Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Kadang, tembok yang paling kokoh runtuh bukan karena hantaman keras. Cukup satu pintu yang dibuka orang yang salah, lalu seluruh rasa aman yang susah payah dibangun menjadi debu.
Aroma disinfektan rumah sakit yang biasanya menenangkan, mendadak terasa mencekik pagi itu.
Dokter Gema sedang mengambil cuti selama tiga hari. Sesuatu yang sangat jarang terjadi. Namun bagi Sarah, ketidakhadiran dokter itu justru meninggalkan celah besar pada dinding perlindungan yang baru saja dibangunnya.
Pintu kamar rawat berderit pelan.
Sarah yang sedang berusaha duduk di tepi ranjang langsung menoleh. Ia mengira yang datang adalah Perawat Lala yang ramah. Namun yang muncul justru seorang wanita berjas dokter putih yang tampak sangat rapi dan berwibawa.
Potongan rambutnya yang elegan membingkai wajah cantik dengan tatapan setajam es.
Di kantong baju tertulis tanda nama.
Dr. Kiara,Sp.OG
Kiara bukan sekadar dokter spesialis senior. Ia pemilik yayasan yang menaungi rumah sakit swasta tersebut. Dan di kalangan staf rumah sakit, bukan rahasia lagi bahwa Kiara telah lama menaruh hati pada Gema sejak masa residensi mereka.
“Sarah?” ujar Kiara sambil melirik papan identitas pasien di ujung ranjang.
Sarah mengangguk pelan.
“Saya sudah memeriksa berkas pengajuan rujukanmu yang diajukan oleh Dokter Gema.”
Jantung Sarah berdebar.
“Bagaimana prosesnya, Dok? Apakah saya sudah bisa dipindahkan?”
Kiara melipat kedua tangannya di depan dada. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tetapi tidak sampai ke matanya.
“Saya datang ke sini untuk menyampaikan langsung bahwa pengajuan itu saya tolak.”
Tubuh Sarah seketika menegang.
“Ditolak?” Suaranya bergetar. “Tapi Dokter Gema bilang—”
“Dokter Gema hanya dokter pengampu pasien di sini, Sarah,” potong Kiara dengan tenang. “Keputusan akhir mengenai regulasi yayasan dan pembiayaan pasien berada di tangan saya.”
Wanita itu melangkah mendekat. Suara hak sepatunya beradu dengan lantai keramik, terdengar seperti hitungan mundur.
“Rumah sakit ini bukan lembaga amal. Kami tidak dapat terus menanggung biaya pemeriksaan berkala, laboratorium, dan berbagai tindakan medis tanpa penjamin yang jelas. Apa yang dilakukan Gema kemarin terlalu impulsif dan tidak sesuai prosedur yayasan.”
Sarah menunduk.
Tangannya perlahan mengepal di atas selimut.
Kiara lalu mengarahkan pandangannya ke perut Sarah yang mulai membulat.
Di balik profesionalismenya, ada sesuatu yang tidak dapat ia sembunyikan: kecemburuan.
Selama bertahun-tahun ia mengenal Gema sebagai pria yang menjaga jarak dari semua wanita. Karena itu, melihat Gema begitu bersungguh-sungguh membantu Sarah hingga rela mempertaruhkan reputasinya membuat ego Kiara terusik.
“Jika dalam dua puluh empat jam kamu tidak dapat menghadirkan penjamin yang sah atau melunasi administrasi secara mandiri,” lanjut Kiara dingin, “kami terpaksa meminta kamu menandatangani surat pulang atas permintaan sendiri.”
Sarah mengangkat wajahnya perlahan.
Tatapannya kosong.
“Kami membutuhkan kamar ini untuk pasien lain yang lebih siap secara administrasi dan finansial.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam harapan terakhirnya.
Kemarin, Gema memberinya secercah rasa aman.
Hari ini, semuanya runtuh dalam hitungan detik.
...*****...
Jalanan sore itu seperti urat nadi kota yang melebar. Langit menguning di ujung barat, lalu memudar jadi jingga pucat. Gema melajukan mobilnya tanpa musik. Hanya suara mesin yang stabil dan deru angin dari celah kaca jendela.
Setiap lampu merah ia lewati dengan napas yang ia atur. Di kepalanya tidak ada lagu, tidak ada obrolan. Hanya satu kalimat yang ia ulang: _kebenaran harus sampai ke tangan yang tepat sebelum terlambat_.
Jalan besar berganti menjadi jalan protokol yang rindang. Pohon mahoni tua berbaris di sisi kiri kanan, dedaunannya menutup sebagian langit. Bayangan ranting menari di kaca depan mobilnya, putus-putus seperti detik yang berjalan lambat.
