Reza adalah mantan koki yang dipecat karena difitnah, tetapi ia menemukan tujuan hidup baru setelah mendapatkan Sistem Restoran Dunia Lain.
Kini ia mengelola Restoran di mana pintunya terhubung ke dimensi kultivator dan sihir, menyajikan makanan lezat yang menyelesaikan masalah para pelanggan dari berbagai dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Reza membuka matanya dengan sangat berat pagi itu.
Seluruh otot tubuhnya terasa kaku dan pegal akibat melayani ratusan pelanggan kemarin.
Dia memaksakan diri untuk bangun dan duduk di tepi tempat tidurnya.
Reza memijat pelan bahu kanannya yang terasa paling nyeri.
'Aku benar-benar butuh karyawan secepatnya,' batin Reza.
'Tubuhku bisa hancur jika harus mengulang rutinitas seperti kemarin sendirian lagi.'
Dia melangkah sempoyongan menuruni tangga menuju dapur di lantai satu.
Reza menyalakan keran dan mencuci wajahnya dengan air dingin yang menyegarkan.
"Sistem, ke mana pintu kita terhubung hari ini?" tanya Reza memecah kesunyian pagi.
"Pintu utama hari ini terhubung kembali ke Dimensi Kultivasi Timur," jawab Sistem dengan suara datarnya.
"Lokasinya berada di jalur pendakian menuju gerbang utama Sekte Pedang Surgawi."
Reza mengangguk paham dan berjalan ke arah pintu depan kedainya.
Dia memutar kenop kuningan itu dan menarik daun pintunya lebar-lebar.
Pemandangan di luar kini berupa anak tangga batu yang sangat lebar dan menanjak ke atas gunung.
Kabut tipis menyelimuti area sekitar dan udara terasa sangat sejuk sekaligus bersih.
Beberapa burung terbang melintas di antara dahan pohon pinus raksasa di pinggir tangga batu tersebut.
Reza menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya dengan udara pegunungan yang segar.
Dia membiarkan pintu itu terbuka agar udara segar bisa masuk ke dalam ruangan kedai.
Reza lalu berbalik dan berjalan menuju lemari pendingin di dapurnya.
Dia memeriksa persediaan bahan yang diberikan Sistem untuk hari ini.
Terdapat banyak kotak tahu putih yang sangat lembut, daging sapi giling, dan setumpuk cabai merah.
Ada juga beberapa rimpang jahe yang memancarkan pendar cahaya keemasan redup.
"Sepertinya hari ini sangat cocok untuk menyajikan Mapo Tahu yang pedas dan hangat," gumam Reza.
(Mapo tofu adalah hidangan tradisional khas Sichuan, Tiongkok, yang terbuat dari tahu sutra super lembut dan daging cincang (biasanya sapi). Dimasak dalam kuah kental berwarna merah yang pedas dan berminyak, hidangan ini sangat ikonik berkat kombinasi rasa gurih serta sensasi kebas (má) di lidah dari lada Sichuan.)
"Makanan pedas pasti bisa mengusir hawa dingin dari kabut gunung ini."
Reza mulai mencuci bersih bahan-bahannya dan menyiapkan bumbu dasar di atas meja konter.
Sekitar satu jam berlalu tanpa ada seorang pun yang lewat di depan kedainya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang cukup berat terdengar menaiki anak tangga batu di luar.
Reza menoleh ke arah pintu dan melihat dua sosok pria berjalan mendekat.
Pria pertama adalah Yixu, pelanggan kultivator pertama yang pernah ditolong Reza tempo hari.
Yixu kini terlihat sangat sehat dan mengenakan jubah abu-abu bersih yang rapi.
Di sebelahnya berjalan seorang pria tua berjanggut putih panjang yang mengenakan jubah sutra emas.
Wajah pria tua itu terlihat sangat pucat dan napasnya terdengar putus-putus.
"Senior Reza, akhirnya aku berhasil menemukan pintu kedai Anda lagi," sapa Yixu dengan senyum sangat lebar.
"Selamat pagi, Yixu," balas Reza dari balik meja konter.
"Silakan masuk dan bawa temanmu itu duduk di dalam."
Yixu memapah pria tua itu melewati ambang pintu dengan sangat hati-hati.
Begitu masuk, pria tua itu langsung mengerutkan keningnya karena terkejut.
"Energi spiritualku menghilang," ucap pria tua itu dengan suara serak.
"Formasi penyegel apa yang dipasang di ruangan sekecil ini?"
"Tenanglah, Penatua Zhao," kata Yixu menuntunnya duduk di kursi kayu.
"Ini adalah aturan tempat ini agar tidak ada pertarungan, kita sangat aman di sini."
Penatua Zhao duduk sambil memegangi dadanya yang tampak naik turun dengan cepat.
