NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Dunia Cia seolah berhenti berputar. Kalimat Ren menggantung di udara yang mendadak terasa hampa, mengalahkan suara bising mesin kendaraan rantis yang menyala di dekat mereka.

Pembatalan program internsip. Kembali ke Jakarta besok pagi.

Cia menatap wajah suaminya dengan pandangan kosong. "M-maksudnya apa, Mas? Kemenkes nggak mungkin ngebatalin penempatan sepihak tanpa alasan indispliner atau kesehatan. Aku sehat. Aku nggak melanggar aturan."

Ren tidak langsung menjawab. Pria itu mengalihkan pandangannya pada Prada Sigit yang masih berdiri menunggu instruksi.

"Sigit, bawa rantis ini kembali ke posko utama. Saya dan istri saya akan kembali ke rumah transit menggunakan mobil operasional komando yang diparkir di seberang jalan," perintah Ren dingin. "Dan pastikan teknisi komunikasi sudah menyiapkan jalur satelitnya saat saya tiba."

"Siap, Mayor!" Prada Sigit memberi hormat dan bergegas pergi, bersyukur bisa lolos dari radius aura mematikan sang komandan.

Ren menoleh kembali pada Cia. Tanpa banyak bicara, ia merangkul bahu istrinya dengan protektif, menuntun gadis itu menyeberangi jalanan tanah merah yang becek menuju sebuah mobil SUV hitam berlambang militer. Sepanjang perjalanan singkat itu, Cia diam membisu. Otaknya bekerja keras menyusun serpihan teka-teki yang tiba-tiba dilemparkan padanya.

Di dalam kabin SUV yang kedap suara, barulah Cia berani bersuara.

"Mas," panggil Cia, meremas sabuk pengamannya. "Siapa petinggi militer yang kamu maksud tadi? Siapa yang ngasih rekomendasi khusus ke Kemenkes buat narik aku pulang?"

Ren menyalakan mesin mobil. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat. Mata elangnya menatap lurus ke kaca depan, rahangnya kembali mengeras.

"Siapa lagi jenderal di Jakarta yang memiliki akses lintas kementerian dan punya kepentingan langsung terhadap keselamatanmu?" suara Ren terdengar berat, sarat akan kekecewaan yang mendalam.

Napas Cia tertahan. Matanya membulat sempurna. "Papa? Maksudmu... Jenderal Arman?"

Ren memutar kemudi, menginjak pedal gas sedikit lebih dalam dari biasanya. "Ayahku selalu berpikir bahwa kekuasaan bisa menyelesaikan segalanya. Setelah mendengar insiden tenda rubuh yang menimpamu semalam, beliau pasti langsung menggunakan koneksinya untuk menarikmu keluar dari zona merah."

"Tapi... tapi itu nepotisme, Mas!" seru Cia, suaranya mulai bergetar karena emosi yang bercampur aduk. Rasa tidak terima mulai membakar dadanya. "Aku susah payah lulus UKMPPD murni pakai otakku sendiri. Aku ikhlas ditempatkan di ujung timur ini buat ngabdi. Kalau Papa narik aku pakai jalur belakang, sama aja Papa ngerendahin profesiku. Orang-orang bakal mikir aku dokter manja yang berlindung di balik pangkat mertua!"

Ren menepikan mobilnya secara mendadak di bahu jalan yang sepi. Pria itu mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Cia.

"Saya tahu, Almeera. Dan saya lebih dari sekadar marah karenanya," ucap Ren, menatap mata istrinya yang kini berkaca-kaca. "Bagi Jenderal Arman, menarikmu pulang adalah cara beliau melindungimu dan menjaga kewarasan saya. Tapi beliau tidak paham, bahwa dengan melakukan itu, beliau baru saja merampas kehormatanmu sebagai seorang dokter."

Cia menggigit bibir bawahnya menahan isak tangis yang mendesak naik. "Aku nggak mau pulang, Mas. Pasien di sini masih butuh tenaga medis. Punggungku juga udah mendingan. Kalau aku pulang sekarang, aku bakal ngerasa jadi pengecut seumur hidupku."

Tangan besar Ren terulur, menghapus setitik air mata di sudut mata Cia dengan ibu jarinya. Tatapan sang Mayor yang sedari tadi membeku karena amarah, kini meleleh seutuhnya saat menatap istrinya.

"Kamu bukan pengecut, Cia. Kamu adalah dokter paling berani yang pernah saya kenal," bisik Ren tegas. Pria itu mencondongkan tubuhnya, mengecup kening Cia dalam-dalam. "Kamu sudah berjanji untuk tidak mematahkan sayap jas putihmu demi ego saya. Maka hari ini, saya juga berjanji... tidak akan ada satu pun jenderal di negara ini yang berhak mematahkan sayapmu. Termasuk ayah saya sendiri."

Sesampainya di rumah transit perwira, suasana terasa tegang.

