Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondangan
Pagi ini Raina sedang mengencangkan tali sepatunya di depan pintu sambil berteriak ke dalam rumah.
"Rob! Malam ini jangan lupa ya, kita ke kondangan Sinta!" teriak Raina mengingatkan.
Dari arah kamar, suara Robby yang masih setengah terjaga: "Yang mana?"
"Sinta. Teman SMA-ku. Sudah aku kasih tahu dari minggu lalu." lanjut Raina.
"Oh. Iya, iya."
"Jam tujuh malam. Jangan pulang terlambat."
"Oke."
Raina berdiri, mengambil tasnya dan keluar.
Di luar, pagi masih sedikit kelabu... matahari yang belum sepenuhnya naik, udara yang masih membawa sisa dingin semalam.
Sore harinya, di kamar Raina menyetrika gaun yang sudah ia keluarkan dari lemari paling dalam.
Gaun navy blue... tidak terlalu formal, tidak terlalu kasual, dengan potongan yang rapi dan bahan yang jatuh dengan baik. Terakhir ia pakai dua tahun lalu untuk acara kantor Robby yang ia diundang ikut.
Malam ini ia yang memilih sendiri.
Ia menyetrika dengan teliti, menggantungnya di belakang pintu, kemudian duduk di depan cermin rias.
Riasan yang lebih lengkap dari biasanya. Ia menatap dirinya di cermin.
"Tidak buruk," pikirnya.
Pukul enam tiga puluh, ia sudah siap. Duduk di sofa ruang tamu, tas di pangkuan dan menunggu suaminya pulang.
Tepat pukul tujuh kurang lima belas, ponselnya bergetar. Raina melihat nama di layar dan sudah tahu apa isinya sebelum membacanya.
"Rain maaf aku lembur malam ini. Kamu pergi dulu aja ya."
Raina menatap pesan itu selama sepuluh detik penuh.
Kemudian ia menelepon.
Nada sambung. Satu. Dua. Tiga.
"Halo, Rain..." jawab Robby dari sebrang sana.
"Kamu bilang oke tadi pagi." Suara Raina tidak keras... tapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda dari suaranya sehari-hari, sesuatu yang tipis dan tegang seperti senar yang ditarik terlalu kencang. "Aku sudah ingatkan dari minggu lalu. Kamu bilang oke."
"Iya tapi ini mendadak, Rain, kliennya..." Robby ingin menjelaskan, tapi Raina memotongnya.
"Ini kondangan teman SMA-ku, Rob." Raina berdiri dari sofa. "Sinta. Aku sudah tidak ketemu dia tiga tahun. Dia yang minta aku datang."
"Aku tahu, tapi..." kebimbangan terasa jelas dari nada suaranya. Robby seperti ada di dua persimpangan, antara ikut Raina pergi ke kondangan... atau yang katanya 'lembur'
"Tidak ada tapi." suara Raina meninggi.
"Rain..."
Raina mematikan telepon.
Ia berdiri di tengah ruang tamunya sendiri,menghirup napas panjang yang tidak sepenuhnya membantu. Kemudian ia keluar dari rumah.
Raina mengunci pintu, membalikkan badan dan berhenti.
Di teras rumah nomor 9 di seberang, Hadi sedang berdiri mengunci pintunya sendiri. Kemeja putih bersih, celana bahan gelap, jam tangan yang sudah Raina kenal sebagai bukan jam biasa. Rambutnya disisir rapi dengan cara yang berbeda dari rambut tetangga sehari-hari.
Hadi yang mendengar suara pintu di seberang mendongak. Mereka bertatapan dari dua halaman yang berhadapan.
"Mau ke mana?" Raina yang bertanya duluan.
"Kondangan." Hadi menuruni anak tangga terasnya. "Teman kuliah. Namanya Bagas."
Raina mengeluarkan undangannya dari tas... kertas putih dengan nama pengantin di tengah, dicetak dengan huruf emas. Ia membacanya ulang meski sudah hafal.
"Bagas Pratama & Sinta Amelia."
"Sinta," kata Raina, sedikit terkejut.
