Su Qing meninggal dunia. Ia diberi obat oleh sahabatnya hingga kehilangan kemampuan bernyanyi, karyanya dicuri oleh kekasihnya, wajahnya rusak akibat kecelakaan, dan akhirnya meninggal sendirian di rumah sakit tanpa ada yang mengurusnya.
Saat ia membuka mata kembali, ia telah terlahir kembali sebagai peserta pelatihan yang tidak dikenal, berusia 19 tahun, dan tidak memiliki apa-apa.
Namun, ia masih mengingat setiap nada, setiap baris lirik, dan setiap orang yang bertanggung jawab atas kematiannya.
Di kehidupan ini, ia tidak lagi sekadar menciptakan lagu — ia menyematkan kode balas dendam ke dalam melodi, dan menyembunyikan petunjuk bukti di balik liriknya. Ia mengikuti program kompetisi, memperebutkan sumber daya produksi, dan melakukan serangan balik yang tepat sasaran lewat serangkaian “lagu balas dendam”.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Suara Gu Shen terdengar jelas dari samping sana. “Tidak ada apa-apa. Mereka latihan sendiri semua.”
Liang Wenbo menggeleng pelan lalu menoleh ke arah kelima peserta di panggung. “Penampilan kalian belum sempurna sepenuhnya. Cheng Yinuo, nada tinggimu agak mendahului setengah ketukan di kalimat ketiga. Zheng Nan, kau belum menahan akhir kata terakhir nada rendahmu dengan mantap. A Jie dan Xiao Hu, ritme kalian sedikit buyar di bagian paduan suara kedua.” Ia berhenti sejenak. “Tapi, kalian berhasil mengeluarkan satu hal. Hal yang tidak bisa diajarkan orang lain, dan tidak bisa didapatkan hanya dengan latihan saja.”
Dia tidak menjelaskan apa hal itu, tapi semua orang di ruangan itu mengerti maknanya.
Lin Wei mengambil mikrofonnya, lalu tersenyum berkata, “Menurutku penampilan Kelompok Biru hari ini sangat luar biasa, apalagi Su Qing, suaranya sangat khas dan mudah dikenali.” Pandangannya berhenti sesaat di wajah Su Qing. “Aku sangat tidak sabar ingin bekerja sama denganmu.”
Su Qing hanya menjawab “terima kasih”, wajahnya tetap tenang tanpa perubahan.
Fang Ya duduk di kursi tamu, tidak memberikan komentar apa pun, hanya terus menatap Su Qing.
Pandangan itu persis seperti tatapannya dulu di ruang perekam — seolah sedang berusaha memastikan sesuatu yang penting.
Hasil nilai pun keluar.
Rata-rata nilai Kelompok Biru adalah sembilan puluh satu. Lima poin lebih tinggi dibandingkan Kelompok Merah.
Nilai pribadi Su Qing adalah sembilan puluh lima, tertinggi di antara semua peserta. Cheng Yinuo sembilan puluh, Zheng Nan delapan puluh delapan, dan A Jie serta Xiao Hu sama-sama mendapatkan delapan puluh lima.
Dua peserta yang tersisihkan berasal dari Kelompok Merah — seorang pemuda dan seorang gadis dengan nilai terendah. Saat mendengar hasilnya, wajah mereka datar tanpa ekspresi apa pun, seolah sudah tahu hal itu akan terjadi.
Dari sepuluh peserta, sekarang tinggal delapan orang saja.
Nilai pribadi Zhao Ruoruo delapan puluh sembilan, tertinggi di kelompoknya, selisih tiga poin di atas He Siyu. Tapi saat mendengar angkanya, senyum di wajahnya tidak bertahan lama — bukan karena nilai yang didapatkannya rendah, tapi karena nilai Su Qing enam poin lebih tinggi darinya.
Setelah acara selesai, He Siyu memanggil Su Qing di lorong belakang.
“Su Qing,” He Siyu berlari mendekat, matanya memerah tapi bukan karena sedih. “Aku lolos ke babak selanjutnya.”
“Aku tahu,” jawab Su Qing.
“Delapan puluh enam poin, selisih tiga poin di bawah Zhao Ruoruo,” suara He Siyu sedikit bergetar. “Tapi aku berhasil menyanyikan apa yang aku inginkan. Fang Ya yang bilang begitu, katanya bagian nyanyianku hari ini adalah suara paling jujur yang dia dengar sepanjang minggu ini.”
Su Qing menatapnya, lalu sedikit mengangkat sudut bibirnya. “Selamat ya.”
He Siyu memeluknya erat sebentar, lalu melepaskan pelukan dan berlari pergi.
Su Qing diam di tempat, menatap punggung He Siyu sampai menghilang di ujung lorong.
Ponselnya bergetar. Pesan dari L: Zhao Ruoruo tadi bicara sama anggota Kelompok Merah di belakang panggung, bilang nilai tinggimu itu karena dibantu Gu Shen. Dia menyebarkan kabar kalau Gu Shen dan Liang Wenbo berteman dekat, makanya Liang Wenbo memberi nilai tinggi ke Kelompok Biru.
Su Qing membaca pesan itu lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Kabar burung mulai bermunculan.
Tapi bukan kabar yang diharapkan Zhao Ruoruo — bukan soal minta orang lain menulis lagu, tapi tuduhan naik karena koneksi. Zhao Ruoruo sedang mengubah strategi. Karena bukti palsu soal penulisan lagu belum selesai dibuat, dia mulai menanamkan keraguan lewat isu koneksi dulu, nanti kalau bukti dari Chen Hao sudah jadi, baru dia akan melancarkan serangan telak.
Su Qing masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai satu.
Saat pintu hampir tertutup, sebuah tangan menyela masuk menahan pintu itu tetap terbuka.
Gu Shen masuk ke dalam, masih membawa secangkir kopi yang sama.
Keduanya berdiri diam di dalam lift, tidak ada yang bersuara.
Lift sampai di lantai satu, pintu terbuka. Su Qing berjalan keluar, dan Gu Shen mengikuti di belakangnya.
“Su Qing,” dia memanggilnya.
Su Qing berbalik badan.
“Bagian nadamu yang terakhir tadi, kenapa kau panjangkan dua ketukan?”
Su Qing menatapnya lekat-lekat. “Karena aku memang ingin bernyanyi begitu.”
Gu Shen meneguk kopinya, lalu mengangguk pelan.
“Lain kali sering-seringlah berbuat begitu.”
Dia berbalik pergi berjalan menuju arah tempat parkir kendaraan.
Su Qing berdiri di depan pintu gedung, angin musim gugur menerbangkan rambutnya menutupi wajah.
Ia menyisir rambutnya ke belakang telinga dengan tangan, lalu menuruni tangga gedung.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan dari L, tapi dari Lin Wei.
“Su Qing, penampilanmu hari ini luar biasa sekali! Aku sudah tidak sabar ingin mendengar lagu yang kau buat untukku. Ada waktu minggu depan? Datanglah ke studionya ya?”
Su Qing membaca pesan itu, lalu mengetikkan balasan:
“Baik, sampai jumpa minggu depan.”
Ia menekan tombol kirim, lalu memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Matahari muncul dari balik awan, menyinari wajahnya dengan kehangatan yang lembut.
Namun hatinya, terasa sedingin musim dingin.