Sandra berjalan cepat ke arah IGD yang sudah tampak ramai, pemandangan wajah cemas dan juga tangis haru sudah menjadi gambaran di IGD kota kecil itu.
Di balik sikap profesionalnya, nyatanya Sandra menyimpan lukanya sendiri yang bahkan bertahun-tahun tak bisa dia sembuhkan.
Hingga akhirnya seseorang yang tak sengaja dia temui malah merubah seluruh dunia yang sudah membuatnya nyaman, memaksanya untuk kembali percaya akan cinta, tapi sayangnya jurang perbedaan mereka besar dan masa lalu yang mulai kembali menghantui Sandra.
Bisakah Sandra mengeluarkan diri dari traumannya dan menerima pria yang bahkan tak pernah dia bayangkan akan hadir dalam hidupnya? ataukah dia tetap tak bisa melupakan masa lalunya dan kembali menerimanya?
Pernyataan: Novel ini ditulis tidak untuk menyudutkan atau menjelekkan seseorang, kalangan tertentu, atau pun profesi tertentu, semua yang ditulis hanya untuk pengetahuan dan hiburan semata, cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.
"Ya udah, bilang ibu, kakak sekarang balik bi, kalo makin sesak langsung bawa ke rumah sakit aja, nanti saya nyusul ke sana, janji deh pulang," kata Sandra lagi.
"Iya Kak, cepat ya, ibunya sesak banget," ujar Bi Masri, Sandra memasang wajah cemasnya, mendengar suara Mengi yang nyata.
"Iya, ya udah aku tutup dulu," ujar Sandra.
Sandra memutar kepalanya, dia segera menelepon Yosefa yang memang menggantikan dirinya, untung saja Yosefa memang sudah datang ke Rumah sakit ini dan sudah menunggu di kadok.
Sandra berpikir kembali, jika dia harus naik kendaraan umum, akan memakan waktu lebih lama dari pada naik kendaraan pribadi, tapi dia tak punya mobil, sebenarnya dia punya, tapi dia tak membawa ke sini dan ditinggalkannya di rumahnya di kota.
"Halo, Josh? Lu bisa bantu gua gak?" Tanya Sandra berjalan ke arah kadoknya, ingin siap-siap untuk pergi dari sana, dia hanya melemparkan senyum pada Yosefa dan segera keluar.
"Bantu apa dulu nih?" Kata Joshua lagi.
"Ibu kena serangan asma lagi tapi dia ga mau ke rumah sakit, dia mau gua pulang dulu baru ke rumah sakit, obatnya ga tahu disembunyiin dimana sama dia, gua harus pulang, anterin ya," ujar Joshua.
"Yah! Telat San, mobil Gua lagi di bengkel, ini gua masih di bengkel, lu denger suaranya kan," kata Joshua, Sandra mendengarkan suara besi yang sedikit berisik jadi mau tak mau dia percaya.
"Aduh, sama siapa ya gua pinjem mobil? Ga mungkin Yosefa, Larra juga lagi di kota kan?" Kata Sandra.
"Ya, Devan aja gimana? Dia punya mobil kan?" Kata Joshua lagi.
"He? Gua udah ga berhubungan Ama dia masa tiba-tiba minta tolong buat anterin gua," kata Sandra lagi, tadi dia memang sempat berpikir sekilas tentang pria itu, tapi segera ditepisnya, dia dan Devan sudah tak punya hubungan apa-apa.
"Jadi? Mau naik umum? Yakin? Lama loh, lu harus nunggu dulu," kata Joshua.
"Iya sih, tapi ya mau gimana lagi, ya udah gua pergi dulu," kata Sandra.
"Hah, ya udah hati-hati, ego lu turunin Napa?" Kata Joshua lagi.
"Apaan sih? Ya udah gua mau balik rumah dulu, berkemas-kemas, bye!" Kata Sandra menutup panggilan teleponnya dan segera pergi menuju rumahnya yang memang tak begitu jauh dari rumah sakit.
