Pernikahan adalah pengikatan janji sakral yang dilaksanakan oleh dua orang yang saling mencintai. Tapi tidak dengan Aqila.
Aisyah Aqila adalah seorang gadis yang cantik, baik, pintar dan manja. Tetapi juga berani. Berumur 18 tahun dan baru lulus sma.
Aqila adalah salah satu murid terpintar dan bintang sekolah di sma nya dulu. Karena kepadaiannya, ia ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi keadaan yang membuat nya mundur.
Hingga nasib buruk menimpanya.
Aqila harus menikah dengan orang yang tidak dia kenal dan bahkan orang yang ditakuti dikota itu.
umurnya pun jauh berbeda 10 tahun lebih tua darinya.
Hanya karena ayahnya tidak bisa membayar hutangnya yang bunganya sangat besar.
"Saya akan membebaskan hutang-hutang kamu Hendra, tapi dengan satu syarat," ucap Edwin menggantungkan kata-katanya yang terakhir.
"Kamu nikahan saya dengan gadis bodoh ini?" sambil menunjuk Aqila.
Aqila bingung, di satu sisi ia tidak ingin menikah dengan orang itu, tapi disisi lain keadaan yang membuatnya harus bilang iya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auriel zeta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 27 Makan diwarteg
"Edwin mana sayang?" tanya Mama Merliana.
"Tadi sih masih mandi ma, mungkin sebentar lagi turun kok," jawab Aqila.
Edwin keluar dari kamarnya dan turun kebawah menghampiri Aqila dimeja makan.
"Anak mama fresh banget sih," goda Mama Merliana.
Edwin hanya tersenyum.
"Alisya mana?" tanya Edwin.
"Dia belom keluar kamar sayang, bentar mama susulin dulu," baru Mama Merliana berdiri, Aqila mencegahnya.
"Nggak usah ma, biar Aqila aja. Sekalian biar Aqila bisa akrab sama Alisya,"
"Ya udah sayang, kamarnya disitu," sambil menunjuk kamar Alisya.
"Iya ma," jawab Aqila dan pergi ke kamar Alisya.
Tok...Tok....
Aqila mengetuk pintu kamar Alisya.
"Alisya... " panggil Aqila.
"Iya kak bentar..." jawab Alisya dari kamar.
Beberapa menit Alisya membuka pintu.
"Eh kak Aqila, ada apa kak?" tanya Alisya.
"Udah ditunggu dimeja makan Sya," jawab Aqila.
"Iya kak, Alisya juga mau ke meja makan,"
"Ya udah ayo,"
Mereka berdua berjalan menuju meja makan. Alisya bersikap baik kepada Aqila begitupun sebaliknya. Mereka merasa cocok karena umur mereka sama.
"Mama," ucap Alisya yang manja.
Alisya kemudian duduk di samping mamanya.
Dan Aqila duduk disamping Edwin.
Mama mengambilkan nasi untuk Papa Sanjaya dan Alisya. Sedangkan Aqila mengambilkan nasi untuk Edwin.
Saat mau makan, Papa Sanjaya menyindir Aqila.
"Kamu bisa nggak makan makanan seperti ini? Bukannya kamu biasanya makan cuma tahu sama tempe."
Aqila hanya diam.
"Maksutnya apa?" tanya Edwin.
"Papa cuma tanya Win,"
"Apa pantes pertanyaan seperti itu?" tanya Edwin dengan marah.
"Udah om, nggak papa," bisik Aqila menenangkan Edwin.
"Papa kok ngomong gitu sih," ucap Mama Merliana. "Sayang, maafin perkataan papa tadi ya,"
"Iya ma, nggak papa kok," jawab Aqila dengan senyum yang terpaksa.
Aqila bukan wanita yang lemah. Ia ingin sekali membantah papa mertuanya yang nggak punya hati itu.
Edwin meletakkan sendoknya dipiring lagi.
Lalu menggandeng tangan Aqila.
"Kita makan diluar." ucap Edwin.
"Tapi om..."
Belom selesai Aqila meneruskan kata-katanya, Edwin sudah menarik tangan Aqila.
"Edwin, Aqila... kalian mau kemana?" tanya Mama Merliana.
Tapi Edwin tidak menghiraukannya dan tetap pergi bersama Aqila.
Dimobil, Aqila terus bertanya.
"Kita mau kemana sih om?"
"Kita makan diluar."
"Kalo gitu, makan ditempat langganan Aqila aja ya om, pasti om bakal suka banget,"
"Ya."
Edwin menuruti permintaan Aqila.
Mereka berhenti disebuah warteg kecil dipinggir jalan.
"Mana restorannya?" tanya Edwin yang mencari-cari restoran.
"Itu," Aqila menunjuk warteg nasi goreng.
"Apa kamu yakin?"
"Yakin banget dong om, udah om percaya aja sama Qila," Aqila dan Edwin pun turun dari mobil.
Penjual warteg tersebut sangat takut. Begitupun dengan pembeli yang sedang makan disana.
Edwin dan Aqila masuk kedalam.
"Maaf kan saya tuan, saya mohon jangan usir saya dari sini," ucap penjual itu sampai memohon-mohon kepada Edwin.
Edwin dan Aqila pun bingung.
