BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27. Tinju Mendarat Di Mount Titlis
“Iya. Tante sudah telpon lady.” Sahut Bu Wicaksono. “Tapi Lady belum menjawab.”
“Oke, Tante hati-hati…” Heru langsung lari meninggalkan Bu Wicaksono.
Bu Wicaksono lega. Ia melihat Heru dan temannya menjauh pergi.
Bu Wicaksono segera lari ke halaman samping dan terus ngumpet di kebun tetangga kala ibu pemilik rumah ke arah belakang.
“Bu Hanifah?!” Si ibu mencari-cari.
Tapi Bu Wicaksono alias Bu Hanifah sudah terus lari ke arah rumah orang lain. Ia terus lari melintasi kebun-kebun selada, wortel, pare dan labu siam.
Di sebuah kebun labu siam yang rimbun, Bu Wicaksono berhenti berlari. Tanaman labu siam yang rimbun dan penuh buah akan membuatnya bisa sembunyi disitu tanpa kelihatan orang dari luar.
Bu Wicaksono memutuskan menunggu malam tiba di kebun labu siam sambil berharap Nerissa balik menelponnya!
*
Nerissa tengah berada di sebuah salon mewah di Bogor bersama Lia, kakaknya.
“Kereeen, Kak……” Nerissa memuji.
Lia baru saja dipotong rambutnya oleh seorang penata rambut lelaki yang kemayu. Jika semula rambutnya panjang dan awut-awutan kini rambut Lia lebih pendek dan bergaya. Model rambut itu pendek, tapi tetap lebih panjang dari rambut Nerissa. Rambut Lia yang semula kusam sudah diwarnai ulang dengan warna hitam. Hasilnya rambut Lia terlihat hitam dan segar kembali.
Lia tertawa kecil menatap dirinya di kaca. “He he he, aku cantik lagi.”
“Pastinya kakak memang cantik. Kalau enggak, dari mana Aidan mendapatkan ketampanannya? Muka Argajaya kan seram.” Ujar Nerissa cuek.
“Aidan mewarisi wajahku. Tapi sifatnya mewarisi Argajaya.” Lia tiba-tiba sedih lagi. Karena pernah depresi
berat, Perempuan ini memang mudah sekali berubah mood. Jika semula ia tertawa bahagia, menit berikutnya ia bisa saja berubah sedih bahkan menangis terisak-isak.
“Nah, Kakak sedih lagi deh kalau ingat Aidan.” Nerissa tak suka. “Sudah kak, kalau kakak selalu mellow kayak gini Kakak malah gak merubah keadaan. Sekarang ini Kakak harus berubah. Paling enggak dimulai dari kakak lebih berani dan lebih happy dulu. Kalau kakak sudah berubah lebih baik, mungkin kakak bisa membuat Aidan dan Argajaya kembali jadi orang baik.”
Lia mengangguk. “Kau benar. Aku harus mulai dari diriku untuk lebih berani. Sungguh aku suka melihat penampilanku seperti ini.”
“Hei kakakku yang cantik, kakak pasti akan tampil lebih menawan saat memakai baju-baju baru yang sudah kupilihkan untuk kakak.”
“Oh, kenapa gak bilang cyyinnn?” Lelaki kemayu di salon mendadak ikut bicara. “Kalau mau nyoba baju baru di salon eike juga boleh. Anggap aja sekalian make over penampilan total. Sini eike bantu….”
Nerissa memberikan setelan baju dan celana keren yang dibelikannya untuk kakaknya. Berupa setelan 3 pieces, terdiri dariLong Sleeve Cardigan, Sleeveless Tops dan sebuah Wide Leg Pants. Alias cardigan tangan panjang, baju kaus dalaman yang keren dan celana yang panjang tapi rapi dan bergaya.
Lia agak canggung mengenakan pakaian itu. karena ia sudah lama tak berpakaian rapi selama disekap suaminya di ruang bawah tanah. Tapi ia menyukai pakaian yang dipilihkan Nerissa karena bahan pakaian itu terasa halus dan lembut di kulitnya.
“Aih, ini super keren lho Cyinnn…” Si lelaki kemayu memuji usai membantu Lia mengenakan baju itu. “Baju Three pieces ini bikin yey fresh dan makin cantik. Coba deh yey lihat di kaca.”
Lia menatap dirinya di cermin.
WOW! Lia terpana. Ia berubah total. Lia kini bukan seorang perempuan kumal lagi. Ia sudah menjelma jadi perempuan masa kini yang keren, santai tapi terlihat elegan. Meski memakai bahan yang halus, baju itu terlihat sangat gaya dan keren dipakai Lia.
“Bagus sekali baju ini Nerissa.” Wajah Lia berbinar-binar cerah. “Aku bebas bergerak memakai baju ini dan aku merasa sangat cantik memakainya.”
Nerissa memeluk kakaknya. “Itu sebabnya perempuan perlu berdandan dan pakai baju rapi kak. Karena bisa membuat kita lebih percaya diri.”
“Bener cyyinnn… Meski eike bukan perempuan, eike juga suka dandan.” Kata si lelaki kemayu. “kalau enggak dandan dan enggak pake baju rapi perasaan eike ada yang kurang aja. Pokoknya dandan dan pake baju rapi itu hukumnya wajib buat orang yang menghargai dirinya sendiri.”