Hadi berhenti. "Kamu kenal Sinta?" ia sama terkejutnya.
"Teman SMA-ku." Raina mendongak. "Kamu kenal Bagas?"
"Teman kuliah."
Mereka menatap satu sama lain di bawah lampu jalan Griya Asri yang tidak terlalu terang.
Kemudian Raina menoleh ke carport yang kosong... tidak ada motor Robby, tidak akan ada malam ini, dan Hadi yang mengikuti arah pandangannya tidak perlu penjelasan panjang.
"Sama-sama sendiri?" tanya Hadi.
"Kelihatannya begitu." jawab Raina.
"Motor aku." Hadi berjalan ke carport motornya. "Kamu mau?"
Raina mempertimbangkan opsi lain... ojek online, angkot, atau tetap di rumah dan kirim pesan ke Sinta bahwa ia tidak jadi datang. Tapi Sinta sudah menelepon dua kali bulan lalu memastikan Raina datang.
"Mau," putus Raina akhirnya.
Hadi mengeluarkan motornya. Raina sudah berdiri di samping motor ketika Hadi meraih helmnya... ia sodorkan helm ke Raina, kemudian mengambil helm satunya untuk dirinya.
Hadi sudah duduk di depan, mesin menyala. Ia tidak langsung jalan... menoleh ke belakang, ke arah Raina yang baru saja duduk dengan kedua tangan di atas pahanya sendiri, berusaha menjaga jarak yang wajar.
"Kamu cantik malam ini," kata Hadi.
Raina tidak menjawab langsung.
"Terima kasih," katanya akhirnya... pelan, ke arah depan, tidak ke arah Hadi.
Hadi meraih tangan kanan Raina, gerakan yang tidak buru-buru, tidak memaksa, tapi jelas tujuannya... dan memindahkannya ke pinggangnya sendiri. "Supaya tidak jatuh."
Gedung pertemuan itu tidak terlalu besar tapi didekorasi dengan serius... lampu-lampu hangat di sepanjang koridor masuk, bunga-bunga putih di vas tinggi di setiap sudut, musik live dari dalam yang terdengar sampai ke parkiran.
Raina dan Hadi turun dari motor hampir bersamaan. Hadi membantu Raina melepas helmnya...gerakan yang terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tangan yang mengambil helm dari tangan yang masih sibuk mencari posisi.
Mereka berjalan masuk berdampingan.
Di pintu masuk, seorang panitia muda dengan jas hitam memberi salam dan menunjuk ke arah meja tamu. Hadi menyerahkan kartu undangannya. Raina menyerahkan miliknya. Panitia itu menuliskan nama mereka di buku tamu... satu baris, satu kolom, seperti satu kesatuan.
Pengantin perempuan melihat Raina sebelum Raina melihatnya.
"RAINA!"
Raina menoleh... dan Sinta sudah bergerak ke arahnya dari depan panggung, kebaya putihnya berkelebat, dengan ekspresi perempuan yang sudah terlalu lama tidak bertemu sahabatnya. Mereka berpelukan dengan cara orang-orang yang melompati tiga tahun jarak dalam tiga detik.
"Kamu datang!" Sinta memegang kedua bahu Raina, memandanginya. "Cantik banget, Rain!"
"Kamu yang cantik. "Raina tersenyum, senyum yang berbeda dari senyum-senyumnya belakangan ini, lebih ringan, lebih dekat ke senyum yang asli. "Selamat ya, Sin."
"Makasih." Sinta baru menyadari seseorang yang berdiri setengah langkah di belakang Raina. Matanya naik ke Hadi. Kemudian kembali ke Raina. Kemudian ke Hadi lagi. "Ini...?"
"Hadi," Hadi memperkenalkan dirinya sendiri dengan jabat tangan yang singkat.
Sinta membuka mulutnya...dan dari arah panggung, pengantin pria datang.
"Bro! Kamu datang!" Bagas menepuk punggung Hadi. "Kirain nggak jadi..." Ia berhenti, melihat Raina. "Oh, ini..."
