NovelToon NovelToon
Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror

Sang Putri Hutan, Ratu Pilihan Kingdom Conqueror

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Raja Tentara/Dewa Perang / Fantasi Wanita / Cinta setelah menikah
Popularitas:803k
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memahami Batas

“Sial…” batin seorang gadis di salah satu meja bangsawan. Tangannya mengepal di atas meja, kukunya hampir menekan kulit sendiri. Ia telah memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, bisikan tentang asal-usul Lily disebarkan dengan rapi, menu khusus disiapkan dengan peralatan asing, etiket yang ia yakin akan mempermalukan seorang putri dari hutan.

Namun semua berakhir tanpa kekacauan, dan tawa sinis yang ia tunggu-tunggu. Kemarahan yang ia harapkan berubah menjadi pengakuan diam-diam dari para bangsawan. Rencana yang telah ia susun dengan teliti untuk menjatuhkan gadis hutan itu gagal total.

“Tenangkan dirimu, Jandice.” bisik ibunya, sambil mematahkan sepotong roti dan memakannya dengan tenang. Nada suaranya datar, berpengalaman, seolah kegagalan barusan hanyalah hal sepele.

“Aku sangat kesal, Mama.” kata Jandice menggeram rendah.

“Masih banyak cara lain untuk menyingkirkannya.”

Jandice menarik napas dalam-dalam. Wajahnya masih memerah karena amarah yang tertahan. Matanya kembali menatap ke arah meja utama. King Cristopher duduk di sana, tegak dan berwibawa, sementara di sampingnya duduk si gadis hutan. Di tempat yang seharusnya menjadi miliknya.

Alunan musik di aula perlahan berubah. Dentuman cepat yang meriah mereda, berganti irama lambat yang mengalir halus, mengundang langkah kaki untuk saling mendekat. Satu per satu para bangsawan pria bangkit dari kursi mereka, mengulurkan tangan kepada pasangan masing-masing, memenuhi lantai dansa dengan tarian.

Di antara gemerlap itu, Jandice melihat celah. Ia merapikan lipatan gaunnya dengan hati-hati, memastikan setiap detailnya sempurna, lalu melangkah mantap menuju kursi kehormatan.

“Your Majesty,” katanya dengan suara lembut, “akan menjadi kehormatan besar jika kau berkenan berdansa dengan adikmu ini.”

King Cristopher menoleh, bukan pada Jandice melainkan pada Lily. Namun Queen Liliane sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Tatapannya tetap tertuju pada piring di depannya, seolah kedatangan Jandice bukan gangguan. Apa pun yang dilakukan Cristopher dengan wanita lain tidak memiliki arti apa pun baginya. Selama tidak merugikan, ia tidak akan peduli. Lagi pula bukankah batas itu telah ditetapkan dengan jelas sejak awal?

King Cristopher bangkit dari kursinya, menerima uluran tangan Jandice dan melangkah ke lantai dansa. Sorotan mata tamu segera mengikuti mereka. Jandice menoleh sekilas ke arah Lily, menghadiahkan senyum penuh kemenangan.

Lily mengernyit tipis. “Senyumnya jelek,” batinnya datar. “Mengapa ia terus memamerkannya padaku?”

Ia mengalihkan pandangan dan mengangkat tangannya memanggil pelayan.

“Apakah acara ini masih lama?” tanyanya singkat.

“Acara inti telah selesai, Your Majesty.” jawab pelayan itu menunduk hormat. “Dansa hanya bagian dari hiburan.”

“Kalau begitu aku sudah bisa undur diri.”

Pelayan itu tampak ragu sejenak. “Sebaiknya Anda tetap menunggu, Your Majesty.”

Lily bangkit dari kursinya, keputusannya sudah bulat. “Katakan pada mereka aku tidak enak badan.”

Ia tidak berbohong, kepalanya terasa berat. Terlalu banyak suara, terlalu banyak tatapan, dan terlalu banyak aturan dalam satu malam.

“Antarkan aku ke kediamanku.” katanya tenang.

Pelayan itu segera menunduk lebih dalam. “Baik, Your Majesty.”