Sandra segera mengemasi beberapa baju dan juga keperluannya yang sebenarnya tak banyak. Saat dia baru saja memasukkan bajunya, ponselnya berdering dan mata Sandra kaget melihat nama yang ada di sana.
Sandra mengerutkan dahinya, dia menggigit bibirnya, ponselnya sudah beberapa kali berdering barulah dia mengangkatnya.
"Halo?" Kata Sandra pelan dan ragu.
"Joshua bilang kamu butuh bantuan?" Kata Devan lagi, Sandra memasang wajah masamnya, ah, kenapa juga dia tak melarang Joshua mengatakan pada Devan.
"Eh, iya, tapi udah kok, aku bakalan naik umum aja," kata Sandra yang merasa tak nyaman.
"Tunggu saja, bersiap ya, aku sudah di jalan," kata Joshua tegas namun tetap lembut.
"Eh, tidak perlu, benar ini aku naik umum saja," kata Sandra lagi.
"Aku sudah di jalan, tunggu saja, tak lama, aku putuskan dulu ya," kata Devan yang segera menutup ponselnya. Sandra terbengong sejenak, melihat ponselnya dengan bingung, kenapa tiba-tiba dia datang begitu saja. Ah! Joshua!
Sandra segera menelepon Joshua, baru beberapa kali nada sambung, panggilannya diangkat.
"Halo?" Suara tenang Joshua terdengar.
"Josh! Lu kenapa bilang ke Devan gua butuh tumpangan," kata Sandra langsung ngegas.
"Sabar-sabar, jangan marah dulu, gua jelasin ya," kata Joshua. Sandra hanya mendengus sebagai jawabannya, Joshua menarik napasnya sebelum menjelaskannya.
"Jadi, gini nih! Sebenarnya selama ini Devan tuh tetep nanyain kabar lu, jadi tadi pas lu selesai nelepon, gak lama dia nelepon, dia tanya kabar lu, terus gua jelasin, dia langsung otw ke sini," kata Joshua lagi menjelaskan yang langsung membuat bahu Sandra yang tadi terangkat kesal jadi menurun.
"Lu serius?" Kata Sandra.
"Iya, beneran, makanya dari kemarin gua udah bilang kan buat lu nelepon dia, sebenarnya dia ga ada masalah dan mau menghubungi lu, tapi gua yang larang," ujar Joshua lagi jujur.
"Lah kenapa lu larang?"
"Ya, karena gua mau lu nyadar Ama perasaan lu dan bisa nurunin ego lu, hah! Ga nyangka lu emang ego banget orangnya," ujar Joshua.
"Eh? Ya, lu ga bilang sih!" Kata Sandra merasa bersalah.
"Itu mah ga usah dibilang, dirasain buk! Udah lu tunggu aja dia, dia udah di jalan dari kota buat jemput Lu, kalau lu pergi ga Ama dia, kali ini benar deh gua mau kenal lagi Ama lu," kata Joshua mengancam.
"Dia dari kota?" Kata Sandra tak percaya.
"Ya, bener, baru tahu lu dia segitu seriusnya ama lu kan? Awas lu kalau aneh-aneh lagi Ama dia, kalau lu gitu sama aja lu bikin malu gua," kata Joshua.
"Iya, iya, gua nunggu dia," kata Sandra dengan nada rendah, merasa bersalah.
"Serius lu ya! Awas aja lu!" Kata Joshua sekali lagi mengancam.
"Iya! Ih, bawel banget," kata Sandra kesal.
"Gua bawel gara-gara lu, ya udah tunggu aja," kata Joshua lagi.
"Iya, iya," kata Sandra kali ini patuh, tak ingin lagi salah langkah. Lagi pula dia cukup tersiksa beberapa hari ini hanya karena mengikuti egonya yang besar, sudah terbuka jalan jadi lebih baik mengikutinya saja.
ah... akhirnya happy ending
😍😍😍
aku juga gitu
wkwkwkwk
Jo... ica ae...
Sandra...
Abang datang Neng...
Devan kejepit pintu mobil
😂😅😆