Vandra dan Mia saling menyukai diam diam. Vandra cowo gaul yang tampan yang sukanya clubbing, brantem tapi atlet karate yang berprestasi. Sedangkan Mia cewe rumahan yang pintar dan manis.
cerita ini hanya perjalanan cinta anak sma yang dipenuhi intrik intrik kecil, persaingan,
rada setia kawan dan pengungkapan cinta yang manis.
Walaupun tetap ada konflik keluarga yang mengharukan. Tentang pengorbanan ibu dan anak, dan pertentangan keluarga yang sangat kaya raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emir dan Elka
"Maaf," kata Elka untuk kesekian kalinya menginjak Emir lagi dengan heels nya yang membuat lagi lagi Emir mengernyit kesakitan.
"Aku tidak bisa berdansa," kata Elka lagi dan menghentikan gerak tubuhnya membuat Emir juga bergeming dengan tangan masih memeluk pinggangnya.
"Tidak apa apa," jawab Emir sambil memandang ke dalam manik mata Elka membuat gadis ini tertunduk. Tangannya masih mengalung di leher Emir.
"Mengapa anda bukan mengajak Rasya atau gadis yang lain.Aku benar benar tidak bisa. Pelajaran menariku selalu mendapat nilai paling jelek," kata Elka mengaku sambil menatap Emir yang masih melihatnya dan kini melebarkan senyumnya.
"Aku kira kamu dan saudaramu berbohong."
"Sekarang sudah terbuktikan. Lebih baik anda mengajak Rasya atau gadis lainnya. Banyak yang cantik cantik di sini," katanya sambil merengut.
Emir tertawa tertawa kecil. Gadis aneh, apa dia dia tidak bangga aku memilihnya? batin Emir geli.
"Apa kelebihanmu?" tanya Emir mengganti topik. Dia jadi ingin mengenal gadis ini. Walaupum awalnya diminta papanya untuk memilih antara si kembar untuk perjanjian bisnis.
"Tidak ada. Anda bisa menanyakan pada semua saudaraku, atau pada ponakanku yang bawel itu."
Emir kembali tertawa. Entahlah, baru kali ini dia merasa menggelikan hati saat berkenalan dengan seorang gadis.
"Katakan saja walau itu bohong."
Elka kembali menatapnya aneh. "Kenapa harus bohong?"
"Kalau bohong, kamu akan berusaha membuatnya jadi benar," jelas Emir menatap gemas.
"Aku ngga mau seperti itu. Akan menyusahkan saja," tolak Elka cepat. Buat apa mengaku yang nggak bisa dilakukan, omelnya sewot. Dalam.hati tentu saja.
Emir kembali tertawa.
"Biasanya gadis gadis seperti itu," ucap Emir tenang. Dia menikmati ekspresi kesal gadis di depannya. Terlihat matural dan tidak dibuat buat.
"Untuk apa mereka melakukannya?" tanya Lika semakin merasa heran.
"Untuk menarik perhatian?" ucap Emir seperti bertanya.
"Aku ngga seperti itu," pungkas Elka langsung..Amit amit, hatinya mencela.
"Well, kamu seperti apa?" kejar Emir membuat gadis itu terdiam
"Aku... aku biasa aja. Cuma mahasiswa yang kuliah dibiayai orang tuanya," jawab Elka akhirnya mengurungkan niatnya untuk jujur mengungkapkan kelemahannya. Apa itu perlu, toh besok pria ini akan melupakannya juga, hatinya mencibir.
Emir menatapnya kembali. Sangat lembut membuat Elka mengalihkan pandangannya. Elka merasa hatinya bisa lumer. Padahal ini hanya kedekatan sesaat, batinnya.menegaskan.
"Aku ingin mengenalmu," kata Emir jujur.
"Kenapa?" Elka heran, padahal dia sudah bilang kejelekannya, walau belum semua.
"Ingin aja," kata Ermir sambil mengajak Elka bergoyang tanpa menggerakkan kakinya.
Wajah Elka memerah. Mereka begitu dekat. Elka dapat merasakan detak jantung Emir yang berdebar kencang. Pasti Emir juga bisa merasakan detak jantungnya juga.
"Kamu sangat cantik dan harum," puji Emir di telinganya membuat Elka merinding.
"Ini bukan aku yang asli," kata Elka pelahan dengan suara serak.
Ini gila. Mengapa dia ingin Emir menyentuhnya. Elka malu dengan perasaannya.
"Seperti apa kamu yang asli?" kembali Emir berbisik lembut di telinganya. Emir tau gadis ini sudah terpedaya. Matanya sayu menatap Emir.
Kalau saja bukan di tengah pesta, Emir pasti sudah menciumnya sampai gadis ini memasrahkan dirinya padanya.
Dengan nakal Emir menggerakkan pinggulnya yang sudah siap dengan posisi senjatanya.
Elka hampir mendesah, merasakan tonjolan yang memgelus lembut kewanitaannya yang masih berada di balik gaunnya.
Dia belum pernah pacaran, Elka tau ini bahaya. Tapi entah mengapa dia membiarkannya.
"Kamu seksi," bisik Emir serak. Dia berusaha keras menahan nafsunya yang sudah menggelegak.
Suara musik yang terhenti membuat Elka sadar dan menjauhkan dirinya dari Emir.
"Maaf," kata Emir yang juga melepaskan pelukannya.
Lalu Emir membiarkan Elka meninggalkannya.. Emir terus menatapnya sampai gadis itu duduk bersama keluarganya.
"Kamu kenapa?" tanya Rasya heran meihat kembarannya sedari tadi hanya diam saja.
"Ngga pa pa."
Papinya dan Valen saling pandang akan jawaban singkat Elka.
Gagal lagi? tebak hati papinya sambil tersenyum miring pada Valen yang seakan mengerti pikiran papinya, dan juga ikut tersenyum mengejek papinya.
Vandra melirik kakak kembarnya itu yang sedang menatap Emir yang kini sedang mengobrol santai dengan dua orang gadis cantik. Wajah Emir terlihat selalu tersenyum.
Vandra tersenyum miring, nggak mungkin kan langsung suka, tebaknya benar benar ngga percaya.
"Apa besok Emir mengajakmu pergi?" pancing Rasya
"Nggak"
Rasya menatap aneh kembarannya. Elka juga cantik seperti dirinya malam ini. Sebenarnya Rasyan menyadari ada beberapa pria yang menatap tertarik padanya sebelum Emir mengajaknya berdansa.
Kalau besok besok Emir melihat keseharian saudaraya past akan merasa ilfeel. Malam ini adalah kesempatannya, keluh Rasya dalam hati.
Mami dan Sarah pura pura menyibukkan diri dengan Abhi. Mereka terus menyuapi Abhi dengan kue kue agar tidak ada lagi kata kata jujur darinya yang terucap.