Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cap Kebebasan dan Runtuhnya Jaringan Hitam
Mentari pagi belum sepenuhnya meninggi ketika iring-iringan armada mobil sedan hitam mewah milik Andra membelah jalanan protokol ibu kota.
Kendaraan berpelat nomor khusus itu melaju dengan tenang menuju kawasan perkantoran komite pengawas penanaman modal pusat.
Gedung tinggi berlantai empat puluh itu berdiri sangat kokoh dengan dinding kaca besar yang memantulkan kilau cahaya pagi.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Andra tampak merapikan manset jas hitamnya dengan gerakan yang sangat terukur.
Ia sedang memperhatikan lembar demi lembar berkas audit forensik tambahan yang disiapkan oleh tim keuangannya semalam.
Wajah pria itu terlihat sangat dingin, menyimpan ketegasan mutlak yang tidak memberikan ruang bagi kegagalan sekecil apa pun.
"Tuan Muda, kita sudah memasuki area lobi utama gedung komite," ucap pengemudi pribadi berjas rapi sambil membuka pintu.
Andra melangkah keluar kabin mobil dengan penuh wibawa, diikuti oleh dua orang pengawal bayangan berpakaian formal di belakangnya.
Langkah kaki mereka bergemerincing tegas di atas permukaan lantai marmer lobi gedung yang steril dan megah.
Tujuan utama kunjungan mereka hari ini adalah menghadiri pertemuan tertutup dengan kepala birokrasi pengawas investasi.
Pejabat tinggi birokrat senior itu dikenal bernama Pak Baskoro, seorang pria yang terkenal kaku dan teliti.
Sesampainya rombongan di lantai tiga puluh lima, seorang staf administrasi menyambut mereka dengan gestur formal.
"Selamat pagi, Tuan Andra. Silakan, Pak Baskoro sudah menunggu kehadiran Anda di ruang rapat khusus," sapa staf itu.
Andra menganggukkan kepalanya singkat, lalu mendorong pintu kaca besar menuju ruang pertemuan privat tersebut.
Di dalam ruangan berukuran sedang itu, Pak Baskoro duduk melipat tangan di balik meja kayu jati berukuran besar.
Di sebelah sang pejabat birokrat, duduk pula seorang pria paruh baya lain yang mengenakan setelan jas mewah abu-abu.
Andra menyipitkan matanya sesaat ketika mengenali sosok wajah pria asing yang duduk di hadapannya itu.
Pria tersebut adalah Herman, mantan mitra bisnis Rian yang sempat melarikan diri ke luar negeri sebelum rekeningnya dibekukan.
Kehadiran Herman di dalam ruang rapat komite pengawas bukanlah suatu kebetulan yang wajar.
Ini adalah bentuk sabotase sisa-sisa sekutu Rian yang mencoba menjegal pengesahan kontrak internasional Andra dari jalur birokrasi.
Pak Baskoro berdehem kecil untuk memecah keheningan yang mulai terasa menegangkan di dalam ruangan tertutup itu.
"Silakan duduk, Tuan Andra," ucap Pak Baskoro dengan nada suara formal tanpa ekspresi ramah.
"Kami sengaja mengundang Saudara Herman hari ini untuk melakukan klarifikasi silang terkait sengketa aset perusahaan."
Andra tidak langsung menuruti perintah duduk tersebut. Ia berdiri tegak menatap tajam ke arah Herman.
"Klarifikasi silang apa lagi yang perlu dibahas di hadapan komite ini, Pak Baskoro?" tanya Andra dengan suara berat.
"Semua gugatan hukum dan sengketa aset atas nama Rian sudah resmi dicabut dan dinyatakan gugur oleh pengadilan tinggi."
Herman mendengus pelan, lalu berdiri mengangkat dagunya dengan sikap sombong yang dibuat-buat.
"Keputusan pengadilan sipil memang sudah gugur, Tuan Andra. Tapi aspek kepatuhan investasi internasional memiliki standar ketat."
"Perusahaan Anda masih memiliki catatan investigasi internal yang belum sepenuhnya tuntas diverifikasi oleh komite."
Andra menatap rendah ke arah Herman seolah pria di hadapannya itu hanyalah seekor serangga pengganggu.
