NovelToon NovelToon
Against The World: Initiation

Against The World: Initiation

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Barat / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Near

"Kami tidak bisa melihat masa depan dengan sempurna – kemampuan itu hanya dimiliki [Divine Insight]. Namun, kami menyimpan segala pengetahuan semesta. Sebagai hadiah untukmu, dan sebagai salam sampai jumpa dariku, kuberitahu kau satu hal: Mengesampingkan Edenia, makhluk terkuat dalam semesta adalah Vermyna Hellvarossa dan Fie Axellibra. Namun, di antara semuanya, hanya kau saja yang bisa menyerap semua Supreme Magic tanpa memerlukan Air Ethereal ataupun Throne of Heaven. Bahkan, kau bisa meraihnya... pendewaan tanpa Throne of Heaven."

—"Mother of Nature" to Xavier von Hernandez—

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Near, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3: Into Imperial Academy, part 1

Xavier menemukan dirinya berada di suatu lorong yang cukup besar. Di ujung lorong sana terdapat sebuah pintu besar berwarna perak dengan dua daun pintu. Di kanan dan kiri pintu berdiri dua orang Elf dalam balutan seragam prajurit mereka. Masing-masing dari mereka memegang sebuah tombak yang matanya berwarna platinum. Di ujung lorong lainnya Xavier dapat melihat terdapat dua lorong yang terhubung dengan lorong ini yang masing-masing mengarah ke kanan dan kiri. Dan tatkala Xavier mengedarkan pandangannya melihat dinding-dinding lorong tempatnya berada, ia mendapati belasan patung prajurit Elf berkuda yang masing-masing memegang perisai dan tombak berbaris rapi di kanan dan kiri lorong. Seperti dirinya, Monica dan yang lainnya pun tampak mengamati sekeliling mereka dengan penuh kepenasaranan.

“Ayo pergi, saatnya kalian untuk bertemu dengan sang ratu jika ingin menetap di Kerajaan Elf.”

Perkataan Evillia menyita perhatian semuanya. Tetapi gadis Elf itu tidak menunggu mereka merespons, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke ujung lorong di mana sebuah pintu besar dengan dua daun pintu itu terletak. Camelia berdiri di hadapan Xavier dan yang lainnya, bibirnya melengkung ramah.

“Ayo pergi, sangat tidak baik jika membuat Her Majesty menunggu.”

Xavier dan yang lainnya mengangguk, mengikuti Camelia yang memimpin jalan mengikuti Evillia. Mereka melihat kedua prajurit itu membungkuk hormat pada Evillia, membukakan pintu untuknya. Kedua prajurit itu juga menundukkan kepala memberi hormat pada Camelia tatkala mereka melewati mereka memasuki ruangan yang sama luasnya dengan ruang bawah tanah tempat mereka berlatih selama dua tahun ini. Terdapat total sepuluh pilar yang menopang langit-langit, di kanan lima dan di kiri lima yang semuanya berwarna hitam kelam.

Karpet merah dengan lebar sekitar dua meter membentang panjang dari pintu masuk hingga ke ujung ruangan. Karpet itu ikut melapisi tujuah anak tangga yang memisahkan bagian lantai bawah dengan lantai atas di mana sebuah singgasana megah terletak. Namun, singgasana itu kosong, tidak ada siapa pun yang mendudukinya. Bukan itu saja, Xavier mendapati tidak ada siapa pun di ruangan besar ini selain mereka berdelapan. Bukankah ini seharusnya adalah ruang singgasana, lantas ke mana penghuninya?

Evillia terus berjalan hingga ke depan anak tangga yang memisahkan lantai dengan area singgasana. Ia berbalik memandang Camelia dan yang lainnya dengan datar. “Berlutut,” ucapnya dengan nada memerintah.

Seketika Camelia menjatuhkan tubuhnya dengan lutut kiri menyentuh lantai dan lengan tangan kanan di atas lutut kanan dengan wajah menunduk. Melihat hal itu, Heckart dan yang lainnya meniru apa yang dilakukan Camelia. Xavier adalah yang terakhir berlutut ala kesatria seperti itu, wajah datarnya mengisyaratkan keengganan untuk melakukan apa yang ia lakukan.

Evillia berbalik, menaiki anak tangga satu per satu. Gadis Elf itu melangkah mendekati singgasana, lalu dengan elegan dia berbalik dan mendudukkan dirinya di sana. “Aku Evillia Evrillia, sang ratu Kerajaan Elf. Kalian kuizinkan mengangkat kepala kalian.”

