NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:33.9k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diingatkan

Tidak ada perubahan berarti pada jadwal kegiatan Nina sehari-hari sepeninggal suaminya. Dia masih mengikuti kelas senam hamil, berenang dibawah pengawasan instruktur yang diundang ke rumah, belajar dua bahasa bersama dua tutor di jam berbeda. Atau sekedar jalan-jalan di sekitar rumah. Mungkin ada tambahan untuk kegiatannya, Nina mulai berkebun. Baik sayuran ataupun tanaman bunga.

Segala hal yang dilakukannya benar-benar positif. Ini amat sangat jauh berbeda dengan kehamilan pertamanya dulu, yang hampir setiap hari harus diiringi kesedihan.

Sekarang Nina lebih banyak tersenyum, bahkan tertawa. Para pekerja cukup mengusir kesepiannya, yang ditinggal suaminya pulang kampung.

Geraknya memang sudah tak selincah biasanya, tapi Nina masih bisa bergerak secara perlahan.

Lalu soal pemeriksaan seminggu sekali, bukan Nina yang mendatangi rumah sakit. Melainkan mobil pemeriksaan lengkap dengan peralatan seperti USG yang datang ke rumahnya. Mobil yang didesain khusus itu terparkir di halaman, ada dokter Asha beserta asistennya yang datang menemuinya.

Uang benar-benar bekerja disaat-saat seperti ini. Intinya segalanya bisa dipermudah dengan uang.

Nina yang berasal dari kalangan bawah, tidak pernah menyangka, atau bahkan berani bermimpi menjalani hidup seperti saat ini.

Nina tidak perlu mati-matian mencari sesuap nasi, tidak perlu lagi mendengar cibiran orang-orang, atau was-was akan masa depan anak-anaknya. Semuanya sudah terjamin.

"Jadi bagaimana keputusan kamu?" Tanya dokter Asha usai selesai melakukan pemeriksaan.

Mereka sedang duduk di kursi teras sambil melihat Taman kecil di depannya. Ada satu cangkir kopi dan segelas air mineral. Juga kudapan buatan tangan Nina tadi pagi.

"Coba Normal dulu aja, dok!" sahut Nina. Dia meminta sendiri agar dokter yang menanganinya, tidak memakai bahasa formal yang kaku. Berbeda dengan kolega laki-laki suaminya yang hingga saat ini masih menggunakan bahasa formal. Sebagai istri orang Nina cukup tau diri, untuk menjaga jarak dengan lawan jenis. Kecuali Damian, ketika dulu dia kepepet minta bantuan.

"Oke ..." Dokter Asha memeriksa sekali lagi hasil pemeriksaan melalui tablet yang dipegangnya. "Pemeriksaan hari ini bagus, Nin! Air ketuban oke, posisi bayi juga oke ..." Dia menjelaskan secara lengkap. "Pokoknya tinggal nunggu mules atau misal kamu flek, kamu telepon aku. Nanti ada ambulan yang siap siaga dua puluh empat jam buat jemput kamu." Jelasnya.

Sekitar satu jam mereka terlihat obrolan, Dokter yang tingginya sama dengan Nina itu juga sempat menengok ke kebun belakang dan makan siang bersama. Termasuk dua asisten dan supir ambulan. Andai tak ada panggilan dari rumah sakit, mungkin dokter Asha bisa ikut tidur siang di rumah besar itu.

Lalu mengenai sahabatnya, Nanik. Nina masih belum berani mengatakan tentang dirinya yang telah setuju dengan kontrak melahirkan anak untuk Ammar. Dia takut sahabatnya itu marah. Walau sekarang, suaminya itu sudah berubah sikap dan begitu menyayanginya.

Nina mengaku bekerja di rumah besar milik Ammar, sebagai pembantu rumah tangga. Ketika sedang melakukan panggilan video, Nina akan berpura-pura sedang bekerja di kebun atau membuat kue. Yang jelas, dia hanya menunjukkan dari dada keatas.

"Oh ya Nin! Kakaknya mantan mu, kemarin ketemu aku di toserba."

Nina sedang melakukan panggilan video dengan Nanik, usai dokter Asha berpamitan pulang. Kini Nina berada di kebun belakang rumah, dia berpura-pura sedang menyiangi rumput di sekitar poli bag. "Oh ..."

Nanik tau, jawaban ibu si kembar akan datar seperti biasa. "Dia nanyain sekolahnya Aby."

Kakak laki-laki mantan suaminya itu lah, salah satu penyebab Nina terpaksa menjual harta satu-satunya peninggalan mendiang orang tuanya. Alhasil setelahnya, Nina sempat menumpang hidup di rumah Nanik selama beberapa bulan.

"Terus kamu jawab apa?"

"Aku ketus jawabnya, aku bilang 'nggak usah sok peduli, gara-gara situ anak yatim sampai hidup luntang-lantung'." Wajah Nanik terlihat kesal, bahkan sempat mendengus. "Aku denger gosip katanya, istrinya kabur sama selingkuhannya. kawus ... Emang enak! Makanya jangan zolim sama keponakan sendiri." Nanik lanjut ngomel dan melontarkan sumpah serapah pada mantan kakak ipar Nina.

Sementara Nina sesekali menanggapi dengan tawa atau mengatakan 'sabar'. Karena memang hanya Nanik yang tau betul bagaimana perlakuan keluarga mantan suami Nina. Juga keluarga dari pihak ibu kandung Nina dulu.

Mereka bukannya membantu menopang keponakan atau cucu keponakan yang yatim, malah menindas dan menuntut uang atau hak asuh atas si kembar.

