NovelToon NovelToon
The Secret Girl

The Secret Girl

Status: tamat
Genre:Vampir / Thriller / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kanken

Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.

Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.

Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.

Vol. 1: Arc 1 - 3 (Complete)

(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 26: Perkembangan Alice

Disaat Alice berusia 8 tahun, ia diam-diam mencoba untuk pergi ke ruangan artefak untuk mengetahui apakah ada semacam katalis yang bisa mengukur kemampuannya saat ini atau tidak supaya ia bisa menilai sejauh mana ia berkembang dalam waktu 2 tahun dari usia 6 tahunnya dulu.

Di dalam ruangan artefak, ada buku tebal yang dilihatnya—menduga kalau itu adalah buku tentang isi dari artefak yang ada di sekitar ruangan ini.

Membuka buku tebal lalu melihat daftar isi didalamnya, ia melihat ada katalis yang mampu mengukur kemampuan seseorang melalui artefak. Artefak itu dibuat sebanyak mungkin di salah satu plastik berukuran besar bernama Plat Adventure.

"Banyak sekali."

Berpikir kalau kerajaan memiliki sebanyak ini, mustahil untuk digunakan untuk disimpan begitu saja jadi ia mengambil satu lalu keluar dari tempat tersebut di malam hari, tanpa ketahuan oleh siapapun untuk kembali ke kamarnya.

Didalam kamarnya, ia mencoba untuk mengingat melalui buku yang dibacanya di ruangan rahasia di perpustakaan yang ditemukannya saat ia masih berusia 6 tahun.

Dimana buku tersebut tentang pengetahuan dasar tentang petualangan. Ada bab yang menjelaskan tingkatan dari masing-masing petualang, beserta level yang dimilikinya didalam kategori di tiap-tiap tingkatan.

Ada empat tingkatan di tingkat petualang yaitu; tembaga, perak, emas, dan pelangi.

Tembaga, peringkat untuk petualang pemula. Quest yang mereka lakukan terbilang cukup mudah dan aman seperti; mengumpulkan material baik itu bijih material, tanaman herbal maupun mengantarkan paket dari satu tempat ke tempat lain, hanya saja imbalannya lebih kecil daripada petualang diatasnya. Untuk tingkat tembaga, seseorang harus memiliki level 1-25, memungkinkan orang tersebut bisa ada di tingkatan ini.

Perak, peringkat untuk petualang menengah. Quest yang mereka lakukan terbilang sedikit lebih baik yaitu berburu monster, melakukan ekspedisi sesuai level mereka, dan bekerjasama dengan party lain untuk menjelajahi dungeon, labirin maupun tower dengan imbalan yang lebih baik dari imbalan yang didapat dari tingkat bronze. Untuk tingkat perak, seseorang harus memiliki level 26-50, memungkinkan orang tersebut bisa langsung naik ke tingkat perak atau bisa saja melalui tingkat pemula dari petualang tembaga.

Emas, peringkat petualang tingkat tinggi. Quest yang mereka lakukan lebih sulit dan beresiko yang dapat menghilangkan nyawa mereka jikalau mereka lengah, seperti; menaklukkan dungeon atau labirin, memburu monster elite seperti naga maupun pemimpin dari monster girl, dengan imbalan yang tinggi yang mereka terima sepadan dengan resiko yang harus mereka terima juga sebagai konsekuensinya jikalau mereka meremehkan quest tersebut. Untuk tingkat emas, seseorang harus memiliki level 51-80.

Untuk tingkat pelangi, mereka hanya dimiliki oleh pahlawan dan raja iblis. Tidak ada hal tersebut yang ia ingat saat membaca buku tentang petualang, memungkinkan kalau itu ada di kategori berbeda dari yang mereka bisa nilai.

Ia hanya tahu kalau level di tingkat pelangi kisaran 81-100.

"Dengan kata lain, hanya ada level 100 ya."

Setelah mengingat apa yang diketahuinya, menurutnya, sistem di dunia ini hanya mencakup level seseorang hingga maksimal di level 100, selebihnya tidak ditemukan buku tentang tersebut.

"Itu artinya aku harus menilai kemampuan."