Semakin jauh dari pusat kota, suara klakson semakin redup. Yang tersisa hanya suara ban di aspal dan sesekali anjing yang menggonggong dari balik pagar rumah orang. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Tiga puluh menit lagi magrib.
Mobilnya berbelok ke kawasan perumahan elite di selatan kota. Gerbangnya tinggi, dijaga satpam berseragam rapi. Jalan di dalamnya mulus, tanpa satu pun lubang. Lampu taman menyala satu per satu, memantulkan cahaya hangat di atas batu alam.
Rumah itu berdiri di ujung jalan buntu. Pagarnya besi tempa hitam setinggi tiga meter, di atasnya menjalar tanaman bougenville merah yang sudah dipangkas rapi. Gerbang utama cukup lebar untuk dua mobil masuk bersamaan.
Dari luar, rumah itu terlihat seperti bangunan Eropa klasik yang disulap jadi modern. Dindingnya batu alam krem, jendelanya tinggi dengan kusen kayu jati gelap. Lampu gantung kristal tergantung di ruang tamu utama, cahayanya bocor sampai ke teras. Halaman depan luas, dipenuhi rumput gajah mini yang dipotong seimbang. Di tengahnya ada air mancur kecil. Airnya jatuh pelan, menimbulkan bunyi gemericik yang menenangkan.
Terasnya marmer putih. Tiang-tiang besar menjulang, menopang atap yang menjulang tinggi. Pot-pot keramik berisi tanaman palem diletakkan simetris di kanan kiri tangga. Mobil sedan hitam Chandra terparkir rapi di carport. Di sampingnya, mobil SUV putih milik Cantika.
Di ambang pintu, lampu kuning jatuh di lantai, membentuk persegi panjang yang sempurna. Dari dalam terdengar denting sendok dan suara Kayla memanggil nama Cantika.
Rumah ini rapi. Terlalu rapi. Rapi seperti seseorang yang sedang menutupi sesuatu.
Gema mematikan mesin. Ia duduk diam selama tiga detik, menatap gerbang itu. Tangannya masih di setir. Di kepalanya, ia mengulang alasan ia datang: bukan untuk berkonflik. Hanya untuk menegakkan kebenaran.
Ia turun. Langkahnya menggema di paving block. Setiap langkah mendekatkan ia pada jawaban yang selama ini ia cari. Dan mungkin, pada luka yang belum selesai.
"Cari siapa, Mas?" sapa wanita itu ramah.
"Saya cari Chandra."
"Oh, maaf, Mas. Pak Chandra belum pulang kerja. Tapi kalau Bu Tika, istrinya ada kok. Apa perlu saya panggilkan?"
Gema menggeleng pelan.
"Oh, tidak. Saya perlunya sama Chandra. Kalau begitu saya permisi dulu."
Ia menarik napas panjang.
Sedikit kecewa karena harus pulang dengan tangan kosong.
Baru saja ia berbalik menuju mobil ketika sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Gema?” Suara Kayla dari balik pintu kecil gerbang menghentikan gerakannya.
Gema menoleh. Senyum Kayla hangat, tapi matanya menilai. Seorang wanita paruh baya berdiri di dekat gerbang sambil tersenyum hangat.
"Tante Kayla."
"Wah, benar ini kamu. Terakhir kita bertemu saat wisuda Chandra kan?" gema menganggukkan kepalanya.
Gema dan Chandra sudah berteman lama. sudah sejak SMA, akan tetapi gema kuliah kedokteran di Manila sedangkan Chandra kuliah di Indonesia. Bahkan saat Chandra menikah dia tidak bisa hadir karena dapat kabar papa Yudhis drop, gema saat itu langsung terbang ke Manila.
Tante Kayla mendekat.
"Kamu mau bertemu Chandra ya?"
"Iya, Tante."
"Sebentar lagi dia otw pulang. Barusan Tante dikabari."
Gema mengangguk pelan. Ia kembali duduk di teras. Marmer dingin menyentuh telapak tangannya.
“Tika,” panggil Kayla ke dalam.
“Iya, Ma,” jawab suara dari dalam rumah.
Langkah kaki mendekat. Lalu berhenti.
Cantika muncul di ambang pintu. Gaun rumahnya sederhana, rambutnya diikat asal. Namun saat matanya menangkap sosok Gema di teras, seluruh tubuhnya menegang.
“Loh,” bisiknya pelan. Kaget, bingung, dan sesuatu yang lain yang tidak bisa Gema sebut namanya.
"Kak Gema kan?" tebak Tika.
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...