"Catatan investigasi internal?" Andra melangkah maju mendekati meja rapat utama dengan pijakan mantap.
"Atas dasar apa Anda berani meragukan keabsahan audit independen yang sudah disetujui oleh Otoritas Keuangan Nasional?"
Pak Baskoro mengangkat sebelah tangannya untuk meredakan ketegangan yang mulai memuncak di udara.
"Tenang dulu, Tuan Andra. Kami di sini bukan untuk berdebat, melainkan menjalankan prosedur standar."
"Selama Tuan Herman masih mengajukan keberatan administratif, kami wajib meninjau ulang berkas."
Andra tersenyum dingin mendengar alasan klasik dari seorang birokrat korup yang dapat dibeli dengan uang.
Ia tahu betul bahwa permainan kotor semacam ini selalu melibatkan aliran dana suap bawah meja.
"Pemegang saham minoritas?" Andra mengeluarkan sebuah map dokumen rahasia dari balik jasnya.
Ia melemparkan map tebal itu tepat di atas meja di hadapan Pak Baskoro dengan suara dentuman pelan.
"Buka halaman empat puluh dua, Pak Baskoro. Baca dengan teliti siapa pemilik saham fiktif Herman."
Herman sontak menoleh kaget, wajahnya yang tadinya sombong mendadak berubah pucat pasi.
Pak Baskoro membuka lembaran map tersebut dengan jari-jari tangan yang sedikit bergetar gugup.
Matanya membelalak lebar membaca deretan data aliran dana ilegal yang menghubungkan Herman dengan sindikat Rian.
"Ini... laporan audit forensik perbankan internasional...?" gumam Pak Baskoro terkejut bukan main.
"Benar sekali," potong Andra dengan nada suara yang semakin dingin dan menusuk tulang.
"Jika dalam waktu satu jam dokumen kontrak kerja sama internasional saya tidak disahkan hari ini..."
"...maka seluruh transkrip aliran suap antara Anda dan Herman akan saya kirim langsung ke KPK."
Suasana di dalam ruang rapat itu mendadak sunyi mencekam bagaikan kuburan tua di tengah malam.
Butiran keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran di pelipis kepala Pak Baskoro.
Herman yang merasa posisinya terancam langsung bangkit dari kursi hendak melarikan diri ke pintu.
Namun, dua pengawal bayangan Andra bergerak secepat kilat menahan kedua bahu Herman dengan kuat.
"Lepaskan aku! Kalian tidak punya hak menahan warga negara!" teriak Herman histeris ketakutan.
Andra berjalan mendekati Herman perlahan, lalu berbisik tepat di telinga pria licik itu.
"Permainan kotor kalian sudah berakhir sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di kota ini."
Andra menegakkan tubuhnya, lalu menatap tajam ke arah pejabat komite pengawas yang terduduk lemas.
"Bagaimana, Pak Baskoro? Apakah dokumen kontrak saya masih perlu waktu dua minggu lagi?" tanya Andra.
Pak Baskoro menelan ludahnya susah payah, lalu dengan tangan gemetar meraih stempel resmi di meja.
"Ti... tidak perlu, Tuan Andra... dokumen Anda akan saya sahkan sekarang juga tanpa syarat."
Suara ketukan stempel resmi bergemerincing nyaring di atas permukaan meja kayu jati tebal di dalam ruang rapat tertutup itu.
Tinta merah pekat membekas sempurna di lembar pengesahan dokumen kontrak internasional milik Andra.
Pak Baskoro menarik kembali tangannya yang gemetar hebat setelah membubuhkan tanda tangan pengesahan terakhir.
Wajah pejabat birokrat senior itu tampak sangat pucat pasi kehilangan seluruh warna kemerahannya.
Ia tahu betul bahwa dokumen audit forensik perbankan yang dibawa Andra adalah senjata mematikan.
Jika laporan itu sampai jatuh ke tangan penegak hukum, karier dan masa depannya akan hancur seketika.
Andra mengulurkan tangan kanannya dengan gerakan tenang untuk mengambil map dokumen yang kini telah sah.
Ia memeriksa setiap lembar kertas tersebut secara teliti tanpa terlewat satu detail pun.
Setelah memastikan seluruh stempel dan tanda tangan legalitas terpenuhi, Andra menutup map itu perlahan.