Di anggukan kepalanya, hatinya siap untuk menilai untuk mengetahui ia berada di tingkat petualang mana melalui Plat Adventure yang dipegangnya.

Seingatnya, ia bisa melihat status bila ia menuangkan sedikit mana ke dalam plat tersebut untuk melihat statistiknya selain dari kategori di tingkat petualang apa ia berada berdasarkan warna.

Dituangkan sedikit mana di seluruh tubuhnya ke jari-jari tangan kanannya yang menggenggam Plat Adventure, plat tersebut yang memiliki tinggi sekitar 40 milimeter dengan lebar 10 milimeter, dengan ketebalan sekitar 20 milimeter, permukaan halus tanpa gradasi kasar mulai menyala memperlihatkan warna tembaga, warna coklat kemerahan.

Tidak lama setelahnya, ada statistiknya yang melayang diatas Plat Adventure yang mirip seperti layar monitor memperlihatkan statusnya.

Berikut statistik Alice saat ini:

Biodata Profil:

Name: Alice

Level: 15

Class: None

Status:

Str: C

Int: D

Vit: C

Agi: C

Dex: D

Kalau tidak salah, ia ingat kalau kemampuan dikategorikan dari yang paling rendah dari huruf G ke A, itu merupakan tingkat tertinggi. Kalaupun ada, ia ingin tahu apakah seseorang bisa mencapai tingkat S atau SS ke depannya.

Tapi, memikirkan itu hanya akan sia-sia jadi ia menyudahinya.

"Itu artinya kemampuan fisikku lebih baik ya."

Mengangguk berkali-kali setelah bergumam pelan, menurutnya, ia senang mengetahui hasilnya cukup baik meskipun 2 tahun berlalu sejak ia memulai latihan fisik, tapi untuk bagian Int dan Dex, ia tahu betul kalau itu berdasarkan dari tingkat mana dan penguasaan sihir yang dilakukan olehnya, memungkinkan ia masih belum berada di tingkat tinggi.

"Hmmm..."

Didalam class "None" miliknya, ada tulisan "touch" yang membuatnya penasaran jadi ia menyentuh class "None" miliknya—memperlihatkan dua pilihan lain yang disediakan yaitu "Mage", dan "Swordsman".

"Yang benar saja?!"

Ada rasa tidak percaya di wajahnya. Ia tidak memahami mengapa class bisa didapatkan melalui kerja keras yang bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh buku tersebut yang menjelaskan kalau class diberikan melalui berkah dewa, bukan usaha seseorang.

"Ini tidak masuk akal."

Dilihat dari segi manapun, ada ketidakpuasan yang diperlihatkan olehnya saat menatap dua pilihan class lainnya.

Memang, ia senang kalau kelasnya tidak lagi "None", tapi jika ia memilih class lain sekarang maka akan berbahaya bila seseorang mengetahui statistik miliknya.

"Mau bagaimana lagi, aku harus menyembunyikan ini."

Dirasa menekan mana miliknya di satu tempat membuatnya tidak masalah, itu justru mempermudah dugaan orang-orang yang berpikir kalau ia adalah gadis lemah dan rapuh.

Mana-nya sebenernya sudah sedikit meningkat, dari mana yang terlihat seperti lilin menjadi kobaran api kecil berwarna biru di dalam tubuhnya menandakan bahwa perjuangannya melalui latihan sihir membuahkan hasil.

Tapi tetap saja, ia hanya ingin menekan mana supaya tidak diketahui oleh siapapun di satu tempat—di bagian paru-parunya yang tidak sepenuhnya tertutup agar tidak kesulitan bernafas.

"Yah, kurasa apa yang dikatakan oleh buku itu ada benarnya."

Mulai percaya atas spekulasi dari buku yang dikatakan berdasarkan catatan yang ditinggalkan oleh Kanzaki, ia yakin dengan cara ini ia bisa melakukan sesuatu yang diinginkannya.

"Sip."

Dirasa ia tidak mungkin tidur meskipun tengah malam terlihat melalui jendelanya, ia justru melatih diam-diam sihirnya tanpa diketahui oleh siapapun.

