Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Resiko
Arshen melihat kedua perwira itu mulai memanas.
"Lancang!!!!!"
plaaakk..bugghh..
Danyon menghajar Kapten Rivaldi. Pukulan dan tamparan itu di tepis oleh Rival.
"Jaga bicaramu!!!! Disini saya tetap Danyon kamu. Saya menindak kamu untuk memberi pelajaran dan mendisiplinkan anggota saya" tegas Danyon.
Plaaaaakk.. plaaaaakk... plaaaaakk.. Buugghh.. duughh.. Buugghh.....
Danyon yang marah menghajar Rival dan suami Shila itu tidak melawan lagi. Bukan karena takut, tapi ia masih menghargai senioritas dan jabatan Danyon 'abangnya' itu.
Oka dan Arshen berlari ke tempat Danyon dan Rival. Danyon tidak tanggung-tanggung menangani Rival. Suami Shila itu tersungkur dan terkapar hingga muntah.
"Cukup bang!!! Disiplin pun juga ada aturannya" cegah Arshen.
Danyon menghentikan kegiatannya, melihat Rival sudah jatuh seperti itu, masih sempatnya ia memberikan tendangan pada sisi perut Rival yang hanya bisa di terima Danki A dengan lapang dada, ia menganggapnya sebagai penebus kelalaiannya dalam menjalankan tugas.
"Kita ke ruang kesehatan bang" Arshen membantu Rival untuk bangkit dengan di bantu Oka, tapi tak lama setelah Rival berdiri.. Rival mengerang kesakitan.
"Aarrgghh.. Astagfirullah.." Rival menahan rasa sakitnya. ia memercing meremas pakaian Oka dan Arshen yang membantunya. Darah mengalir di sela bibirnya.
"Kena bagian vital bang, kita harus cepat membawa bang Rival ke ruang kesehatan" ajak Oka.
-_-_-_-_-
"Perlu di rawat ya?" Arshen mengompres dada Rival yang memar akibat tindakan Danyon.
"Kalau Danki kuat ya tidak perlu, Pak Arshen sendiri tau bagian rongga dada dan perut tidak bisa sembarangan di pukul, bahkan di pendidikan sekalipun, pelatih saja harus berhati-hati. Kalau nyawa Danki melayang terus harus bagaimana???" kata seorang Serka Agus bagian kesehatan Batalyon.
"Kita redam dulu masalah ini. Ini masalah besar kalau sampai terdengar di telinga atasan apalagi besok pagi ada kunjungan pusat" ucap Arshen. Akan tetapi dalam hatinya ikut geram dengan masalah Rival ini.
-_-_-_-_-
Sore telah tiba, siang tadi Rival pun tidak pulang untuk makan siang seperti biasanya. Shila sangat cemas. Shila mondar mandir dengan perutnya yang besar.
"Kemana ya Abang. Biasanya juga pulang. Ini sampai malam belum ada kabar juga" gumamnya dalam hati.
"Assalamu'alaikum..." Rival pulang memberi salam. Ia tersenyum dan mencium kening Shila.
"Abang kenapa baru pulang" tanya Shila cemas.
"Lupa ya.. besok khan ada kunjungan, Abang sibuk sekali sayang" senyumnya mencubit gemas pipi Shila
"Shila ambilkan minum ya bang" kata Shila.
"Iya.."
Shila beranjak pergi ke dapur. Rival memegang dadanya memercing kesakitan lagi, tapi ia menahan rasa itu di hadapan Shila agar Shila tidak cemas.
"Abang kenapa??" tanya Shila melihat Rival memegang dadanya.
"Nggak apa-apa dek, mau lepas sepatu ini lho" senyumnya setenang mungkin.
"Apa aman tadi bang?" tanya Shila.
"Aman dek. Sudah Abang bilang hanya gertakan saja"
Rival memghabiskan minuman yang di bawakan Shila.
"Abang mandi dulu" pamitnya segera masuk ke kamar tidur lalu berjalan ke dalam kamar mandi.
Tidak biasanya Abang mengambil pakaiannya dulu.