Dia menatap Reza dengan pandangan penuh keraguan.
"Yixu, apakah pemuda ini yang kau bilang memiliki makanan penyembuh dewa?" tanya Penatua Zhao meremehkan.
"Dia bahkan tidak memiliki sedikit pun fluktuasi Qi di tubuhnya."
"Tolong jaga ucapan Anda, Penatua," bisik Yixu dengan wajah panik.
"Senior Reza adalah ahli tersembunyi yang suka merendah sampai inti bumi, jangan sampai menyinggung perasaannya."
Reza hanya diam mendengarkan percakapan mereka dari area dapur.
Dia menuangkan dua gelas air putih hangat dan membawanya ke meja mereka.
"Minumlah dulu untuk menghangatkan tenggorokan kalian," ucap Reza meletakkan gelas tersebut.
Penatua Zhao mengambil gelas itu dengan tangan yang sedikit bergetar.
Dia meminum air hangat itu dan terbatuk pelan beberapa kali.
"Yixu memberitahuku bahwa kau bisa menyembuhkan luka organ dalam," kata Penatua Zhao menatap tajam Reza.
"Aku mengalami penyimpangan aliran Qi yang membuat meridiant jantungku membeku."
"Saya bukanlah seorang tabib, Tuan Zhao," jawab Reza dengan nada tenang.
"Saya hanya menyajikan makanan yang mungkin bisa membantu meringankan masalah tubuh Anda."
"Jangan mencoba menipuku, anak muda," balas Penatua Zhao dengan nada mengancam.
"Jika makananmu tidak berguna, Sekte Pedang Surgawi akan menghancurkan tempat ini."
Reza tetap berdiri tegak tanpa mengubah ekspresi wajahnya sama sekali.
"Tuan Zhao, tidak ada satu pun orang yang bisa menghancurkan kedai ini," ucap Reza tegas.
"Jika Anda datang hanya untuk mengancam, silakan keluar dari pintu itu sekarang."
Yixu langsung berdiri dan menengahi mereka berdua dengan wajah pucat.
"Senior Reza, tolong maafkan sikap Penatua Zhao," mohon Yixu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Beliau sudah menahan rasa sakit akibat pembekuan jantung ini selama tiga tahun penuh."
Reza menghela napas panjang dan menatap Yixu yang terlihat sangat tulus memohon.
"Baiklah, aku akan membuatkan pesanan untuk kalian berdua," kata Reza berbalik menuju dapur.
"Tunggu saja di situ dan jangan membuat keributan."
Reza memanaskan wajan besinya di atas kompor dengan api yang cukup besar.
Dia memasukkan sedikit minyak dan menumis daging sapi giling hingga berubah warna kecokelatan.
Setelah itu, dia menambahkan potongan cabai merah, pasta kacang hitam, dan irisan jahe bercahaya tadi.
Suara desisan minyak terdengar nyaring diiringi kepulan asap yang sangat pekat.
Aroma pedas dan gurih langsung meledak memenuhi seluruh ruangan kedai dalam hitungan detik.
Bumbu itu ditumis hingga mengeluarkan minyak merah yang terlihat sangat menggoda.
Reza menuangkan sedikit kaldu tulang dan memasukkan potongan tahu putih yang lembut ke dalam wajan.
Dia membiarkan kuah merah itu mendidih perlahan agar bumbu meresap sempurna ke dalam tahu.
Di area makan, hidung Penatua Zhao terus mengendus aroma pedas yang mengudara tersebut.
"Bau makanan ini sangat kuat dan menyengat hidung," gumam Penatua Zhao pelan.
"Tapi kenapa hawa dingin di dadaku bereaksi saat mencium aroma ini?"
Yixu hanya tersenyum melihat reaksi tetua sektenya yang mulai kebingungan itu.
"Sudah kubilang, Penatua," kata Yixu dengan nada bangga.
"Semua hal di kedai ini bukanlah barang biasa."
Hanya dalam waktu sepuluh menit, Reza selesai memasak hidangannya.
Dia menyajikan Mapo Tahu berkuah merah kental itu ke dalam dua mangkuk keramik putih besar.
Sebagai pendamping, Reza juga menyajikan dua mangkuk kecil nasi putih hangat yang pulen.
Dia membawa nampan berisi makanan itu dan menyajikannya di atas meja Yixu.
"Ini namanya Mapo Tahu, silakan dimakan saat kuahnya masih panas," ucap Reza datar.
Warna merah menyala dari kuah tahu itu membuat Penatua Zhao sedikit ragu.
Dia belum pernah melihat masakan dengan warna semenyeramkan ini seumur hidupnya.
Yixu tanpa ragu langsung mengambil sendok dan menyendok tahu lembut beserta kuahnya.