•••••

Disaat gadis kecil itu berusia 10 tahun, ia kembali mengecek statistik menggunakan Plat Adventure setelah melatih fisik dan sihir tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.

Name: Alice

Level: 15 » 35

Class: None

Status:

Str: C » B

Int: D » C

Vit: C » B

Agi: C » B

Dex: D » C

Dari apa yang dilihatnya, ada rasa puas yang menyelimuti hatinya. Dirinya senang bila ia melihat perubahan sedikit pada apa yang dilakukannya meskipun itu hanya perubahan pada fisiknya, sedangkan sihirnya masih memerlukan waktu—tahu tidak semudah itu untuk berkembang tidak seperti fisiknya.

Keesokan siang, ia memasuki kamar Lisa.

Lisa yang memperhatikannya menggunakan Appraisal miliknya untuk menilai mana di tubuh gadis kecil itu, memastikan untuk mengetahui apakah ada perkembangan di tubuhnya dari dirinya yang dulu atau tidak melalui mana-nya.

"Kenapa tidak ada perubahan sama sekali?"

Tanpa ia ketahui, gadis kecil itu sudah mengantisipasi hal tersebut dengan melipat mana di satu titik sedemikian rupa, menyesuaikannya dengan volume serupa dengan lilin di tubuhnya agar membuatnya berpikir kalau ia tidak memiliki perubahan sedikitpun.

"Alice, kamu tidak merasakan sedikitpun perbedaan?"

"Tidak," jawabnya dengan wajah polos, memperlihatkan bahwa tidak ada yang dirasakan olehnya.

Helaan nafas panjang terdengar dari wanita itu. Ia memegang keningnya dengan wajah frustasi, tidak memahami kenapa gadis kecil itu tidak berkembang sedikitpun.

"Mungkinkah ada kesalahan? Tidak, mana mungkin ada, bukan?"

Setahunya, Reincarnator merupakan individu diluar dunia ini jadi mustahil bila mereka tidak bisa berkembang mengikuti sistem yang ada. Tapi, melihat gadis kecil didepannya yang tetap tidak ada perubahan membuatnya bertanya-tanya apakah ia salah melatih dirinya atau memang ada kesalahan pada tubuh gadis kecil itu.

"Ada apa, Ibu Angkat?"

Sejak saat itu, ia memanggil wanita itu sebagai ibu angkat sesuai keinginannya supaya ia tidak marah padanya agar menghindari kemarahan dibalik senyumannya, mengingatkan dirinya di masa lalu sebagai Nia.

"Tidak. Lanjutkan latihanmu! Setelah itu, kamu bisa belajar tentang bidang medis di bagian meracik ramuan."

"Baik~"

Melihat keceriaan di wajahnya, sekilas beban wanita itu hilang karena gadis kecil yang sekarang berusia 10 tahun tidak terlihat sedih maupun khawatir melainkan tetap berusaha keras untuk melakukan yang terbaik untuk bisa berkembang meskipun tidak tahu kenyataan ke depannya nanti. Itulah yang wanita itu pikirkan.

Di sore hari, gadis kecil itu pergi ke barat laut keluar dari kastil ke kamp pelatihan menemui ayahnya, Ren.

"Siap untuk adu pedang?"

"Ya," angguknya, terlihat wajah antusiasme yang tidak sabar untuk berlatih dengan ayahnya.

Pria itu terkekeh lalu melemparkan pedang kayu sesuai usianya yang sekarang 10 tahun, ia juga memegang pedang kayu yang sesuai dengan tubuhnya dalam posisi siap.

"Siap?"

"Ya," selesai menerima pedang kayu, ia dalam posisi siap selagi memegang pedang kayunya dengan kedua lengan di depan tubuhnya, kaki kanannya sedikit maju dalam ancang-ancang siap.

"Mulai!"

Pria itu menyuarakan dimulainya berlatih tanding pedang dengan putrinya, berlari ke arah putrinya. Pedangnya digenggam kuat olehnya di atas bahu kanannya dengan tangan kirinya, ia mengayunkan berkali-kali dari sisi kiri ke kanan berulang kali mirip seperti membabi buta serangan.

Gadis kecil itu menghindari serangannya dan menangkis pedang ayahnya ketika ayahnya bergerak cepat ke belakangnya berniat untuk menyerang titik butanya.

"Ayah, ini sudah berapa kali kamu melakukannya."

"Memangnya kenapa?"

Sempat terjatuh sesaat setelah merasakan sledging dari kaki ayahnya, ia yang melempar pedang kayu tinggi ke langit, kedua tangannya menyentuh tanah layaknya melakukan break dance lalu memutar tubuhnya dan melompat dalam posisi berdiri, mengambil pedangnya lagi.

"Gerakan apa itu?!"

Ada rasa bingung diwajahnya, tidak memahami apa yang dilakukan oleh putrinya sebelumnya.

"Justru aku yang seharusnya mengeluh karena kamu curang, Ayah!"

Pria itu hanya tertawa terbahak-bahak, tidak disangka kalau putrinya mengeluh hanya karena ia melakukan sledging padanya untuk melihat apakah ia bisa mengatasi ketidakseimbangannya atau tidak.

Namun, putrinya dapat mengatasinya. Ada rasa bangga yang terlihat di wajah pria itu sebagai ayahnya. Senang karena putrinya dapat memiliki refleks yang cukup bagus untuk atasi ketidakseimbangannya.

"Baiklah, waktunya serius."

"Ya."

Sekali lagi, suasana menjadi tegang dalam kondisi dimana keduanya terdiam—saling mengamati satu sama lain.

"Bisakah kau menyeimbangi aku, Sayang?"

Dalam sekejap, gerakan ayahnya cukup cepat. Ia melesat cepat dari kedua sisi kanan dan kiri, mengayunkan pedang kayunya lebih cepat tanpa jeda pada putrinya.

"Eh?" Kaget saat merasakan ayahnya serius, ia dibuat kewalahan dengan menghindari rentetan jalur pedang kayu yang diarahkan oleh ayahnya.

Terkadang, ia menangkisnya jikalau kesulitan supaya ia tidak benar-benar kalah olehnya.

Setelah cukup lama berlatih, mereka akhirnya menyudahi latihan dengan keduanya seimbang.

"Ah, lelahnya!"

Terlihat frustasi selagi berbaring di permukaan dengan pakaian kasual bukan formal, gadis kecil itu terlihat mengeluh karena ini lebih melelahkan dari biasanya.

Ayahnya yang mengetahui putrinya mengeluh, terkekeh melihat wajah lelahnya yang frustasi melebihi biasanya.

Biasanya, ia hanya melakukan latihan adu tanding seperti biasa. Tapi begitu mengetahui kalau putrinya menjadi lebih kuat, ia tidak mungkin menahan diri untuk membuat putrinya mampu menyeimbangkan kemampuannya.

Hasilnya, ia bisa melihat sejauh mana putrinya berkembang. Dari awalnya hanya bisa melatih fisik dengan hal-hal dasar, mengayunkan pedang kayu berulang kali hingga akhirnya bisa menyeimbangkan kemampuannya. Itu cukup untuk membuatnya bangga sebagai ayahnya.

Di malam hari, ia pergi ke aula makan bertemu dengan kedua teman dekatnya, Eri dan Ken yang kebetulan juga ingin ke aula makan.

"Eri!"

"Alice!"

Keduanya saling bertukar tepuk tangan lalu saling berpelukan membuat Ken yang melihatnya sudah terbiasa dengan pertukaran setiap kali Alice dan Eri bertemu sejak mereka menjadi bestie.

"Bagaimana latihanmu, Alice?"

"Ah, semuanya baik-baik saja."

"Begitu ya."

Eri yang tahu kalau latihan yang dimaksud adalah latihan sihir, ia tidak menyangka kalau temannya benar-benar melatih sihirnya meskipun mana di tubuhnya tidak berkembang sedikitpun, setidaknya itu yang dikatakan oleh ibunya, Lisa.

Tapi, berbeda dari apa Eri dan Alice pikirkan. Ken justru berpikir kalau yang dimaksud olehnya adalah latihan fisik yang dijalani oleh temannya.

