Raihan, mahasiswa yang sempurna harus berurusan dengan seorang gadis yang memiliki kasta jauh lebih rendah darinya namun berprinsip kuat.
Rena sudah terbiasa disakiti oleh Raihan yang tak lain adalah suaminya. Namun bukan berarti Ia menjadi lemah dan tenggelam dalam kesedihan terus menerus. Ia bisa bangkit dan menjalani kehidupan seperti biasanya.
Saat Rena sibuk dengan dirinya sendiri, Raihan mulai menyadari seberapa penting kehadiran Rena dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Addicted 27
"Apa yang kalian lakukan? tidak ada yang boleh bertindak seenaknya di sini! kalian sama-sama pekerja,"
"Mereka memang sering seperti itu, Nyonya." Carra semakin membakar suasana yang sudah panas hingga semakin panas. Della yang memang sudah ada rasa kesal dengan Rena, kini kesulitan mengendalikan dirinya.
"Nyonya, kami tidak bertindak seenaknya di sini. Tapi Carra dulu yang menghina ku. Dia mengatakan sesuatu yang tidak benar tentangku,"
Rena tak bisa diam saja. Della sudah ikut campur, artinya Ia pun harus turun tangan membela diri nya sendiri dan juga Nathalie. Tuduhan Carra bisa mengancam posisi mereka di kafe.
"Kamu memang jalang. Tidak ada yang salah dengan ucapanku," ujar Carra seraya menunjuk wajah Rena dengan lugas.
"Bekerja lah dengan profesional di sini. Tidak boleh ada pertengkaran apalagi bila disebabkan oleh masalah pribadi,"
"Kami tidak pernah ada masalah pribadi, Nyonya. Tapi sejak awal Rena bekerja di sini, Carra memang selalu mencari masalah dengan Rena. Aku hanya membela temanku karena dia benar, apa aku salah melakukan itu?"
******
Xander memiliki firasat tidak enak karena Istrinya tak kunjung kembali ke ruangannya. Della izin untuk keluar sebentar karena ingin minta dibuatkan espresso katanya. Tapi sampai saat ini belum kembali juga ke ruangannya.
Xander keluar untuk mencari istrinya yang sedang bicara bertiga dengan Carra, Nathalie, dan juga Rena. Dilihat dari raut wajah mereka, sepertinya ada ketegangan yang terjadi.
"Della, ada apa?"
"Di kafemu ini sering terjadi tindakan kurang baik dari pegawai terhadap pegawai lain. Kamu tidak pernah menegur dengan tegas?"
"Kalau ada masalah, bicarakan di ruanganku,"
Della mengangkat tangannya kemudian mengibas pelan seraya menjawab, "Tidak usah, aku sudah menegur mereka. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
Ketika 'mereka' disebut, tangan Della mengarah pada Rena dan juga Nathalie. Sementara Carra menunduk, menyembunyikan raut senangnya karena Ia dibela dan kedua musuhnya baru saja diberi peringatan dengan tegas.
"Silahkan kembali bekerja!" titah Xander pada ketiga pegawainya. Mereka mengangguk patuh kemudian undur diri. Xander menatap istrinya kemudian menunjuk ruangannya dengan menggunakan dagu, Ia menyuruh sang istri untuk kembali ke ruangannya.
******
"Carra benar-benar keterlaluan. Dia sudah menyebar fitnah. Nyonya Della sudah dibuat salah paham oleh dia,"
Nathalie sedang memotong satu buah lemon untuk diletakkan di bibir gelas berisi lemon tea milik salah satu pengunjung.
"Yang berbohong akan mendapat balasannya, Nath. Kamu tidak perlu khawatir,"
"Tapi aku benci sekali dengan dia. Keterlaluan, tidak punya hati. Apa salahmu hingga dia begitu membencimu? saat awal aku mengenal kamu, aku langsung senang berinteraksi dengan kamu karena kamu baik. Teman kita yang lain juga nyaman berteman denganmu. Kenapa dia sendiri yang membenci kamu? aneh!"
"Aku tidak pernah memikirkan orang yang membenciku. Biarkan saja mereka membenci, kita tetap berjalan maju ke depan. Kalau kita memikirkan mereka, langkah kita akan terhambat. Sudah, tidak usah bahas Carra lagi,"
Carra memasuki dapur minuman. Matanya berkilat tajam saat melihat Rena dan Nathalie yang berbincang seraya bekerja.
"Hey! cepat layani pengunjung! bukannya malah sibuk mengobrol," sentak Carra.
Nathalie memutar bola matanya setelah mendengar suara gadis itu lagi. Ia segera meletakkan minuman yang sudah dibuatnya ke atas nampan lalu di bawanya keluar.
Carra mendekati Rena lalu berdesis di telinga Rena dengan nada bicara yang mencemooh.
"Bagaimana rasanya ditegur oleh Nyonya Della? jangan macam-macam dengan aku! karena tidak ada satupun yang berpihak padamu,"
"Iya, Carra. Lakukan apapun yang membuatmu bahagia. Tapi jangan lupakan karma. Karma selalu mengiringi setiap hal yang kamu lakukan,"
Rena meninggalkan Carra yang terdiam sesaat. Carra mengepalkan kedua tangannya lalu mengarahkan kepalan itu ke arah Rena yang berjalan menjauh.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu. Karma? huh, aku tidak peduli."
*******
Sejak Rena tak lagi tinggal bersamanya, Christ kerap sekali menyindir Raihan dengan sarkas hingga anaknya semakin tidak nyaman berada di rumah.
Seperti saat belum menikah, lelaki itu sering tidak pulang, menghabiskan waktu di kelab hingga pagi menjemput. Setelah itu barulah pulang ke apartemennya.
Saat ini Raihan dan ketiga sahabatnya sedang menghabiskan malam di kelab milik Raihan. Kesadaran mereka benar-benar telah terkuras hingga hampir habis karena minuman yang mereka teguk sejak dua jam lalu.
"Rai, yang aku tahu kamu sudah menikah. Kenapa masih sering mencari kesenangan di luar? Istrimu tidak bisa membahagiakan kamu?" Tanya salah satu perempuan di dekat Raihan.
"Dia tidak bisa diandalkan dalam segala hal,"
"Tinggalkan saja!"
Raihan terkekeh dengan mata yang tidak lagi terbuka sempurna. Ia mabuk parah saat ini. Namun masih bisa menyahuti ucapan orang. Meskipun dengan susah payah Ia memahaminya.
"Dia sudah meninggalkan aku,"
Ketiga sahabatnya masih bisa mencerna ucapan Raihan. Mabuk membuat Raihan lebih terbuka tanpa sadar. Lelaki itu tidak pernah bercerita apapun mengenai kepergian Rena. Dan sekarang, karena minuman memabukkan, Raihan buka suara.
"Lalu kamu sedih?" tanya perempuan lainnya. Raihan menggeleng tegas dengan tawanya yang menggema. Tawa itu sudah menjadi jawaban. Sedih? mustahil! siapa Rena hingga bisa membuatnya sedih? gadis itu pergi dari hidupnya membuat Ia sangat bahagia.
*****
Rena dan Nathalie baru menyelesaikan pekerjaannya. Pukul sepuluh malam mereka baru pulang. Malam ini mereka pulang bersama. Rena tidak lagi membawa sepeda motornya karena semalam Nathalie mengatakan bahwa mulai hari ini Nathalie tidak menggunakan sepeda motornya lagi untuk bekerja sebab harus dijual demi kepentingan sekolah adiknya.
Akhirnya Rena berinisiatif untuk tidak menggunakan motor buruk rupa nya lagi. Bila Ia sedang memiliki shift kerja yang sama dengan Nathalie, maka mereka akan pulang bersama menggunakan angkutan umum. Dan ternyata naik angkutan umum lebih nyaman. Sepertinya Ia akan terus menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi.
Setelah turun dari kereta dan bus, mereka kembali menelusuri jalanan malam ini. Nathalie mengerinyit bingung karena seharusnya di persimpangan jalan yang saat ini mereka lalui, Rena belok ke arah kanan karena seingat Nathalie, rumah Raihan berbeda dengan arah rumahnya dan Rena. Tapi saat ini, Rena masih berjalan bersamanya, tidak berpisah.
"Kenapa kamu tidak ke arah sana? arah ini menuju rumah aku dan kamu," tanya Nathalie pada Rena yang merasa aneh. Jelas saja, karena Rena tidak pulang ke rumah suaminya.
"Aku sudah tinggal di rumahku lagi,"
"HAH?! MAKSUDMU AP---HMMMM,"
Rena menutup mulut Nathalie yang baru saja berseru kaget. Mata Nathalie membulat sempurna. Rena melepaskan tangannya dari mulut Nathalie setelah sahabatnya itu menepuk punggung tangannya, meminta Rena agar tidak lagi membungkam mulutnya.
"Jangan berisik! ini sudah malam, Nath."
"Kenapa kamu tidak tinggal lagi dengan Tuan Raihan?"
"Kami berpisah,"
"ASTAGA! KAMU SER---HMMM,"
"Nath, aku tidak akan membuka mulutmu kalau kamu masih berisik,"
Nathalie mengangguk, Ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi nanti. Setelah itu, barulah Rena membuka mulut Nathalie. Sahabatnya itu menghirup oksigen banyak-banyak.
"Sudah berpisah secara resmi? kapan? kenapa kamu tidak cerita padaku?" Nathalie yang memiliki rasa penasaran tinggi langsung mencerca Rena.
"Dia meminta aku untuk meninggalkan hidupnya. Ya sudah, aku penuhi permintaannya itu,"
Diiringi dengan perbincangan, tidak terasa sudah separuh jalan menuju rumah masing-masing. Rumah Rena dan Nathalie hanya berbeda blok saja. Itulah sebabnya mereka sudah dekat sejak hari pertama Rena bekerja di kafe karena beberapa kali mereka bertemu namun hanya menyapa lewat senyuman. Nathalie senang sekali ketika Rena juga bekerja di kafe yang sama dengannya.
"Aku tidak menyangka pernikahan kalian akan seberat ini ketika dijalani sampai kalian memutuskan untuk berpisah tempat tinggal,"
"Sebentar lagi bukan hanya tempat tinggal yang pisah. Aku yakin, tidak lama lagi Raihan akan melayangkan gugatan perceraian,"
BRUMMM
BRUMMM
BRUMMM
Cittt
"Argghh,"
------
Gantung? sengaja😜 Like, vote, dan komen dulu yg BUAANYYAKKK (maksa)😂
Up kapan? seminggu lg ya?
Up
Semangat
Semangat
Denrio ga seperti rayhan yg sudah bisa cari uang sendiri
Semangat
Semangat