NovelToon NovelToon
Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Gadis Cupu Itu Ternyata Ketua Mafia Dan Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Oktavianiputri77

Mereka mengenalnya sebagai gadis cupu—pendiam, berkacamata, selalu sendiri, dan sering diremehkan. Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah polosnya, tersembunyi sosok paling berbahaya di kota.
Saat malam tiba, dia berubah menjadi ketua mafia yang dingin dan tak tersentuh. Dengan tatapan tajam dan langkah penuh wibawa, semua orang tunduk pada satu perintahnya. Bukan hanya itu, dia juga CEO muda dari perusahaan terbesar yang menguasai berbagai industri.
Cantik, cerdas, dan mematikan.
Dia tidak pernah membalas hinaan dengan kata-kata—dia membalasnya dengan kekuasaan.
Dulu mereka menertawakan gadis cupu itu.
Sekarang, mereka bahkan takut menatap matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Oktavianiputri77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Retakan di Dalam Uji

Malam setelah uji itu tidak terasa seperti malam biasa.

Tidak ada suara sirene.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada tanda apa pun.

Tapi justru itu yang membuatnya terasa salah.

SMA Wijaya sudah kembali gelap dan kosong.

Namun ruang OSIS tidak benar-benar “kosong”.

Selene masih duduk di lantai.

Laptop sudah mati.

Tangannya masih gemetar kecil.

“…aku tidak mau lihat itu lagi,” bisiknya.

Arsen berdiri di dekat jendela.

Matanya mengarah ke luar, tapi pikirannya tidak berada di sana.

Anya berdiri diam di tengah ruangan.

Tidak duduk.

Tidak bergerak.

Seolah sedang menunggu sesuatu yang belum selesai.

Sunyi.

Selene tiba-tiba tertawa pelan.

“…jadi itu semua memang nyata?”

Arsen tidak menoleh.

“Tidak penting apakah itu nyata.”

Ia berhenti.

“Yang penting adalah kita sudah terdaftar di dalamnya.”

Selene menatapnya.

“Terdaftar untuk apa?”

Arsen menjawab pelan:

“Untuk dinilai lagi.”

Anya akhirnya berbicara.

“…dan lagi.”

Selene langsung menoleh ke Anya.

“Berapa banyak lagi?!”

Anya tidak langsung menjawab.

Lalu:

“Selama kita belum gagal.”

Sunyi.

Di luar ruangan.

Lampu koridor berkedip sekali.

Hanya sekali.

Lalu mati lagi.

Arsen langsung menoleh.

“…kalian lihat itu?”

Selene langsung berdiri.

“Aku mau pulang.”

Ia melangkah ke pintu.

Tangan di gagang.

Klik.

Tidak terbuka.

Selene menarik lagi.

Lebih keras.

Tetap tidak terbuka.

“…apa-apaan ini?!”

Arsen melangkah cepat.

Mencoba membuka pintu lain.

Sama.

Terkunci.

Anya menatap pintu itu.

Ekspresinya berubah sedikit.

Bukan panik.

Tapi fokus.

“…mereka sudah mengunci ruangan.”

Selene menoleh cepat.

“SIAPA?!”

Anya menjawab pelan:

“EL.”

Arsen langsung menatapnya.

“Kenapa sekarang?”

Anya tidak langsung menjawab.

Tapi matanya mengeras.

“…karena hasil uji sudah diproses.”

Selene tertawa kecil, tapi panik.

“Diproses?! Kita ini manusia, bukan file!”

Lalu—

Laptop di lantai menyala sendiri lagi.

Selene langsung mundur.

“…enggak… enggak lagi…”

Layar menampilkan satu kalimat.

“HASIL UJI KEJUJURAN: TIDAK FINAL”

Arsen menyipit.

“…tidak final?”

Anya melangkah lebih dekat.

“…berarti kita belum ditentukan.”

Selene menatap mereka berdua.

“Ditentukan apa?!”

Layar berubah lagi.

“SUBJEK: ARSENIO RAFARDHAN” “STATUS: POTENSIAL AKTIF”

Selene menatap Arsen.

“…potensial apa?”

Arsen tidak menjawab.

Matanya fokus ke layar.

Lalu:

“SUBJEK: SELENE” “STATUS: INSTABIL”

Selene langsung mundur.

“…instabil?!”

