Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ardiansyah berbalik badan sedikit ke samping, menatap wanita cantik yang berdiri setia di sebelahnya , Bunga Rahayu. Wanita yang telah menemani dan mendampinginya selama masa-masa tergelap dalam hidupnya, wanita yang tulus mencintainya, dan wanita yang dengan penuh kasih sayang menyayangi Salwa seolah anak kandungnya sendiri. Ardiansyah menggenggam tangan Bunga erat, lalu kembali menatap seluruh tamu, namun kali ini sorot matanya tertuju tajam ke arah satu titik di barisan paling depan. Ke arah tempat duduk keluarga Pratama, dan lebih tepatnya lagi, ke arah wanita tua yang berdiri membatu di sana: Ratih, mantan istrinya.
"Saudara sekalian..." suara Ardiansyah kembali terdengar berat, jelas, dan berwibawa, menggema memenuhi seluruh ruangan megah itu. "Masih ada satu berita bahagia yang belum saya sampaikan. Berita yang sama pentingnya, dan sama berartinya bagi hidup saya dan putri saya, Salwa."
Ardiansyah menjeda sejenak, membiarkan rasa penasaran melanda setiap orang. Di bawah sana, Yogie, Sania, Pak Joko, dan Ratna saling pandang dengan wajah semakin pucat. Jantung mereka berdebar kencang, firasat buruk kembali menghantui dada mereka. Mereka merasa setiap kata yang keluar dari mulut Ardiansyah malam ini seolah ditujukan khusus untuk menghancurkan mereka satu per satu.
"Selama bertahun-tahun saya membangun perusahaan ini, berjuang bangkit dari keterpurukan, dan menata kembali hidup saya... ada satu wanita yang selalu ada di samping saya. Wanita yang tidak pernah meninggalkan saya saat saya tidak memiliki apa-apa, wanita yang tulus mencintai saya tanpa melihat harta atau kedudukan, dan wanita yang sangat menyayangi putri saya, Salwa, melebihi dirinya sendiri."
Ardiansyah mengangkat tangan Bunga lebih tinggi, menampakkan wanita itu kepada seluruh hadirin. Bunga tersenyum anggun, matanya berbinar bahagia namun tetap tenang. Kecantikannya yang alami, keanggunannya, dan ketulusan hatinya terlihat jelas bagi siapa saja yang memandangnya. Sangat berbeda jauh dengan wanita yang dulu pernah mendampingi Ardiansyah.
"Dan malam ini, di hari yang bersejarah ini, di hadapan kalian semua... saya ingin mengumumkan niat saya yang paling tulus. Saya, Ardiansyah Laksana, dengan ini berniat meminang Bunga Rahayu..."
Suasana seketika berubah menjadi riuh rendah suara kekaguman dan ucapan selamat. Nama Bunga Rahayu terdengar indah dan pas di samping nama besar Ardiansyah. Namun, Ardiansyah kembali memotong kegaduhan itu dengan kalimat yang jauh lebih mengejutkan dan menyakitkan bagi sebagian orang.
"Ingatlah baik-baik, Saudara sekalian... Keputusan ini bukan hanya keputusan saya sendiri. Langkah besar ini... justru datangnya dari permintaan, keinginan, dan harapan terbesar dari putri kandung saya, wanita yang baru saja saya umumkan menjadi pemimpin kalian malam ini... Salwa Azzahra Laksana."
Ardiansyah berbalik menatap Salwa dengan penuh kasih sayang, lalu melanjutkan dengan suara lantang.
"Putri sayalah yang meminta saya, yang mendesak saya, dan yang meyakinkan saya untuk bersatu dengan Bunga. Baginya, Bunga Rahayu adalah satu-satunya wanita yang berhak mendampingi hidup saya, satu-satunya wanita yang berhak menjadi ibunya, dan satu-satunya wanita yang tulus menyayangi kami berdua. Pernikahan kami nanti adalah kado terindah yang saya berikan untuk kebahagiaan putri saya."
Pengumuman itu meledak bagai petir di siang bolong. Bagi seluruh tamu undangan, ini adalah berita indah yang menyempurnakan kebahagiaan malam itu. Namun, bagi keluarga Pratama, Sania, Pak Joko, dan khususnya Ratna... kata-kata itu terasa seperti ribuan jarum tajam yang menusuk tepat ke ulu hati mereka.
Keluarga Pratama ternganga tak percaya. Mereka yang dulu begitu meremehkan Salwa, yang menganggap gadis itu tidak tahu adat, tidak berguna, dan malang... kini menyadari bahwa Salwa bukan saja pewaris kekayaan luar biasa, tapi juga sosok anak yang begitu mulia, berhati emas, dan sangat berkuasa menentukan kebahagiaan ayahnya sendiri. Keberadaan Bunga di samping Ardiansyah, dan fakta bahwa Salwa sendirilah yang menginginkan persatuan itu, membuat posisi mereka semakin hancur. Mereka sadar betul, betapa jauh bedanya nilai diri Salwa dan Bunga dibandingkan dengan Sania dan ibunya.