Di sudut ruang tamu, Prada Sigit dan seorang teknisi komunikasi militer sudah memasang sebuah koper tebal berisi perangkat telepon satelit taktis yang terenkripsi.

"Jalur sudah terhubung dengan saluran pribadi Panglima di Mabes, Mayor," lapor sang teknisi, menyerahkan handset telepon berwarna hijau gelap kepada Ren.

"Kalian berdua boleh keluar. Jaga radius sepuluh meter dari rumah ini," perintah Ren mutlak.

Kedua prajurit itu segera memberi hormat dan keluar dari rumah, menutup pintu rapat-rapat. Cia berdiri kaku di dekat meja makan, menatap suaminya dengan jantung berdebar tak karuan. Ini adalah pertama kalinya ia akan menyaksikan Ren berkonfrontasi langsung dengan ayahnya sendiri di ranah profesional.

Ren menekan tombol interkom pada handset tersebut. Beberapa detik kemudian, terdengar suara bariton berat dan berwibawa dari seberang saluran.

"Adhyaksa di sini," suara Jenderal Arman terdengar jernih melalui speaker satelit.

"Lapor, Jenderal. Mayor Ren Adhyaksa di sini," jawab Ren dengan nada formal yang membeku, tak ada sapaan 'Papa' seperti biasanya.

Hening sejenak di seberang sana. Jenderal Arman jelas menyadari perubahan nada suara putranya.

"Surat dari Kemenkes sudah kamu terima, Ren?" tanya Jenderal Arman langsung pada intinya. "Segera urus tiket kepulangan Cia. Saya sudah memerintahkan ajudan untuk menjemputnya di Halim besok siang."

Rahang Ren berkedut. Tangannya yang memegang pinggiran meja kayu mencengkeram kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Mohon izin, Jenderal," ucap Ren tajam, setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan absolut. "Atas dasar apa Jenderal mengintervensi penempatan sipil istri saya tanpa persetujuan dari saya sebagai suami, maupun dari Almeera Cia sebagai dokter yang bersangkutan?"

Terdengar helaan napas panjang dari seberang telepon. "Ren, jangan gunakan nada komandanmu padaku. Ini bukan urusan militer. Ini urusan keselamatan keluargamu. Istrimu nyaris celaka semalam tertimpa struktur tenda! Apakah pengalaman sembilan bulan disandera tidak cukup membuatmu belajar bahwa daerah operasi bukan tempat untuk warga sipil?"

"Almeera bukan warga sipil biasa yang sedang liburan, Jenderal. Dia seorang tenaga medis yang sedang menjalankan tugas negara," balas Ren tak kalah keras, suaranya sedikit meninggi hingga menggema di ruang tamu kecil itu. "Dia menyelamatkan nyawa seorang anak kecil dari reruntuhan tenda itu. Itu adalah tugasnya!"

Cia menahan napas, meremas jas putih di pelukannya erat-erat. Ia belum pernah melihat Ren semarah ini pada ayahnya.

"Kamu sedang dibutakan oleh emosi, Mayor!" bentak Jenderal Arman, wibawa panglimanya menguar kuat. "Sebagai suaminya, tugasmu adalah memastikan dia aman! Jika kamu tidak bisa membawanya pulang, biarkan kekuasaanku yang melakukannya. Ibumu meninggal karena aku selalu memprioritaskan tugas negara. Aku tidak akan membiarkanmu mengalami kehilangan yang sama!"

Kalimat itu menghantam udara di antara mereka. Ren terdiam sesaat. Dadanya bergerak naik turun, memproses trauma masa lalu ayahnya yang ternyata menjadi akar dari intervensi ini. Jenderal Arman bertindak atas dasar ketakutan masa lalunya sendiri.

Namun, Ren adalah pria yang berbeda.

Sang Mayor menoleh, menatap Cia yang berdiri gemetar di dekat meja makan. Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, penuh harap dan keputusasaan. Ren menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh emosi gelapnya ke dasar jiwa, dan mengembalikan akal sehat militernya.

"Jenderal," panggil Ren, kali ini suaranya jauh lebih rendah, tenang, namun memancarkan otoritas mutlak yang tak bisa digoyahkan. "Anda benar. Tugas saya sebagai suaminya adalah memastikan dia aman."

Cia membelalak. Apakah Ren menyerah?

"Tetapi, melindunginya bukan berarti mengurungnya di dalam sangkar emas dan mematahkan mimpinya," lanjut Ren tegas, matanya tak pernah lepas dari manik mata Cia. "Anda yang mengajarkan saya tentang kehormatan, Pa. Kehormatan seorang dokter terletak pada pengabdiannya pada pasien. Jika saya membiarkan Papa menarik Cia pulang hari ini menggunakan jalur nepotisme, Papa bukan hanya menghancurkan harga dirinya, tapi Papa juga menghancurkan rasa hormat Cia pada institusi militer kita."

