Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 25|
"Seleramu patut diacungi jempol," puji Abiyasha. Lidahnya seolah sudah mengenal makanan ini dengan baik padahal ini adalah kali pertama ia datang. Aneh. "Tapi kenapa aku merasa sate ini tidak asing di lidahku?"
Yasmine mendelik. Ia khawatir Abiyasha akan ingat masa-masa mereka bersama dulu, Yasmine sering membelikan Abiyasha sate ini.
Yasmine tertawa sumbang. Mengabaikan pertanyaan pria itu. "Sudah kubilang, kan," komentar Yasmine. "Rasanya memang enak."
"Sate ini berbeda dari yang biasa kumakan. Apa namanya?"
"Ah ini namanya sate maranggi. Tentu saja berbeda. Perbedaannya ada pada proses perendaman daging dalam bumbunya itu. Sate Maranggi juga menggunakan daging sapi has dalam bukan daging ayam seperti yang biasa anda makan."
"Kau tahu banyak soal makanan ini. Memangnya kau sering ke mari?"
"Dulu ya, bersama..." Yasmine membekap mulutnya. Lalu tersedak hingga terbatuk-batuk. "Uhuk... Uhuk..."
"Kau benar-benar makan seperti orang kelaparan. Minum dulu." Abiyasha menyodorkan teh hangat pada Yasmine. Dan Yasmine baru bernapas lega setelah potongan daging itu benar-benar masuk dalam perutnya. "Bersama siapa kau datang ke sini?" Abiyasha tidak melupakan pertanyaannya.
"Ah, dulu bersama teman. Tapi warteg ini masih kecil belum direnovasi seperti sekarang ini. Dulu, di depan sana masih gang kecil bukan jalan raya seperti sekarang."
"Pasti kau sering datang dengan temanmu itu..."
Yasmine tersenyum simpul. "Tidak juga... Dulu dia sibuk sekali. Kami hanya datang beberapa kali."
"Apa kau masih suka mengajak temanmu itu ke sini?"
Entah kenapa, ia merasa seperti orang bodoh saat menjawab pertanyaan Abiyasha. Pandangannya menerawang. Lalu menggeleng. "Tidak pernah lagi" katanya.
Abiyasha manggut-manggut. "Kenapa? Memangnya kemana dia?"
Yasmine menatap Abiyasha dalam. "Kami... Berpisah karena takdir yang mengharuskan kami berjalan dengan dua arah berbeda."
Abiyasha tidak mengerti apa yang wanita itu maksud. Tapi ia mengerti apa yang ia katakan. "Kalau begitu, seharusnya salah satu dari kalian harus tetap tinggal dan menunggu di titik awal. Agar sehingga ketika yang satu kembali dari perjalanan, ia bisa mudah menemukan teman seperjalanannya."
Seandainya begitu, Bi... Tapi sayangnya semuanya sudah terlambat.
"Bagaimana kalau dia tidak mencari saya di titik awal?" tanya Yasmine tiba-tiba.
Abiyasha menggeleng. Pria itu menaruh segelas teh dinginnya di atas meja setelah meminumnya. "Kalau temanmu itu memang seseorang yang ditakdirkan untuk berjalan lagi di sampingmu. Percayalah, dia akan kembali dari perjalanannya, dan menghampirimu lagi. Dia akan mengingatmu kembali."
Yasmine merasa air matanya ingin tumpah. Tapi sayangnya, ia tidak bisa menangis di depan pria itu dan membuatnya curiga. Akhirnya ia mengibas-ngibaskan tangannya dan menatap ke arah lain. "Ah, di sini panas sekali. Ahh, aku kegerahan."
Abiyasha menatap ke luar ruangan. Mendongak, ia melihat langit diselimuti awan gelap. "Kau bercanda? Angin di sini kencang sekali. Kau kegerahan? Apa itu masuk akal?"
"Kalau begitu mari kembali ke kantor sebelum hujan deras," kata Yasmine membelokkan topik obrolan.
"Baiklah. Hari ini aku yang bayar. Berapa yang harus kubayar?" sergah Abiyasha ketika melihat Yasmine mengeluarkan dompetnya.
Yasmine menggeleng. "Tidak usah, Pak. Sate ini murah, kok. Hanya lima puluh ribu. Saya akan meneraktir anda. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena anda sudah mengobati saya."
Abiyasha terkaget-kaget. "Lima puluh ribu? Makanan seenak tadi?"
Yasmine tertawa. Pria borju di hadapannya ini benar-benar tidak pernah makan di warteg biasa semacam ini. Dulu... Dia pun juga melakukan hal yang sama.
"Aku yang bayar," putus Abiyasha. Pria itu mengeluarkan dompetnya mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di atas meja tepat di samping vas bunga. "Kita tinggalkan uangnya di sini. Ayo pergi."
Belum sempat berpamitan pada Paman Aldo, Yasmine sudah diseret oleh Abiyasha. Pria itu menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Di luar gerimis mulai turun. Hanya butuh beberapa detik dan hujan sudah berubah menjadi sangat deras. Abiyasha belum menjalankan mobilnya.
