dewi mengangguk pasrah tanpa berani menatap kakak tiri nya itu.
Ia khawatir dan benar-benar takut akan dendam seorang jelita, wanita yang ia rebut papa nya serta ia rebut kekasihnya Chandra.
Berbagai pikiran liarnya mulai bertebaran.
Dewi sudah terprovokasi oleh Jelita.
Bagaimana bila keluarganya dihancurkan?
Bagaimana bila Jelita melukai mamanya, Sukma?
Bagaimana bila Jelita mengambil kembali Chandra dari hidupnya?
Dewi sangat mencintai suaminya, Chandra. Bagaimana pun keadaannya, ia tak akan membiarkan Chandra pergi sedikitpun dari sisinya.
Namun apa daya, Dewi hanyalah istri yang jauh dari kata sempurna. Bahkan ia tak mampu melahirkan satu pun keturunan Adi Prama.
Dewi menyerah kalah.
Tak jauh dari mereka, Jelita tersenyum mengejek.
Bagaimana mungkin tikus kecil tak berdaya seperti Dewi mampu melawan singa betina yang begitu tangguh seperti jelita.
Jelita mencemooh dalam hati.
Hidup ini selalu begitu. Saat seseorang tertindas, maka akan ada hukum alam yang membalaskan deritanya. Bila bukan tuhan, maka tangannya sendirilah yang akan bekerja.
Tidak perduli ia harus melewati ribuan onak duri, ataupun berenang di lautan api, ia akan tetap melaluinya demi mencapai satu tujuan, yakni dendam.
Bila sudah demikian, maka siapa yang patut di salahkan?
Sungguh ironis, bukan?
Sejenak, Jelita menatap suaminya yang berdiri tak jauh darinya dengan hanya menyendiri. Jelita mengulas senyum kecilnya. Mengedipkan sebelah matanya ke arah suaminya.
Menggoda....
Jelita sengaja mnggoda suaminya untuk bermain panas di ranjangnya nanti. Menghabiskan malam panjang penuh gairah dan membayangkan mereka saling menyalurkan nafsu, mencapai kenikmatan surga dunia yang mampu menerbangkan mereka hingga mencapai kepuasan batin.
Setelahnya, Jelita tersenyum dalam hati.
Kelemahan lawannya, sudah ia ketahui. Tinggal melanjutkan rencana berikutnya.
'Aku adalah cerminan dari dirimu.
Saat kau memperlakukanku dengan baik, Maka aku akan lebih baik seribu kali dari mu.
Namun.....
bila kalian memperlakukanku dengan sangat buruk,
maka......
Aku adalah iblis bagimu.......'
Batin Jelita bermonolog.
******
Seorang wanita tengah menyendiri di sudut kamarnya.
Ia duduk di sebuah kursi tunggal di pojok.
Meresapi kekhawatiran dan rasa sakit seorang diri. Bahkan, untuk berbagi dengan keluarga dan suaminya, ia tak kuasa.
Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang di penuhi oleh jerawat-jerawat kecil.
Stress....
Mungkin itulah pemicunya.
"Mengirim kalian semua yang berani bermain-main denganku, pada malaikat kematian.
Membantai kalian semua satu persatu, dengan caraku"
Kalimat itu, kembali terngiang di telinganya. Menari-nari indah di otaknya. Terbang melayang-layang menyusuri sanubarinya.
Hatinya kacau.
Jiwanya terusik.
Batinnya tertekan.
Mengapa?
Mengapa seorang Dewi harus mengalami hal tragis ini seperti ini dalam hidupnya?
Dulu, Dewi berpikir, ia adalah wanita yang paling bahagia karna telah mendapatkan cintanya seutuhnya.
Namun, siapa sangka ia harus terjebak dalam Kerumitan yang demikian menekannya hingga ia berada di titik ini?
Dewi tak menginginkan hal ini.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?", Chandra muncul.
"Mas.... Arlan dan Ariana.... mereka apa kabar?", Tanya Dewi.
Beberapa waktu lalu, Chandra memang menghubunginya untuk mengunjungi Arlan dan Ariana yang Chandra titipkan di rumah orang tua Chandra.
Selain di sana aman, Rumah kediaman keluarga Adi Prama tidak mudah di tembus begitu saja karna memiliki sistem keamanan yang sangat tinggi.
"Mereka baik, sangat baik.
Mereka juga menitipkan salam padamu", Dewi tersenyum getir.
Pada dasarnya, mereka anak-anak baik karna terlahir dari wanita baik-baik seperti Jelita.
Namun, keadaan lah yang menekan Jelita hingga ia bersikap demikian.
"Mas, aku ingin bicara".
"Hm? Katakan saja".
"Ku mohon jauhi kak jelita. Dia memiliki niat buruk terhadap keluarga kita".
Hening.
Chandra mencerna apa yang di katakan istrinya sejenak.
Siapa sangka, dalam waktu sekejap, mimik wajahnya berubah.
"Hentikan omong kosongmu!
Kau hanya merasa iri pada jelita karna kau tak secantik dirinya."
"Mas......."
"Jangan berbicara lagi atau aku bisa melemparmu saat ini juga".
Chandra berlalu pergi.
Dirinya pergi mninggalkan istrinya yang mematung tak percaya atas apa yang baru ia katakan.
Jelita....
Pada akhirnya, sekali bidik.....
Anak panahnya melesak tepat sasaran.....
🍁🌺🍁