Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 20 — Nilai dari Sebuah Kekuatan
Hawa panas yang menyengat langsung menyapu wajah Huo Li begitu ia melangkah memasuki pelataran Balai Penempaan Sekte. Bau logam cair, keringat, dan asap batu bara bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi orang biasa.
Di tengah pelataran, berdiri sebuah tungku raksasa yang menyala terang.
TRANG! TRANG! TRANG!
Seorang pria paruh baya bertubuh kekar, dengan otot lengan yang menonjol dan dipenuhi bekas luka bakar, sedang mengayunkan palu godamnya ke atas sebatang baja merah menyala. Dia adalah Pei Hubong, Kepala Pandai Besi Sekte Pedang Tiran.
Menyadari ada langkah kaki yang mendekat, Pei Hubong tidak menoleh. Sambil terus memukul besi, suaranya yang serak dan kasar terdengar menggelegar.
"Apa yang membuat murid tampan dan bersih sepertimu datang ke tempat kotor seperti ini?"
Bang! Bang!
Percikan api beterbangan setiap kali palunya menghantam baja. "Jika kau kemari hanya membawa poin kontribusi, cepat ambil senjata standar di rak sana dan segera pergi dari sini. Jangan menggangguku bekerja!"
Menghadapi pengusiran terang-terangan itu, wajah Huo Li tetap datar. Ia tidak tersinggung. Di dunia ini, mereka yang memiliki keahlian mutlak berhak untuk bersikap arogan.
Huo Li menangkupkan kedua tangannya dengan tenang dan bersuara jernih. "Murid Huo Li dari Puncak Pedang Kedua, memberi hormat pada Tuan Pei."
BAM!
Palu godam di tangan Pei Hubong mendadak berhenti di udara, tepat satu inci di atas baja yang menyala.
Pria paruh baya itu akhirnya menoleh. Alisnya yang tebal bertaut tajam menatap pemuda berjubah abu-abu bersih di depannya. 'Puncak Pedang Kedua?' batin Pei Hubong terkejut.
Sebagai orang lama di sekte, ia tahu betul struktur hierarki yang ada. Puncak Pedang Kedua, sama halnya dengan Puncak Pedang Pertama milik Ketua Sekte, adalah area yang sangat eksklusif. Murid di Puncak Pedang Kedua bahkan tidak pernah lebih dari lima orang. Monster Tua Gubang terkenal sangat pemilih dan kejam.
'Apa yang membuat murid langsung Tetua Gubang datang kemari sendirian?' pikir Pei Hubong. Namun, ia tidak mau terlalu memikirkannya. Urusan para tetua puncak bukanlah masalahnya.
Pei Hubong menurunkan palunya, mengusap keringat di dahinya dengan handuk kotor di bahunya, lalu mendengus. Ia tidak lagi mempedulikan kesopanan Huo Li dan langsung ke inti pembicaraan.
"Katakan apa yang kau inginkan," ucapnya tanpa berbelit-belit. "Tapi biar kuperjelas, aku tidak menerima poin kontribusi untuk bayaranku. Kondisi sekte saat ini sedang miskin dan poin-poin itu hanya sekadar angka di mataku. Aku hanya menerima bayaran kristal spiritual."
Huo Li mengangguk paham. Beruntung, ia masih menyimpan kantong spasial pemberian Gubang yang belum sempat ia masukkan ke dalam Kantong Keberuntungan. Ia memiliki cukup banyak kristal spiritual.
Sret.
Dengan jentikan jarinya, dua bilah gading putih berukuran besar yang melengkung tajam dan memancarkan aura buas muncul di atas meja penempaan yang kosong.
"Ini..." Mata Pei Hubong sedikit melebar. Sebagai ahli senjata, ia langsung mengenali kualitas material tersebut. "Gading Raja Babi Hutan Berkulit Besi? Material monster peringkat 2 puncak. Hebat juga kau bisa mendapatkannya, Bocah."
"Tuan Pei, aku ingin Anda membuatkan senjata yang cocok untukku dari gading ini," ucap Huo Li langsung pada intinya.
Pei Hubong meraba permukaan gading itu, menimbang kepadatannya, lalu mengangguk puas. "Material yang sangat bagus. Apa spesialisasimu dalam bertarung?"
"Tebasan berat yang mengandalkan kekuatan fisik murni, dan kecepatan ledakan jarak dekat," jawab Huo Li singkat dan padat. Ia tidak menyebutkan tentang tekniknya, namun deskripsi itu sudah cukup bagi seorang pandai besi ahli.
Pei Hubong kembali mengangguk. Kepalanya sudah merancang bentuk pedang yang sempurna untuk gaya bertarung tersebut. "Aku bisa memadukan gading ini dengan Inti Baja Hitam agar tidak mudah patah saat menahan tebasan berat. Tapi harganya tidak murah... 20 Kristal Spiritual Tingkat 2."