"Maksud bapak apa ya? Siapa yang mau mengusir bapak dari sini?" tanya Aqila dengan lembut.
"Tuan Edwin Qila," jawab pedagang itu sambil menunduk.
Aqila tersenyum.
"Bapak salah paham, aku sama om nggak punya hati ini, eh maksudnya tuan Edwin mau makan disini pak... bukan mau ngusir bapak," Aqila menjelaskan.
"Ooo gitu Qila, maaf saya sudah salah paham,"
"Mari Qila tuan, silahkan duduk,"
"Makasih pak, oh ya aku pesen seperti biasa ya..."
"Baik Qila,"
"Kalo om pesen apa?"
"Sama seperti punya kamu." jawab Edwin.
"Berarti 2 ya pak,"
"Baik Qila," jawab pedagang itu dan segera membuatkan Aqila dan Edwin nasi goreng.
Edwin hanya diam tidak berbicara. Karena dia masih ragu, apa bisa makan disini.
"Om kenapa?" tanya Aqila.
"Apa makanan disini sehat?" tanya Edwin.
"Hahaa, jadi om dari tadi diam karena mikirin itu, nanti om cobain aja deh,"
Penjual itu datang dengan membawa 2 piring berisi nasi goreng.
"Mari tuan, Qila,"
"Makasih pak,"
Aqila memakannya dengan lahap. Tapi tidak dengan Edwin yang dari tadi hanya melihat makanannya saja.
"Om nggak mau makan?" tanya Aqila.
Tanpa menunggu jawaban dari Edwin, Aqila menyuapi Edwin.
"Buka mulutnya om..."
Edwin terpaksa membuka mulutnya.
Dan setelah mengunyah nasi goreng itu, raut wajah Edwin berubah.
"Enak." ucap Edwin.
"Kan bener, apa Aqila bilang om,"
Edwin tidak menghiraukan perkataan Aqila, ia memakan nasi goreng itu dengan lahap.
Aqila yang melihatnya senyum sendiri.
"Om doyan apa laper?" goda Aqila.
"Benar apa yang kamu bilang, kalo makanan dipinggir jalan tidak kalah enak dari makanan yang ada direstoran." ujar Edwin dan melanjutkan makannya.
"Aqila gitu loh,"
Selesai makan, Edwin membayarnya.
Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Edwin membelokkan mobilnya ke rumahnya.
Edwin dan Aqila turun.
Mama Merliana langsung meminta maaf atas perkataan Papa Sanjaya tadi.
"Sayang, kalian dari mana aja sih, kalian udah makan? Mama udah nyuruh bibi untuk masak lagi buat kalian,"
"Saya sudah kenyang." jawab Edwin.
Aqila mencubit pinggang Edwin.
"Om nggak boleh ngomong gitu," bisik Aqila.
"Aqila sama om udah makan ma," jawab Aqila.
"Oo gitu sayang, sekali lagi atas nama papa mama minta maaf ya sayang," ucap Mama Merliana.
"Iya ma, nggak papa kok,"
"Aqila sama om ke kamar dulu ya ma,"
"Iya sayang,"
Lalu mereka berdua pergi ke kamar.
Sampai di kamar, Aqila memarahi Edwin.
"Ih om jahat banget sih jadi orang, om nggak boleh ngomong kasar seperti itu, dosa tauk om," omel Aqila.
Edwin hanya diam saja dan fokus memakai baju untuk ke kantor.
"Om denger nggak sih Aqila ngomong!" bentak Aqila.
Edwin mendekati Aqila dan memeluknya.
Aqila benar-benar kaget sekaligus juga senang.
"Kenapa aku jadi deg-degan gini sih dipeluk sama om nggak punya hati ini," gumannya dalam hati.
"Nggak-nggak Qila, kamu gak boleh seneng dulu, inget om ini udah hampir nyita rumah kamu dan buat ayah sama bunda sedih,"
Aqila melepaskan pelukan Edwin.
"Om cari kesempatan dalam kesempitan, udah tau Aqila lagi marahin om malah om meluk Qila," gerutunya.
Cup
Edwin mencium kening Aqila.
"Saya minta maaf gadis bodoh," ucapnya lalu pergi ke kantor.
Aqila melongo melihat kelakuan Edwin.
"Gue nggak mimpi kan? Sumpah tadi om nggak punya hati nyium kening gue," ucapnya sambil memegang keningnya yang habis dicium Edwin.
"Dasar playboy, pasti dia cuma modus aja sama aku. Dia mau buat aku cinta sama dia terus aku ditinggalin seperti tante itu terus dia nikah lagi, awas aja kalo om sampek gitu ke aku," ucapnya.
"Dari pada aku gabut, mending aku chat Dinda aja, gue kan belom ngabarin kalo gue udah nikah sama om nggak punya hati,"
mampir juga di karya aku
mari saling mendukung 🤗
semangat terus Thor,mampir juga di karyaku
Ustadz Idolaku
terimakasih 🙏
salam manis dari " PERJUANGAN DALAM PERNIKAHAN "
jangan lupa mampir
smngt up & smg ceritanya sukses ya, aku tunggu feedback-nya 😉✨
salam dari _Pesona Pocong Cantik_🤗