"Oh ya, kemarin aku Dateng ke pondoknya Aby. Aku anterin makanan kesukaan dia. Aby bilang liburan kenaikan kelas, kalian nggak bisa ngumpul ya?"

"Iya aku mau ikut majikanku ke luar negeri."

"Wah ... Nin, akhirnya bisa naik pesawat." Wajah Nanik terlihat sumringah. "Aby bilang majikan kamu orang Arab ya?"

"Beliau orang Qatar, Nik!"

"Sama aja, kan?" Nanik mengerucutkan bibirnya. "Sekalian Nin, kalau udah sampai sana. Minta umrah atau naik haji sekalian."

Mungkin itu akan dilakukan nanti setelah urusan dengan Ammar beres. Dengan tabungan yang kini dimiliki, Nina berencana mengajak si kembar dan keluarga Nanik untuk menunaikan ibadah haji kecil itu.

"Entar aja, sekalian sama kamu dan anak-anak, Nik!" ujar Nina. "Oh ya, kamu nggak ketemu Anin?" Dia mengalihkan pembicaraan, agar sahabatnya itu tak lagi bertanya soal pekerjaannya.

Gedung asrama Aby dan Anin, terpisah. Beda RT tapi masih satu RW. Jaraknya sekitar tiga ratus meter.

"Asramanya Anin kan ketat banget, aku aja cuma bisa titip makanan sama musrifahnya. Kalau asramanya Aby kan terbuka. Kalau lagi istirahat aja, Aby bisa keluar."

Pondok tempat Aby dan Anin mengenyam pendidikan letaknya, berbeda kabupaten dengan rumah Nanik. Sengaja Nina lakukan, agar keberadaan si kembar tidak terendus oleh mantan kakak iparnya.

"Makasih banyak ya, Nik! Kamu selalu dukung aku dan si kembar."

"Apaan sih kamu, Nin! Kita ini saudara beda ayah dan ibu."

Mata Nina berkaca-kaca. "Suatu saat, aku janji bakal balas kebaikan kamu ini, Nik!"

Kedua sahabat itu, sama-sama berlinang air mata. Bukan karena sedih, tapi terharu. Karena mereka bisa mempertahankan persahabatan hingga saat ini, dan nyaris tak ada pertengkaran ataupun perselisihan.

Panggilan berakhir. Baru saja hendak menaruh ponsel di kantung, layar menunjukkan panggilan dari Ammar. Nina menggeser layar dan memasang wajah tersenyum, seraya berucap salam.

"Sedang apa? Dari tadi aku telepon, kamu sibuk terus."

"Aku abis telepon temenku." Ujar Nina. "Ada apa? Apa kamu sedang tidak sibuk?"

Ammar mengubah mode kamera belakang, dan menunjukkan pemandangan kota dari ketinggian. Sepertinya lelaki itu sedang berada di kantor.

"Setelah pulang bekerja, aku akan bertemu kakek dan paman-paman ku."

"Oh begitu ..."

"Kalau cuma kakek, aku tidak masalah. Tapi paman ..." Ammar menghela napas berat.

"Tidak apa-apa, hadapi saja. Bukankah kamu sudah biasa menghadapi mereka." Nina berusaha menenangkan. Dia juga mengalihkan pembicaraan, tentang pemeriksaan pada hari ini. Setidaknya bisa menghibur lelaki itu.

"Aku sudah tidak sabar. Aku ingin sekali bertemu kamu."

Nina menanggapi dengan senyuman.

"Setelah urusanku di sini selesai, aku akan bertemu Leti sebentar. Dia bilang ingin bertemu aku."

Mendengar hal itu, senyum Nina perlahan pudar. Ternyata dia terbuai dengan kenyamanan yang diberikan suami kontraknya. Ucapan Ammar menyadarkan Nina, jika waktu semakin dekat dengan perpisahan.

"Tapi aku janji hanya sebentar. Karena aku tidak akan melewatkan momen paling berharga dalam hidupku."

Nina menoleh, menyembunyikan kesedihannya.

"Aku akan segera pulang ke kamu, sayang!!!"

"Iya aku tau," Nina memaksakan senyum. "Sudah dulu ya, aku ingin ke toilet." Nina mengucapkan salam dan langsung mengakhiri panggilan video tanpa menunggu jawaban salam dari suaminya.

1
Sri Hayuni
lanjut
Sayekti 0519
bertingkah kali betina ni,demi keamanan jg
Sayekti 0519
yakin tuh letisa setia, takutnya....
Sri Hayuni
lanjut
Bunga
suka
Piyah
lanjut ha pake lama
Yessi Kalila
yeee.... alon2 asal kelakon😄😄😄
Yessi Kalila
upnya di futinin dong kaa..... aku penasaran inii😄😄
Yessi Kalila: semangat... semangat Kaka..... sehat2 selalu😍😍😍
total 2 replies
Yessi Kalila
akhirnya..... paham ke apa Nina jadi judes.. 😄😄
Piyah
lanjutkan
Sri Hayuni
lanjut thor
Sri Hayuni
lanjut
𝐈𝐬𝐭𝐲
ceritanya bagus bgt tapi sayang up nya terlalu lama.... up lagi yuk thor, semangat..✊🏻😍
𝐈𝐬𝐭𝐲
up dong thor...
Dorialam Lubis
lanjut
Piyah
lanjutkan ga pake lama
Sri Hayuni
lanjut
Dorialam Lubis
i
Dorialam Lubis
lumayan bagus
Sri Hayuni
thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!