Harga itu sebenarnya sangat mahal bagi murid sekte luar atau bahkan murid dalam biasa. Namun, Huo Li tidak berkedip sedikit pun. Dengan tenang, ia mengeluarkan dua puluh keping Kristal Spiritual Tingkat 2 yang memancarkan cahaya biru murni dari kantong spasialnya dan meletakkannya di atas meja.
Ting! Ting!
Melihat tumpukan kristal spiritual yang berkilau itu, raut wajah Pei Hubong yang tadinya keras dan galak seketika berubah. Ia tersenyum hangat, memperlihatkan gigi-giginya.
"Ahaha! Kau benar-benar murid yang kaya! Baiklah, serahkan ini padaku. Besok siang, kau bisa datang lagi untuk mengambil senjatamu!" ucap Pei Hubong sambil menyapu kristal-kristal itu ke dalam jubahnya dengan gembira.
"Terima kasih, Tuan Pei. Aku permisi."
Huo Li membungkuk sopan dan segera meninggalkan tempat penempaan itu. Tujuannya selanjutnya adalah tempat di mana poin kontribusinya bisa digunakan: Paviliun Harta.
.....
Paviliun Harta Sekte Pedang Tiran tidak terletak di puncak gunung, melainkan berada tersembunyi di tengah-tengah lembah hijau yang dikelilingi oleh enam pegunungan utama sekte.
Tempat itu dijaga oleh rimbunnya pepohonan bambu kuno. Namun, ketika Huo Li melangkah memasuki jalur bambu tersebut, indra spiritualnya yang tajam berkat Energi Surgawi seketika bergetar.
'Formasi Pembunuhan...' batin Huo Li menyipitkan mata.
Di balik keindahan dedaunan bambu yang bergoyang tertiup angin, tersembunyi untaian energi yang luar biasa mematikan. Jika ada seseorang yang berniat mencuri dan salah melangkah sedikit saja tanpa memiliki plakat sekte, tubuhnya akan terpotong-potong menjadi ribuan serpihan daging dalam hitungan detik.
Melewati jalur formasi itu, Huo Li akhirnya tiba di depan bangunan pagoda kayu berlantai tiga yang megah. Aroma dupa kuno menguar dari dalam.
Huo Li melangkah masuk menuju rak-rak berisi gulungan bambu dan buku kuno di lantai pertama, tempat teknik tingkat dasar hingga menengah disimpan. Karena ia sudah memiliki Seni Pedang Tiran Pemutus Nadi sebagai teknik serangan fatalnya, ia membutuhkan variasi.
Jari-jarinya menelusuri deretan gulungan hingga ia berhenti pada satu manual yang memancarkan aura angin yang tajam.
"Seni Pedang Angin Perang," gumam Huo Li, membaca judulnya. "Teknik yang mengandalkan ayunan pedang beruntun untuk menciptakan pusaran angin pemotong. Cocok untuk menghadapi banyak musuh atau mendistraksi lawan."
"Ini sepertinya menarik."
Huo Li mengambil manual itu. Setelah mempertimbangkan kekurangannya dalam pertarungan, ia kembali menyusuri rak dan mengambil dua teknik lain: sebuah teknik gerakan kaki bernama Langkah Ilusi Hantu untuk melengkapi Langkah Pemutus Nadi miliknya yang terlalu lurus, dan sebuah teknik pernapasan bernama Napas Penenang Hati untuk menyembunyikan fluktuasi auranya dengan lebih sempurna.
Setelah merasa cukup, Huo Li membawa ketiga manual itu dan menemui seorang Tetua berambut putih yang sedang duduk bermeditasi di meja penjaga dekat pintu keluar.
Tetua itu membuka sebelah matanya, melirik ketiga manual di tangan Huo Li, dan bergumam dengan suara serak, "Seni Pedang Angin Perang, Langkah Ilusi Hantu, Napas Penenang Hati. Totalnya, 180 Poin Kontribusi."
Huo Li mengeluarkan plakat giok miliknya dan menyerahkannya. Tetua itu mengalirkan energinya, memotong poin di dalam plakat tersebut, lalu mengembalikannya kepada Huo Li.
Melihat sisa poin di dalam plakatnya yang kini hanya menyisakan angka 20, Huo Li tidak bisa menahan senyum masam di dalam hatinya.
Saat ia berjalan keluar dari Paviliun Harta, ia mengelus plakat gioknya sambil menggelengkan kepala pelan.
'Sial, dua minggu hasil perburuanku bertaruh nyawa di hutan hanya cukup untuk membeli tiga teknik seni beladiri tingkat 1?' batinnya mengeluh.
Namun, senyum tipis yang penuh perhitungan segera kembali menghiasi wajahnya. 'Ah, baiklah. Aku tinggal mengumpulkan lagi...'