“Terima kasih, Paduka Ratu.” Camelia mengangkat kepalanya, tersenyum lembut dengan mata berbinar pada sosok mungil Evillia yang duduk angkuh di singgasana dengan pipi kiri bertumpu pada telapak tangan kiri yang bertumpu pada bantalan kiri singgasana.

Monica dan yang lainnya memandang sosok yang telah melatih mereka itu dengan penuh keterkejutan.

Jadi, selama ini aku dilatih oleh Paduka Ratu? Mereka semua membatin, terkecuali Xavier yang hanya memandang Evillia dengan penuh ketidaksukaan. Aku merasa telah dibohongi lagi, batinnya kesal. Meskipun Xavier bisa mengerti mengapa Evillia sebelumnya tidak mengatakan tentang statusnya, ia tetap tidak suka dengan perasaan merasa dibohongi ini.

“Ekspresi terkejut di wajah kalian tidak buruk,” ucap Evillia, iris birunya berpindah pada iris merah Xavier, kemudian pada mata Camelia yang memandangnya penuh binar. “Bicaralah apa yang ingin kalian bicarakan, aku mengizinkan kalian untuk berkata sebebas mungkin.”

“No-Yang Mulia Evillia, saya tidak pernah membayangkan kalau Anda adalah ratu dari kerajaan ini,” berkata Monica dengan penuh kesopanan.

“Saya tidak tahu harus berbicara apa,” komentar Elena, Menez dan Heckart mengangguk merasakan hal yang sama dengan gadis itu.

“Seperti yang diharapkan dari Nona Evillia!” Jose mengacungkan jempolnya pada sang ratu, rasa bangga terselip jelas di nada suaranya.

Siapa coba yang tidak bangga mengetahui kalau yang melatih mereka selama ini adalah seorang ratu?

“…” Xavier tidak mengatakan apa pun, tidak ada yang harus ia katakan.

Ekspresi Evillia menjadi serius. “Kalau begitu mari kita membahas hal yang lebih penting,” katanya. “Aku sudah tidak akan melanjutkan pelatihan kalian, Evana hanya menyuruhku melatih kalian sampai kalian memenuhi syaratnya. Mulai dari saat ini, apa yang ingin kalian lakukan itu terserah kalian. Jika kalian ingin hidup normal di sini sebagaimana halnya dulu di desa kalian, aku akan meminta menteri kependudukan untuk mendaftarkan kalian sebagai warga kerajaan. Kalian akan bebas tinggal di ibukota ini, tentu saja kalian harus mematuhi hukum-hukum kerajaan yang berlaku. Tetapi, jika kalian ingin bertambah lebih kuat, kalian bisa bergabung dengan Black Shadow—pasukan elit Kerajaan Elf—dan menjadi bagian dari skuad Camelia. Meskipun tidak ada lagi yang bisa kalian peroleh jika pergi ke Elf Academy selain sejarah dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan Elf, aku akan mengizinkan kalian untuk bergabung ke sana. Kalian juga bisa menjadi prajurit biasa jika tertarik. Aku tidak akan memaksa kalian, kalian bisa memilih apa yang kalian inginkan dengan tenang.”

Monica dan yang lainnya saling berpandangan satu sama lain. Mereka semua memiliki pertanyaan yang sama yang menggantung di pikiran: Apa yang harus mereka lakukan untuk seterusnya?

Tentu saja tidak dengan Xavier. Ia sudah lama menentukan apa yang harus ia lakukan. Ia akan pergi ke ibukota Kekaisaran Vermillion, mengikuti seleksi masuk Imperial Academy, menjadi bagian dari Imperial Army, lalu menjadi salah satu dari para Commander yang berada di bawah Emperor secara langsung. Emperor Nueva el Vermillion tidak pernah bertemu secara personal selain dengan orang-orang penting kerajaan dan para Commander. Jika ia bisa menjadi Commander, ia akan memiliki kesempatan untuk bertemu empat mata dengan Emperor. Saat itu tiba, ia akan membuat Emperor menjerit kesakitan hingga mengemis agar nyawanya diampuni. Tetapi Xavier tidak akan mengampuninya. Ia akan membuat Emperor membayar atas kematian ayah-ibunya serta seluruh penduduk desa.

“Xavier?”