Sania hampir jatuh tergopoh, kakinya begitu lemas. Ia menatap Salwa dengan pandangan iri yang membara namun penuh kepahitan. Kenapa? Kenapa semuanya indah baginya? batin Sania berteriak marah. Dulu aku yang punya segalanya, aku yang dicintai, aku yang dianggap paling berharga. Sekarang? Dia punya segalanya. Dia cantik, dia kaya, dia berkuasa, dia dicintai ayahnya, dan dia bahkan bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Sedangkan aku... aku hanya boneka cantik yang sekarang terlihat begitu hina dan kecil di matanya.
Yogie hanya diam terpaku, wajahnya kaku tanpa ekspresi namun matanya menyimpan rasa sakit yang luar biasa. Ia menatap Salwa, lalu menatap Sania di sampingnya. Perbandingan itu begitu menyakitkan. Wanita yang ia buang kini berdiri di puncak kebahagiaan dan kemuliaan, sedangkan wanita yang ia pilih sebagai gantinya kini terlihat begitu dangkal, begitu picik, dan begitu tidak ada artinya di hadapan keagungan Salwa. Yogie sadar sepenuhnya, bahwa keputusannya dulu menceraikan Salwa adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, kesalahan yang membuatnya kehilangan emas sejati demi kaca yang berkilau palsu.
Pak Joko mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu betul siapa Bunga Rahayu. Ia tahu wanita itu wanita baik-baik, mulia, dan jauh lebih hebat daripada Ratna, istrinya sendiri. Ia tahu betapa Ardiansyah sangat mencintai dan dihargai oleh wanita itu. Rencana jahatnya dulu untuk memisahkan Ardiansyah dan Ratih, untuk merebut harta dan kesempatan, kini berbalik menamparnya paling keras. Ardiansyah tidak hancur seperti yang ia harapkan. Ardiansyah bangkit, menjadi jauh lebih hebat, dan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada wanita yang ia ambil.
Namun, yang paling hancur hatinya, yang paling terbakar amarah dan penyesalannya malam itu adalah Ratna.
Ratna berdiri di sana, di antara kerumunan orang, kaku bagai patung. Wajahnya yang sudah mulai menua itu kini merah padam, berganti menjadi pucat, lalu kembali merah lagi. Matanya menatap tajam ke arah panggung, ke arah Ardiansyah dan Bunga yang saling berpandangan penuh cinta, dan ke arah Salwa yang tersenyum bahagia melihat kebahagiaan ayahnya.
Rasa penyesalan yang dulu terasa samar-samar kini berubah menjadi rasa sakit yang membakar seluruh jiwanya. Di samping rasa sesal yang begitu dalam, ada amarah yang meluap-luap, amarah yang sulit dijelaskan asal-usulnya. Amarah itu bukan pada dirinya sendiri, bukan pada kebohongannya dulu, tapi amarah iri hati yang buta.
"Kenapa dia bahagia?" jerit hati Ratih yang gelap. Kenapa dia sukses? Kenapa dia punya wanita sebaik itu? Dulu dia cuma pria miskin! Dulu dia milikku! Aku yang membuangnya, tapi kenapa dia justru jadi hebat dan bahagia, sedangkan aku... aku harus hidup susah menutupi kebohongan, hidup dalam ketakutan, hidup dengan pria (Joko) yang ternyata tidak lebih dari penipu biasa?
Ratna menatap Bunga dengan pandangan benci yang nyata. Ia membenci wanita itu karena wanita itu kini menduduki posisi yang dulu miliknya. Ia membenci Bunga karena Bunga mendapatkan Ardiansyah saat Ardiansyah sudah menjadi orang besar dan kaya raya. Ia merasa seolah-olah Bunga mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya, meski dialah yang dulu dengan sukarela membuangnya jauh-jauh.
Dan yang paling membuat Ratna ingin meledak marah adalah kenyataan bahwa Salwa, anak kandungnya sendiri, anak yang ia buang, anak yang ia sakiti, anak yang ia anggap beban... justru menjadi orang yang paling mendukung persatuan itu.
Kenapa dia? batin Ratih semakin gila. Kenapa anak itu tidak membencinya? Kenapa dia justru menginginkan wanita lain menjadi ibunya? Apa aku kurang baik? Apa aku kurang memberi? Padahal aku yang melahirkannya!
Namun, di lubuk hatinya yang paling dalam, Ratna tahu jawabannya. Ia tahu alasannya. Ia tahu bahwa Bunga memberikan kasih sayang tulus, perhatian, dan kehangatan yang tidak pernah ia berikan. Ia tahu bahwa Bunga ada saat Salwa jatuh tersungkur, sedangkan ia sendiri justru yang mendorong Salwa ke jurang penderitaan. Ia tahu, ia kalah telak sebagai seorang ibu, kalah telak sebagai seorang istri, dan kalah telak sebagai manusia.
bersambung,,,