Sejak saat ia pergi ke barat laut di kamp pelatihan dari depan kastil, anak lelaki itu melihat gadis yang dikaguminya melatih fisiknya—membuatnya ikut bersemangat dan termotivasi untuk melatih fisiknya lebih baik dari sebelumnya.

"Bagaimana denganmu, Eri?"

"Ah, semuanya baik-baik saja." Senyum paksa terlihat di bibir temannya, ia tidak tahu apakah itu baik-baik saja atau tidak. "Tapi yah... mungkin saja tidak ada buruknya untuk meneruskan apa yang Ibuku lakukan."

Apa yang dikatakan olehnya merupakan kenyataan yang harus dihadapinya, bukan untuk meyakinkan temannya maupun anak lelaki itu melainkan dirinya.

Memang, ia berinisiatif untuk meneruskan apa yang dilakukan oleh ibunya untuk berada di jejak yang diajarkan padanya supaya ia bisa melindungi kedua sahabatnya dari bahaya. Tapi, belajar bukanlah hal mudah.

Terutama dengan buku tebal yang terdapat banyak kategori tanaman herbal, cara penggunaannya, khasiatnya, dan kualitas yang matang dalam kondisi sempurna, itu harus dihafalkan membuatnya hampir frustasi atas banyaknya pengetahuan yang masuk ke otaknya.

Terkadang, ia bingung bagaimana cara mengatasinya. Tapi, perlahan-lahan ia bisa mengatasinya berkat bantuan dari anggota di faksinya, Christina, yang menjadi asisten untuk mengawasi perkembangan putri dari pemimpin mereka.

"Bagaimana denganmu, Ken?"

"Eh?"

Senyum terlihat dibibir Alice yang tampak tulus pada Ken, membuatnya terkejut lalu panik dan bingung, ada merah merona di kedua pipinya.

"Ya... bisa dikatakan... baik-baik saja... mungkin...."

Dialihkan pandangannya dari gadis yang dikaguminya, ia tidak bisa mengatasi kegugupannya sekaligus jantungnya yang berdebar-debar dari biasanya membuat pikirannya sulit untuk berpikir jernih.

"Kamu yakin?"

"Terlalu dekat!"

Ia mundur menjauh karena wajah gadis itu terlalu dekat, membuatnya merah merona.

"Berhenti menggoda Ken, Alice!"

"Aduh!"

Dengan telapak tangannya terbuka, Eri memukul kepala Alice dengan pukulan pelan yang seharusnya tidak membuatnya sakit, tapi ia malah mengeluh karena sakit.

"Ken, jawablah dengan serius sebelum Alice malah menggodamu!"

"Ah, kau benar."

Mendapatkan teguran dari Eri yang tegas, Ken tersadar jadi ia menenangkan diri lalu menjelaskan padanya.

"Latihannya berjalan lancar. Komandan Ronald melakukan latihan keras padaku meskipun aku tahu ia melakukannya demi tujuan yang baik, itu sebabnya fisikku lebih baik dari sebelumnya."

Tangan kanannya mengepal kuat selagi ia menatapnya, hasilnya terlihat sedikit perubahan yang membuatnya senang atas apa yang dilakukannya saat ini.

"Tapi tetap saja, kamu tidak bisa atasi kegugupan saat didekat Alice," ejek Eri, dengan wajah mengejek seolah-olah menghina Ken.

"Itu urusan beda!" Teriak Ken, ada rasa jengkel yang membuatnya membantah atas hal ini.

"Kalian, tenanglah! Jangan bertengkar!"

Tahu kalau Eri dan Ken mulai adu mulut, pasti akhirnya mereka akan bertengkar satu sama lain dengan saling marahan.

""Hmph!""

Keduanya saling membuang muka satu sama lain membuatnya frustasi dibalik senyumannya melihat tingkah mereka yang tidak pernah akur.

Kalaupun akur, itu pasti karena dirinya menyuruh mereka untuk tidak bertengkar membuat mereka bisa tenang meskipun hanya sesaat.

^^^To be continued...^^^

1
Enjel
seru novelnya
Kanken0: Terimakasih telah berkunjung dan ikuti cerita ini.

Semoga betah sampai akhir closure nanti :)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!