Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANGGREK API
Elena mendengus, namun dia tidak menepis tangan Arlon, dia memilih kembali fokus pada Anggrek Api yang bergoyang tertiup angin di tengah sungai.
Air sungai yang berwarna perak itu terlihat tenang, tapi Elena tahu ada sesuatu yang mengintai di baliknya.
"Duduk di sini, jangan bergerak sedikit pun," perintah Elena sambil mendorong Arlon untuk duduk di sebuah batang pohon tumbang yang cukup tinggi dari permukaan air.
"Kamu mau ke sana sendirian?" tanya Arlon, raut wajahnya berubah serius.
"Ular air itu sensitif pada energi besar, kalau kamu ikut maju, energi nagamu yang baru bangun itu akan membuat mereka mengamuk. Biar aku yang ambil, aku bisa menyamarkan keberadaan ku," jawab Elena sambil memeriksa posisi belatinya.
Arlon mengepalkan tangannya, dia benci merasa tidak berdaya, tapi dia tahu Elena benar.
"Kalau ada apa-apa, jangan paksakan, aku lebih butuh kamu daripada bunga itu," pesan Arlon, penuh perhatian.
Elena tidak menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyum tipis,
Hap
Elena mulai melompat dari satu batu ke batu lain dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Begitu kakinya menyentuh batu terakhir sebelum mencapai bunga itu, permukaan air sungai mulai bergetar.
Srak!
Tiba-tiba, sebuah ekor bersisik biru gelap muncul dari dalam air, menghantam batu tempat Elena berdiri.
Beruntung nya insting Elena sudah terlatih, dia melompat mundur dengan salto di udara, mendarat kembali di batang pohon tempat Arlon duduk.
"Kamu lihat kan? Mereka agresif sekali," gumam Elena, napasnya sedikit memburu.
"Mereka bukan cuma menjaga bunga itu, El. Mereka haus darah. Sini, biar aku bantu sedikit," ucap Arlon berdiri, matanya berkilat tajam.
"Jangan gunakan energi besar mu, Arlon! Nanti segel mu sakit lagi," peringat Elena, tegas.
"Tidak akan, Sayang, percaya pada ku," jawab Arlon meraih telapak tangan Elena, menggenggamnya erat.
"Aku tidak akan menyerang, aku hanya akan memberikan mereka umpan, supaya perhatian mereka teralih, nanti saat aku bilang sekarang, kamu lari ambil bunga itu, mengerti?" ucap Arlon, menjelaskan.
"Umpan apa maksudmu?" tanya Elena, mengernyit kan kening nya.
Arlon tidak menjawab, tapi dia sedikit mengiris ujung jarinya sendiri dengan kuku jarinya yang kini setajam cakar naga.
Tes
Setetes darah merah pekat jatuh ke air, begitu darah itu menyentuh permukaan sungai, air itu mendidih, ular-ular air itu langsung berkerumun ke arah darah Arlon, menganggapnya sebagai sumber kekuatan besar.
"Sekarang, El!" seru Arlon.
Elena tidak membuang waktu, dia langsung melesat seperti kilat, menginjak punggung salah satu ular yang sedang berebut darah Arlon, dan dalam satu gerakan cepat, dia berhasil mencabut Anggrek Api itu.
"Dapat!" teriak Elena sambil melompat kembali ke daratan.
Namun, begitu Elena mendarat, dia melihat Arlon sedikit goyah, wajah pria itu kembali pucat, rupanya mengeluarkan darah naga, meskipun hanya setetes, tetap menguras energi nya yang belum stabil.
Elena segera menghampiri Arlon dan merangkul pinggangnya agar pria itu tidak jatuh.
"Bodoh! Kenapa pakai melukai diri sendiri segala?" ucap Elena galak, menutup rasa khawatirnya.
"Supaya kamu... tidak perlu terluka, El. Lagipula, melihatmu khawatir seperti ini... rasanya lebih baik daripada obat mana pun," jawab Arlon terkekeh lemah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Elena.
"Masih sempat-sempatnya bercanda," gerutu Elena, membantu Arlon duduk kembali.
Tanpa mereka sadari, di atas tebing tempat mereka turun tadi, sebuah bayangan hitam sedang mengamati dengan saksama.
