Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Dua hari yang lalu, tepat satu bulan, yuda bekerja. Yuda juga sudah menerima gaji pertamanya selama bekerja di rumah tuan Andi, yang saat Yuda hitung, nominalnya lebih besar dari saat dia berkerja di kantor.
Takut ada kesalahan, Yuda menemui bu Lina, mempertanyakan nominal gajinya, tapi menurut bu Lina, gaji tersebut, sudah termasuk bonus yang dulu dijanjikan, jika tuan Andi, puas dengan hasil kerja Yuda.
Yuda juga meminta ijin, agar bisa pulang sore nanti. Kebetulan besok hari ahad, jadi Yuda akan mengambil jatah liburnya. Sebenarnya setiap hari ahad, Yuda mendapat libur, hanya tetap tak boleh pulang, baru diperbolehkan pulang setiap sebulan sekali.
Sudah beberapa hari ini, Yuda tak pernah lagi merasakan mual saat bangun tidur. Salah seorang pekerja, memberitahu Yuda, jika air rebusan jahe, dapat mengurangi rasa mual. Yuda mencoba resep tersebut, ternyata cukup efektif mengurangi rasa mual yang hanya datang setiap pagi dan setelah menggosok gigi.
Seiring berkurangnya rasa mual, Yuda jadi mengira jika rasa mual timbul karena asam lambungnya kambuh.
¤¤FH¤¤
Kebiasaan baru tuan Andi setelah selesai sarapan beberapa hari ini adalah berjemur di taman luar, di antara bunga-bunga, yang menyebarkan wangi alaminya.
Perubahan yang nampak jelas, wajah tuan Andi terlihat lebih cerah. Dulu saat Yuda pertama bekerja, wajah tuan Andi sangat pucat. Yuda berharap, semoga kebiasaan baru ini membawa dampak positif pada proses kesembuhan tuan Andi.
"Tuan, sore nanti saya ijin pulang kampung. Insya Alloh senin pagi, saya sudah disini lagi." Walaupun sudah hak nya untuk pulang, Yuda tetap meminta ijin sebagai bentuk kesopanan.
"Pak Yuda sudah memiliki istri?"
"Sudah, tuan."
Setelah itu tak ada lagi perbincangan antara keduanya. Yuda pun memilih murajaah hafalannya saja, untuk mengisi kebosanan, karena pasti tuan Andi, diam saja.
Tuan Andi sejujurnya merasa senang ketika mendengar Yuda mengaji. Selama ini, dia merasa sudah cukup jauh dengan Tuhannya. Keberadaan Yuda yang bekerja dengannya, menimbulkan keinginan dalam hatinya untuk berubah.
Tuan Andi menggerakan kursi rodanya, Yuda yang sudah paham, langsung membantu tuan Andi mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah. Jika tuan Andi masih ingin duduk di depan jendela, maka dia akan memindahkan rem pada kursi rodanya di depan jendela, dan bila ingin langsung di antar ke kamar, maka dia membiarkan Yuda mendorong kursi rodanya hingga masuk ke dalam kamar.
Seminim itu komunikasi yang dibuat oleh tuan Andi. Seiring bergantinya hari, Yuda semakin paham dengan kebiasaan-kebiasaan tuan Andi, meskipun tanpa kata.
Saat Yuda akan membantu mendudukannya ke tempat tidur, tuan Andi menolak dan menggerakan sendiri kursi rodanya, menghadap ke jendela.
"Pak Yuda tunggu diluar saja!"
"Baik, tuan."
Yuda segera keluar dari kamar tuan Andi, dan duduk di kursi yang berada di samping kamar. Kadang Yuda berfikir, 'Apa yang dipikirkan tuan Andi sampai betah berlama-lama memandang jendela.'
Tak lama Yuda keluar, bu Lina datang, dan langsung masuk ke kamar tuan Andi. Yuda yang melihat bu Lina masuk ke kamar tuannya, penasaran, apakah ada hal serius yang harus dibicarakan, tanpa diketahui dirinya.
¤¤FH¤¤
Sepeninggalan Yuda, setelah pintu tertutup sempurna, tuan Andi memencet interkom yang terhubung ke ruang cctv, dimana bu Lina berada, dan memanggilnya ke kamarnya.
Bagi tuan Andi, bu Lina sudah seperti ibu kedua, tempat mencurahkan segala resahnya dan tempatnya meminta nasihat. Bu Lina juga sangat menyayangi tuan Andi, seperti anak kandungnya sendiri.
Dahulu, bu Lina bekerja pada orang tua tuan Andi, tuan Prawira menjadi pengasuh bayi Andi. Hingga perselisihan tuan Andi dengan ayahnya, berujung, tuan Andi keluar dari rumah keluarga, dan memilih tinggal sendiri.
