NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Xiao Chen

Jalan Pedang Xiao Chen

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.

Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.

Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pertandingan di hentikan

​Debu abu-abu mengepul pekat, menutupi seluruh pandangan di arena nomor tiga.

Retakan batu yang hancur menciptakan suara berderit yang mengerikan di tengah keheningan yang mendadak mencekam. Ratusan murid luar terbatuk-batuk, berusaha melihat apa yang terjadi di balik dinding debu tersebut.

​Bisik-bisik panik mulai menjalar seperti wabah.

​"Apa... apa yang terjadi tadi?"

"Apakah itu kekuatan rahasia dari Senior Liang Wei?"

"Tapi kenapa pedang di pinggang kita semua sempat bergetar? Aku merasa senjataku ketakutan!"

​Para murid saling pandang dengan wajah pucat. Getaran mistis pada pedang mereka perlahan menyusut lalu menghilang sama sekali, meninggalkan rasa dingin yang membekas di dada masing-masing. Atmosfer di sekitar arena benar-benar membuat nyali mereka ciut.

​Di satu sudut kawah, Liang Wei terkapar beberapa meter dari posisi awalnya. Tubuhnya dipenuhi luka sayat kecil dan memar biru akibat hantaman tekanan spiritual murni yang tidak sempat ia antisipasi. Ia terengah-engah, memuntahkan sisa darah dari mulutnya.

​Di sudut lain, Xiao Chen juga terlempar menghantam lantai batu.

Namun, sebelum debu sepenuhnya menipis, kabut hitam tipis yang sempat menyelimuti kakinya dan mengubah warna matanya telah terserap kembali ke dalam lubuk jiwanya.

Perubahan ekstrem itu terjadi begitu cepat hingga tidak ada satu pun murid awam yang menyadarinya.

​Saat angin perlahan menyapu sisa asap, sesosok pria berdiri tegak di pusat kehancuran arena. Han Gu berdiri di sana dengan tenang, jubah birunya bahkan tidak tersentuh oleh sebutir debu pun. Wajahnya yang rupawan memancarkan wibawa yang mutlak.

​"Instruktur Pengawas Han Gu?!"

"Luar biasa... tampan sekali..."

​Para murid perempuan menatapnya dengan mata berbinar, sementara murid lainnya tidak percaya bahwa seorang instruktur tingkat atas akan turun langsung demi menghentikan pertarungan murid luar.

​Han Gu melepaskan sedikit tekanan spiritualnya, membuat seluruh kebisingan di sekitar arena langsung bungkam. Ia mengedarkan pandangan dinginnya ke sekeliling sebelum berkata dengan lantang:

​"Pertandingan ini... selesai!"

​Liang Wei dengan tertatih mencoba berdiri, menunjuk Xiao Chen dengan jari yang gemetar karena amarah dan rasa takut. "Instruktur Han! Bocah itu... bocah itu menggunakan teknik iblis! Dia sengaja memancing energi sesat dan hampir membunuhku di arena ini!"

​Di atas paviliun penonton, Feng Lin mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang karena situasi ini telah melenceng jauh dari skenarionya. "Sialan! Kenapa Instruktur Han Gu harus ikut campur?!" batinnya geram.

​Melihat kekacauan tersebut, beberapa Tetua Sekte turun dari panggung kehormatan. Mereka melangkah mendekati kawah arena, mengamati retakan batu yang tidak biasa serta sisa-sisa energi yang masih mengambang di udara.

​"Barusan... semua pedang di sekitar wilayah ini beresonansi secara tiba-tiba," ucap salah satu Tetua berambut abu-abu dengan kening berkerut.

​"Benar. Aura ini... rasanya seperti ada energi jahat yang sempat bangkit," timpal Tetua lainnya dengan nada menuduh, pandangannya tertuju pada Xiao Chen yang baru saja dibantu berdiri oleh Bao Hu.

​Han Gu tetap tenang menghadapi kecurigaan para Tetua. Dengan ekspresi datar, ia menepis tuduhan tersebut. "Para Tetua tidak perlu khawatir. Itu bukanlah teknik iblis, melainkan ledakan Qi murni akibat benturan hebat dari dua teknik tingkat tinggi yang dilepaskan secara bersamaan olehku."

​Meskipun penjelasan Han Gu terdengar masuk akal, sebagian Tetua masih menyipitkan mata, tidak sepenuhnya memercayai pembelaan tersebut. Namun, karena tidak ada bukti fisik dari energi iblis pada tubuh Xiao Chen saat ini, mereka tidak bisa bertindak lebih jauh.

​Xiao Chen merasakan kepalanya berdenyut nyeri saat kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia melihat keributan di depannya dengan tatapan linglung. "Ada apa ini? Apa yang hampir kulakukan tadi?"

​Han Gu kemudian membalikkan tubuhnya, menatap Liang Wei dengan sorot mata menghukum. "Murid Liang Wei! Karena kau dengan sengaja menggunakan teknik yang di larang di pakai di turnamen yaitu Cakar Penghancur Tulang yang berpotensi membunuh lawan dalam ujian seleksi resmi, kau dinyatakan melanggar aturan sekte dan akan menerima hukuman disiplin!"

​"A-apa?! Instruktur Han, ini bukan salahku! Dia yang—"

​"Cukup! Mundur dari arena!" Potong Han Gu tanpa bantahan. Liang Wei terpaksa menunduk dan berjalan mundur dengan penuh dendam. Dari kejauhan, Feng Lin menggertakkan giginya hingga berbunyi. Rencananya untuk melumpuhkan Xiao Chen gagal total, dan kebenciannya pada anak desa itu kini telah mencapai puncaknya.

​Malam hari pun tiba, membawa kesunyian di area Murid Luar. Setelah luka-lukanya diobati seadanya oleh tabib, Xiao Chen berjalan perlahan menuju area belakang asrama yang sepi. Ia duduk di atas sebuah batu besar, di bawah sinaran rembulan yang redup.

​Dari dalam kantong kainnya, ia mengeluarkan sebuah kotak bekal kayu yang sudah usang bekal yang diberikan oleh ibunya sebelum ia berangkat ke sekte ini.

Saat ia membukanya, aroma asam langsung tercium. Makanan di dalamnya telah membusuk dan berjamur karena terlalu lama disimpan.

​"Maafkan aku, Ibu..." bisik Xiao Chen, matanya menatap kosong pada makanan tersebut. "Aku terlalu sibuk bertahan hidup hingga lupa memakannya... dan sekarang malah jadi basi dan tidak bisa dimakan lagi."

​Rasa lelah yang teramat sangat tergambar jelas di wajahnya. Rasa lelah bukan hanya karena fisiknya yang terluka, melainkan jiwanya yang mulai tertekan. Di dalam pikirannya, ia memanggil sosok yang selalu mengawasinya.

​"Kakek Roh... apakah kau selama ini benar-benar mengatakan hal yang jujur padaku?" Tanya Xiao Chen dengan nada bergetar. "Hari ini, aku merasa Pedang Iblis Surgawi itu bisa kapan saja menelan kesadaranku. Dia seolah sengaja memancingku agar melepaskan segelnya saat aku terdesak."

​Sosok gaib Roh Pedang muncul di sampingnya, menatap lurus ke arah hutan malam. "Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Nak."

​Xiao Chen terdiam. Ia tahu Roh Pedang sedang menyembunyikan sesuatu yang besar darinya, namun ia tidak memiliki kekuatan untuk memaksanya berbicara. Ia hanya bisa tersenyum getir, menutup kembali kotak bekalnya. "Begitu ya..."

1
Maul
👍👍
Maul
latihan keras 😢
Maul
/Panic//Panic/
Maul
/Scare//Scare/
Maul
kenapa nih🤔
Maul
Benar-benar membingungkan Patriark itu🤭
Maul
/Smile/
Maul
Sepertinya Patriark baik🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
Agen One
Bab 37 sabar guys/Sleep/
Agen One
Kakek roh/Whimper/
Agen One
jadi juga murid dalam/Frown/
Agen One
🤕🤔
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees boos 🌽🔥
Maul
keputusan apa ituh
Maul
takut itu wajar Qianer
Maul
/Frown/
Agen One
selamat Idul Adha ya semuanya/Smile//Pray/
Agen One
Bab 35 sabar ya/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!