Di seberang saluran, Jenderal Arman terdiam seribu bahasa.

"Saya berjanji pada ayah Cia untuk menjaganya," Ren melanjutkan, suaranya kini dipenuhi oleh kelembutan yang dikhususkan hanya untuk istrinya, meski ia sedang berbicara pada sang Jenderal. "Dan cara saya menjaganya adalah dengan berdiri di sampingnya, menjadi perisai bagi punggungnya saat dia bertugas, bukan dengan menariknya lari dari medan perang."

Ren mengakhiri kalimatnya dengan sebuah ultimatum.

"Jika surat pemindahan ini tidak dibatalkan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam... saya akan mengundurkan diri dari komando satgas ini, dan melepaskan seragam saya untuk mendampinginya berjaga di Puskesmas sebagai warga sipil biasa."

"Mas!" pekik Cia tertahan, matanya membulat ngeri mendengar ancaman suaminya. Melepaskan seragam militer bagi seorang Ren Adhyaksa adalah pengorbanan yang tak masuk akal.

"Mayor Ren Adhyaksa! Jangan bertindak bodoh!" gertak Jenderal Arman, suaranya sedikit bergetar.

"Itu bukan tindakan bodoh, Jenderal. Itu adalah bentuk komitmen. Saya tunggu kabar pembatalannya. Hormat saya."

Klik.

Ren mematikan sambungan telepon satelit itu secara sepihak, memutus jalur komunikasi dengan jenderal bintang satu di ibu kota.

Ruang tamu itu kembali dicekam keheningan. Bunyi rintik gerimis di luar jendela menjadi satu-satunya suara yang mengisi kekosongan. Ren berdiri mematung menatap perangkat komunikasi di depannya, napasnya perlahan kembali beraturan.

Tiba-tiba, sepasang lengan mungil melingkar erat di perut Ren dari arah belakang.

Cia menenggelamkan wajahnya di punggung tegap suaminya yang masih terbalut seragam loreng. Gadis itu menangis tanpa suara. Air mata kelegaan dan rasa haru yang luar biasa membasahi kain seragam sang Mayor.

"Kamu gila, Mas," isak Cia pelan, mempererat pelukannya. "Kamu beneran orang gila. Kenapa kamu sampai ngancem lepas seragam segala? Kalau Jenderal Arman marah besar dan beneran nyopot pangkatmu gimana?"

Ren perlahan berbalik. Pria itu menangkup bahu Cia, menunduk untuk menatap wajah istrinya yang basah oleh air mata. Senyum tipis yang sangat tulus dan menenangkan terbit di bibir sang Mayor.

"Beliau tidak akan berani melakukannya," jawab Ren dengan keyakinan penuh. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Cia. "Ayah saya mungkin seorang perwira yang keras, tapi beliau adalah pria yang rasional. Beliau baru saja mendengar anak laki-lakinya berbicara layaknya seorang pria sejati yang siap mempertaruhkan segalanya untuk wanita yang dicintainya. Beliau akan mundur."

Cia mendongak, matanya yang memerah menatap takjub pada sosok pria di depannya. Pria yang dulu ia pikir tidak memiliki hati, ternyata memiliki hati yang paling luas dan paling berani untuk melindunginya.

"Gimana kalau suratnya nggak ditarik?" tanya Cia ragu.

"Maka besok pagi saya akan meminjam sapu dari perawat Puskesmas dan mendaftar menjadi cleaning service di sana untuk menemanimu," balas Ren dengan wajah kelewat datar, membuat Cia tak bisa menahan tawa di tengah tangisannya.

"Kamu nggak cocok pegang sapu, Mayor," kekeh Cia, mengusap air matanya sendiri. Ia berjinjit, mengalungkan lengannya di leher Ren. "Makasih, Mas. Makasih udah belain mimpiku. Makasih udah mertaruhin kariermu buat aku."

Ren melingkarkan lengannya di pinggang Cia, menarik tubuh gadis itu rapat padanya. "Saya sudah pernah kehilangan segalanya di pedalaman ini, Almeera. Saya tidak akan membiarkan apa pun di dunia ini mengambilmu dari saya. Tidak cuaca, tidak penyakit, dan tidak juga surat dari kementerian."

Ren memiringkan wajahnya, mencium bibir Cia dengan sangat lembut. Ciuman yang menyalurkan seluruh rasa cinta, rasa hormat, dan rasa aman yang tak terhingga.

Malam itu, mereka tidak memedulikan pangkat atau ego. Di dalam rumah transit yang sunyi itu, Ren dan Cia kembali membuktikan bahwa kekuatan terbesar dari sebuah rumah tangga tidak terletak pada seberapa jauh mereka bisa menghindar dari badai, melainkan pada keberanian mereka untuk berdiri saling berpegangan tangan menembusnya.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!