Ia melirik sekilas ke arah Pak Baskoro yang masih tertunduk lemas di balik kursi kebesarannya.
"Terima kasih atas kerja sama Anda hari ini, Pak Baskoro," ucap Andra dengan nada suara datar.
"Ingatlah untuk selalu menjalankan tugas negara dengan integritas yang tinggi ke depannya."
Pak Baskoro hanya bisa mengangguk kaku, tidak berani mengangkat kepala membalas tatapan tajam sang pengusaha.
Sementara itu, Herman masih berada dalam cengkeraman kuat kedua pengawal bayangan Andra di sudut ruangan.
Pria licik itu meronta-ronta dengan sisa tenaga yang dimilikinya, mencoba melepaskan diri.
"Lepaskan aku, sialan! Kalian tidak berhak memperlakukan aku seperti ini!" teriak Herman putus asa.
Andra berbalik badan perlahan, lalu melangkah mendekati Herman yang tampak berkeringat deras.
Ia berhenti tepat di hadapan mantan mitra bisnis Rian tersebut dengan pandangan merendahkan.
"Kamu pikir permainan kotor kalian di balik meja birokrasi ini bisa menghentikan langkahku, Herman?" tanya Andra.
Herman mendesis tajam, menatap Andra dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah yang meluap.
"Kau hanya beruntung, Andra! Suatu saat nanti semua kedokmu akan terbongkar juga!" maki Herman keras.
Andra tersenyum dingin mendengar ancaman kosong dari pria yang sudah berada di ujung tanduk itu.
"Keberuntungan tidak pernah datang kepada orang-orang yang licik dan suka berkhianat," balas Andra tegas.
Ia memberikan gestur tangan kepada para pengawalnya untuk segera menyeret Herman keluar ruangan.
"Bawa dia langsung ke kantor kepolisian pusat untuk mempertanggungjawabkan aliran dana suapnya."
"Baik, Tuan Muda!" seru kedua pengawal itu serempak sambil membimbing paksa Herman ke luar.
Suara rontaan dan makian Herman perlahan menghilang seiring langkah mereka menjauhi lantai tiga puluh lima.
Di dalam ruangan kini hanya menyisakan Andra dan Pak Baskoro yang masih dirundung ketakutan luar biasa.
Andra merapikan jasnya, lalu melangkah keluar meninggalkan ruang rapat menuju lift pribadi.
Di lantai dasar gedung, rombongan mobil mewah Andra telah bersiap menanti kepulangannya.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, Andra segera merogoh ponsel pintar dari saku jas bagian dalamnya.
Ia menekan nomor kontak pribadi istri tercintanya untuk menyampaikan kabar gembira tersebut.
Tidak menunggu waktu lama, panggilan telepon itu langsung terhubung di dering pertama.
"Halo, Mas Andra? Bagaimana hasil pertemuan dengan komite pengawas hari ini?" tanya Kirana cemas.
Suara wanita itu terdengar jelas menyimpan rasa khawatir yang mendalam di balik sambungan telepon.
Andra tersenyum hangat, garis ketegasan di wajahnya seketika melebur mendengar suara sang istri.
"Semua urusan sudah beres sepenuhnya, Kir. Dokumen kontrak internasional kita sudah resmi disahkan."
Di ujung telepon, Kirana menarik napas lega bercampur rasa syukur yang teramat besar.
"Syukurlah, Mas... aku sangat bersyukur mendengarnya," ucap Kirana dengan suara bergetar bahagia.
"Tidak ada lagi orang yang bisa menghalangi kita. Sekarang aku akan segera pulang ke rumah."
"Hati-hati di jalan ya, Mas. Aku menunggu kepulanganmu di rumah dengan makan siang spesial," balas Kirana riang.
Sambungan telepon pun ditutup dengan senyuman lebar tersungging di bibir Andra.
Mobil sedan hitam itu meluncur membelah kemacetan jalanan ibu kota menuju istana Menteng.
Kemenangan hari ini menandai babak akhir dari seluruh perlawanan musuh-musuh masa lalu.
Kekaisaran bisnis Andra kini berdiri kokoh tanpa ada lagi celah bagi siapapun untuk merusaknya.