Jingga lelah dengan kehidupan rumah tangganya, apalagi sejak mantan dari suaminya kembali.
Ia memilih untuk tidak berjuang dan berusaha mencari kebahagiaannya sendiri. dan kehadiran seorang Pria sederhana semakin membulatkan tekadnya, jika bahagianya mungkin bukan lagi pada sang suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deodoran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Flashback Jingga dan Koa.
Koa dan anak anak datang dengan motor matic tuanya. Itu bukan motornya saat diJakarta karena motor tersebut sudah dijual sebelum mereka melakukan Misi melihat Sang Jingga di Langit Atlantis.
Sebuah paper bag berayun ditanganya menyamai langkah Koa yang tengah memakai gendongan bayi didepan dada. Embut terlihat tertidur begitu pulas didada sang Ayah. Sebuah tempat yang selalu mampu memberi ketenangan bagi Jingga.
"Bagaimana jalan jalanya?" Jingga menyambut keluarga kecilnya dengan senyuman dan sebuah sapu ditangan karena ia baru saja selesai membersihkan kotoran diteras.
"Sellluuuu buuukkk nih...." Senja yang masih cadel menyerahkan beberapa Tusuk sempol ayam dalam kresek.
Jingga mengambil Embun dari dalam gendongan Koa dan menidurkan bocah dua tahun itu. Ia juga menyuruh Lembayung Senja membersihkan tubuhnya karena hari sudah sore.
"Sayang sini....." Panggil Koa lembut, ia membongkar isi paper bagnya yang ternyata sebuah ponsel Android merk China.
"Ayah beli ponsel baru?" Tanya Jingga heran. Soalnya sudah sejak lama ponsel Koa rusak dan ia enggan membeli yang baru. Sedangkan Jingga masih memakai ponsel lamanya namun dibiarkan begitu saja didalam lemari. Ia tak butuh benda pipih itu selama ada keluarganya. Jingga terkadang menggunakan kamera untuk mengabdikan momen momen penting mereka tanpa mempostingnya tentu saja.
"Iya.....sudah terlalu lama aku tidak memberi kabar keteman temanku...."ujar Koa sembari menyalakan ponsel baru tersebut.
Mendengar ucapan Koa sontak membuat Jingga tertunduk lemah, ia memainkan kedua tangannya yang saling meremat.
"Aku juga memiliki teman teman....tapi aku merasa cukup dengan kalian bertiga didalam hidupku." Jingga mengucapkannya dengan perasaan yang terluka dan Koa menyadarinya.
ia lalu meletakkan ponsel barunya dan gegas memeluk sang istri.
"Maafkan aku....aku juga merasa cukup dengan kalian bertiga tapi entah mengapa aku ingin mengenalkan mutiaraku ini pada teman temanku agar kelak hidup kita bisa lebih berwarna lagi.."Koa membujuk Jingga dan berakhir luluh. Mungkin sedikit mengenal orang orang yang dikenal suaminya tidak terlalu buruk.
Jingga tahu dulu Koa adalah salah satu mahasiswa populer dijurusan Seni Rupa, Lukisan, patung , gambar bentuk yang ia buat tak pernah gagal menghadirkan decak kagum bagi yang melihatnya. Setiap ada pameran angkatan Karya Koa lah yang paling banyak menyita perhatian. Seolah apa yang ia lukis memiliki nyawa tersendiri.
Koa pernah menjadi manusia dengan seribu ambisi namun hancur lebur ketika ia kehilangan seluruh keluarganya.
Dan ambisi itu kembali saat bertemu Jingga namun obsesi itu berubah menjadi lembut, ia hanya terobsesi membahagiakan wanitanya itu.
Perlahan Koa memperkenalkan Jingga dengan satu persatu temanya, ia tak tahan untuk tidak membagi kebahagiaan ini. Seolah Koa ingin mengatakan pada seluruh Dunia Koa yang dulu sudah kembali ia baik baik saja dan tengah berbahagia dengan keluarga kecilnya.
Hari hari berlalu Jingga juga mulai membuka diri dengan media sosial bahkan dirinya juga menjadi dekat dengan beberapa kawan Koa.
"Kau punya cinta pertama? Atau pacar pertama?"
"Tidak! Cinta pertama dan cinta terakhirku adalah dirimu Jingga Marina."
"Bohong!"
"Aku bukan laki laki pembohong." Baru kali ini Jingga melihat sorot mata tajam Koa.
laki laki itu tak pernah main main dengan ucapannya.
.
.
.
Jingga duduk sembari memeluk lutut diatas rerumputan hijau, menatap lurus pada hamparan kebun teh yang menyegarkan mata. Tempat ini sama sekali tidak berubah sejak ia kecil, tempat yang selalu bisa memberinya ketenangan.
