Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.
Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.
Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Mama
Setelah kemarin berbicara panjang lebar dengan Oma. Pagi ini Dara mendapati Oma yang akan pulang. Sempat protes tapi Oma memang harus pulang. Rencananya seminggu akan menginap dibatalkan karena sesuatu yang mendesak dan memerlukan bantuan Oma.
"Ibu baik-baik di sana nanti Rani sempetin datang," ucap Mama saat mengantar Oma ke mobil. Dara dan Raffa juga turut mengantar Oma.
"Gak usah janji kalau ujungnya ingkar," ucap Oma. Mama memutar bola mata malas.
"Oma hati-hati di jalan. Maaf Raffa gak bisa antar Oma pulang." Oma tersenyum menyentuh pipi Raffa dan Dara secara bersamaan, kemudian menautkan tangan mereka. Dara dan Raffa sempat saling pandang beberapa detik, kemudian kembali menatap Oma.
"Kalian yang akur, harus saling menjaga satu sama lain. Kalau ada masalah di selesaikan dengan kepala dingin."
"Iya, Oma." Dara menjawab.
"Ya sudah Oma pamit. Kamu Raffa jangan sakiti Dara, ingat kamu juga lahir dari rahim wanita," Melirik sekilas pada Mama yang hanya diam tanpa minat.
Raffa mengangguk sebagai jawaban. Oma melepas tangannya dari tautan tangan Dara dan Raffa, lalu masuk ke mobil.
Tiin
Klakson mobil membawa Oma pergi. Dara masih termenung memikirkan perkataan Oma kemarin dan barusan. Menghembuskan nafas lelah Dara berbalik dan cukup terkejut ketika Mama menatap Dara dengan tajam.
"Tuh lihat halaman kotor cepat di sapu," perintah Mama sebelum meninggalkan Dara. Raffa hanya melihat tanpa mau berkomentar. Pria itu memasuki mobil, menyalakannya, kemudian pergi.
Dara mengambil sapu halaman, lalu menyapu dedaunan kering yang berserakan. Tukang kebun yang tidak sengaja melihat Dara menyapu segera menghampirinya.
"Ya ampun non ini tugas saya."
"Tidak apa hanya sedikit."
Tukang kebun ragu tapi mengangguk, pergi membersihkan yang lain. Karena memang daun yang berserakan tidak terlalu banyak makan hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk membersihkannya. Dara mendongak melihat matahari yang belum terlalu tinggi.
"Oma sudah pulang, lebih baik Dara berangkat bekerja. Fera pasti sudah sangat penasaran, haruskah Dara menjelaskan semua pada Fera? Entahlah sangat bingung bagaimana jika Fera marah. Salah Dara juga seharusnya dari awal Dara jujur, tapi ya sudahlah risiko."
Dara masuk setelah meletakkan sapu. Mama menyeringai melihat Dara. Ada berbagai akal yang direncanakan Mama agar membuat Dara jera.
"Mau ke mana kamu." Dara berhenti menghadap Mama.
"Dara mau berangkat bekerja, Ma."
"Bersih-bersih rumah dulu, baru boleh pergi. Kamu kira rumah saya penampungan," decak Mama.
Dara menatap sekeliling. Terlihat bersih dan rapi, lantas apa yang harus dibersihkan. Mama berniat mengerjai Dara atau bagaimana.
"Semua sudah bersih, Ma."
"Kamu gak liat tuh debu masih ada. Bersihkan sampai gak ada debu sekecil apapun." Dara melirik pada jam dinding yang belum menunjukkan 9 pagi masih ada waktu untuk Dara membersihkan. Restoran buka jam 10 jadi Dara mengantisipasi waktu satu jam untuk perjalanan dari rumah ke restoran.
Dara mengambil peralatan pembersihan dan mulai membersihkan tempat yang sekiranya memang berdebu, tapi semua clear bahkan debu secuil pun tidak ada. Mama memang ingin mengerjai Dara.
"Dara!" teriak Mama menggelegar. Dara berjalan cepat menghampiri Mama yang berada di belakang.
"Ada apa, Ma."
"Tuh." Tunjuk Mama pada sekeranjang pakaian kotor.
"Kamu cuci sampai bersih, pakai tangan jangan mesin cuci, tagihan listrik naik," ujar Mama.
"Biar saya saja, Nya. Itu tugas saya." Mbok Sumi datang melarang Dara yang akan mengambil sekeranjang pakaian.
"Mbok bisa membersihkan kamar saya. Biar Dara yang mencuci supaya dia tahu hidup ini tidak ada yang mudah," ucap Mama meninggalkan mereka yang termenung diam. Dara hanya mengulas senyum ketika Mbok Sumi menatapnya sedih.
"Tak apa, Mbok. Tenang saja Dara sudah biasa kok seperti ini," ucap Dara.
"Hidup memang tidak mudah dan aku sudah menjalaninya, aku sudah berteman dengan kesulitan hidup ini dari kecil," batinnya.
Mbok Sumi mengelus rambut Dara kemudian pergi melaksanakan perkataan Mama. Dara merendam pakaian kemudian mencucinya satu persatu. Di sana memang ada mesin cuci, tapi selain Mama melarang Dara juga tidak bisa menggunakannya. Di rumah Ayah dan Ibu dia terbiasa mencuci secara manual. Hasilnya pun lebih bersih maka dari itu Dara tidak pernah belajar menggunakan mesin cuci.
Dara duduk pada bangku kecil, tangannya sibuk menyikat dan membilas pakaian. Setelah semua telah bersih dan wangi. Dara mengedarkan pandangan siapa tahu ada seseorang yang bisa membantu Dara mengangkat cucian untuk dibawa ke belakang, tapi tidak ada yang bisa Dara mintai tolong. Terpaksa Dara bolak balik membawa pakaian dalam jumlah sedikit. Dara sangat berhati-hati takut terpeleset karena lantai yang basah.
Dara menjemur pakaian di halaman belakang. Keringat membasahi dahi gadis itu karena matahari yang mulai naik. Tak jarang juga baju yang dikenakan Dara basah saat memeras pakaian. Semua di hiraukan olehnya yang penting Dara bisa menyelesaikan semua sebelum jam 9. Setelah meletakkan ember pada tempatnya. Dara pergi ke kamar mengganti pakaian, setelahnya turun mencari keberadaan Mama. Dia harus meminta izin.
Dara menemukan Mama yang duduk di kursi goyang dengan tangan yang sibuk membuat sulaman.
"Ma."
"Aww," jerit Mama. Dara mendekat menarik tangan Mama menghisap darah yang keluar dari jari yang terkena tusukan jarum.
"Minggir! Kamu sengaja kan mencelakai saya," tuduh Mama yang dibalas gelengan oleh Dara.
"Dara enggak sengaja bikin Mama celaka. Dara minta maaf," sesal Dara.
"Sudah sana pergi. Saya bisa celaka lagi kalau dekat kamu," ketus Mama melanjutkan kegiatannya.
"Dara pamit, Ma," ucap Dara.
Melangkah keluar rumah melirik pada jam yang menunjukkan tepat pukul 9. Dara jalan kaki menuju halte bus karena ia sempat melihat ada halte bus. Tak apalah menggunakan bus yang penting Dara bisa sampai pada tujuan. Sampai di halte Dara melihat banyak orang yang sedang menunggu. Ada niat untuk menggunakan ojek saja, tapi tidak ada pangkalan ojek di sana, memesan melalui ponsel para driver memiliki penumpang. Dara pasrah menggunakan bus.
Ketika bus datang semua orang berdesakan memasuki bus. Dara memilih menaiki bus paling belakang agar terhindar dari dorong mendorong, tapi ternyata Dara salah strategi ia tidak kebagian tempat duduk, terpaksa Dara berdiri berpegangan pada tiang agar tidak terjerembab saat bus mengerem mendadak.
Suasana panas, pengap, sesak, dan terjempit membuat Dara tidak bisa berkutik, apalagi ada salah satu penumpang yang membawa ikan. Bau amis yang sangat menyengat serta hawa panas membuat Dara mual. Dia ingin cepat turun, Dara berusaha menahan rasa mual dengan mengambil minyak kayu putih yang selalu ia bawa kemana-mana sejak hamil.
***
Happy reading
Huum jangan terlalu nyesek ahh. Kasian kalian, kita pemanasan dulu ya sebelum menyambut hal tidak terduga wkwk.
Salam sayang dari aku.
heheh
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius