Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Ridho
Di saat Fitri tengah kesusahan membawa Ridho, di saat itu pula Jamilah and the geng datang menawarkan bantuan. Singkat cerita kini Ridho sudah berada di dalam rumah Fitri. Ridho dibaringkan di atas kasur tipis di ruang tengah.
"Kenapa gak diantar ke rumah nya saja ?" Tanya Maria.
"Gue gak yakin orangtuanya mau buka pintu. Lo tahu sendiri kan, orang-orang gak ada yang berani buka pintu malem-malem " Jawab Fitri.
"Iya juga ya..." Gumam Maria mengangguk.
"Terus sekarang gimana, apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Jamilah menatap Fitri lalu beralih pada Ridho.
Fitri terdiam sejenak, tatapan nya tertuju pada wajah Ridho yang nampak damai dalam tidurnya.
"Kita tunggu sampai besok saja. Gue ngantuk sekarang " Sahut Fitri yang sebenarnya bingung harus melakukan apa.
"Oh, ya sudah" Ucap Jamilah.
"Terus kamu mau tidur di mana ? Di kamar atau di... sampingnya Ridho ?" Sambar Berliana menjeda sejenak pertanyaan nya, namun tatapan nya mengerling, menggoda Fitri.
"Di sini, tapi di sofa " Jawab Fitri cepat sambil memicingkan matanya.
"Oh...hehehe, kirain mau bobok bareng gitu ...." Cangkir Berliana.
"Sembarangan...!" Seru Fitri.
Mariana mengambil kan bantal untuk Fitri, " Terima kasih " Ucap Fitri lalu melangkah ke arah sofa.
Gadis itu menghela nafas panjang sebelum merebahkan tubuhnya. Pandangan nya lalu tertuju pada Ridho.
"Ganteng juga ..." Gumam nya membatin. Lalu kemudian Fitri tersadar seketika menggelengkan kepalanya.
Akan tetapi di saat Fitri hendak terpejam, Jamilah tiba-tiba saja berseru," Fit,... sepertinya ada yang gak beres...! "
Maka seketika Fitri pun menegakkan tubuhnya, lalu menatap Jamilah.
"Ada apa ?" Tanya nya dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Aku rasa sesuatu telah terjadi padanya, coba deh kamu lihat ! " Ujar Jamilah tanpa mengalihkan pandangan terhadap Ridho.
Perasaan gadis itu mulai tidak enak, ia segera beranjak mendekat.
"Apa yang terjadi ?" Tanya nya melirik sekilas ke arah Jamilah.
"Sepertinya alam bawah sadarnya sudah berada di suatu tempat. kamu harus menolong nya ! Bawa dia kembali jika tidak entah besok dia akan masih bernafas atau tidak " Tutur Jamilah.
Fitri tersentak,"A...apa ? " Kejutnya," Lalu gue harus gimana ? Apa yang harus gue lakukan?" Bingung nya.
" Kasih nafas buatan !" Seru Maria
"Ye...itu mah maunya elu !" Sentak Fitri
"Jemput dia " Ucap Jamilah
"Jemput ? Gimana caranya ?" Tanya Fitri.
"Kamu genggam tangan nya,pejamkan mata dan fokus untuk menolong nya,aku akan bantu kamu. Selama itu jangan pernah lepaskan tangan kamu darinya. Mengerti !" Ucap Jamilah.
Fitri mengangguk, meski dalam hatinya tersimpan keraguan. Apa dirinya mampu atau tidak.
"Apa ini tidak berbahaya ?" Tanya Maria dengan wajah cemas.
"Resiko memang ada,dan apa yang akan kita lakukan memang sangat berbahaya,nyawa pun bisa jadi taruhannya,karena kita akan berhadapan langsung dengan pemimpin mereka" Jawab Jamilah.
Fitri terdiam, tatapannya tertuju pada Ridho. "Pemimpin...." Gumam nya. Dia lalu menghela nafas panjang.
"Bismillah... ayo kita lakukan ! Kita jemput dia meski harus berhadapan dengan pemimpin nya aku gak takut " Ucap Fitri mantap.
"Kamu yakin Fitri?" Tanya Maria
Fitri mengangguk," Ya" Jawabnya tanpa ragu.
"Kalau begitu,ayo kita lakukan sekarang ! sebelum hari berganti siang " Ucap Jamilah, Fitri segera mendekat ke arah Ridho yang terbaring, dia lalu memegang telapak tangan pria itu. Memejamkan mata dan berkonsentrasi seperti yang dikatakan Jamilah padanya tadi.
Beberapa saat kemudian,Fitri membuka sedikit sebelah matanya.
"Tidak terjadi apa-apa" Ucap nya.
"Fitri.... serius lah... konsentrasi...!" Ucap Jamilah tegas. Kuntilanak itu sudah memegangi pundak nya.
"Oh...oke..oke !" Sahut Fitri dan kini benar-benar berusaha untuk bisa berkonsentrasi. Namun konsentrasi nya seketika buyar saat gadis itu tiba-tiba buang angin.
Duuuuuutttt...
"Astaga ! Fitri ! Kamu bisa serius gak sih ? Kamu mau besok dia beneran mati !" Desis Jamilah menahan kesal.
"Iya sorry,abisnya perut gue tiba-tiba mules kalau lagi tegang " Lirih gadis itu sambil nyengir.
