Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Mata merah Caily bersinar cerah dengan sorot mata tajam, dibelakangnya ada Rosetta dan Vione yang mengamati dengan seksama.
Saat mata tajam Fenrir bertemu pandang dengan mata merah Ruby milik Caily, hewan itu tidak bereaksi sedikitpun seolah menegaskan jika kemampuan Caily tidak dapat menyentuhnya sedikitpun.
Caily menggeram pelan saat merasakan dadanya mulai sesak, itu terjadi saat dirinya memaksakan kekuatannya sampai batas yang seharusnya tidak ia paksa, sudut matanya mulai memerah dan pupil matanya bergetar, napasnya mulai tidak teratur.
Tetapi Caily tetap bertahan, ia tahu batasannya sendiri karena itulah ia ingin mendorongnya lebih jauh dan mendobrak batasan itu, hewan legendaris seperti Fenrir bisa membuatnya naik level jika bisa ia taklukkan kembali.
Lagipula saat itu Fenrir sedang sangat lemah, jadi kekuatannya bangkit hanya pada dititik terlemah.
Caily memejamkan matanya sejenak saat merasakan setetes cairan berwarna merah jatuh dari sudut matanya, tampaknya gadis itu benar-benar memaksa dirinya dan menyudutkan dirinya sendiri.
Fenrir mendengus pelan, namun yang tidak diketahui siapapun, hewan itu menahan sesuatu yang bergerak dalam dirinya.
Ia mampu bertahan dari perintah mata merah gadis itu, tapi ia tidak ingin lengah sedikitpun.
Namun saat Caily mendongak, matanya yang merah karena darah kini memandang lurus pada hewan itu, kali ini dengan intensitas yang lebih mengerikan seakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika Fenrir menolak tunduk padanya.
Hewan itu menggeram hingga taring tajamnya terlihat jelas, kuku dibawah kakinya mencakar dan menancap kuat ditanah seakan-akan ia sedang menahan sesuatu dalam dirinya dengan sekuat tenaga.
Tubuhnya bercahaya dengan aura kuat yang membungkus tubuhnya, disisi lain Rosetta yang masih mengamati pelatihan itu tersentak pelan, matanya melotot tajam dan tangannya mencengkram erat pegangan kursi kayu yang dia duduki.
Vione disampingnya segera menoleh karena terkejut dengan reaksinya yang sangat tidak terduga, ia melirik tingkah laku gadis itu lalu kembali melirik kearah Fenrir.
Ia merasa tingkah laku keduanya sangat mirip dan ia mengambil kesimpulan jika Rosetta turut merasakan apa yang sedang Fenrir rasakan karena keduanya menjalin kontrak.
Disisi lain, Caily melangkah mendekati Fenrir, ketukan sepatu dibawah kakinya membuat hewan legendaris itu menggeram pelan, napasnya semakin tajam seakan ia sedang mempertaruhkan nyawanya dan siap kapan saja menerjang Caily jika gadis itu sampah dititik akan menyentuhnya.
Sret...
Tubuh Fenrir bergetar karena amarah saat tangan ramping Caily mendarat didahinya lalu naik ke kepalanya, elusan dikepalanya ia anggap sebagai ejekan.
Atas kemarahan itu ia mengangkat salah satu tangannya dan berniat mencakar lengannya namun yang tidak terduga Rosetta menghentikannya dengan paksa melalui jalinan kontrak 'budak dan majikan' yang sudah aktif.
Cakar tajamnya berhenti dan melayang tepat diatas kulit lengan Caily, tapi sepertinya gadis itu tampaknya sama sekali tidak peduli tentang hal itu, matanya yang berlumuran darah memandang lurus pada mata Fenrir.
"Kau pasti merasa tersiksa dengan jalinan kontrak itu, kan?" Bisiknya dengan nada lembut, tapi bagi Fenrir, ia malah semakin merasa jika gadis itu tengah mengejek keadaannya.
Caily mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Fenrir yang berbulu.
"Jawab aku, apakah kau masih ingin melawanku?" Tanyanya dengan sorot mata tajam yang dingin.
Fenrir terdiam ditempatnya, tampaknya ia masih tidak ingin patuh pada siapapun.
Caily hanya menyeringai melihat reaksinya, ia menoleh kebelakang dimana Rosetta masih memandangnya dengan tajam, gadis itu masih mempertahankan antara kesadarannya dan kemampuannya untuk tetap menahan Fenrir.
"Lepaskan saja." Ucap Caily dengan kepalanya yang sedikit miring.
Vione terdiam sedangkan Rosetta tersentak pelan, ia mengangguk dan mulai melepas perintahnya dari Fenrir.
Hewan itu segera menarik tangannya sendiri sehingga genggaman itu terlepas, Caily tertawa geli melihat reaksinya.
Namun sedetik kemudian matanya menajam, lurus dan tampak lebih fokus.
"Diam dan dengarkan suaraku!" Titahnya dengan suara pelan tetapi penuh dengan tekanan.