Ponsel pria itu bergetar. Lalu ia membacanya sekilas. Kemudian menatap Yasmine. "Kau tahu tempat makan enak. Apa kau juga tahu tempat persembunyian yang aman? Rasanya hari ini aku tidak ingin kembali ke kantor!" kata pria itu.
...***...
Abiyasha masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan warteg tersebut. Ia merasa perutnya benar-benar terisi dengan baik. Yasmine sudah duduk anteng di kursi penumpang ketika ponsel yang ada pada saku celananya bergetar. Abiyasha meraih ponsel tersebut, ada satu pesan masuk.
Pesan masuk : Ibu
13.12 Wib
Apa yang sudah kaulakukan dengan Amara?!
Kau pikir apa yang kau lakukan tidak akan menimbulkan masalah?
Cepat pulang. Ibu ingin bicara.
Abiyasha mengerang. Timbul satu masalah lagi. Pasti setelah ini Ibunya akan mencarinya, lalu merecokkinya seperti biasa setelah memarahinya habis-habisan. Sebenarnya hal salah apa yang Abiyasha lakukan? Ia hanya tidak mencintai Amara dan menentang perjodohan yang tidak ia kehendaki. Bukannya membantah, ia hanya tidak ingin dipaksa melakukan suatu kebohongan hanya demi nama baik perusahaan. Terlebih kebohongan itu melibatkan hati di dalamnya. Abiyasha tidak sanggup melakukannya.
Itu sama saja dengan membohongi Amara.
Ponselnya berdering nyaring. Abiyasha melihat panggilan masuk dari Ibunya. Tidak mau menunggu lama, Abiyasha langsung mematikan ponselnya dengan cepat.
Pasti setelah ini Ibunya akan ke kantor dan marah padanya. Abiyasha membuang muka. Inilah yang paling ia benci dari semua yang terjadi. Abiyasha merasa menjadi permainan untuk semua orang.
Pasti Yasmine bisa membantunya keluar sementara dari permasalahan ini. Hanya untuk hari ini saja. Selanjutnya terserah.
"Kau tahu tempat makan enak. Apa kau juga tahu tempat persembunyian yang aman? Rasanya hari ini aku tidak ingin kembali ke kantor... Aku ingin pergi ke satu tempat di mana tidak ada satupun orang yang menemukanku."
Wanita itu hanya menganga.
...***...
"Bagaimana, Tante? Apa Abiyasha mengangkat teleponnya?"
Liliana mematung di tempat. Berhadapan dengan Amara membuatnya bingung harus melakukan apa. Pasalnya wanita itu baru saja mengatakan kalau Abiyasha baru saja menolaknya dan saat ini Amara sedang terpuruk. Ia malu. Tentu saja wanita mana yang tidak akan malu setelah ditolak sedemikian rupa? Liliana mengelus kepala Amara, dalam hatinya merasa kasihan padanya. Sejak dulu Amara selalu mencintai Abiyasha. Tapi Abiyasha tidak pernah membalas cinta wanita itu.
Liliana pikir, dengan tindakannya untuk menjodohkan mereka berdua berhasil. Terlebih ketika Abiyasha tidak lagi ingat tentang masa lalunya dan dia juga melupakan sosok wanita di masa lalunya.
Dulu ia bahkan harus turun tangan untuk hal itu.
"Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku harus menikah dengan Abiyasha, Tante. Hiks. Aku kesal sekali!" Amara memeluk Liliana.
"Kau pasti menikah dengan Abiyasha. Tante akan pastikan itu. Lagipula Tante tidak akan mungkin memilih wanita yang tidak jelas asal-usulnya, kan?"
Amara menangis. Lalu menatap Liliana. "Tapi, Tante. Sepertinya... Abi sudah menyukai orang lain. Aku tahu dari pandangan matanya!"
"Apa maksudmu?"
"Tante tahu sekretaris Abiyasha yang baru? Dia mencoba menggoda Abiyasha, Tante. Dia ingin mengambil Avi dariku. Hiks... Hiks..."
"Tante tidak mengerti maksudmu. Memang siapa dia berani mengambil Abiyasha darimu?"
"Namanya Yasmine, Tante. Dia kampungan dan menyebalkan. Aku tahu pasti wanita itu berniat mencari perhatian Abi saja!"
Bagaikan disambar petir tengah hari, ekspresi Liliana berubah ketika mendengar nama itu. Nama yang sudah tidak pernah lagi mampir di telinganya sejak lima tahun lalu. Sebuah nama yang ia singkirkan dengan mengorbankan Abiyasha hingga anaknya kehilangan ingatannya. "A-apa? Siapa tadi?"
"Yasmine. Namanya Yasmine. Aku sangat membencinya. Jauhkan dia dari Abi-ku, Tante. Aku mohon..."
Yasmine?
Yasmine?
Mungkinkah?
...***...
...Bab ini kupersembahkan untukmu,...
...yang tidak pernah beranjak dari sampingku...
...meski hanya sedetik saja....
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