-_-_-_-_-
Setelah makan malam
"Tidurlah bang!! Abang terlihat lelah sekali hari ini" Kata Shila. Rival tidak tega meninggalkan Shila yang repot dengan pekerjaan dapurnya.
"Biar Abang tunggu kamu disini, tapi maaf maaf Abang nggak bantu kamu dek" ucapnya padahal ia sudah tidak sanggup menopang tubuhnya yang mulai kesakitan lagi.
"Iya bang, Shila ngerti. Besok Abang juga harus berangkat pagi sekali"
Shila mencuci semua peralatan makan. Cukup lama ia mengerjakannya. Shila melirik suaminya tertidur di lantai, lengannya terlipat menutup kening dan matanya.
"Bang.." panggil Shila, tapi suaminya itu tidak menyahut panggilan nya.
Shila menata piring yang baru saja selesai di cuci. Tak sengaja tangannya menyenggol baskom. Rival sangat kaget, ia bangkit dari tidurnya. Itulah kesigapan seorang prajurit.
"Dek.. kamu nggak apa-apa??" Rival langsung berjingkat cepat mencari keberadaan Shila, matanya masih memerah.
"Maaf bang, Shila nggak sengaja bangunkan Abang"
"Abang yang khawatir.. Apa yang sakit?? Kenapa duduk disini? Suara apa yang jatuh tadi?" berondong pertanyaan Rival.
Shila tersenyum melihat wajah cemas Rival.
"Hanya baskom yang jatuh bang. Shila nggak apa-apa"
"Kamu ini.. Makanya Abang kepikiran kalau nggak nemenin kamu. Jantung Abang nggak kuat ada begini ini. Cemas terus setiap saat" Rival mengangkat Shila menuju kamar. Melupakan bandannya sendiri yang tidak karuan rasanya.
-_-_-_-_-
Shila terbangun di malam hari, sudah biasa kalau bumil suka terbangun di malam hari. Shila melihat suaminya tidur tetap memakai kaosnya, biasanya Rival akan lebih senang bertelanjang dada.
Shila tidur di lengan Rival karena tidak biasanya juga suaminya itu tidak mendekapnya erat, sampai Shila menyentuh bagian dada, Rival meringis sakit.
"Aarrgghh..Sakit dek!! jangan pegang dulu" ucapnya tanpa sadar.
Shila duduk dan membuka kaos Rival pelan-pelan.
"Astagfirullah bang, kenapa Abang bohong sama Shila" air mata Shila akhirnya menetes deras.
Shila bangkit dan mengambil air hangat untuk mengompres dada Rival dan segera kembali ke kamar.
Shila mengangkat kaos Rival perlahan lalu mengompres nya.
"Uugghh.. Ya Allah"
Rival kembali memercing sakit tapi lama kelamaan ia merasa nyaman dan pulas.
***
Rival terburu berangkat dan memakai sabuknya. Jam masih menunjukkan pukul empat lebih. Shila menyuapi suaminya sarapan nasi goreng.
"Masih pagi sekali dek. Abang sarapan nanti saja"
"Abang harus makan. biar Abang cepat sehat" Shila menunduk menahan air matanya. Rival melirik melihat Shila yang menunduk.
"Memangnya Abang kenapa? Abang sehat-sehat saja kok"
"Kemarin Abang kena tindakan apa? Badan Abang memar" kata Shila.
"Hanya hal kecil. Itu hal biasa, tidak usah di besar-besarkan" Rival membelai rambut istrinya.
"Ya sudah sini Abang makan. Abang harus cepat berangkat" Rival menghibur Shila.
***
Kunjungan dari markas pusat sudah tiba dan para anggota menyambut mereka. Danyon melirik sengit melihat Rival seolah memberi peringatan keras.
Siang hari Kolonel Rudi memanggil Rival ke ruangan Danyon. Para perwira sudah hadir di ruang gedung itu untuk membicarakan hal privasi mengenai penyerangan kemarin lusa.
"Kapten Rival, saya sangat menghargai dan saya sangat salut dengan hasil kerjamu"
"Lho bang, kita mau membahas tentang etika dia terhadap senior, bukan memuji hasil kerjanya" protes Letkol Susilo.
.
.