"Tidak salah lagi, dua garis keturunan yang sudah punah, akan kembali lahir dengan darah yang lebih kuat dari leluhur kalian," batin pria misterius yang mengamati mereka dari atas tebing.
Pria itu pergi sebelum keberangkatannya di sadari oleh Elena dan Arlon.
"Lihat itu," ucap Elena menunjuk ke arah celah kecil di balik air terjun mini yang tersembunyi oleh tanaman merambat.
"Kita bisa sembunyi di sana sebentar. Tempatnya cukup tertutup dari pandangan atas, kalau-kalau Selena mengirim mata-mata, walaupun seperti nya mustahil mereka bisa sampai ke tempat ini," lanjut Elena menuntun Arlon masuk ke dalam celah batu tersebut.
Begitu sampai di dalam, suasana terasa jauh lebih tenang, suara gemercik air menyamarkan napas mereka yang masih sedikit memburu.
"Duduk," perintah Elena ketus sambil menarik Arlon untuk duduk di atas batu besar yang permukaannya cukup rata.
Arlon menurut, dia langsung menyandarkan punggungnya ke dinding gua yang dingin.
"El, tanganmu... jangan dilepas dulu," rengek Arlon, lemas.
Elena yang tadinya mau beranjak untuk memeriksa keadaan di luar, terpaksa duduk di samping Arlon, dia tetap menggenggam tangan pria itu, membiarkan energi hangat dari tubuhnya mengalir masuk ke dalam nadi Arlon yang sedang bergejolak.
"Seperti nya kamu memang bukan manusia biasa El, apa mungkin kamu bidadari, kenapa kamu sangat cantik dan energi mu mampu menghangat kan darah naga ku yang beku," goda Arlon, tertawa kecil.
"Berhenti berbicara hal konyol, aku cuma alat untuk membunuh," jawab Elena, memutar bola matanya malas.
"Alat tidak punya tangan sehangat dan selembut ini, Elena," ucap Arlon lembut.
Arlon menarik tangan Elena ke depan wajahnya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan pelan, membuat Elena tersentak kaget.
Cup
"Arlon! Berhenti melakukan hal-hal seperti itu!" bentak Elena dengan pipi yang mulai merona merah lagi.
"Kenapa? Kamu masih malu setelah ciuman di paviliun semalam? Kupikir pembunuh bayaran punya nyali yang lebih besar," ucap Arlon tertawa kecil, meskipun wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
"Berhenti membahas itu," ucap Elena sambil mencoba menarik tangannya, tapi Arlon malah menggenggamnya lebih kuat.
"Tapi El, aku serius, hutan ini bereaksi padamu, kmu lihat bunga-bunga liar di dekat kakimu tadi saat kita masuk ke sini?" ucap Arlon, melihat bunga-bunga yang di injak Elena.
Elena mengerutkan kening, dia menunduk melihat tanaman kecil di sela-sela batu yang tadinya layu kecokelatan, namun sekarang terlihat sedikit lebih tegak dan segar sejak dia duduk di sana.
"Mungkin cuma kebetulan," jawab Elena, menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada kebetulan di dunia ini, El," ucap Arlon dengan nada yang tiba-tiba berubah berat.
Dia menatap langit-langit gua dengan pandangan kosong.
"Selena membenci klan ibuku bukan tanpa alasan, dia tahu kalau darah naga ku bangkit seutuhnya, aku bisa membuat Belmont berada di kaki ku, makanya dia dari dulu bersikeras ingin menyingkirkan ku, dengan memberikan racun itu," ucap Arlon, mengepal kan tangan nya kuat.
"Awalnya aku pikir racun itu hanya racun biasa, tapi ternyata racun itu jauh lebih berbahaya dari yang aku pikirkan," lanjut Arlon, menatap Elena.
"Terimakasih sudah hadir El, terimakasih sudah menghangat kan darah naga ku yang sudah beku itu," ucap Arlon, mencium punggung tangan Elena.
Cup
Elena terdiam, dia merasakan denyut aneh di jantungnya.
Elena tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya bisa diam, membiarkan keheningan gua menyelimuti mereka berdua.
Rasa hangat menjalar dari tangan Arlon menuju ke hatinya, sebuah perasaan yang seharusnya tidak boleh dimiliki oleh seorang pembunuh.