Anya menatap layar.

Tidak bereaksi besar.

Tapi matanya sedikit lebih dingin.

Lalu nama terakhir muncul.

“SUBJEK: ANYA CLARISSA” “STATUS: ANOMALI TERKUNCI”

Ruangan menjadi hening total.

Selene berbisik:

“…apa maksudnya itu?”

Arsen membaca pelan:

“Potensial aktif… instabil… anomali terkonci…”

Ia menoleh ke Anya.

“…kau yang paling tidak bisa dibaca.”

Anya tidak membantah.

Sunyi.

Lalu sistem berbunyi lagi.

“KEPUTUSAN: AKSES LANJUTAN DIBERIKAN KEPADA SUBJEK ARSENIO RAFARDHAN”

Selene langsung menoleh.

“…kamu?!”

Arsen tidak terlihat terkejut.

Tapi matanya sedikit menyipit.

Anya menatap layar.

“…jadi mereka memilih satu.”

Selene panik.

“Memilih apa?!”

Arsen menjawab pelan:

“Jalur masuk lebih dalam.”

Selene tertawa kecil.

“Dan aku?”

Layar menjawab sebelum siapa pun bisa.

“SELENE: DITAHAN DALAM OBSERVASI”

Selene membeku.

“…ditahan?”

Anya menatapnya.

“Artinya kamu tidak dikeluarkan.”

Ia berhenti.

“Tapi juga tidak diizinkan masuk.”

Selene menatapnya tajam.

“Jadi aku apa?!”

Arsen menjawab tanpa emosi:

“Variabel liar.”

Selene terdiam.

Dan itu lebih menyakitkan daripada ancaman.

Tiba-tiba lampu menyala kembali.

Pintu terbuka sendiri.

Seolah tidak pernah terkunci.

Selene langsung berlari keluar.

Tanpa menoleh.

Arsen tidak menghentikannya.

Hanya menatap pintu yang terbuka.

Anya berbicara pelan:

“Dia tidak akan stabil lama.”

Arsen menoleh ke Anya.

“…kau tahu itu dari awal.”

Anya mengangguk kecil.

“Dia terlalu emosional untuk sistem yang menguji ketahanan identitas.”

Arsen melangkah sedikit mendekat.

“Dan aku?”

Anya menatapnya.

“…kamu terlalu tenang.”

Sunyi.

Arsen menatapnya lebih dalam.

“Dan kamu terlalu kosong.”

Hening.

Untuk pertama kalinya, Anya tidak langsung menjawab.

Lalu:

“…bukan kosong.”

Ia berhenti.

“Disimpan.”

Arsen menyipit.

“…oleh siapa?”

Anya tidak menjawab.

Tapi itu cukup untuk membuat Arsen paham satu hal:

jawaban itu tidak akan datang dengan mudah.

Di luar ruang OSIS.

Langit kembali cerah sedikit.

Seolah badai hanya lewat sebentar.

Tapi di dalam sistem yang tidak terlihat—

sesuatu sudah berubah bentuk.

Arsen berdiri di ambang pintu.

“Kalau aku lanjut masuk…”

Anya menatapnya.

“…kamu tidak akan kembali ke titik ini.”

Arsen menjawab pelan:

“Aku tidak mencari jalan kembali.”

Hening.

Anya menatapnya lama.

Lalu berkata:

“Kalau begitu… mulai besok.”

Ia berhenti.

“…kamu tidak lagi hanya Arsen Rafardhan.”

Arsen menyipit.

“…apa aku sekarang?”

Anya menjawab pelan:

“Bagian dari keputusan yang belum selesai.”

Dan malam itu berakhir tanpa benar-benar selesai.

Karena sesuatu yang lebih besar dari mereka bertiga…

baru saja memberi mereka izin untuk melangkah lebih jauh.

1
Night Watcher
seharusnya cerita yg bagus, tp mc dibuat terlalu monoton, shg cerita jd kaku dan menjemukan.
kasih sedikit gaya relax deh... biar lebih nyantai bacanya🙏
Night Watcher
sekolah kelas atas masa lantainya semen? granit kek, marmer, minimal keramik lah ..😇
Night Watcher
katanya dlm 2 hr, selene hancur. tp msh ttp aja berjaya?
Night Watcher
mungkinkah aku reader pertama?
Night Watcher
coba mampir..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!