Xavier tidak akan berhenti sampai di situ. Ia akan menghabisi semua orang yang terlibat dalam penyerangan desanya. Ia akan membunuh siapa pun yang telah membunuh penduduk desa, tanpa terkecuali. Lalu setelah semua itu terjadi, ia akan menghancurkan ibukota kekaisaran, sebagaimana mereka menghancurkan desanya. Mereka yang telah membuatnya kehilangan orangtua dan tempat tinggal, ia akan membuat mereka merasakan hal yang sama dengannya.

Tentu saja Xavier tahu tidak semuanya berdosa atas keputusan sang Emperor. Karena itu ia hanya akan meluluh lantakkan ibukota, tidak dengan kota-kota lain. Pun ia tidak akan menghabisi semua penduduk, ia hanya akan menghabisi penduduk yang tahu akan perintah Emperor namun tidak merasa keberatan dengan itu. Manusia-manusia yang tidak punya simpati dan hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri, Xavier akan menghabisi mereka semua. Yang ia rasakan ini bukan hanya dendam, tetapi keadilan. Jika tidak ada yang akan memberikannya, ia sendiri yang akan memberikan keadilan itu.

Selain itu, kematian Emperor akan membawa kedamaian pada banyak orang, terutama Monica.

“Xavier!”

Mata Xavier mengerjap mendengar suara Monica memanggilnya. Segera ia menoleh ke arah gadis itu, memandang iris birunya dengan iris merah darah miliknya.

“Ada apa Monica, kau sudah memutuskan akan melakukan apa?” tanya Xavier, bibirnya melengkung dengan sendirinya, menyembunyikan pikiran gelapnya dari mempengaruhi ekspresinya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Monica, memandang Xavier dengan penuh selidik.

“Pertanyaan macam apa itu, Monica? Tentu saja aku memikirkan apa yang harus kulakukan setelah ini, seperti apa yang kau dan yang lainnya pikirkan.”

Pandangan penuh selidik Monica tidak lentur, tetapi Xavier juga tidak merasa telah berbohong. Apa yang ia katakan adalah kejujuran. Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah ini, seperti yang ia katakan. Tentu saja itu tidak menyangkut daftar pilihan yag diberikan Evillia pada mereka, tetapi Monica tidak perlu tahu itu.

“Hmph, jadi, apa yang kau putuskan?” tanya Monica.

“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku, namun sangat bersikeras ingin tahu keputusanku.”

“Oh, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu kalian berdiskusi,” ucap Evillia tiba-tiba, memaksa Xavier, Monica, dan yang lainnya menghadapkan pandangan mereka pada sang ratu. “Jika kalian tidak bisa menjawab sekarang, kalian bisa langsung kembali ke rumah Evana. Sekarang tempat itu akan aku berikan untuk kalian, kalian bisa memanfaatkan semua fasilitas di sana. Aku dan Camelia tidak akan tinggal di sana lagi, jadi semua yang ada di sana hanya akan menjadi milik kalian. Dan dalam dua hari, Camelia akan menemui kalian di sana untuk meminta keputusan kalian, itu jika kalian tidak bisa memutuskannya sekarang.”

“Saya akan memutuskannya sekarang, Yang Mulia,” tukas Heckart.

“Saya juga,” timpal Jose.

“Saya juga,” ucap Menez.

“Kami juga,” ujar Elena dan Monica berbarengan.

Evillia mengalihkan pandangannya pada Xavier. Xavier pun memfokuskan iris merahnya pada iris biru Evillia. Tetapi ia tidak mengatakan apa pun, Evillia pun tidak menanyakan apa pun.

“Kalau begitu katakanlah,” perintah Evillia pada Monica dan yang lainnya.

“Kami ingin bergabung dengan Black Shadow,” ujar Monica, Elena, Heckart, Menez, dan Jose secara berbarengan.

Evillia mengangguk mengerti. “Usia minimal yang diperbolehkan bergabung dengan Black Shadow adalah lima belas tahun. Selain Heckart, kalian berempat akan menjadi anggota cadangan skuad Camelia. Kalian berempat baru akan diizinkan mengikuti misi resmi Black Shadow tatkala usia kalian menginjak lima belas tahun.” Evillia mendaratkan pupilnya pada Camelia. “Bawa mereka ke markas utama Black Shadow, katakan pada mereka semua yang menolak menerima manusia bahwa aku memberikan perlindungan khusus pada mereka. Mereka berlima adalah pengecualian.”