Sesekali Jingga melambai pada kedua putrinya dikejauhan sana, mereka tengah mengelilingi kebun teh dengan Indana sebagai pemandunya. Cuaca yang mendung membuat Jingga tak hawatir melihat dua buah hatinya berlarian meski sudah hampir siang.
Danish masuk kedalam Villa sedangkan ayahnya masih sibuk dengan ransel dan beberapa bawaan lainnya.
Danish tak membantu orang tua itu, toh ia juga menolak dan masih kesal karena insiden tadi.
Langkah kaki Danish begitu mantap menuju teras belakang. tempat ia biasa menghabiskan waktu menggantikan posisi Jingga diatas ayunannya, namun seketika tungkainya melemah dengan tubuh yang nyaris beku.
Seorang wanita dengan rambut sebahu itu terlihat sangat tidak asing. Bagaiamana ia bisa melupakanya jika selama tujuh tahun ini bayangannya selalu menari dibenak Danish.
"Ji-jingga......." gumamnya, Danish ingin segera berlari namun kakinya begitu berat untuk diangkat hingga ia hanya bisa tertatih.
Ini bukan mimpi.....beberapa kali Danish memukul dirinya didalam fikirannya namun sosok itu justru semakin nyata.
Belum juga langkah Danish sampai Jingga yang mendengar suara berisik dibelakang segera menoleh dan tersenyum hangat...
Sebuah senyuman yang sanggup membuat Danish seketika jatuh berlutut dengan mata berkaca kaca.
"Abang sudah datang?" tak, ada dendam, dan marah...Jingga masih seperti tujuh tahun yang lalu.
Abang sudah datang?
Tahukah kau Jingga betapa aku merindukan kalimat itu? Senyuman itu? Dua perpaduan yang selalu kau ungkapkan ketika aku pulang dari Kantor.
Danish seakan menjerit didalam hatinya.
Jingga bangkit dan berjalan mendekati Danish, ia kemudia mengulurkan kedua tangannya pada Pria menyedihkan itu.
"Bangunlah bang....." Seru Jingga penuh kelembutan.
dan dengan tangan bergetar Danish meraih uluran Jingga dan membawa kedepan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
Pria itu menangis tersedu sedu....Ini kali ketiga Jingga melihat Danish menangis, yang pertama saat ia memohon kepada sang Ibu untuk tidak menyuruhnya menceraikan dirinya, kemudian saat ibunya meninggal dan sekarang.
"Kenapa Abang menangis? Hemmm."
"Maafkan aku Jingga....maafkan aku....." hanya kata kata itu yang akhirnya bisa ia ucapkan.
"Tak ada yang perlu dimaafkan Bang.....semua sudah berlalu." Sama sekali tak ada rasa sakit saat Jingga mengucapkannya.
Danish semakin tergugu mendengar ucapan Jingga, bagaimana bisa wanita itu memaafkan dirinya begitu mudah?
"Abang.....jangan menyesali yang sudah terjadi," Jingga mengusap pucuk kepala Danish." Seseorang menyadarkanku jika semua yang kita lewati adalah proses yang memang pasti terjadi walau harus terluka hingga berdarah darah. Namun dari luka itu aku mendapatkan sebuah anugrah yang terindah."
"Keluarga kecilku." Jingga membatin.
"Lihatlah......" Jingga memanggil Lembayung Senja yang sejak tadi berdiri mematung tidak jauh dari kedua orang tuanya.
Gadis kecil itu perlahan mendekat meninggalkan Biru Embun yang berada dalam gendongan Indana.
Saat menatap wajah lembayung Senja secara langsung seperti ini ada rasa sesak yang begitu tajam didalam dada Danish.
Danish meraba wajah gadis kecil itu.
gadis kecil yang selama ini hanya ia lihat lukisannya. sebuah lukisan yang seakan mampu membuatnya selalu betah berlama lama memandangnya.
Matanya yang biru begitu indah persis seperti milik sang Mami.
Hidungnya....
Bibirnya.....
Nafas Danish seakan tercekat...
"Dia.....putriku...." Terdengar begitu jelas Suara Danish bergetar dengan hebatnya.
"Lembayung Senja Danudara.....Dia putrimu Bang."
Pecah tangis Danish sejadi jadinya, ia memeluk lembayung Senja begitu eratnya, Bahkan ketika ibunya meninggal Danish tidak nampak sesedih ini hingga iapun sulit bernafas.
"Aku punya seorang anak....putriku...Bagaimana bisa aku menjadi manusia sejahat ini....." Danish terus meracau didertai tangisan Pilu. Sakit selama tujuh tahun tidak sebanding saat ini, ketika ia mengetahui Jingga pergi membawa benih didalam rahimnya.
"Bukankah sudah kuperingatkan jangan sampai menangis. Mami....putramu memang Pria bodoh!" Bara menggerutu sambil memandang langit mendung, Sesekali ia mengusap buliran bening yang mengalir hebat di pipi tuanya.
saya kasih bintang 5