NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Kupu-kupu Putih

Kembali ke Evelyn. Sial bagi gadis itu, karena ia terlalu lama menghabiskan waktu untuk menyiksa Kaelen demi memuaskan hasrat balas dendamnya, ia berakhir ketinggalan agenda utama study tour .

Pada saat langkah kakinya tiba di lokasi Gua Museum Laut yang sebenarnya, para murid dan guru tampak sudah selesai menjelajah dan mulai berjalan keluar dari area tersebut. Mau tidak mau, Evelyn terpaksa membaur dan ikut bersama mereka. Destinasi berikutnya, rombongan memutuskan untuk bersantai menikmati keindahan pemandangan pantai—sebuah tempat yang justru membuat Evelyn merasa muak setelah semua kejadian berdarah yang ia lalui di sana.

"Sayang sekali, Eve. Kau sama sekali tidak sempat melihat bagian dalam museum itu," ucap Sofia sembari berjalan beriringan dengan Evelyn menyusuri garis pantai.

Sofia menoleh dengan mata memicing penuh selidik. "Memangnya kau dari mana saja, sih? Kenapa lama sekali? Apa nyonya pemilik toko suvenir itu menanyaimu hal-hal aneh, atau dia sengaja mewawancaraimu? Aku curiga ada yang tidak beres. Apa jangan-jangan... dia mau menjodohkanmu dengan pemuda penjaga toko yang tampan itu?"

Evelyn hanya tersenyum tipis menanggapi celotehan sahabatnya. Pikiran Evelyn sendiri sebenarnya sedang berkelana jauh. Berbeda dengan kejadian di altar eksekusi semalam, transformasi perubahan wujudnya menjadi Elf Cahaya kali ini terjadi dalam kondisi ia sadar sepenuhnya. Ia mengingat setiap detail melodi kuno yang meluncur dari bibirnya dan bagaimana monster Nessie bertekuk lutut mematuhinya. Sampai detik ini, Evelyn masih tidak percaya dengan takdir gila yang mengalir di dalam darahnya sendiri.

"Dia hanya sedang menawarkan promo suvenir khusus saja, Sofia," dalih Evelyn berbohong.

Ia tidak mungkin mengatakan kejadian yang sejujurnya. Bahkan, ia sangat ragu Sofia akan percaya jika wanita cantik bernama Nerissa yang berwajah awet muda itu sebenarnya adalah nenek kandung dari Kaelen.

Sofia mengerutkan dahinya dalam-dalam. "Yang benar saja? Hanya karena mendengarkan penawaran promo, kau sampai melewatkan agenda study tour kita yang sangat berharga? Wah, benar-benar di luar dugaan. Kau rugi besar, Eve!"

"Mau bagaimana lagi, mungkin lain kali saja. Siapa tahu suatu hari nanti aku bisa berkunjung lagi ke sini," ucap Evelyn sembari mengedikkan bahu acuh tak acuh.

Mereka berdua pun memutuskan untuk duduk di atas alas karpet yang mereka sewa dari salah satu warga lokal, menikmati embusan angin laut yang menerpa wajah.

"Oh iya, Eve. Apa kau tahu siapa nama pemuda tampan yang ada di toko suvenir tadi?" tanya Sofia dengan mata berbinar penasaran. "Secara, kau kan lama sekali mengobrol di sana. Sebelum aku berangkat ke museum, aku bahkan sempat melihatnya lagi di dalam toko. Tidak mungkin, kan, kau tidak berkenalan dengannya?"

"Tidak. Aku tidak sempat berkenalan," jawab Evelyn bohong. "Lagi pula, untuk apa kau menanyakan hal itu?" ketusnya kemudian.

"Ih, kau tidak tahu ya kalau aku mengaguminya? Wajahnya itu benar-benar tipeku tahu!" sahut Sofia bersemangat. "Jika aku jadi kau, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk meminta nomor ponselnya."

Evelyn menatap Sofia lekat-lekat, lalu terdiam dalam keheningan yang panjang.

Kau tidak tahu apa-apa, Sofia... Aku sebenarnya sudah mengenal pria itu sejak lama. Dia adalah teman sekelasku saat aku masih bersekolah di Luminara. Namun, aku sama sekali tidak sudi untuk mengingat-ingat namanya lagi. Aku hanya tidak mau kekagumanmu pada pria yang kau lihat tampan dan tampak baik itu berakhir sia-sia karena kau mengetahui sifat iblisnya, batin Evelyn getir.

"Hey, Eve! Kau malah melamun?" Sofia melambaikan tangannya berulang kali di depan wajah Evelyn, membuyarkan batin sang sahabat yang tengah berkecamuk.

Evelyn tersentak, lalu memaksakan seulas senyum tipis. "Aku... aku hanya sedikit tidak enak badan saja, Sof."

