NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Musuh yang Memiliki Musuh

Sudah hampir seminggu sejak Bara menerima map cokelat dari Okid. Map itu kini dipenuhi coretan, garis merah, dan lingkaran-lingkaran kecil hasil analisis Bara. Di meja belajarnya terpajang beberapa lembar kertas.

Aurora Holdings.

Paprika Digital Network.

Perusahaan musik.

Data streamer yang menghilang.

Pola pemberian gift.

Semua saling terhubung. Namun masih ada satu titik kosong yang belum berhasil ia isi.

"Siapa dalangnya?" gumam Bara pelan. Ia memutar pulpen di antara jemarinya.

"Kalau Dani dan Danu cuma pelaksana..."

"...berarti pasti ada seseorang yang berada jauh di atas mereka."

Belum sempat pikirannya berkembang lebih jauh, ponselnya bergetar.

'Arif'

> Bro, nongkrong yuk.

Bara membalas singkat.

> Lagi ada urusan.

Tak sampai lima detik. Balasan Arif masuk lagi.

> Urusan sama siapa?

> Sama buku lagi?

> Nikahin aja sekalian bukunya.

Bara tersenyum tipis. Belum sempat membalas. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini dari Bella.

> Jangan lupa tentuin mau di traktir dimana.

Bara menggeleng pelan. "Masih diingat juga."

Ia membalas singkat.

> Nanti kalau semuanya sudah selesai.

Bella langsung membalas.

> Hah? Kok kayak dialog tokoh utama mau perang.

Bara hanya tertawa kecil. Di tengah rumitnya penyelidikan teman-temannya masih bisa membuat suasana terasa ringan.

Sore harinya. Bara memutuskan mendatangi alamat yang tertera dalam laporan Okid. Sebuah gedung tua yang dahulu merupakan kantor distribusi media. Kini bangunannya tampak kosong. Cat dinding mulai mengelupas. Beberapa jendela pecah.

Namun ada satu hal yang membuat Bara berhenti melangkah. Sebuah mobil hitam terparkir tepat di samping gedung. Mesinnya masih hangat.

"Berarti masih ada orang."

Bara memilih tidak masuk lewat pintu depan. Ia memutari bangunan. Di belakang gedung terdapat lorong sempit yang langsung mengarah ke gudang tua. Saat hendak mengintip dari balik tembok...

Suara seseorang terdengar.

"Kau juga sedang mencari sesuatu?"

Bara refleks menoleh. Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahunan berdiri beberapa meter di belakangnya.

Tubuhnya tinggi. Rambut pendek. Jaket hitam polos. Tatapan matanya tajam, tetapi tidak memancarkan permusuhan.

Bara memasang posisi waspada.

"bukannya dia Galang ketua big bang?"gumam Bara

Pria itu bertanya. "siapa kau?."

"Kau duluan masuk wilayahku."

Bara memperhatikan sekeliling. "Wilayahmu?"

Pria itu tersenyum kecil. "Anggap saja begitu."

Beberapa detik mereka saling menatap. Tidak ada yang berbicara. Hingga akhirnya Bara menghela napas.

"Aku cuma sedang mencari informasi."

"Paprika TV?" tanya Galang

Kalimat itu membuat Bara langsung menyipitkan mata. "Kau tahu?"

Pria itu tidak langsung menjawab sebaliknya ia mengeluarkan sebungkus rokok.

"Mau?"

"Nggak." jawab Bara cepat

"Bagus." ucap Galang cepat sambil membakar rokok. "Aku juga nggak suka."

"Lah?"

"Ini bukan punyaku."

Bara mengernyit. "Terus buat apa ditawarin?"

"Biar sopan." singkat galang

Bara terdiam dua detik. "...Kamu aneh."

Pria itu tertawa pelan. "Sering dibilang begitu."

Suasana yang semula tegang mendadak sedikit mencair.

"Aku Galang."

"Bara."

Galang mengangguk pelan. "Aku pernah dengar namamu."

"Kita pernah ketemu?" tanya bara penasaran

"Belum." jawab Galang singkat.

"Tapi ada orang yang sering membicarakanmu."

"Siapa?"

"Johan."

Nama itu membuat Bara sedikit terkejut. "Kalian saling kenal?"

Galang mengangguk. "Boleh dibilang..."

"...kami bekerja di organisasi yang sama."

Bara langsung memahami maksud kalimat itu. "Four Men Crew."

Galang tidak membantah ia hanya tersenyum tipis. "Ternyata analisismu memang cepat."

Bara masih belum menurunkan kewaspadaannya. "Kalau begitu..."

"Kenapa kamu tidak menyerangku?"

Galang malah tertawa. "Untuk apa?"

"Kita belum punya urusan pribadi."

Jawaban itu terdengar jujur. Bara mulai merasa orang di depannya berbeda dengan Johan.

Mereka akhirnya duduk di bangku semen dekat gudang. Galang membuka sebotol air mineral.

"Lagi cari data Paprika?"

"Iya." singkat Bara

"Aku juga."

Bara langsung menoleh. "Kamu anggota Four Men Crew."

"Kenapa justru menyelidikinya?"

Galang menatap langit sore. "Kau pernah masuk ke rumah yang kelihatannya megah dari luar?"

"Pernah." jawab Bara cepat

"Begitu masuk..." Galang diam sesaat kemudian melanjutkan.

"...baru sadar fondasinya sudah retak."

Bara diam.

"Aku bergabung karena mengira Four Men Crew punya aturan."