“Sesuai kehendak Anda, Paduka Ratu.” Camelia meundukkan kepala memberi hormat, kemudian langsung membawa pergi Monica dan yang lainnya dengan menggunakan sihir bayangannya, meninggalkan Xavier sendiri di hadapan Evillia.

Xavier seketika bangkit dari posisinya berlutut begitu Camelia dan yang lainnya menghilang dari ruangan. Ia memandang datar iris biru Evillia yang juga memandangnya datar. “Aku akan ke Kota Nevada, aku akan mengikuti seleksi masuk Imperial Academy.”

“Ho? Aku tidak pernah mengatakan hal itu padamu, dari mana kau mendengar tentang seleksi itu?” tanya Evillia.

“Tidak sulit mencari informasi yang umum seperti itu.”

“Oh, jadi kau akan meninggalkan kelima temanmu di sini, sementara kau akan hidup bebas di luar sana?”

Kening Xavier mengernyit. Ia tidak suka cara Evillia memparafrasekan pertanyaannya itu.

“Tempat yang paling aman bagi Monica adalah di sini bersamamu, dan dengan keberadaan Elena dan yang lainnya dia tidak akan merasa sendiri. Aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi. Lagipula, aku akan bergabung dengan Imperial Army, karena itu lebih baik mereka di sini saja dan hidup dengan nyaman.”

“Itu alasan yang egois sekali, kau tahu?”

“Itu tidak penting. Yang penting Monica tidak akan berada dalam bahaya. Aku akan kembali ke sini untuk membawanya pergi setelah aku membunuh orang itu dan merebut kembali desa kami.”

“Bagaimana kalau kau mati sebelum tujuanmu tercapai? Bagaimana kalau Emperor mengetahui tujuanmu lalu menggunakanmu untuk memancing Monica keluar? Jika orang itu bisa dengan mudah membantai orang-orang desa untuk mendapatkan Monica, apa yang menghalanginya melakukan hal seperti itu?”

“Hal yang seperti itu tidak akan pernah terjadi.”

“Ho, kau sangat percaya diri sekali.”

Xavier tidak membalas respon singkat Evillia itu. Ia langsung membalikkan badannya.

“Terima kasih banyak untuk semuanya, Evillia, aku percayakan Monica di tanganmu,” ucapnya lalu melangkah pergi.

“Aku belum mengizinkanmu pergi.”

“Kau adalah ratu para Elf, aku tidak punya kewajiban untuk tun-!”

Ucapan Xavier seketika terhenti, akar-akar pohon telah melilit tubuhnya tanpa ia sadari. Evillia sudah melayang di hadapannya, sepasang sayap angin membentang lebar di punggungnya. “Sudah kubilang aku belum mengizinkanmu pergi,” ucapnya datar, iris birunya memandang tajam Xavier.

Xavier mengernyitkan keningnya. “Aku tidak punya kewajiban untuk mematuhi perkataanmu,” ucapnya tak kalah datar, memandang tajam Evillia.

Evillia mengabaikan ucapan Xavier, ia memangkas jarak di antara mereka hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung anak berambut merah gelap itu.

“Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja, akan merepotkanku jika kau mati. Oleh karena itu,” Evillia mengangkat tangan kanannya yang—entah sejak kapan—jari telunjuk kanannya mengeluarkan darah. Ia membawa jari telunjuk itu ke pipi kiri Xavier, lalu menuliskan simbol-simbol yang tak Xavier mengerti dengan darahnya. Begitu selesai, Evillia langsung menenggelamkan wajahnya di leher kanan Xavier. Pupil bulatnya seketika berubah menjadi vertikal, dan taringnya memanjang menyerupai vampire.

“Tahan sedikit, ini akan sakit,” bisiknya lalu mendaratkan taring itu menembus pembuluh darah Xavier.

Xavier harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan dirinya dari menjerit. Rasanya sungguh berbeda ketika Zie mendaratkan taringnya menembus pembuluh darahnya dulu. Jika waktu itu rasanya seperti ekstasi, sekarang rasanya seperti diiris-iris dengan pisau lalu ditaburi garam. Sakit.

Evillia melepaskan gigitannya. Seketika simbol-simbol di pipi Xavier yang ia tulis dengan darah menyala terang, lalu meresap ke dalam tubuh Xavier hingga tidak berbekas sama sekali. Bekas gigitannya di leher Xavier pun menutup, tidak meninggalkan bekas walau sedikit. Evillia tersenyum puas melihat hal itu, lalu mendaratkan tubuhnya dan menghilangkan akar-akar yang melilit tubuh Xavier.