"Teman SMA-ku," kata Sinta cepat ke suaminya. Kemudian ke Hadi dan Raina bergantian: "Kalian datang bareng?"
"Kebetulan satu perumahan," jawab Raina.
Sinta dan Bagas bertukar pandang...pandang yang berisi percakapan yang tidak diucapkan, pandang yang diakhiri dengan kesimpulan yang tidak perlu dikonfirmasi karena sudah terasa cukup jelas.
Keduanya kembali ke area resepsi dengan senyum yang sedikit terlalu lebar untuk sekadar senyum penyambutan biasa.
Raina dan Hadi berjalan ke meja makan yang sudah disiapkan.
Acara berjalan dengan ritme kondangan pada umumnya... sesi foto pengantin, makan malam, hiburan musik, tamu yang berdatangan dan pergi. Raina bertemu beberapa teman SMA lama yang sama-sama tidak ia temui bertahun-tahun, mengobrol tentang hal-hal yang terasa lebih ringan dari percakapan-percakapannya belakangan ini.
Di sela itu, ia menyadari sesuatu.
Setiap kali ia berpaling dari percakapan...setiap kali ia menoleh ke arah meja, ke arah Hadi yang duduk berbicara dengan teman-teman lama Bagas... mata Hadi sudah ada di sana.
Bukan melirik. Menatap dengan cara yang tidak buru-buru dialihkan ketika Raina menangkapnya.
Raina menoleh ke arah lain. Jantungnya berdetak sedikit berbeda dari biasanya, dan ia pura-pura tidak tahu mengapa.
Teman-teman Bagas datang bergerombol ke meja mereka saat acara memasuki sesi bebas... tiga laki-laki dengan gelas di tangan, dengan energi orang-orang yang sudah berteman cukup lama untuk saling menggoda.
"Hadiiiii." Yang paling tinggi di antara mereka, yang Raina dengar dipanggil Danu, duduk di kursi kosong di seberang. "Akhirnya. Tiga tahun ngilang, sekarang muncul bawa istri."
"Teman," kata Raina refleks.
"Oh?" Danu menatap Raina, kemudian Hadi. "Teman?"
"Tetangga," tambah Raina menjelaskan.
"Tetangga." Danu mengangguk pelan, anggukan yang tidak percaya sepenuhnya. "Yang tadi masuk bareng, duduk bareng, dan yang dari tadi nggak bisa lepas pandangan?"
Hadi tidak menjawab.
Yang ia lakukan adalah mengambil gelasnya dan minum, gerakan yang sangat tidak menjawab pertanyaan itu dan justru karena itu menjawab dengan cara yang berbeda.
Raina menatap Hadi dari sudut matanya.
"Serius deh," Danu menekan, sekarang dengan senyum yang terlalu menikmati situasi ini. "Dari tadi aku pantau, kamu nggak pernah bisa lepas mata dari dia. Itu bukan cara orang natap tetangga biasa, Di."
"Danu." kata Hadi menggeram. Nada suaranya ia tekan penuh peringatan.
"Aku salah?" ucap Danu. Tapi kedua sudut bibirnya membentuk senyum.
Hadi meletakkan gelasnya. Menatap Danu dengan ekspresi yang tidak terlalu terganggu. Kemudian ia menoleh ke Raina.
Raina menatapnya balik, mata yang tidak tahu apa yang sedang menunggu untuk diucapkan, mata yang sudah siap untuk membetulkan apapun yang salah kapan perlu.
"Tidak salah," kata Hadi.
Raina membuka mulutnya.
"Aku mencintai istriku." Hadi berkata dengan nada datar, bukan karena tidak tulus, tapi justru karena sudah sangat yakin. "Jadi wajar kalau tidak bisa berhenti lihat dia."
Meja itu tertawa... tawa orang-orang yang ditimpa konfirmasi yang tidak mereka sangka akan semudah itu.
Raina duduk di kursinya dengan tangan yang memainkan taplak meja dan ekspresi yang sangat berusaha terlihat normal. Padahal di dalam dadanya, sesuatu berdetak dengan tempo yang salah.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang