Arkan sama Salsa itu kayak kucing sama anjing di SMA Garuda. Tiap kali ketemu di koridor, pasti ada aja yang diributin, mulai dari nilai ulangan sampe jatah parkir. Salsa yang ambis banget pengen dapet rangking satu ngerasa keganggu sama Arkan yang keliatannya santai tapi pinter banget. Kenapa sih nih cowok kudu ada di sekolah ini? batin Salsa kesel tiap liat muka tengil Arkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENIN PENUH KEJUTAN
Sinar matahari hari Senin biasanya menjadi hal yang paling dibenci oleh sebagian besar siswa SMA Garuda. Upacara bendera yang melelahkan, deretan jam pelajaran yang padat, hingga tumpukan tugas baru yang seolah tidak ada habisnya selalu sukses membuat suasana hati siapa pun mendung. Namun, bagi Salsa Kirana, Senin kali ini terasa sangat berbeda. Ada debaran aneh yang menggelitik dadanya sejak ia membuka mata pukul lima pagi tadi. Ia tidak lagi hanya memikirkan target nilai kimianya yang harus sempurna, melainkan memikirkan satu nama yang kini sudah berubah status dari rival menjadi orang yang paling berharga.
Salsa berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan saksama. Ia merapikan kerah seragam putihnya yang sudah disetrika sangat licin. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai rapi, sedikit lebih halus karena ia menyempatkan diri memakai vitamin rambut pagi ini. Matanya kemudian tertuju pada jaket kulit hitam milik Arkan yang masih tersampir di kursi belajarnya. Harum parfum Arkan seolah masih menguar dari sana, memenuhi isi kamar Salsa dan membuat pipinya mendadak panas.
Sesuai janji Arkan kemarin di taman kota, cowok itu akan menjemputnya. Salsa segera memasukkan beberapa buku paket tebal ke dalam tasnya, lalu menyambar jaket Arkan. Ia ragu sejenak, apakah ia harus memakainya atau hanya membawanya? Namun, mengingat cuaca pagi yang cukup dingin dan keinginan tersembunyinya untuk memamerkan bahwa hubungan mereka bukan sekadar rumor, Salsa akhirnya memutuskan untuk mengenakan jaket itu di luar seragamnya. Ukurannya yang oversize di tubuh mungil Salsa membuat ia tampak seperti tenggelam, namun ia merasa sangat nyaman.
Suara raungan mesin motor sport yang sangat ia kenali terdengar dari depan gerbang. Salsa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu liar. Ia berpamitan pada mamanya dengan terburu-buru, mengabaikan godaan sang mama yang melihatnya mengenakan jaket laki-laki.
Begitu pintu pagar dibuka, Arkan sudah berada di sana. Cowok itu duduk di atas motornya dengan gaya santai, helm full-face sudah terpasang namun kacanya dibuka, memperlihatkan mata tajamnya yang kini menatap Salsa dengan binar jenaka. Arkan memakai seragam yang sama, namun seperti biasa, ia selalu punya cara untuk terlihat lebih keren bahkan dengan pakaian sekolah yang membosankan.
"Pagi, Sa. Wah, jaket gue cocok banget ya di lo. Kayak daster, tapi versi mahal," goda Arkan sebagai sapaan pertamanya.
Salsa mendengus, namun sudut bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. "Berisik. Ini karena gue kedinginan aja, bukan karena gue suka jaketnya."
Arkan terkekeh, suaranya berat dan serak khas orang baru bangun tidur namun tetap terdengar sangat merdu di telinga Salsa. "Iya deh, yang kedinginan. Sini naik, nanti kita telat upacara. Gue nggak mau ya dihukum berdiri di depan cuma gara-gara nungguin lo dandan."
Salsa naik ke boncengan motor Arkan dengan gerakan yang kini jauh lebih luwes. Ia tidak lagi menjaga jarak kaku seperti dulu. Tangannya dengan alami melingkar di pinggang Arkan, dan kali ini, ia tidak butuh paksaan atau rem mendadak untuk melakukannya. Arkan sedikit terkejut, ia menoleh ke belakang melalui spion, senyum kemenangannya melebar.
"Pegangan yang erat, Tuan Putri. Kita bakal menembus medan perang hari ini," ucap Arkan penuh arti.
Salsa tahu apa yang dimaksud Arkan. Medan perang itu bukan jalanan Jakarta yang macet, melainkan koridor SMA Garuda yang pasti sudah dipenuhi dengan mata-mata haus gosip. Selama perjalanan, tak banyak kata yang mereka ucapkan, namun genggaman tangan Salsa di jaket Arkan sudah mewakili segalanya. Ada rasa aman yang luar biasa saat ia menyandarkan dagunya di bahu Arkan, merasakan angin pagi yang menerpa wajah mereka.
Begitu mereka memasuki gerbang SMA Garuda, suasana mendadak hening. Satpam sekolah yang biasanya sibuk mengatur motor sampai berhenti sejenak melihat pemandangan di depannya. Arkan memarkirkan motornya di tempat favoritnya, tempat yang dulu pernah menjadi bahan rebutan mereka berdua.
Arkan mematikan mesin motor, lalu turun lebih dulu. Ia melepaskan helmnya, mengacak-acak rambutnya yang sedikit lepek, lalu berbalik untuk membantu Salsa turun. Ia tidak membiarkan Salsa turun sendirian. Arkan mengulurkan tangannya, dan dengan ragu namun pasti, Salsa menyambut tangan itu.
"Siap?" tanya Arkan pelan, menatap mata Salsa dengan tatapan mendukung.
Salsa mengangguk kecil. "Siap nggak siap, kayaknya dunia harus tahu."
Mereka mulai berjalan menyusuri koridor parkiran menuju gedung utama. Arkan tidak melepaskan tangan Salsa. Ia menggenggam jemari mungil gadis itu dengan erat, menguncinya di antara sela-sela jarinya. Bisik-bisik mulai terdengar dari segala arah. Siswa-siswi yang sedang nongkrong di depan kelas atau di kantin kejujuran mendadak menghentikan aktivitas mereka.
"Eh, itu Arkan sama Salsa? Seriusan?"
"Tangan mereka... mereka pegangan tangan!"
"Wah, musuh bebuyutan beneran jadian? Gila, plot twist macam apa ini!"
Salsa menundukkan kepalanya, merasa wajahnya sudah semerah tomat matang. Namun, Arkan justru sebaliknya. Cowok itu berjalan dengan tegak, sesekali menyapa teman-temannya dengan lambaian tangan bebasnya, seolah ingin menegaskan pada semua orang bahwa Salsa Kirana sekarang adalah miliknya.
Saat mereka melewati mading sekolah, mereka berpapasan dengan gerombolan tim basket dan geng populer sekolah. Biasanya, Arkan akan bergabung dengan mereka untuk sekadar bercanda kasar, tapi kali ini ia hanya mengangguk sopan sambil terus menarik Salsa berjalan.
"Woi, Kan! Itu tangan nggak takut lepas apa? Lengket bener kayak perangko!" teriak salah satu teman Arkan, disambut tawa riuh yang lain.
Arkan hanya menoleh sekilas dan membalas dengan santai, "Iri bilang, bos! Cari pacar sana, jangan ngurusin tangan orang!"
Salsa ingin rasanya menghilang saat itu juga, tapi genggaman tangan Arkan yang hangat memberikan kekuatan tersendiri. Mereka akhirnya sampai di depan kelas XI IPA 1, kelas mereka yang biasanya menjadi medan pertempuran adu argumen. Di depan pintu, Dira sudah berdiri dengan tangan bersedekap dan wajah yang sangat menuntut penjelasan.
"Selamat pagi, pasangan paling fenomenal se-Garuda," ucap Dira dengan nada bicara yang dibuat-buat. Matanya langsung tertuju pada tangan mereka yang masih bertautan. "Oke, gue butuh penjelasan rinci, detail, dan tanpa sensor di jam istirahat nanti. Nggak ada penolakan!"
Arkan melepaskan genggamannya saat mereka sudah masuk ke dalam kelas, namun ia menyempatkan diri untuk mengacak rambut Salsa sekali lagi sebelum menuju bangkunya sendiri di barisan belakang. "Nanti gue ceritain kalau Salsa-nya mau, Dir. Sekarang biarkan dia bernapas dulu, mukanya udah mau meledak itu."
Salsa segera duduk di kursinya, mencoba menutupi wajahnya dengan buku paket biologi yang besar. Dira langsung menggeser kursinya, merapat ke arah Salsa.
"Sa, serius? Lo beneran sama Arkan? Cowok yang tiap hari lo katain tengil, nyebelin, dan musuh nomor satu lo itu?" tanya Dira dengan suara berbisik namun penuh tekanan.
Salsa menutup matanya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Iya, Dir. Gue juga nggak tahu kenapa bisa gini. Tapi... dia nggak seburuk yang gue kira."
Dira memutar bola matanya. "Ya iyalah nggak buruk, secara dia Arkananta Putra. Pintar, ganteng, kapten basket pula. Cuma lo doang yang selama ini nganggep dia monster. Tapi gue seneng sih, akhirnya rivalitas kalian yang bikin pusing satu kelas ini berakhir dengan cara yang manis."
Pelajaran dimulai, namun fokus Salsa sama sekali tidak ada pada papan tulis. Sesekali ia menoleh ke arah belakang, tempat Arkan duduk. Dan setiap kali ia menoleh, ia selalu mendapati Arkan sedang menatapnya juga. Cowok itu akan memberikan senyum tipis atau kedipan mata yang membuat Salsa langsung memalingkan wajah dengan cepat karena malu.
Saat jam istirahat tiba, kantin menjadi tujuan utama semua orang, terutama bagi mereka yang ingin melihat langsung interaksi Salsa dan Arkan. Arkan menghampiri meja Salsa dengan langkah santai.
"Ayo makan. Gue laper," ajak Arkan.
"Gue mau sama Dira," jawab Salsa, mencoba sedikit jual mahal.
"Ya sudah, Dira ajak sekalian. Biar dia nggak makin penasaran sampai lumutan," balas Arkan santai.
Mereka bertiga berjalan menuju kantin. Suasana kantin yang biasanya bising menjadi sedikit lebih tenang saat mereka masuk. Semua mata tertuju pada mereka. Arkan mencari meja di pojok yang agak sepi, lalu menyuruh Salsa dan Dira duduk.
"Lo mau makan apa, Sa? Biar gue yang pesenin," tanya Arkan.
"Bakso sama teh botol aja," jawab Salsa.
"Gue juga dong, Kan! Samain kayak Salsa!" seru Dira penuh semangat.
Arkan melirik Dira dengan tatapan malas. "Punya kaki kan? Pesan sendiri sana. Gue cuma pesenin buat pacar gue."
Dira melongo. "Pelit banget lo! Baru juga jadian udah pilih kasih!"
Salsa tertawa melihat wajah kesal Dira. "Udah, Kan, pesenin sekalian kenapa sih. Kasihan Dira."
Arkan menghela napas, pura-pura terpaksa. "Ya udah, karena Tuan Putri yang minta, apa sih yang nggak. Tunggu di sini."
Setelah Arkan pergi ke stan bakso, Dira langsung menyikut lengan Salsa. "Gila, Sa! Arkan beneran bucin ya kalau udah sayang. Gue baru kali ini lihat dia nurut sama cewek. Biasanya kan dia yang paling dominan kalau di tongkrongan."
Salsa hanya tersenyum tipis. Ia mulai menyadari bahwa hubungan ini bukan hanya tentang status, tapi tentang bagaimana mereka belajar untuk saling menghargai. Tak lama, Arkan kembali dengan membawa nampan berisi tiga mangkuk bakso dan minuman. Ia meletakkan mangkuk Salsa dengan sangat hati-hati, memastikan sendok dan garpunya sudah bersih.
"Makan yang banyak, biar otaknya makin encer buat ngalahin gue di ulangan matematika besok," ucap Arkan sambil duduk di samping Salsa.
"Oh, jadi lo masih ngajak saingan?" tantang Salsa dengan alis terangkat.
Arkan nyengir. "Saingan dalam nilai itu wajib, biar hubungan kita nggak ngebosenin. Tapi di luar itu, lo tetep nomor satu buat gue."
Dira yang sedang menyuap bakso hampir saja tersedak mendengar kalimat gombal Arkan. "Woi! Hargailah jomblo yang ada di depan kalian ini! Bisa nggak sih jangan mesra-mesraan di depan makanan? Gue jadi ngerasa makan bakso campur gula."
Mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya, Salsa merasa sekolah bukan lagi sekadar tempat untuk berkompetisi demi peringkat satu. Sekolah kini menjadi tempat yang penuh dengan kejutan-kejutan manis. Di tengah keramaian kantin, di bawah tatapan ratusan pasang mata, Salsa merasa sangat tenang karena ia tahu ada tangan Arkan yang siap menjaganya.
Namun, kedamaian itu sedikit terusik ketika tiba-tiba seorang siswi dari kelas lain, yang dikenal sebagai salah satu penggemar berat Arkan sejak kelas sepuluh, menghampiri meja mereka. Namanya Bella, gadis cantik dengan rambut yang selalu ditata sempurna dan riasan yang cukup mencolok untuk ukuran anak sekolah.
Bella berdiri di samping Arkan dengan wajah yang tampak tidak suka. "Arkan, beneran rumor itu? Kamu sama dia?" tanya Bella sambil menunjuk Salsa dengan dagunya.
Arkan menghentikan makannya, wajahnya berubah menjadi datar dan dingin. Perubahan sikap yang drastis ini membuat Salsa sedikit terkejut. "Kalau iya, kenapa?" jawab Arkan singkat.
Bella mendengus tidak percaya. "Tapi kenapa harus dia? Dia kan cuma cewek ambis yang kerjanya cuma belajar. Kalian itu nggak cocok sama sekali!"
Salsa merasa hatinya sedikit mencelos mendengar perkataan Bella. Ia tahu banyak orang yang menganggapnya membosankan karena terlalu fokus pada pelajaran. Ia hendak membuka mulut untuk membela diri, namun Arkan sudah lebih dulu bersuara.
Arkan berdiri dari duduknya, membuat Bella sedikit mundur karena terintimidasi oleh tinggi badan Arkan. "Dengar ya, Bell. Salsa itu pintar, dan itu jauh lebih menarik buat gue daripada cewek yang cuma peduli sama penampilan. Dia punya prinsip, dia punya mimpi, dan dia orang yang paling berani buat nantang gue. Jadi, kalau menurut lo kita nggak cocok, itu masalah lo, bukan masalah gue."
Arkan kemudian menatap Salsa dengan pandangan yang kembali lembut. "Ayo, Sa. Kita balik ke kelas saja. Selera makan gue mendadak hilang."
Arkan meraih tas Salsa dan menggenggam tangan gadis itu, membawa keluar dari kantin meninggalkan Bella yang mematung dengan wajah malu karena ditonton banyak orang. Dira menyusul di belakang sambil memberikan jempol pada Salsa, tanda bahwa Arkan baru saja memenangkan poin besar di matanya.
Saat sudah berada di koridor yang agak sepi menuju kelas, Salsa menghentikan langkahnya. Arkan ikut berhenti dan menatapnya bingung.
"Kenapa, Sa? Ada yang ketinggalan?" tanya Arkan.
Salsa menatap Arkan dengan tulus. "Makasih ya, Kan. Makasih udah belain gue tadi."
Arkan tersenyum, kali ini senyumnya sangat tulus tanpa ada unsur tengil sedikit pun. Ia membawa kedua tangan Salsa ke dalam genggamannya. "Lo nggak perlu bilang makasih buat sesuatu yang emang udah jadi tugas gue. Mulai sekarang, siapa pun yang ngeremehin lo, berarti dia berurusan sama gue. Lo itu berharga, Sa. Jangan pernah raguin itu cuma gara-gara omongan orang yang sirik sama lo."
Salsa merasa matanya sedikit berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka bahwa cowok yang dulu paling hobi membuatnya kesal adalah cowok yang sekarang paling bisa membuatnya merasa dihargai. Ia mendekat dan menyandarkan kepalanya sejenak di dada Arkan, menghirup aroma parfum yang kini menjadi aroma favoritnya.
"Gue juga bakal selalu ada buat lo, Kan," bisik Salsa.
Arkan membalas pelukan itu dengan lembut, mengabaikan peraturan sekolah tentang larangan bermesraan. Di koridor SMA Garuda yang saksi bisu pertengkaran mereka selama bertahun-tahun, kini tercipta sebuah janji baru. Bahwa rivalitas mereka telah berevolusi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat dan bermakna.
Bel masuk berbunyi, menandakan jam istirahat telah usai. Mereka melepaskan pelukan dengan canggung namun diiringi tawa kecil. Hari Senin yang awalnya ia takuti, ternyata menjadi babak baru yang paling berkesan dalam hidupnya. Salsa menyadari bahwa cinta tidak harus datang dari kesamaan, terkadang ia muncul dari perbedaan yang saling melengkapi, seperti rumus fisika yang rumit namun menghasilkan jawaban yang indah jika dikerjakan bersama-sama.
Mereka berjalan masuk ke kelas dengan langkah yang lebih ringan. Pelajaran selanjutnya adalah matematika, pelajaran yang biasanya membuat mereka saling sikut untuk menjadi yang pertama menyelesaikan soal di papan tulis. Namun kali ini, saat guru memberikan soal yang sulit, Arkan tidak lagi berusaha mendahului Salsa. Ia justru memberikan secarik kertas kecil yang diselipkan di bawah meja Salsa.
Salsa membukanya perlahan dan membaca tulisan tangan Arkan yang sedikit berantakan namun tegas: "Jangan pusing sendiri. Nomor 5 jawabannya pakai rumus turunan yang gue kasih tahu semalam. Semangat, Sayang."
Salsa tersenyum sangat lebar, menyembunyikan wajahnya di balik buku agar Pak Guru tidak melihat. Kata "Sayang" di akhir kalimat itu terasa jauh lebih manis daripada semua piala yang pernah ia dapatkan. Rivalitas mereka mungkin belum sepenuhnya hilang, karena mereka masih tetap ingin menjadi yang terbaik. Namun sekarang, mereka tidak lagi berlari untuk saling mengalahkan, melainkan berlari bersama menuju garis finish yang sama. Dan bagi Salsa, itu adalah kemenangan yang sesungguhnya.