“Aku bukan vampire,” ucap Evillia—penampilannya kembali seperti sedia kala dan sayap angin di punggungnya pun menghilang. “Tetapi karena beberapa hal, aku bisa sedikit menggunakan sihir darah para vampire. Sekarang aku tidak perlu khawatir kalau kau mati, karena aku akan langsung tahu jika sewaktu-waktu kau sedang dalam bahaya.” Evillia melangkah melewati Xavier yang terdiam memandang dirinya, ia berhenti tepat di samping kirinya. “Sekarang pergilah, aku akan sebisa mungkin membuat beberapa alasan agar mereka tidak mengkhawatirkan kepergianmu,” ucapnya lembut lalu kembali berjalan, menuju singgasana yang kosong di depan sana.

Normalnya, Xavier akan langsung melangkah pergi. Tetapi, ia tidak bisa. Justru, ia menemukan dirinya berbalik. Memandang punggung mungil Evillia. Xavier tidak mengerti, tetapi rasanya ia ingin mengatakan sesuatu yang menenangkan. Juga, ia ingin menanyakan banyak hal. Seperti “beberapa hal” apa yang ratu itu maksud, atau mengapa ia sampai melakukan semua ini. Namun tidak bisa. Xavier tidak bisa percaya dirinya untuk bertanya yang seperti. Selain itu, meski samar, Xavier mengerti. Itu adalah masa lalu yang terjadi pada gadis itu. Dia tidak ingin mengatakannya dengan jelas. Karenanya, tak pantas baginya untuk bertanya lebih lanjut.

Xavier pun kembali berbalik. “Sampai jumpa lagi, Evillia,” ucapnya, melangkah pergi.

1
Muh Nasar
kurang seru menurutku karena lumayan banyak yg mengenal identitas el
Muh Nasar
Luar biasa
Muh Nasar
Lumayan
its SAL
Luar biasa
FalseHeaven
complete annihilation
Las Ruinas
ini keren, betul kata achilles 'sangat brilian'
Ro13
Luar biasa
Rokapelo
/Good//Good//Good/
Ardianovich
Akhirnya publikasi terang-terangan dadi NWO
malest
bagus,
malest
bagus
Arief Wahyu's
Luar biasa
Hero_1ndo
Udah pernah baca sejak kelas 5 tahun lalu, tapi historinya kehapus dan baru nemu lagi sekarang. Akhirnya bisa lanjut baca masterpiece satu ini ea
isra lahusaeni
Damn!!!!
GV
Adamantite, jadi keingat ama Momon di Overlord
GV
waduh telat banget gw. baru tahu kalau ada novel yang penulisannya bagus banget.

gas maraton, buat nambah referensi. apalagi ini udah tamat.
懷疑.
• Kualitas Penulisan: ★★★★★
• Stabilitas Pembaruan: ★★★★★
• Pengembangan Cerita: ★★★★★
• Desain Karakter: ★★★★★
• Latar Belakang Dunia: ★★★★★


Ulasan: Yes, sama dengan pemikiran pembaca yang lainnya, saya juga merasa ini adalah salah satu Novel terbaik yang pernah saya baca dalam hidup saya.

Dan alasan saya memberikan bintang lima untuk semua kriteria tersebut alasannya jelas.

Untuk kualitas penulisan: Author (Against The World) sendiri memiliki gaya penulisan yang berbeda dengan banyaknya Author pada umumnya, selain kata-kata nya yang terkadang memiliki makna tersirat di dalamnya, Author juga memiliki cara tersendiri untuk membuat penjelasan secara detail tanpa mengurangi atau melebihi makna yang terkandung di dalam penjelasannya tersebut.

Untuk stabilitas pembaruan: Kalian bisa cek sendiri tanggal kapan Author (Against The World) meng-upload setiap chapternya, dan itu menunjukkan bahwa dia hampir sama sekali tidak absen untuk meng-upload setiap chapter perharinya.
懷疑.: udah selesai, segala nyasar sempe kesini dirimu.
total 5 replies
Ardian Uzumaki
Jadi pengen maraton ulang nih novel, cuman lagi sibuk jadi gk sempat.
blueby
Rekomendasi banget cerita fiction!
leona
raphael
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!