Bu Lina yang tak tega membiarkan anak asuhnya, hidup seorang diri meminta pada majikannya agar diperbolehkan ikut dengan tuan Andi. Dan semarahnya orang tua, kasih sayangnya tak pernah terhenti, kedua orang tua tuan Andi memberi ijin bu Lina agar ikut dengan anaknya, dan memintanya melaporkan segala sesuatu tentang tuan Andi, tanpa sepengetahuan tuan Andi, termasuk tentang kebenaran kecelakaan yang tuan Andi sembunyikan dari siapapun.
Bu Lina mengetuk pintu kamar, dan langsung masuk.
"Ada apa, Mas?"
"Bu... Apakah sudah saatnya aku menunjukan diri?"
"Ibu sangat mendukung sekali tentang rencana itu. Semoga mas Andi bisa kembali seperti dulu, sebelum kecelakaan itu terjadi."
Mata bu Lina selalu berkaca-kaca jika mengingat kecelakaan yang hampir merenggut nyawa anak asuhnya.
"Apa Yuda bisa dipercaya, bu?"
"Ibu merasa, Yuda orang yang baik dan bisa dipercaya."
"Yuda boleh pulang sekarang, bu! Pastikan, hari senin pagi, dia sudah harus kembali ke rumah ini"
"Baik, mas. Ibu permisi keluar."
"Iya, bu."
Sebelum keluar, bu Lina membenahi penampilannya dulu, memastikan tidak ada jejak air mata di wajahnya.
Bu Lina keluar kamar dan langsung menemui Yuda, memberitahukan pesan dari tuan Andi. Yuda serasa tak percaya, dirinya diperbolehkan pulang saat itu juga.
Yuda mengucapkan banyak-banyak terima kasih, pada bu Lina dan juga tuan Andi dan langsung berpamitan saat itu juga. Yuda ingin segera menemui kekasih halalnya.
¤¤FH¤¤
Yuda mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sebelum pulang ke rumah mamah Ajeng, Yuda mampir dulu ke sebuah rumah makan padang yang berada di dekat kantor lamanya.
Sudah beberapa hari ini, Yuda ingin memakan rendang dan gulai kakap dari rumah makan ini. Kedua makanan itu berada terus dipikirannya dan selalu mengundang air liurnya ketika mengingatnya. Namun sayang ketika dicari di pemesanan makanan online, rumah makan ini tidak terdaftar.
Saat jam istirahat, tempat makan itu tak pernah sepi pengunjung, selalu penuh dan harus mengantri. Beruntung saat Yuda datang masih pukul sebelas siang lewat beberapa menit, sebentar lagi waktu istirahat pekerja kantoran tiba. Yuda ingin bertemu dengan rekan-rekan kerjanya, tapi mengingat Afifah, rasa rindunya sudah sangat besar dan ingin segera bertemu.
Yuda langsung memesan makanan yang diinginkannya. Yuda juga menambahkan beberapa menu lainnya, untuk diberikan pada kedua orang tuanya, Yuda berniat singgah sebentar ke rumah orang tuanya. Tak lupa, Yuda membeli sate padang kesukaan istri tercintanya.
Setelah melakukan pembayaran, Yuda langsung ke parkiran, bersiap menaiki kendaraannya. Saat melintas di depan gedung kantornya dulu, beberapa karyawan sudah mulai istirahat, sekilas Yuda melihat Nindi, dia sedang berjalan ke arah jalan raya bersama beberapa karyawati. Yuda segera melajukan kendaraannya menjauh dari sana.
¤¤FH¤¤
"Mba Nindi, mau istirahat kapan?" Mila rekan kerjanya bertanya saat melintas di depan kubikel Nindi.
Nindi melihat jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul sebelas lewat tiga puluh menit.
"Sekarang saja, tadi nggak sempat sarapan, jam segini sudah laper banget."
"Barengan aja, yuk! Aku juga mau sekarang, lagi pengen gado-gado yang di seberang jalan sana."
"Hayuk aja, bentar aku save dulu datanya. Kayaknya makan siang gado-gado enak juga, aku juga beli itu aja."
Nindi segera berdiri, tak lupa membawa dompet dan ponsel. Semenjak kejadian di klinik beberapa hari yang lalu, Nindi mulai berubah. Nindi berusaha lebih ramah pada teman-teman kerjanya dan teman-teman kost-annya.
Diperjalanan beberapa karyawati turut bergabung, sama-sama menuju tempat makan. Saat sedang berjalan menuju jalan raya, Nindi yang sedang melihat ke arah jalan, selintas melihat laki-laki yang mirip dengan Yuda. Kaca helm yang bening, menampakan wajah pengendara motor dengan jelas.
Nindi melihat pengendara itu melajukan kendaraannya dengan kencang. Hati Nindi terasa sakit kembali, sekuat tenaga mencoba melupakan, malah melihat seseorang yang mirip dengan Yuda.
BERSAMBUNG
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.