Tanpa menoleh ke belakang, Lily meninggalkan aula perjamuan dan suaminya yang tengah berdansa dengan wanita lain. Ia berjalan pergi dengan langkah ringan, tanpa luka di hati apalagi rasa cemburu.

Kepergian Lily tidak luput dari pandangan King Cristopher. Di tengah lantai dansa yang dipenuhi cahaya lilin dan gaun berkilau, matanya menangkap sosok itu menjauh tanpa sekali pun menoleh. Tidak ada raut kecewa, seolah pesta megah ini hanyalah persinggahan singkat yang sudah selesai baginya.

Irama musik masih mengalun ketika Jandice mendekatkan tubuhnya.

“Terima kasih sudah bersedia berdansa denganku, Your Majesty.” katanya lembut, jemarinya mengerat di bahu Cristopher, terlalu percaya diri akan kedekatan yang ia bayangkan sendiri.

Cristopher menghentikan langkahnya. Dengan satu gerakan singkat, ia melepaskan pegangan Jandice. Jarak tercipta dengan jelas, dan tak bisa disalahartikan. Tatapan Cristopher tetap lurus, tanpa sedikit pun emosi yang bisa dibaca.

“Your Majesty?” suara Jandice melemah, kebingungan menyusup di balik senyum yang belum sempat ia turunkan.

“Aku memiliki urusan yang lebih penting.” jawab Cristopher datar.

Tanpa basa-basi, ia berbalik dan melangkah meninggalkan lantai dansa, meninggalkan aula yang masih dipenuhi bangsawan yang saling bertukar pandang dengan heran.

Jandice berdiri kaku di tempatnya. Jari-jarinya perlahan mengepal di balik sarung tangan sutra. Wajahnya tetap terjaga di hadapan semua orang, namun matanya menyala oleh emosi yang gagal ia sembunyikan.

“Brengsek…” gumamnya pelan, meninggalkan lantai dansa dengan emosi yang menggebu-gebu.

____

Pelayan mengantarkan Lily menuju Royal Chambers, kediaman khusus untuk Ratu Kingdom Conqueror. Pintu-pintu tinggi berukir emas terbuka perlahan, menunjukkan ruangan yang terbentang begitu indah hingga nyaris terasa tidak nyata. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu tua berukir rumit, dihiasi lukisan ratu-ratu terdahulu yang menatap lurus dengan ekspresi abadi. Tirai sutra tebal berwarna gading menjuntai rapi di setiap jendela besar, bergerak pelan tertiup angin malam. Semuanya bersih dan terawat.

“Selamat datang, Your Majesty.” kata dua pengawal yang berjaga di depan pintu, menunduk dengan sikap sempurna.

Lily mengangguk anggun, lalu melangkah masuk tanpa menoleh lagi. Di balik ketenangannya, satu hal mengusik pikirannya… Eri. Ia menyusuri ruangan dengan langkah cepat, matanya mencari-cari singanya. Namun tak ada apa pun di sana.

Dada Lily mengencang. Ia berbalik cepat, berniat keluar dan mencari Cristopher tanpa menunda sedetik pun. Namun baru satu langkah, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh.

“Ah… sakit.” gumamnya, refleks mundur setengah langkah.

Ia menengadah dengan kesal. “Apa yang kau…”

Kata-katanya terhenti di udara.

“Ah… kau…” napasnya tercekat sesaat saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

King Cristopher berdiri tepat di ambang pintu, menjulang dengan postur tegak, bayangan tubuhnya jatuh memanjang di lantai. Tatapannya turun perlahan ke arah Lily, dingin dan penuh kendali.

Cristopher mengangkat dagunya sedikit. “Pelayan!” panggilnya singkat.

Beberapa pelayan istana langsung masuk dan berbaris rapi di belakangnya, menunduk menunggu titah.

Cristopher mengalihkan pandangannya ke Lily. “Pilihlah siapa yang akan menjadi pelayan di kediamanmu.”

Lily menatap barisan wajah-wajah asing itu, lalu tanpa ragu ia menggeleng tegas.

“Laory sudah cukup bagiku,” katanya tenang.