Tubuh Fenrir tertunduk kebawah, ia menggertakkan giginya saat mulai merasakan tubuhnya tidak lagi ada dalam kendalinya.
"Bagus." Bisik Caily yang tampak puas dengan Hasilnya.
Ia melangkah mundur lalu menoleh kebelakang, ternyata disana ada Rosetta yang juga duduk diam dengan kepala tertunduk, tampaknya apa yang Fenrir alami menular langsung pada tuannya.
Caily kembali duduk dikursinya, ia mengambil sapu tangan dan mulai membersihkan darah yang membasahi wajahnya lalu menutup matanya menggunakan kain sutra berwarna hitam.
Secara perlahan, Rosetta yang masih tertunduk mendongakkan kepalanya begitu pula dengan Fenrir.
Keduanya sudah terlepas dari perintah mata merah milik Caily.
"Sial, kekuatan ini lebih berbahaya dari yang aku kira." Komentar Rosetta sambil membaca buku ramalan miliknya.
"Apa katanya?" Tanya Vione yang sedari tadi ingin mengkonfirmasi tebakannya sendiri.
"Hewan kontrak yang dipaksa patuh oleh mata merah Caily akan membawa dampak yang sama pada tuannya, yang terjadi pada Fenrir juga akan terjadi padaku karena kami menjalin kontrak 'budak dan majikan' melalui darah." Jelas Rosetta dengan kening yang berkerut samar, tampaknya dampak dari mata merah Caily masih ada di tubuhnya.
Vione mengangguk paham, setidaknya sebagian tebakannya benar, tapi ia masih ingin menanyakan satu hal pada Rosetta. "Apa itu hanya berlaku pada kontrak yang dilakukan melalui darah?"
Rosetta mengangkat bahunya tanda jika ia tidak tahu akan jawabannya, namun saat sederet kata muncul dalam buku ramalan tersebut, ia segera membuka suaranya.
"Kontrak yang dilakukan karena kedua pihak sama-sama setuju tidak akan mengalami hal seperti itu."
Vione menaikkan satu alisnya. "Oh? kalau begitu tidak akan terjadi apa-apa padaku meskipun Caily mencoba menaklukkan Lize?"
Rosetta mengangkat bahunya karena tidak yakin, tapi yang tertulis dibuku ramalannya mungkin dimaksudkan seperti itu.
"Sepertinya begitu."
"Oke, lain kali gua coba." Ujar Caily yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan.
...
"Apa yang kau lakukan, Alisa?"
Alisa tersentak pelan dan ia segera bangkit dengan senyum canggungnya seperti biasa, ia tersenyum tipis sambil menepuk gaunnya yang sedikit kotor.
"Aku mendapatkan benih bunga dari teman sekelas, jadi aku berniat menanamnya disini."
Shanez, laki-laki yang baru saja kembali dari ruang guru dan memergoki Alisa yang tengah menimbun tanah itu hanya mengangguk pelan.
"Bunga apa? aku bisa bawakan yang mahal jika kau perlu." Katanya sambil melirik kearah kantung hitam disamping gundukan tanah itu.
Tetapi Alisa hanya tertawa pelan sambil melambaikan tangannya.
"Tidak perlu, bunga itu dari kerajaan seberang, itu semacam tanaman herbal yang bisa dijadikan obat, kau tahu? aku memerlukannya untuk penelitian profesor Lay."
Shanez mengerutkan kening. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku, aku bisa mengambilnya untukmu."
Alisa tertawa kecil seolah merasa canggung dengan balasan laki-laki itu.
"Tidak, aku selalu merepotkan kamu, lagipula tanaman itu cukup langka dan kebetulan temanku memilikinya, jadi aku memintanya beberapa untuk ditanam disini."
"Lain kali katakan saja padaku, jangan memintanya pada orang lain." Tegasnya dengan nada posesif.
Alisa mengangguk pelan sambil tersenyum manis, Shanez merasa tenang melihat senyum manis itu.
"Baiklah, ayo kita pergi kantin, aku lapar!" Alisa berseru dengan senyum cerahnya.
Shanez mengangguk, ia menggenggam tangan Alisa dengan erat seolah tidak ingin ada jarak diantaranya dengan gadis itu.
Alisa, diam-diam merasa puas dengan reaksinya.
Ia menoleh sekilas kearah gundukan tanah tempat dimana benih tanaman yang ia maksud berada, disampingnya kantung hitam itu perlahan terbakar hingga hangus menjadi debu, lalu angin menghempaskan sisa debu pembakaran itu dan debu pun jatuh menyebar keseluruh tanaman lainnya.
Sekilas, aura hitam membungkus seluruh taman bunga itu dengan mengerikan hingga bahkan hampir tidak terlihat saking pekatnya aura itu.
Namun itu segera menghilang menyatu dengan tanah dan tanaman, suasananya kembali normal setelahnya, seolah tidak ada apa-apa disana.