"Ampas nya gak sekalian keluar tah...." Celetuk Berliana. Namun kuntilanak itu seketika diam menutup rapat mulut nya saat Jamilah melirik nya tajam.
Maria,Edward ,dan Jefry nampak terkikik,mereka juga lantas terdiam setelah Jamilah menatap mereka.
"Ok. Mulai lagi ! Kali ini harus benar-benar serius,dia tidak bisa berlama-lama di tempat itu. Bisa bahaya buat nyawanya " Ucap Jamilah menegaskan.
"Baik... bismillah...." Kali ini Fitri benar-benar berkonsentrasi. Dia tentu tidak ingin hal buruk terjadi pada Ridho. Apapun tantangan nya dia akan hadapi demi bisa menolong pria itu.
Setelah beberapa saat,Fitri mulai merasakan dingin di pucuk kepalanya,menjalar ke tubuh sampai kaki,perlahan tubuh nya pun terasa ringan. Ketika itu, ruh halus nya kini sudah melayang pergi menuju tempat dimana Ridho berada. Fitri melihat jalan setapak di depan nya. Ada keraguan muncul di benaknya, dia tahu akan ada bahaya yang mengintainya di depan, tapi dengan tekad dan keberanian nya gadis itu memantapkan dirinya untuk terus berjalan menerobos kegelapan.
Semakin lama dia berjalan semakin berat langkah nya, seperti ada sesuatu yang membelenggu disetiap kakinya. Namun Fitri terus berjuang untuk bisa sampai di tempat yang dituju. Di pertengahan jalan Fitri dihadang sesosok pocong dengan wajah buruk rupa. Karena sudah terbiasa melihat bentuk dan rupa setan bungkus tersebut nampak nya membuat Fitri biasa saja, tak ada rasa takut ataupun terkejut.
"Wahai Ocong yang baik hati dan tidak tampan , tolong dong kasih aku jalan ! Aku mau lewat " Ucap Fitri sambil tersenyum.
Namun pocong itu hanya merespon dengan geraman dan nampak enggan memberi jalan.
"Ishh...nyesel juga gue bicara baik-baik" Gerutu Fitri pelan.
"Minggir dong , gue gak punya banyak waktu nih...." Ucap Fitri lagi , namun lagi-lagi pocong itu malah menggeram.
"Heleh,...gue juga bisa kali...." Fitri pun menggeram menirukan pocong itu.
"Fitri...jangan bercanda ! Cepat sebelum terlambat " Suara Jamilah tiba-tiba terdengar di telinga nya.
Gadis itu tak menyahut, namun helaan nafasnya menandakan jika dia tak ingin lagi main-main, dan berlemah lembut.
"Ok, Lo yang minta ya....! " Fitri mengambil ancang-ancang ,lalu mendorong pocong itu dengan sekuat tenaga sambil mengucapkan takbir.
"Allahu Akbar..... " Pocong itu jatuh berguling-guling di jalan yang menurun.
"Woy.... Jangan ngucap itu ! Panas ! " Teriak Jamilah.
"Sorry... Gue cuman mau minta bantuan tambahan sama Tuhan gue" Ucap Fitri pelan. Gadis itu lalu kemudian berlari tanpa menoleh kiri kanan yang mana di sana pocong-pocong mulai bermunculan.
Tak lama kemudian, Fitri akhirnya sampai di sebuah tempat yang cukup luas. Di depan sana ada semacam panggung tradisional yang terbuat dari bambu. Tak begitu besar namun cukup untuk sebuah pertunjukan seni. Terlihat juga alat-alat musik tradisional di sana, namun tanpa penabuh. Fitri kemudian mengalihkan pandangan nya ke arah samping panggung. Dia terkesiap melihat sosok yang dia kenali tengah meringkuk di tanah dengan tubuh yang sudah terbungkus kain putih layaknya pocong. Tatapan nya kosong.
"Bang Ridho...!" Seru Fitri berlari ke arah nya.
"Bang....bang Ridho !" panggil Fitri sambil menepuk pipi pria itu.
Ridho mengerjap," Fitri ....?" Bingung nya.
"Syukurlah,Lo sadar juga "Ucap Fitri seraya berusaha melepaskan kain putih yang membungkus tubuh pria itu.
Sreettt...
Fitri terpaku,melihat perut kotak-kotak dan dada bidang pria itu," Duh...kalo gue buka semua itu artinya dia telanjang dong,gawat ...." Fitri jadi kalang kabut sendiri memikirkan apa yang akan dia lihat selanjutnya dari tubuh pria itu. Baru perut dan dada nya saja sudah membuatnya panas dingin apalagi yang lain nya.
Fitri menggelengkan kepalanya,kemudian dia punya ide,Fitri membuka ikatan di kaki Ridho,setelah itu Fitri mengikat kain itu dibagian pinggang,hanya tubuh bagian atas yang ter ekspos.
"Nah, selesai. Ayo kita pulang !" Ucap Fitri
Namun sebelum mereka beranjak pergi,pocong-pocong bermunculan,menghadang langkah nya. Di depan pasukan pocong terdapat satu pocong yang nampak berbeda, tubuh nya sedikit lebih tinggi dan besar ,namun bukan itu yang jadi perhatian Fitri. Tetapi sebuah keris yang menancap di kepalanya mengingatkan nya pada mimpi nya beberapa waktu lalu.
.........