Nerissa mengangguk setuju.
Usai membayar, kedua kakak beradik itu keluar salon. Mereka tengah berjalan menuju mobil Nerissa di parkiran. Iseng Nerissa memeriksa hand phone nya yang dari tadi di silence atau tak bersuara karena ia sibuk membantu kakaknya make over.
Nerissa terperanjat melihat ada 3 miss call ke nomer hand phone nya.
“Kenapa, lady? Ada masalah?” Tanya Jhon yang mendampingi Nerissa jadi pengawal sekaligus supirnya sore itu.
“Sebentar….” Nerissa lalu melakukan chat di hand phonenya. Wajahnya serius saat melakukan chat dengan seseorang.
Lia menoleh menatap adiknya yang sibuk dengan hand phone. “Siapa yang kau hubungi? Ada urusan serius apa?”
“Dia ini perempuan yang menolong kakak. Dia yang memberi tau aku keberadaan kakak di villa Argajaya. Tapi dia sekarang ketakutan karena Argajaya mau menangkapnya!”
“Oh. Perempuan ini yang sudah membantu menyelamatkan hidupku?” Lia tertegun.
“Iya, Kak. Tanpa dia, kakak belum tentu bisa bersama aku sekarang.”
Wajah Lia mengeras. “Kalau dia dalam bahaya, kita harus menolong dia Nerissa!”
“Betul. Sekarang juga kita jemput perempuan itu di Cipanas, Jhon! Kita harus membawanya ke rumahku agar dia aman dari kejaran Argajaya!”
Jhon menganguk. "Siap, lady...!"
*
BRRRRRR…!
Dingin sekali udaranya.
Saras merapatkan jaket tebal yang dikenakannya. Ia menggigil kedinginan di puncak Mount Titlis yang bersalju abadi.
Di puncak Mount Titlis, 2 jam perjalanan dari kota Lucerne, Swiss, wisatawan selalu bisa melihat salju sepanjang tahun. Mount Titlis berada di ketinggian 9.900 feet alias di atas garis salju. Pada ketinggian demikian suhu puncak gunung ini berada di titik beku sehingga salju disini tak pernah mencair.
Saras melihat Aidan sibuk dengan hand phonenya. Lelaki itu menyendiri, agak menjauh dari kumpulan wisatawan lainnya. Sepertinya ia juga menjauh dari Saras agar bisa leluasa melakukan chat dengan seseorang di hand phonenya.
Saras tau suaminya sedang melakukan chat dengan mertuanya, Pak Argajaya. Dari kemarin Aidan sibuk membahas sesuatu dengan ayahnya. Saras tak berani bertanya lebih jauh sejak dijutekin Aidan gara-gara bertanya kala Aidan sedang sibuk menelpon.
Saras membiarkan Aidan sibuk berbalas chat.
Sungguh Saras menyukai puncak Mount Titlis yang indah dipenuhi salju. Ia ingin mengajak Aidan berfoto bersama. Tapi melihat muka Aidan ditekuk jengkel saat sibuk membalas chat, Saras urung mengajak suaminya foto bareng.
Saras tau, ia tetap bisa merasakan keasikan di tempat ini meski Aidan cuek. Saras pun melakukan foto selfie.
KLIK! KLIK! KLIK!
Saras memotret dirinya sendiri dengan kamera hand phonenya. Ia mengecek hasil fotonya.
Oh, saras kecewa kala melihat hasil fotonya kurang bagus. Sepertinya akan lebih baik kalau ia minta tolong seseorang memotretnya.
Saras mencari-cari siapa orang yang mungkin bisa dimintai tolong memotret. Dilihatnya kebanyakan orang datang kesini berpasangan. Mereka sibuk berfoto selfie atau minta tolong orang lain juga untuk dipotret.
Lewat seorang lelaki bertubuh kekar dan berkumis rapi. Saras memberanikan diri menyapa lelaki itu dalam bahasa Inggris untuk minta dipotret. “Sorry, may i ask you to take my picture?”
“Sure…” Lelaki itu mengangguk. Dia seorang lelaki muda yang tampan dan ramah. Mungkin umurnya sedikit di bawah Saras.
Ia menerima hand phone Saras dan memotret Saras beberapa kali.
Saras bergaya standar, berdiri sambil senyum menghadap kamera. Lelaki itu sudah memotret Saras dengan gaya demikian.
“Coba kamu ganti gaya.” Ujar si lelaki ganteng dalam bahasa Inggris.
Saras memikirkan harus pake gaya apa. Lelaki itu mendekat dan mengarahkan tangan Saras. Ia mencontohkan orang meniup salju dengan mengarahkan tangan Saras ke depan muka Saras sendiri dan meniup.
Oh, Saras paham maksudnya. Foto dengan gaya meniup salju tentu saja keren. Saras mengangguk senang ke lelaki itu dan hendak bergaya sesuai arahannya. Namun, tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak disangka.
BUUKKK! Sebuah tinju mendarat di wajah si lelaki bule.
“Aargghh…!” Lelaki itu kesakitan dan jatuh terjerembab ke salju.
BERSAMBUNG……
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
emang dl gak pernah gituan gitu??