"Ternyata?"

"Aturannya berubah."

Galang mengepalkan tangannya. "Awalnya kami menjaga wilayah."

"Melindungi usaha."

"Mengurus keamanan."

"Tapi sekarang..."

"...semuanya mulai berubah."

"Bisnis ilegal?" tanya Bara

Galang mengangguk. "Manusia mulai dianggap barang."

"Anak-anak muda dijadikan alat."

"Media sosial dipakai mencari target."

Bara menatap Galang cukup lama. Kalimat-kalimat itu terlalu spesifik untuk dibuat-buat.

"Kamu mau keluar?"

Galang tersenyum pahit. "Kalau semudah itu..." "Aku sudah pergi sejak lama."

"Ada alasan?" tanya bara kembali

"Ada." jawab Galang singkat. Lalu ia melanjutkan perkataannya. "Tapi belum waktunya kau tahu."

Bara tidak memaksa, mereka kembali terdiam. Hanya suara angin sore yang sesekali melewati lorong.

Beberapa menit kemudian. Galang berdiri.

"Aku punya usul."

"Apa?" tanya bara bingung

"Kita bekerja sama."

Bara mengangkat alis. "lo serius?"

"Aku bisa memberikan informasi dari dalam." ucap Galang

Bara yang mendengar penawaran Galang mencoba untuk bertanya lebih detail tentang rencana Galang. "Lalu aku?"

"Kau bergerak dari luar."

Bara berpikir sejenak. Ini memang berisiko namun kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

"Apa jaminannya aku bisa percaya padamu?"

Galang tersenyum kecil. "Tidak ada."

"Lalu?"

"Sama seperti aku." ucap Galang menjelaskan

"Aku juga tidak punya jaminan bisa percaya padamu."

Mereka saling memandang lalu tanpa sadar. Keduanya tertawa kecil.

"Aneh." ucap Bara.

"Kita bahkan baru kenal."

Galang mengangguk. "Kadang musuh yang memiliki musuh yang sama..."

"...lebih mudah bekerja sama."

Bara mengulurkan tangannya. "Kalau begitu."

"Kita buat kesepakatan."

Galang menyambut uluran tangan itu.

"Sampai Four Men Crew runtuh."

Keduanya berjabat tangan. Tidak ada saksi, tidak ada dokumen. Hanya dua orang yang memiliki tujuan yang sama. Menghancurkan organisasi dari dua arah yang berbeda.

Di tempat lain. Sebuah ruangan luas dengan pencahayaan redup. Belasan monitor memenuhi satu sisi dinding. Setiap monitor menampilkan gambar berbeda. Jalan raya, gudang, markas, gedung perusahaan, hingga lorong tempat Bara dan Galang baru saja berjabat tangan.

Seorang pria duduk tenang di kursi kulit hitam. Usianya sekitar lima puluh tahun. Rambutnya mulai memutih. Tatapannya tajam. Di meja depannya terdapat sebuah catur. Ia memindahkan satu bidak hitam.

*Tak.*

Pria itu tersenyum tipis. "Pion baru."

Di belakangnya berdiri Dani dan Danu keduanya sama-sama menundukkan kepala.

"Pak Gerald." ucap Dani pelan.

"Perlukah kami menghentikan mereka?"

Gerald tidak langsung menjawab ia justru mengambil bidak putih kemudian memindahkannya perlahan.

*Tak.*

"Dua anak muda."

"Merasa sedang membuat rencana besar."

Ia tersenyum. "Padahal..."

"...mereka tidak sadar."

"Mereka sedang berjalan di papan catur milikku."

Danu mengangkat kepala sedikit. "Jadi kita biarkan?"

Gerald mengangguk. "Biarkan."

"Semakin jauh mereka melangkah..."

"...semakin banyak informasi yang akan mereka kumpulkan."

Dani tampak bingung. "Kalau mereka benar-benar menemukan pusat operasi kita?"

Gerald terkekeh pelan. "Kalau seseorang ingin menemukan matahari..."

"...biarkan dia berjalan."

"Semakin dekat."

"Semakin panas."

"Dan akhirnya..."

"...dia akan terbakar sendiri."

Ruangan kembali sunyi. Gerald berdiri. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap seluruh Kota Surabaya. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.

"Sudah hampir dua puluh tahun." gumamnya pelan.

"Dulu..."

"...nama First Geng membuat seluruh Surabaya gemetar."

Tatapannya berubah jauh. Seolah mengingat masa lalu.

"Mereka pikir First Geng telah hancur."

"Tidak."

"Hanya berganti wajah." Gerald tersenyum tipis. "Dunia jalanan tidak pernah benar-benar mati."

"Ia hanya belajar memakai jas."

Dani dan Danu saling berpandangan. Mereka tahu setiap kali Gerald mulai mengenang First Geng. Berarti akan ada sesuatu yang besar segera terjadi.

Di sisi lain kota. Bara masih belum mengetahui bahwa orang yang baru saja ia jadikan sekutu ternyata telah diawasi sejak awal.

Sementara Galang juga belum menyadari. Bahwa setiap langkahnya selama beberapa bulan terakhir selalu berada dalam pengawasan seseorang.

Permainan yang mereka kira baru saja dimulai. Sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum mereka saling mengenal, dan di atas papan permainan itu. Gerald tidak sedang mencari pemenang ia sedang mencari siapa yang paling layak menjadi bidak berikutnya.

1
Ilham Rachmatullah
ahaha pika pikaa🤣
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!