Evelyn tidak berbohong. Ia memang mulai merasakan sensasi aneh yang menyiksa semenjak ia meninggalkan Kaelen di pantai barat tadi. Tak lama setelah berjalan cukup jauh dari area gua Nessie, seluruh badannya mendadak terasa remuk dan kaku di bawah terik matahari siang itu.

Awalnya, Evelyn menduga ini hanyalah efek samping biasa karena tubuh manusianya terlampau banyak memanifestasikan kekuatan magis Elf Cahaya. Namun, semakin lama rasa nyeri itu kian menghebat, menjalar ke setiap sendi hingga berhasil mengalahkan rasa pening akibat penyakit kepala yang biasa menyerangnya.

"Kalau begitu, sebaiknya kita pulang saja ke resor. Aku akan mengantarmu sekarang," tawar Sofia, gurat cemas langsung tercetak di wajahnya sembari menatap Evelyn yang mendadak pucat di tengah keramaian pantai.

"Tidak perlu, Sofia. Bolehkah aku meminjam pundakmu sebentar? Aku hanya butuh istirahat dan memejamkan mata sejenak di sini," tolak Evelyn halus. Tubuhnya terlalu lemas bahkan hanya untuk sekadar berdiri dan berjalan kembali menuju bus pariwisata.

"Ya sudah, kemari." Sofia menggeser duduknya di atas karpet sewaan, menepuk pundak kirinya sendiri dan mempersilakan Evelyn untuk bersandar.

Evelyn perlahan merebahkan kepalanya, menghalau silau matahari sore yang mulai menggelincir. "Nyaman sekali... Pundakmu terasa empuk." Evelyn terkekeh pelan, berusaha sekuat tenaga mencairkan suasana agar Sofia tidak terlalu mencemaskannya.

"Empuk?" Sofia mendengus geli, berpura-pura tersinggung di sela gemuruh ombak siang itu. "Memangnya pundakku ini isinya lemak semua apa? Jelas-jelas ini tulang semua tahu!"

Evelyn kembali terkekeh lemah dengan mata yang sudah terpejam rapat. "Maaf, aku hanya bercanda."

Suara riuh para siswa lain yang sedang bermain air di tepi pantai sempat meredam percakapan mereka selama beberapa saat, sebelum Evelyn kembali membuka suara dengan nada yang teramat lirih. "Sofia... tidak bisakah kita tetap seperti ini sedikit lebih lama? Aku... aku tidak mau kembali."

Sofia mengerutkan keningnya, menatap puncak kepala Evelyn dengan heran. "Kau ini bicara apa, sih? Tentu saja kita harus kembali ke penginapan. Besok pagi atau siang kita sudah harus berangkat lagi untuk pulang ke Vespera."

"Aku tahu," sahut Evelyn lirih. Ia membuka sedikit kelopak matanya, menatap lurus ke depan.

"Lihatlah kupu-kupu itu. Indah sekali, kan, Sofia? Makhluk itu sangat cantik, namun sayang umurnya tidak pernah lama. Ia akan segera mati setelah menemukan pasangannya dan bertelur demi melanjutkan keturunan."

Evelyn mengangkat satu jemarinya yang lemas, menunjuk seekor kupu-kupu bersayap putih bersih yang baru saja terbang melintas di depan mereka, terombang-ambing oleh angin pantai.

Sofia ikut memandangi serangga kecil itu lalu mengangguk pelan. "Benar, Eve. Mereka memang cantik, tapi keindahan mereka tidak pernah bertahan lama."

Sofia sama sekali tidak menyadari makna kelam yang tersembunyi di balik kalimat sahabatnya barusan. Kupu-kupu putih itu merupakan perumpamaan yang sengaja Evelyn buat untuk dirinya sendiri—seorang gadis manusia yang sisa hidupnya kini tengah dihitung mundur oleh waktu.

Bahkan jika boleh jujur, nasib Evelyn terasa jauh lebih tragis daripada serangga penghisap nektar bunga tersebut. Setidaknya, makhluk-makhluk bersayap itu masih sempat merasakan puncak kebahagiaan bersama pasangan takdir mereka, meski hanya untuk sesaat sebelum maut menjemput.

Sementara dirinya? Jangankan mencicipi kebahagiaan, ia justru harus terjebak di tengah pusaran dendam dan takdir gila bersama empat mates supranatural yang terus memburunya.

1
Eka Putri Handayani
Benci banget aku sama karakter pangeran duyung sialan itu😭
Soobin Chan: harusnya di apain nih? karungin aja kali ya🤣
total 1 replies
Soobin Chan
yang suka sama ceritanya jangan lupa like, komen dan support author ya😍🙏
Janet Janet
double up Thor ceritamu bagus
Soobin Chan: jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya😄
total 2 replies
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!