Suasana seketika berubah. Beberapa pelayan saling melirik, penuh keterkejutan. Belum pernah mereka mendengar seorang ratu memilih hanya satu pelayan pribadi di kediamannya.

“Kau yakin?” tanya Cristopher, nada suaranya datar namun mengandung tekanan.

Lily mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Cristopher tanpa gentar.

“Apa aku terlihat sedang bercanda?” balasnya tanpa senyuman. Yang ada hanya ketegasan yang jujur.

Pelayan-pelayan istana menahan napas. Mereka menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi. Seorang wanita berdiri sejajar dengan Raja Penakluk mereka, menatapnya tanpa tunduk, tanpa gentar, tanpa kehilangan martabat.

1
Vika Lestari
uf kaka
jeon_niie
akhirnya up lagi, kemana ajaa thor,
author udah sehat kan..

ya walau ampek lupa udh sampek mana ceritanya... 🤭🤭🤭
Sandisalbiah
didikan kaisar Lexus dan ratu Anastasia menjadikan anak²nya manusia yg rendah hati dan bijak sana...
Sandisalbiah
ragumu bukan hanya ratu utk manusia Christopher tp dia ratu bagi seluruh mahluk hidup.. dan alam pun tunduk pd nya... luar biasa imajinasi authornya.. keren
Sandisalbiah
intinya sang raja justru jatu hati pd sikap membangkang, sifat bar bar dan keberanian sang ratu... yg artinya kung Christopher mencintai Lily dan segala pri lakunya.. hem.. harus sedia stok sabar seluas samudera kamu Chris
Ami Aja
aku bacanya terharu,dari awal kisah Lily yg terpaksa harus menikah dengan Crist,sekarang ada buah cinta diantara mereka🩷
Vika Lestari
semangat 👍💪uf lagi dong
Dev..
gk sabar banget nunggu lahirannya Lily🥰
Widya Febrina
Daebak...ceritanya menarik... alurnya rapi juga gak mudah dimengerti...hiburan yang betul2 menghibur...
Widya Febrina
pulang kampung buat lahiran ya Ratu 🤭🤭🤭 apa akan terulang lagi keajaiban hutan moonveil atas kelahiran pewaris dua kerajaan ini ya...pasti ada dong y..Thor 😁😁👌👌
j4v4n3s w0m3n
wah seru pasti klw ratu.pergi ke hutan moonvill penyambutanya pasti wow🤭
Yeni Fitriani
novelnya bagusss... kereeen abis... tp sayang author nya mungkin kurang fokus jd nulis rambut lily nya berubah ubah mulu... dlm 2 bab rambut lily berubah sampe 3x.... dr rambut emas.... lalu jd rambut perak.... kembali lg rambut emas...🤣
Sang: kak yen tahu gak dengan teknologi pengubah warna rambut? kalo cabe-cabean aja bisa gonta-ganti warna, masa permaisuri gak boleh???
total 1 replies
Sandisalbiah
the real titisan Anastasia, tdk pernah kehilangan ke Bar-barannya.. selalu tegas dan berani
Ninis Hartanto
. Aku ikut baper😍😍
Ary Wijayanti
Alhamdulillah...
buka notifikasi, lgsg baca 4 bab...
terimakasih Thor telah up lagi
sehat selalu buat author..😍😍
Ami Aja
maniiiisnyaaa,,,mereka bikin iri 😊
Sandisalbiah
jd Christopher pernah punya wanita yg begitu dia cintai sebab itu di memasang jarak pd Lily?.. penasaran
Kinanda Husnancandra
aku ikut berdebar Thor, ke inget beberapa tahun lalu gak mudik lebaran,dan pas mudik rasanya lega,bahagia,dan haru.🤭
ratu Liliane gitu juga gak ya perasaannya🤣
Sandisalbiah
Jandice menyebut dirinya adik tp niatnya ke Christopher penuh minat dan nafsu... dia ini sejenis jalang yg menyerupai belatung nangka yg gak bisa diem
Sandisalbiah
jd Christopher ini kebalikan dr Lexus... kasihan Lily..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!